
Sudah pijat, istirahat cukup, masih saja pusingnya tidak hilang. Untuk makan saja rasanya tidak berselera, yang ada mual pun semakin menjadi. Terlebih ia harus memberi ASI pada Ara.
Saat dirasa tubuhnya belum ada perubahan seharian ini, Nila pun menghubungi suaminya melalui panggilan video. Tidak lama terhubung, Fatan menjawab panggilannya.
"Halo Sayang, gimana keadaan kamu?" tanya laki-laki itu. Wajahnya terpampang nyata memenuhi layar ponsel Nila.
"Mas, kayaknya aku perlu ke dokter deh. Kepalaku pusing banget, terus jadi kurang asupan makan. Rasanya mual," keluh Nila sambil memberi pijatan di samping ekor matanya.
"Oke, Sayang. Aku jemput kamu sekarang ya. Kebetulan aku juga baru selesai meeting dan gak ada jadwal lagi. Jadi, aku bisa pulang sekarang."
"Iya, Mas. Aku tunggu ya."
"Iya, Sayang ... Kamu masih bisa siap-siap dulu gak? Ara sama siapa sekarang?"
"Masih bisa kok, Mas. Habis telepon kamu, aku bakal siap-siap sebentar ... Ara lagi sama Bunda. Ini juga Bunda yang nyaranin aku periksa ke dokter."
"Ya udah, kalau gitu aku ke ruangan dulu terus pulang ya. Bye, Sayang."
"Iya, Mas. Bye."
Setelah telepon berakhir, Nila lekas bersiap. Sembari menunggu Fatan pulang, ia mandi air hangat terlebih dahulu supaya tubuhnya lebih nyaman.
Pusing serta mual yang dirasakannya sejak tadi pagi, membuat suasana hatinya berantakan. Beruntung ASI nya masih lancar, jadi untuk sementara waktu Ara harus meminum susu dari stok yang ada di kulkas.
...----------------...
Fatan tiba di rumah tepat waktu. Dia bergegas menghampiri istrinya di kamar.
"Sayang," ucapnya setelah membuka pintu. Dia melihat Nila sedang duduk di depan cermin yang menoleh ke arahnya.
"Mas," sahut Nila.
"Kita berangkat sekarang ya?" tanya Fatan mendekati istrinya. Pun Nila mengangguk, mengiyakan. Keduanya pun berangkat ke rumah sakit.
Lima belas menit berlalu, mereka sampai di depan ruangan instalasi gawat darurat. Fatan bergegas turun lebih dulu untuk membantu istrinya turun dari mobil.
Ketika Fatan membuka pintu, seorang perawat dengan sigap menghampiri mereka. Kebetulan kondisi ruangan itu sedang sepi.
"Selamat sore, ada yang bisa kami bantu?" sapa perawat itu.
__ADS_1
"Sus, tolong bantu istri saya!" perintah Fatan pada perawat itu.
"Baik, Tuan. Mari ikut dengan saya." Perawat itu berjalan lebih dulu, lalu menyiapkan salah satu tempat tidur yang ada di ruangan tersebut.
Nila naik ke atas tempat tidur dibantu oleh Fatan dengan hati-hati.
"Tuan, silahkan ke bagian administrasi terlebih dahulu ya. Biar nyonya akan saya periksa. Setelah administrasi selesai, dokter akan datang untuk memeriksakan kondisi nyonya."
"Oke, Sus." Fatan pun pergi dari sana. Sedangkan perawat itu menutup tirai dan mulai memeriksakan kondisi Nila.
Sebuah alat untuk mengukur tensi darah pun dipasangkan di lengan kanan Nila. Lantas kemudian termometer untuk mengukur suhu tubuh. Sambil menunggu kedua mesin itu berbunyi sebagai tanda selesai, perawat itu pergi sebentar lalu kembali lagi dengan membawa sebuah form serta bolpoin di tangannya.
"Nyonya, keluhannya apa?" tanya perawat itu.
"Pusing berdenyut, mual, lemas dan merasa demam, Sus," jawab Nila. Suaranya juga sudah bisa ditebak kalau ia sedang tidak baik-baik saja.
"Demamnya sudah berapa hari?"
"Baru siang tadi. Awalnya hanya pusing berdenyut terus di susul mual."
"Apa ada bintik merah di area tubuh?"
"Boleh saya lihat di lengan Nyonya? Soalnya sekarang sedang musim penyakit demam berdarah. Gejalanya pun hampir sama seperti yang Nyonya sebutkan tadi, hanya yang membedakan kalau penyakit itu ada bintik merah."
"Oh begitu ya? Silahkan, Sus."
Perawat itu mulai memeriksakannya. Ternyata setelah di periksa tidak ada bintik merah yang dimaksud.
"Bintiknya tidak ada Nyonya." Sesaat kemudian kedua alat tadi sudah berbunyi. "Tensi Nyonya memang sedikit rendah, terus suhu tubuh memang demam." Dia mencatat hasilnya pada selembar kertas form tadi. "Nyonya, habis ini akan ada pemeriksaan dokter. Untuk lebih lanjut, nanti keputusannya biar dokter yang menangani ya. Apa ada yang ingin ditanyakan?"
"Nggak ada, Sus."
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi ya." Perawat itupun pergi dari hadapan Nila.
Tidak butuh waktu lama, Fatan masuk ke tirai yang ditempati oleh istrinya. Beberapa saat setelah lelaki itu masuk, seorang dokter perempuan pun datang.
"Selamat sore." Dokter itu menyapa ramah saat melihat Nila. Namun entah kenapa seketika tatapannya berbeda ketika melihat Fatan yang juga ada disana. Dokter itu tampak seperti orang yang terkejut.
"Sore, Dok," ucap Nila dan Fatan bersamaan.
__ADS_1
Disana Fatan hanya terlihat acuh dan biasa saja. Lain halnya dengan Nila yang menyadari keanehan dari tatapan dokter itu.
"Dok?" ucap Nila, lalu membuat dokter itu tersentak kaget.
"Ah, iya. Maaf. Nyonya, apakah dia suami Anda?" tanya dokter itu seraya menunjuk ke arah Fatan, untuk menuntaskan rasa penasarannya.
"Iya, Dok. Benar. Ada apa ya?" Nila bertanya balik sambil menautkan kedua alisnya.
"Maaf, Tuan. Apa nama Tuan itu Fatan? Seingat saya bukankah dulu Tuan itu kekasihnya Ocha?"
Mendengar nama itu, Nila langsung meradang. Ingatannya langsung teringat akan kejadian beberapa waktu yang lalu.
"Ocha? Kok Dokter tahu nama itu? Apa Dokter kenal dekat sama dia?" cecar Nila lalu melirik ke arah suaminya.
"Kenal sekali. Ocha itu dulu teman saya satu tongkrongan. Dan bukankah kita pernah bertemu saat ada acara ulang tahun teman kami dulu, Tuan?" kata dokter sambil bertanya pada Fatan.
Fatan terdiam sambil memperhatikan wajah dokter itu. Bukan karena dia kagum, tapi dia sedang mengingat apakah dokter itu pernah ada di dalam masa itu atau tidak?
"Mas, biasa aja kali lihatnya," bisik Nila dengan penuh penekanan. Sontak Fatan terkejut mendapat ultimatum dari istrinya.
"Oh iya ... Ternyata dokter temannya dia juga ya. Tapi sayang sekali informasi mengenai dia berpacaran dengan saya itu gak benar sama sekali. Kami hanya berteman aja, gak lebih," jawab Fatan lugas.
"Oh begitu rupanya." Dokter itu merasa tidak enak hati karena mendapat informasi yang tidak relefan. "Maaf ya Tuan, saya hanya mendengar langsung dari Ocha. Jadi saya kira dia dan Anda benar-benar berhubungan."
"Gak apa-apa, yang penting sekarang semuanya udah jelas ya Dok," jawab Fatan santai.
Dokter itu tertawa pelan. "Kalau gitu biar saya periksa nyonya terlebih dahulu ya."
Fatan memperhatikan bagaimana cara dokter itu memeriksakan kondisi kesehatan istrinya. Nila juga sempat ditanya-tanya perihal keluhannya.
"Nyonya, saran saya lebih baik sekarang Anda melakukan cek laboratorium terlebih dahulu ya. Saya sedikit khawatir kalau demamnya akan naik kembali ketika malam hari," jelas dokter itu.
"Iya, Dok saya mau," jawab Nila dan disahuti anggukkan kepala oleh Fatan.
"Baik, kalau gitu nanti saya akan minta perawat dari laboratorium untuk mengambil darah Nyonya yang akan digunakan sebagai sample. Sekarang Nyonya istirahat dulu ya, selagi menunggu perawat datang," sambung dokter itu kemudian pamit dan pergi dari sana.
Usai kepergian dokter, Nila mengesah. Sedangkan Fatan meraih tangan sang istri lalu menggenggamnya sangat erat.
"Sayang ..."
__ADS_1