Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 161


__ADS_3

Fatan akhirnya bisa beristirahat sambil meluruskan kakinya di atas sofa yang terdapat di ruang rawat inap kelas eksekutif, tempat Nila dirawat. Setelah tadi sempat pingsan, mau tidak mau Fatan harus segera mengurus administrasi supaya Nila bisa dapat kamar.


Tepat pukul 8 malam, Fatan yang sempat tertidur pun terbangun karena bunyi dering telepon. Dia sampai tidak mandi dan tidak ingat untuk menghubungi Lalisa yang sedang menjaga anak pertamanya di rumah.


"Astaga, aku ketiduran." Fatan mengusap wajahnya lalu merubah posisinya dari rebahan ke duduk sambil bersandar. Dia melihat ke layar ponsel. "Ya ampun, Ara."


"Iya, halo Bun?" Seketika kesadaran Fatan langsung pulih.


"Fatan astaga! Bunda nungguin kabar kamu daritadi juga," protes Lalisa dengan suara melengking dan hampir membuat gendang telinga Fatan terasa ingin pecah.


"Maaf, Bun. Aku ketiduran." Fatan mengusap tengkuk lehernya lalu menguap kencang.


"Ck! Kamu ini. Nila gimana? Kok jam segini belum pulang?"


"Oh iya aku sampai lupa mau kasih tahu Bunda. Nila harus rawat inap malam ini. Stok ASI buat Ara aman gak Bun? Kalau kurang berikan susu formula aja ya. Kayaknya Nila gak memungkinkan buat lanjut kasih ASI lagi buat Ara." Fatan sebenarnya tidak tega berkata demikian. Namun mau bagaimana lagi, setidaknya Ara harus meminum susu formula yang terbaik buat menemani masa tumbuh kembangnya.


"Loh kok gitu? Memangnya Nila sakit apa, Fatan? Jangan bikin Bunda khawatir deh! stok susu Ara udah mulai menipis. Makanya Bunda mau tanyakan ke kamu." Lalisa terdengar panik. Perempuan satu itu bisa dibilang Mirna kedua. Tidak bisa mendengar berita buruk.


"Jadi sebenarnya, Nila lagi hamil anak kedua kami, Bun." Baru saja Fatan mengatakan seperti itu, Lalisa langsung berteriak


"Aaaaaaa! Yang benar kamu? Astaga jadi Bunda mau punya cucu lagi? Oh senangnyaaaaaa, semoga kembar!"


"Bunda! Dengarkan aku dulu." Fatan sangat kesal.


"Iya, iya. Apa?" Lalisa serius kembali.


"Awal kehamilan Nila kali ini, sangat berbeda. Mual dan muntahnya lebih parah ketimbang saat hamil Ara dulu, Bun. Makanya tadi Nila sempat pingsan karena tidak ada asupan sama sekali. Terus dokter juga menyarankan kalau Ara disapih aja. Bunda ... " Fatan menarik napasnya. "Aku minta tolong ya carikan Ara susu formula yang bagus. Kalau bisa, biar Ara bisa lahap makannya. Jadi bukan cuma susu formula aja yang masuk," pintanya penuh harap.


Lalisa terdengar mengesah. "Oke. Nanti akan Bunda carikan. Bunda juga mau yang terbaik buat cucu Bunda. Ya udah lebih baik sekarang kamu temani Nila di rumah sakit. Karena disana dia lebih sangat butuh kamu, dan jangan terlalu memikirkan Ara. Dia banyak yang sayang, jadi kamu dan Nila gak usah khawatir ya. Anak kalian akan baik-baik aja. Oh iya, pakaian kamu butuh gak? Bunda yakin nih kamu masih pakai pakaian yang sama dari pulang kantor."


"Hehe, iya Bun. Aku minta tolong ya, Bun kemasin pakaian ganti untukku dan Nila."


"Iya, untung Ara udah tidur. Ya udah nanti akan Bunda kemas. Terus sekarang Nila lagi apa?"


"Makasih banyak, Bunda. Nila lagi tidur habis diberi obat lewat infus."

__ADS_1


"Iya sama-sama. Oke deh kalau gitu Bunda kemas sekarang biar langsung diantarkan sama sopir malam ini juga. Eh iya kamu jangan lupa kasih tahu mertuamu. Besok aja deh, takutnya udah malam gini jeng Mirna udah tidur."


"Iya, Bun. Nanti bakal aku beri tahu."


"Oke, udah dulu ya."


"Iya."


Setelah sambungan terputus, Fatan merebahkan tubuhnya kembali. Tulangnya ada beberapa yang langsung berbunyi dan saat itu juga tubuhnya jauh lebih relaks. Dia mengirimkan pesan pada Lalisa terkait lokasi runah sakit serta nomor kamar yang Nila tempati.


Sembari menunggu sopir mengantarkan pakaian, Fatan menghubungi Rusli terlebih dahulu.


"Halo, Bos?" sapa Rusli saat menjawab panggilan teleponnya.


"Rus, maaf ganggu waktu kamu."


"Gak apa-apa, Bos. Ada apa? Tumben malam-malam gini telepon?"


"Begini ... Kalau saya minta besok kamu masuk bisa gak? Soalnya istri saya lagi dirawat sekarang. Kayaknya besok saya gak bisa masuk kantor selama istri saya masih dirawat."


"Syukurlah, saya jadi lega mendengarnya. Makasih ya Rus."


"Sama-sama Bos."


"Seharian ini istri saya pusing dan mual berlebih sampai gak mau makanan ataupun minum sam sekali."


"Astaga, saya turut prihatin ya Bos. Semoga Bu Nila lekas sembuh."


"Aamiin ... Tapi besok pagi sebelum ke kantor aku ingin bertemu denganmu terlebih dahulu untuk membahas pekerjaan selama kamu libur cuti.


"Oke, Bos. Siap!"


"Ya, udah dulu ya."


Fatan menjauhkan ponselnya dari telinga lalu menaruh benda itu ke atas meja. Setengah jam kemudian, pintu ruangan rawat inapnya ada yang mengetuk.

__ADS_1


Perlahan Fatan turun dari sofa lalu berjalan ke arah pintu. Dia membukanya sangat hati-hati supaya Nila tidak sampai terbangun.


Ternyata orang yang mengetuk tadi adalah seorang perawat. Dia datang membawa koper dan beberapa camilan.


"Tuan, ini ada titipan dari bapak yang disana. Katanya dari nyonya Lalisa."


Fatan menoleh ke arah yang dimaksud perawat itu. Ternyata yang mengantarnya itu adalah sopir pribadinya. Berhubung penjengukan dilakukan diluar jam besuk, alhasil sopir itu hanya membawa ke area dekat stasiun perawat.


"Terima kasih banyak, Sus."


Perawat itu kemudian berpamitan padanya. Lantas Fatan pun menutup pintunya lagi seraya menarik koper.


Ketika Fatan baru saja menempelkan bokongnya di sofa, Nila pun terbangun.


"Mas ... Haus," lirih Nila.


Fatan bergegas menghampiri istrinya sampai tergopoh-gopoh. "Sayang mau minum?" Nila mengangguk pelan. Lelaki itu sangat sigap membukakan botol air minum kemasan lalu membantu membantu meminumkannya.


"Apa udah lebih baik?" tanya Fatan saat dirinya sudah menaruh botol minum kembali.


"Entah, Mas. Tapi semenjak dimasukkan obat dari infus tadi, aku udah mulai kerasa lapar," jawab Nila. Suaranya masih terdengar lemah, tapi tidak selemah tadi sebelum dipasangkan infus oleh dokter.


Fatan tersenyum. "Tadi petugas konsumsi rumah sakit, mengantarkan makan malam buat kamu. Berhubung kamu masih tidur jadi makanannya masih utuh. Sekarang kamu makan ya?"


Nila mengangguk bersamaan dengan senyum tipisnya. "Kamu juga ikut makan ya, Mas. Kamu pasti belum makan," timpal Nila memaksa suaminya.


"Iya, Sayang ... Kita makan bareng-bareng ya." Fatan membuka plastik wrap yang menutupi makan malam Nila. Dia dengan sabar menyuapi istrinya. Lantas hatinya merasa bahagia ketika makanan yang disuapinya saat ini bisa tertelan oleh sang istri. Tidak seperti saat di ruang instalasi gawat darurat tadi.


Setelah selesai makan, Nila masih merasa belum kenyang. Ia masih ingin makan lagi.


"Mas, aku masih lapar."


"Aku pesankan makanan dari restauran rumah sakit ini ya? Tadi waktu aku urus administrasi, petugasnya bilang. Khusus pasien ataupun keluarga pasien yang sedang rawat inap, bisa memesan makanan dan diantar sampai depan kamar," jelas Fatan.


"Mau ... Apa kamu dapat daftar menunya, Mas?" tanya Nila mulai bersemangat.

__ADS_1


"Ada nih. Ternyata dirumah sakit ini lumayan juga ya fasilitasnya. Walau tadi aku sempat kesal karena panik, tapi saat petugas yang mengurus administrasi memberitahu tentang fasilitas rumah sakit. Rasa kesalnya langsung hilang. Sebentar ...." Fatan mengambil ponselnya yang sebelumnya dia letakkan di atas meja. Lelaki itu membuka sebuah aplikasi yang ternyata digunakan untuk memesan makanan dari restauran rumah sakit. Bukan hanya itu, di restauran tersebut pun buka sampai 24 jam. Luar biasa bukan? Betah tidak tuh di rumah sakit?


__ADS_2