Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 99


__ADS_3

Makanan yang tadi telah tersedia, sudah dilahap habis oleh Nila dan juga Fatan. Kini keduanya duduk bersantai di pinggir tenda sambil membalut tubuh dengan selimut masing-masing dan mendengarkan musik yang terdengar syahdu sekali. Ditambah semilir angin malam di pegunungan begitu dingin, tapi tidak mengurangi suasana romantis pada keduanya.


Nila menyandarkan kepalanya pada bahu Fatan. Terasa nyaman dan sungguh menentramkan hatinya. Ia merasa beruntung hatinya ditempati oleh seorang laki-laki yang membuat hidupnya kini jauh lebih berwarna.


Sejenak, ia memejamkan mata. Menikmati aroma tubuh khas sang suami. Aroma yang membuatnya candu dan tidak ingin jauh dari sang empunya. Karena Nila begitu menyukainya. Lembut tapi tetap maskulin.


"Sayang ...."


"Iya ?" Nila masih memejamkan mata, tapi sesaat kemudian matanya terbuka lalu menegakkan tubuhnya. Ia pun menoleh. "Ada apa?"


"Menurut kamu, penting gak sih punya buah hati?" Nila terdiam merasa tersentak atas pertanyaan Fatan tersebut.


"Kenapa kamu tanya seperti itu, Mas?"


"Aku hanya takut, kalau tiba-tiba kamu hamil ... Kamu malah belum siap buat menerimanya."


Nila menghela napas. "Kenapa harus takut? Bukankah punya anak dalam pernikahan itu adalah hal yang lumrah untuk melanjutkan keturunan?"


"Ya, memang. Hanya ... Aku gak mau memaksa kamu. Jujur, aku ingin sekali punya anak yang banyak dan itu hanya dari kamu." Fatan menoleh. Entah kenapa menurut Nila tatapan suaminya saat ini begitu sulit diartikan.


"Memangnya kamu mau punya anak seberapa banyak?" tanya Nila penasaran.


"Lima cukuplah. Nanti aku mau bikin lima perusahaan untuk mereka semua," jawab Fatan sambil tersenyum dan menaik turunkan kedua alisnya.


"Ya, selama kamu sanggup buat nafkahin sih. Siapa takut?" Nila malah menantang Fatan.

__ADS_1


"Ya udah, kalau gitu kita buat sekarang gimana? Mumpung dingin nih, Sayang .... " Fatan merengek sambil menggoyang-goyangkan kedua bahu Nila.


"Mas ini di tenda. Kalau sampai ada yang denger gimana?" Nila berdecak serta merasa gugup. Fatan terlihat seperti orang kelaparan padahal sebagian besar makanan tadi dia yang memakannya sampai habis.


"Tenang aja itu urusanku. Ayok masuk!"


Kalau sudah begini, Nila tidak bisa menolak. Fatan segera menutup tenda, sangat rapat. Di dalam kegelapan pun mereka jadi menyatu. Cuaca yang sangat mendukung, Fatan semakin bersemangat untuk menyemburkan lava putih itu ke dalam ruang yang akan ditempati oleh calon bibitnya.


Terik matahari yang menerobos masuk melalui celah tenda. Sepasang suami istri yang semalaman berolahraga pun merasa terusik, kemudian membuka mata.


"Udah pagi ya, Mas?"


"Kayaknya sih iya, Sayang. Tapi aku masih ngantuk banget."


"Lama-lama di dalam tenda panas. Aku mandi dulu ya, Mas. Lengket."


"Iya, aku mau lanjut tidur. Jangan lupa ditutup lagi ya tendanya," titah Fatan dengan mata yang enggan terbuka.


"Iya, Mas." Nila pun memakai pakaiannya lalu keluar dari tenda untuk pergi ke kamar mandi.


Beberapa jam berlalu, Fatan akhirnya bisa benar-benar bangun. Padahal seluruh tubuhnya sudah sangat berkeringat sampai matrasnya lembab dan basah. Benar-benar disamakan seperti di hotel. Tetapi kalau sudah basah seperti itu, mau tidak mau Fatan pun bangun.


Usai mandi, keduanya pergi ke resto untuk menikmati sarapan pagi. Makanan yang tersedia di sana, begitu menggugah selera makan mereka. Semua jenis sarapan pun mereka coba satu per satu. Alhasil hampir satu jam ada di resto, perut mereka kekenyangan dan enggan kembali ke tenda untuk segera check out.


Niatnya mereka akan check out lebih awal, mengingat masih ada persiapan yang harus mereka kerjakan untuk perbukaan perusahaan dengan 'wajah baru'. Walaupun banyak pegawai lama yang memilih mengundurkan diri, tapi hal itu tidak masalah karena masih bisa dengan mudah merekrut pegawai baru yang lebih kompeten di bidang masing-masing. Tentu saja Fatan pun bisa bernapas lega karena banyak 'hama' yang sudah keluar dari sana.

__ADS_1


Mobil yang dikendarai oleh Fatan akhirnya tiba di rumah mewah milik Wicak. Awalnya Nila maupun Fatan ingin tinggal di rumah sendiri, tapi Lalisa terus memaksa supaya mereka tinggal di sana. Alhasil bujuk rayu Lalisa yang penuh drama itu, disetujui oleh anak dan juga menantunya.


"Sayang, kamu turun duluan aja ya. Aku mau nungguin Rusli disini. Soalnya ada yang harus aku bicarakan sama dia," kata Fatan seraya membuka sabuk pengaman.


"Oh ya udah. Kalau gitu aku masuk duluan ya, Mas." Fatan mengangguk seraya tersenyum, lalu Nila pun membuka pintu dan turun dari kursi penumpang.


Ketika baru saja membuka pintu rumah, Nila berpapasan dengan Lalisa yang baru saja keluar dari lift.


"Loh kamu darimana Nila? Kok Bunda baru lihat ya?" tanya Lalisa seraya menghampiri menantunya.


"Habis camping, Bun ... sama mas Fatan," jawab Nila sedikit kikuk. Apalagi tatapan mata Lalisa sangat memperhatikannya. Perempuan paruh abad itu sampai mengendus ke arahnya. "Kenapa Bun? Bau ya?" tanyanya sambil menciumi aroma tubuhnya sendiri.


"Gak. Bunda cuma heran. Sepertinya kamu gak ganti baju tapi kok masih wangi," jawab Lalisa kemudian bersilang dada. "Bukannya setahu Bunda kalau camping itu gak ada kamar mandi ya? Kok aromanya lebih mirip menginap di hotel?" ujarnya terheran sendiri.


Lantas Nila terkekeh geli. "Tebakan Bunda benar. Semalam kami pergi ke tempat camping rasa hotel. Yang membedakan hanya tidur di tenda dan kamar mandi di luar. Itu aja."


"Wah enak dong!" seru Lalisa, sesaat kemudian raut wajahnya berubah menjadi sedih. "Kenapa sih gak ajakin Bunda? Kan seru tuh kalau nambah personil," lanjutnya.


Seketika Nila menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya meringis. "Maaf Bunda. Mas Fatan yang ajakin Nila."


Lalisa mengempaskan napas kasar lalu tersenyum sambil mengelus lengan Nila. "Gak apa-apa kok. Bunda hanya bercanda. Lagi pula bagus dong kalau kalian liburan berdua. Kan biar cepet kasih Bunda cucu," ucapnya terkekeh geli.


"Hehehe, iya Bunda." Nila menjadi salah tingkah. "Bunda mau kemana memangnya?" Ia mengalihkan pembicaraan. Jujur saja, Nila merasa kikuk sekali kalau di bercandakan perihal cucu.


"Bunda mau ke dapur, mau ambil buah buat ayah ... Udah sana mending kamu ganti baju terus istirahat. Jangan terlalu di forsir ya, kalau lelah istirahat. Soalnya kasihan nanti rahim kamu juga ikut lelah," ujar Lalisa yang begitu pengertian sekali dengan menantunya.

__ADS_1


Seketika senyum pun mengembang dari kedua sudut bibir Nila. Perempuan itu merasa terharu saat mendapati perlakuan sang ibu mertua yang selalu baik padanya. "Iya Bunda. Kalau begitu ... Aku pamit ke kamar dulu ya," ucapnya dan Lalisa pun mengangguk. Nila berbalik badan lalu pergi ke kamar menggunakan lift. Pasalnya kedua kaki Nila sudah terasa lemas dan tidak sanggup kalau harus menaiki anak tangga.



__ADS_2