
Tok! Tok! Tok!
Nila mengetuk pintu rumahnya. Tidak sampai menunggu lama, pemilik rumah pun membukakan pintu.
"Eh, kalian udah sampai. Mari silahkan masuk," kata Mirna sopan. Ia langsung mengarahkan ke ruang tamu. Nila, Fatan dan Lalisa pun mengangguk lalu turut bersamanya.
"Ibu, Bunda ... Maaf sepertinya kami hanya mengantar aja. Soalnya habis ini harus ke pengadilan untuk mengikuti sidang," kata Fatan berniat pamit dan mengajak Nila pergi dari sana.
"Oh ya udah. Semoga sidangnya lancar ya, dan keadilan bersamai kalian," kata Mirna seraya mengelus lengan Nila yang berdiri disampingnya.
"Aamiin Bu. Makasih ya doanya."
"Iya, Bunda juga berharap seperti itu. Kalian tetap hati-hati ya," kata Lalisa.
Fatan dan Nila pun akhirnya pergi dari sana setelah pamit pada kedua orang tua mereka.
.
.
.
.
Setibanya di pengadilan, Nila dan Fatan segera pergi ke ruang sidang tempat kasus mereka akan di gelar. Sepanjang perjalanan, Fatan terus menggenggam erat tangan Nila begitu posesif.
"Mas, apa setelah ini semuanya akan berakhir?" tanya Nila lirih, menatap sang suami dengan mata berkaca-kaca.
Fatan menoleh dengan raut tenang setelah itu mengangguk pelan. "Iya, kita sama-sama berdoa ya, Sayang. Aku harap saat semua ini selesai, hidup kita akan jauh lebih baik," ucapnya.
"Aamiin."
Keduanya pun telah sampai di depan ruang sidang. Lantas mereka masuk ke dalam. Ternyata ruang sidang itu tidak terlalu banyak orang dan kebanyakan hanya yang berkepentingan saja.
Kasus yang akan diangkat pun khusus tentang pembunuhan berencana terkait Kemal sebagai tersangka utamanya. Lelaki itu memang sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak hari pertama saat dilakukan penangkapan.
Ketika sidang berlangsung, Kemal masih saja mengelak kalau dirinya bukan dalang dari semua ini. Fatan sampai geram dan hampir lepas kendali karena emosi yang kian meletup.
__ADS_1
Beruntung ada Nila yang membantu menenangkannya. Bagaimanapun posisinya di sana adalah sebagai pelapor. Namun fakta mengejutkan terungkap.
Kemal bukan saja ingin menguasai harta kekayaan Wicak, tapi dia adalah penipu ulung yang berhasil meraup kekayaan dari sebuah situs berbasis permainan berjudi.
Jaksa pun menghadirkan para korbannya. Ada sekitar lima puluh orang yang menjadi korban Kemal dalam permainan tersebut. Alhasil, kejahatannya pun menjadi berlapis. Hukuman yang akan diterimanya akan berlapis pula.
Dari sekian banyak fakta yang disebutkan oleh seorang jaksa itu, Kemal sama sekali tidak mencela dan hanya diam. Dia bersama kuasa hukumnya tetap mendengarkan sampai jaksa mengajukan tuntutan.
"Dari semua kejahatan yang dilakukan oleh saudara Kemal Prayoga. Saya menuntut hukuman mati untuk orang keji seperti dia!" ucap jaksa itu dengan tegas.
"Hakim gak boleh mengabulkan keinginan dia!" ujar Kemal dalam hatinya. Sorot mata yang dilontarkannya pada jaksa itu sangat tajam sekali. Tanpa disadari, Nila memperhatikan setiap gerak-geriknya.
"Mas, apa kamu yakin kondisi seperti ini aman? Apa gak ada sekutunya disini?" tanya Nila berbisik pada Fatan.
"Kamu tenang aja, Sayang. Ini negara hukum. Aku yakin hakim gak akan tebang pilih. Lagi pula di luar ruangan ini udah banyak yang jaga. Termasuk di dalam ruangan ini pula," timpal Fatan dengan sebuah senyuman yang tak luput dari raut wajahnya. Kendati demikian, Nila masih saja merasa cemas.
"Ya Tuhan ... Semoga firasat burukku ini salah," ucap Nila dalam hati.
Selama berjalanannya persidangan itu, semua yang hadir di sana tampak sangat serius sekali. Tiba-tiba saja ....
Dor! Dor! Dor!
"Ada apa ini?"
"Iya, ada apa ya? Kenapa sampai ada suara tembakan seperti itu?"
"Semuanya keluar dari sini!" seru salah satu anggota polisi mengarahkan ke pintu darurat. Satu per satu orang yang tadinya duduk tenang dan serius mendengarkan serta mengamati jalannya sidang, langsung berhamburan menuju pintu darurat ini.
Kedua tangan Fatan seketika mengepal dan matanya pun terarah tajam kepada Kemal.
"Kenapa dia kelihatan tenang sekali? Apa ini juga bagian dari permainannya?" tanya Fatan dalam hatinya.
Sementara Nila hanya mengeratkan genggaman tangannya pada tangan sang suami. Ia terlihat sangat ketakutan sekali. Firasat buruk yang tadi sempat ditepisnya pun, akhirnya kejadian juga.
"Ya Tuhan lindungi kami. Buatlah kebenaran di atas segalanya," batin Nila memohon pada Sang Pencipta.
Setelah peserta sidang telah berhasil di amankan, Fatan yang bersama Nila pergi ke kantor polisi untuk meminta informasi atas kejadian itu.
__ADS_1
.
.
.
.
"Ada apa Pak? Kenapa sidangnya mendadak kacau?" tanya Fatan tegas.
"Kami mohon maaf Tuan ... Jadi, begini ..." Polisi yang sedang berbicara dengan Fatan pun tampak menarik napas terlebih dahulu. "Tadi saat hakim hendak ingin memberikan vonis hukuman kepada tersangka, gak tahu darimana datangnya ... ada sekelompok orang berjumlah kurang lebih tiga orang membawa rantai motor, velg, serta stang berbentuk runcing datang dan menyerang para anggota kami yang sedang berjaga di luar. Mau tidak mau, kami juga menggunakan senjata. Untuk itu kami mohon maaf, dan sidang akan dilanjutkan lagi lusa."
Mendengar hal itu, Fatan langsung mengusap kasar wajahnya. "Baiklah kalau gitu, terima kasih. Permisi."
Fatan berbalik badan lalu membawa Nila keluar dari sana. Dengan langkah yang masih dikuasai amarah, keduanya keluar meninggalkan kantor itu.
Saat sudah tiba di dalam mobil, tiba-tiba reflek Fatan memukul stir mobil itu guna meluapkan amarahnya.
"Si*al!" Fatan berdecak. "Dia sangat licik. Dasar rubah!" omelnya tanpa menyadari kalau Nila tampak ketakutan melihat Fatan yang baru saja dilihat oleh Nila.
Namun ketika tanpa sengaja Fatan menoleh. Dia melihat manik mata Nila mulai berkaca-kaca. Fatan pun panik.
"Sayang, ada apa?" tanya lelaki itu sambil meraup kedua pipi Nila dan sedikit mengangkat dagu supaya Nila bisa menatap matanya.
Seketika Fatan pun tersadar. "Maaf Sayang, aku udah emosi banget tadi."
Nila menarik napas dalam-dalam. Hingga beberapa saat kemudian perempuan itu angkat bicara. "Gak apa-apa, Mas. Aku ngerti. Kalau kamu mau nangis ... Sah, sah, aja kok," jawabnya mulai tenang kembali.
Fatan berdecak lalu tersenyum seringai sembari menatap ke depan. "Kalau lagi seperti ini, aku gak bisa nangis. Yang ada ... Aku cuma pengen ngeluapin emosi."
Nila mengangguk paham. "Mas ... Apa ketiga orang tadi itu bagian dari orang suruhannya tersangka?"
"Aku juga belum tahu. Semua masih dicari tahu," jawab Fatan lalu memijat keningnya.
"Bukankah bukti yang ada udah jelas?" tanya Nila.
"Kurasa begitu. Tapi sepetinya .... " Fatan menghentikan ucapannya. Ia teringat akan sesuatu hal. "Kamu tunggu di mobil ya, aku akan hubungi Lian dan juga Rusli. Aku rasa mereka punya informasi lebih," lanjutnya kemudian keluat dari mobil untuk melakukan panggilan kepada dua orang kepercayaannya.
__ADS_1
Sementara Fatan sedang menelepon, tidak sengaja ekor mata Nila menangkap seseorang keluar dari pintu belakang kantor polisi itu, menggunakan topi serta jaket dan juga sepatu.
"Bukankah dia itu ... Oh, gak mungkin!!"