Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 9


__ADS_3

Tepat pukul 7 malam, Nila baru saja tiba di rumah. Ia mematikan mesin mobil lalu turun dari kursi kemudi.


"Mobil siapa ini?" tanya Nila bermonolog ketika melihat sebuah mobil Avanza berwarna hitam terparkir bersebelahan dengan mobilnya.


Dengan rasa penasaran, Nila pun segera masuk ke dalam rumah. Saat sampai di depan pintu, Nila melihat ada dua orang laki-laki sedang berbincang dengan ayahnya.


"Malam Yah," sapa Nila, tak lupa juga menyapa kedua tamu itu dengan menunduk sopan. "Nila ke dalam dulu ya, Yah," pamitnya kemudian pergi ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Nila pun segera mandi dan berganti pakaian. Barulah setelah itu ia bisa bersantai ria di kamarnya. Mulanya memang hanya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, namun rupanya Nila terlanjur terlelap. Sebab ingin menangis pun sepertinya air mata Nila sudah habis menangisi Bayu. Bagi Nila rasanya mustahil mengharapkan laki-laki itu bisa kembali bersamanya. Mungkin berusaha merelakan akan lebih baik, supaya jika suatu saat bertemu lagi Nila akan bersikap biasa saja dan seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.


.


.


.


.


Di dalam sebuah mobil, Bayu dan Winda duduk saling berdampingan. Namun seperti biasa, ada jarak diantara mereka. Lebih tepatnya ujung ketemu ujung, terlihat seperti orang yang sedang marahan. Sopirnya itu awalnya kaget melihat majikannya tidak seharmonis ketika mereka berpamitan dengan nyonya besar di rumah itu. Akan tetapi sopir itu hanya diam dan tidak banyak bertanya ataupun berkata.


"Mas, aku boleh nanya sesuatu gak?" Pertanyaan Winda memecah keheningan di sepanjang perjalanan menuju rumah besar itu.


"Soal?" Bayu bertanya balik, kembali lagi dengan sikap dinginnya.


"Kamu ketemu Nila dimana? Bukannya dia kamu bilang temanmu? Teman apa?" cecar Winda yang langsung memborong pertanyaan pada suaminya.


Bayu menarik napas sangat dalam, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sang istri.


"Dulu, kami gak sengaja ketemu di sebuah mall yang kebetulan lagi ada acara musik. Acara itu disiarkan oleh televisi. Waktu itu ... Aku lagi beli hadiah buat Mama, karena beliau lagi ulang tahun. Ya singkat cerita, kami ketemu lagi di sosmed terus saling komunikasi semakin lama semakin intens," jelas Bayu jujur.


"Kamu cinta sama dia?" Pertanyaan Winda kali ini membuat degub jantungnya berdetak tak berirama. Tentu jawabannya adalah 'iya'. Namun sayangnya Bayu hanya diam, tidak menjawab sepatah katapun soal itu.


"Kalau kamu cinta, kenapa kamu gak nikah sama dia? Perjuangin dia, kenapa mau nikah sama aku dan pernikahan kita bagai sebuah drama yang entah kapan berakhir. Kenyataannya baru seminggu jadi istri kamu, tapi rasanya seperti sudah lama sekali ... Sayangnya aku--"


Dengan cepat Bayu memotong ocehan Winda.


"Cukup Winda! Kalau mau meluapkan segala unek-unekmu lebih baik kalau kita sudah sampai rumah, paham gak?" tegasnya sedikit meninggikan suara. Bayu merasa keburukan dan rahasia rumah tangganya tidak layak didengar oleh orang lain kecuali mereka berdua. Sebab di sana ada sopir yang bersama mereka.


Setelah mendapat sebuah bentakan yang dilontarkan oleh Bayu, Winda pun terdiam.


...****************...


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah. Bayu lebih dulu masuk ke dalam dan disusul oleh Winda. Beruntung ibunya Bayu sedang tidak ada ketika keduanya lewat.

__ADS_1


"Winda, harus berapa kali sih aku bilang? Jangan sembarangan mengumbar rahasia diantara kita! Kamu harus sadar, aku siapa dan kamu siapa. Pernikahan kita bukan didasari oleh cinta. Aku pribadi butuh waktu, untuk menyentuhmu aja aku belum siap!" tegas Bayu secara tidak langsung meminta Winda mengerti dirinya.


Kedua mata Winda berkaca-kaca. "Memangnya apa yang kurang dariku? Lantas yang kamu maksud 'siapa' itu bagaimana? Status pekerjaan kita kah atau apa? Aku tahu Mas, pernikahan kita hanya paksaan. Tapi asal kamu tahu, sejak pertama kali kita sah menjadi suami istri, aku belajar supaya bisa cinta sama kamu. Sayangnya kamu berbeda. Apa karena Nila?"


Mendengar nama mantan kekasihnya yang paling dicintai itu, hati Bayu seketika mendidih, panas.


"Jangan membawa orang lain dalam rumah tangga kita. Karena Nila bukan siapa-siapa aku!" tegas lelaki itu sekali lagi.


Namun rupanya, Winda masih belum puas. Perempuan itu masih ingin mengorek tentang Nila pada suaminya.


"Tapi entah kenapa aku ngerasa kamu sama Nila ada sesuatu?"


"Gak usah menilai sesuatu yang kamu gak tahu pasti kebenarannya," pungkas Bayu lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi supaya pikirannya bisa lebih segar.


Sementara Winda yang masih sangat penasaran, langsung mencari keberadaan ponsel milik suaminya. Akan tetapi hasilnya nihil karena Bayu membawa ponselnya itu ke dalam kamar mandi, terbawa saat masih di dalam kantung celana.


Winda seketika putus asa. Ia pun memilih keluar dari kamar dengan raut wajah yang masih tampak kesal.


Tak di sangka saat baru saja menuruni anak tangga terakhir, Winda berpapasan dengan mama mertua-nya.


"Winda, kamu kenapa ? Kok kayaknya lagi gak baik-baik aja," tanya perempuan setengah abad yang masih tampak cantik itu.


"Winda lagi kesel Ma sama Bayu. Tadi waktu makan di kedai, ada perempuan namanya Nila. Terus ada yang aneh gitu sama sikapnya Bayu." Perempuan itu akhirnya terlanjur bicara karena sudah tidak mungkin dipendam lagi. Mengingat sikap suaminya yang selalu dingin saat bersamanya.


"Mama kenal juga sama Nila?" tanya Winda dengan perasaan yang campur aduk.


Mama mertuanya hanya mengangguk pelan dengan masih menunjukkan raut wajah yang dipenuhi amarah.


"Sebenarnya, Nila itu siapa sih Ma?" Winda semakin penasaran. Terselip ada ketakutan juga di dalam hatinya.


"Dia ... "


"Winda, aku mau bicara sama kamu!" titah Bayu yang tiba-tiba muncul di ujung anak tangga.


Winda terlonjak kaget, sebab ia belum mendapat informasi dari mama mertuanya perihal Nila.


"Bayu, sebelum kamu bicara sama Winda ... Mama yang ingin lebih dulu bicara sama kamu. Ikut Mama sekarang!"


Sebentar lagi perang dingin antara Bayu dan Winda akan semakin gencar.


...****************...


Sang ibu membawa Bayu ke dalam sebuah ruangan yang dulunya digunakan ayahnya Bayu sebagai ruang kerja. Sekarang ruangan itu hanya digunakan sebagai ruang baca ibunya sehari-hari sebagai pelepas rindu pada mendiang suami.

__ADS_1


"Benar tadi kamu sama Winda makan bareng sama Nila?" Sebuah pertanyaan awal yang sudah membuat suasana seketika menjadi tegang.


"Iya, tapi bukan Bayu yang ajak Ma ... Dany yang ajak. Bayu juga gak tahu kenapa Dany kenal sama Nila," jawab Bayu jujur.


"Apa Dany tahu kalau kamu mantannya Nila?" Pertanyaan kedua suasana mulai sedikit mencair karena nada bicara ibunya tidak setinggi di awal.


"Gak Ma, dia gak tahu sama sekali soal itu. Bayu gak pernah cerita ataupun kenalin Nila sama dia."


"Lantas, gimana hubungan kamu sama Winda? Kayaknya semakin kesini Mama lihat kalian agak merenggang. Jangan bilang karena Nila?"


"Bayu sama Winda baik-baik aja Ma. Bayu juga gak pernah ngelarang Winda buat berkarir. Biarin aja dia lakuin apa yang bisa buat dia bahagia."


"Kamu udah cinta sama Winda? Kapan mau kasih Mama cucu?"


Pertanyaan itu seolah menjebak Bayu untuk membantah hati nuraninya yang sampai saat ini belum melakukan hubungan suami istri dengan Winda.


"Anak itu kan rezeki, Ma. Mana Bayu tahu kan?"


"Tapi kamu udah usaha belum? Maksimalin dong usahanya biar jadi cucu Mama."


"Iya Ma. Doain aja," pungkas Bayu tidak sabar ingin keluar dari ruangan itu.


Namun ternyata karena rasa penasaran Winda sangatlah besar, perempuan itu sampai menguping di depan ruangan tempat Bayu dan ibunya sedang bicara. Ironisnya, ruangan itu dari awal saat pembangunan sudah dirancang sedemikian rupa supaya tidak ada seorang pun yang bisa mendengar apapun yang terjadi di dalam. Bahkan untuk 'bermain' dengan mengeluarkan suara sekeras mungkin tidak akan bisa yang dapat mendengarnya. Hanya pemain dan Tuhan lah yang tahu.


"Si*al, aku gak bisa denger apa-apa! Kira-kira apa ya yang mereka bicarain? Sumpah! Rasanya penasaran banget," gerutu Winda sambil berkacak pinggang berdiri di depan pintu.


Tiba-tiba ditengah rasa kesalnya, ia mendengar seseorang hendak membuka pintu itu. Winda segera mencari tempat persembunyian.


Benar saja, Bayu keluar dari sana lalu disusul mama mertuanya. Winda menembuskan napas lega karena tidak sampai ketahuan menguping oleh mereka. Karena bukan hanya sebuah tertawaan saja, melainkan lontaran kata yang mungkin bisa menyakitkan hati pun bisa terjadi. Setelah dirasa aman, Winda kembali ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian.


Ketika Bayu masuk ke dalam kamar, lelaki itu tidak menemukan keberadaan istrinya di sana.


"Kemana perginya Winda?" gumamnya lalu berjalan dan duduk di pinggir tempat tidur seraya menyambungkan kabel pada ponselnya untuk diisi daya.


Sesaat kemudian, Winda keluar dari ruang ganti pakaian dengan sudah menggunakan piyamanya.


"Win, kamu ngadu sama Mama?" tanya Bayu terkesan acuh.


"Kelepasan ngomong," jawab Winda yang juga acuh. Sedangkan Bayu mendengus kesal. Sebenarnya Winda ingin bertanya banyak lagi, tapi rasanya tidak mungkin kalau Bayu akan menjawabnya.


"Lantas kenapa berkas kontrak kerjamu dikirim ke kantorku?"


Winda terdiam sejenak seraya berpikir. "Serius? Aku juga gak tahu, pantas aja kok aku gak dapat-dapat berkas itu!" tukasnya lalu memijat kening.

__ADS_1


"Besok akan aku bawa pulang," ujar Bayu lalu merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Winda, begitupun sama halnya yang dilakukan oleh istrinya.


__ADS_2