Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 143


__ADS_3

Belum sempat Fatan melanjutkan ucapannya, bayi mungil yang sejak tadi tertidur pulas pun terbangun. Nila bergegas turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati, sebab tangannya masih terpasang infus.


"Sini aku bantu," tawar Fatan sambil mengulurkan tangannya dan beranjak dari kursi.


Namun Nila menepis pelan tangan suaminya supaya tidak menyentuhnya. "Gak usah, Mas. Aku bisa sendiri kok."


Fatan pun tidak memaksa, dia memperhatikan sang isri. Semenjak Ocha kembali, tanpa disadari olehnya perasaannya mendadak bimbang serta takut.


Nila menggendong sambil mengayun-ayun supaya putri cantiknya bisa lebih tenang. Benar saja, beberapa saat setelah itu bayinya tertidur kembali. Dia tampak pulas dan tenang ketika digendong oleh ibunya. Entah kenapa memperhatikan wajah si kecil, menjadi penenang sekaligus kesukaan Nila. Ia enggan berpaling, bahkan rasa sakit dan cemburunya bisa terempas sejenak tatkala melihat wajah polos putri kecilnya.


"Sayang, apa kamu udah beri nama anak kita?" tanya Fatan memecah keheningan, serta suaranya pun sedikit lebih pelan.


Nila hanya bergumam serta mengangguk.


"Siapa namanya?" Fatan menatap kagum dengan aura keibuan yang dimiliki oleh sang istri.


"Kata Ibu, pemberian nama itu setelah tali pusatnya terlepas," jawab Nila dengan raut wajah datar.


"Oh begitu ya. Baiklah. Nanti setelah pulang dari rumah sakit, kita buatin kamar buat baby ya? Design nya kamu yang atur," usul Fatan merasa bersemangat.


"Gak usah, Mas. Aku mau pulang ke rumah Ibu aja." Nila menjawab cepat.


"Kenapa, Sayang? Apa kamu gak nyaman tinggal di rumah ayah? Kan ada bunda dan yang lain pasti senang menyambut bayi kita." Fatan tampak tidak setuju.

__ADS_1


"Ya gak apa-apaa. Aku cuma merasa, alangkah lebih tenang dan nyaman kalau ibu yang mengurusku. Bagaimanapun, bunda itu ibu kamu. Mertua aku, dimana aku juga punya batasan untuk meminta tolong padanya. Beliau memang baik, semua orang yang yang ada di rumah itu juga baik." Nila pun mempertegas kembali.


Namun dalam hati kecilnya bilang. "Kecuali kamu, Mas."


"Apa kamu keberatan, Mas?" sambung Nila menatap lekat suaminya. Jika dilihat dari luar, ia tampak tegar sekali. Tetapi siapa sangka dengan hatinya? Sangat rapuh dan butuh pendukung penuh.


Fatan tampak berpikir, kemudian menghela napas panjang. "Ya udah kalau itu mau kamu. Aku gak keberatan kok." Lelaki itu menyunggingkan senyum. "Mending baby nya taruh dulu, Sayang. Kayaknya dia udah pulas banget. Kamu juga bisa lanjut tidur lagi."


"Iya, Mas. Kalau kamu ngantuk, tidur duluan aja. Lagian kamu juga masih kurang enak badan 'kan? Aku masih pengen gendong dia," kata Nila.


Sesaat kemudian, Fatan menguap sangat kuat. "Ya udah deh, aku tidur duluan ya. Kalau ada apa-apa bangunin aku aja ya, Sayang." Dia beranjak dari kursi lalu berjalan ke arah Nila. Sebelum membaringkan tubuh, dia mengecup kening sang istri cukup lama lalu merangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku minta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang telah aku buat, karena membuatmu seperti ini ... Terima kasih juga atas perjuanganmu saat melahirkan anak kita. Kamu perempuan hebat yang pernah aku temui. Kehadiran kamu telah menyadarkan aku tentang rasa syukur. Sekali lagi aku minta maaf, aku janji akan memperbaiki semuanya. Percayalah, saat ini cuma kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai."


Nila memperdalam tatapannya, matanya mencari kejujuran dari sorot yang diberikan oleh sang suami. Namun, rasa kecewa menutupi hati Nila dan menepis rasa percayanya.


Hebatnya Nila, ia mampu menahan tangis yang sejak tadi ingin dikeluarkan. Mungkin memang benar adanya, kehadiran putri kecilnya itu menjadi penawar dihidupnya saat ini.


"Iya." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Nila beriringan sengan senyum tipis, setelah Fatan panjang lebar mengungkapkan isi hatinya.


Fatan melepaskan rangkupan tangannya dari wajah Nila. Lantas mengecup putrinya yang tengah tertidur dipelukan ibunya. "Daddy sangat menyayangimu."


Usai itu, Fatan mundur lalu berbaik badan. Dia berjalan ke sebuah kasur ukuran seorang yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur Nila.


Karena memang sudah terlalu lelah, Fatan cepat sekali tertidur pulas. Sedangkan Nila perlahan menaruh putri kecilnya ke dalam box bayi. Setelah itu meraih ponsel dan mengirimkan pesan kepada Lativa.

__ADS_1


《Tiv, Kakak minta tolong belikan ponsel baru yang sama dengan punya Kakak sekarang. Jangan lupa kartu perdananya juga. Ini sekalian Kakak kirimkan uangnya. Kalau udah dibeli, kamu simpan dulu ya Tiv. Soalnya habis pulang dari rumah sakit, Kakak mau pulang ke rumah ibu.》


Pesan itu berhasil terkirim, begitu pula dengan sejumlah uang berikut bukti yang telah ditransfer ke rekening Lativa. Namun Nila menghapusnya kembali hanya dari ponselnya saja, karena ia kahawatir Fatan akan memeriksa ponselnya.


Benar atau tidak rencana awalnya, yang jelas Nila ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu. Sudah cukup jalan terjal dengan bebatuan serta perosotan yang membuat hidupnya jungkir balik hingga terjatuh kembali pada titik terendahnya.


Lantas Nila menaruh ponselnya lagi ke atas meja dan lekas tidur.


...----------------...


Tidak terasa, pagi pun datang. Nila merasa kesilauan karena gorden kamar tempatnya di rawat telah dibuka. Sehingga sinar matahari dengan leluasa masuk menerangi seluruh ruangan.


Namun ketika pandangannya beralih ke sebuah tempat tidur yang semalam ditempati oleh Fatan, ia tidak melihat keberadaan suaminya di sana. Di ruangan itu hanya ada dirinya dan juga bayi mungil yang masih tertidur pulas.


Sorot matanya beralih lagi ke arah jam dinding. Di sana terlihat sudah pukul 7 pagi. Nila sampai tidak ingat semalam ia tidur pukul berapa. Sebab rasa kantuk itu seketika datang dan membuatnya terlelap sangat tenang.


Di atas mejanya, sudah tersedia sarapan dengan menu yang sangat berbeda dari terakhir yang ia makan. Mungkin bisa dibilang spesial, karena menu yang tersedia adalah makanan kesukaan Nila semua. Akan tetapi dari sekian banyak makanan itu, ada sebuah kertas yang menarik perhatiannya.


Tangan Nila berusaha menggapai kertas itu tanpa harus turun terlebih dahulu dari tempat tidur, dan berhasil. Ia pun segera membuka lipatan kertas itu. Ternyata di dalamnya terdapat sebuah tulisan.


"Selamat pagi, Sayang. Semoga hari ini lekas membaik ya. Oh iya, maaf aku gak sempat pamitan sama kamu saat aku pergi ke kantor tadi. Aku takut ganggu istirahat kamu, makanya sebagai permintaan maaf aku, sarapan pagi ini aku siapin yang spesial banget. Selamat mengASIhi, Sayang. Sehat-sehat ya buat kalian berdua kesayangan aku. Salam sayang, suami serta Daddy tampan. Fatan."


Nila tersenyum tipis lalu melipat kertas itu kembali dan disimpan di bawah bantalnya. Ia pun turun dari tempat tidur dengan hati-hati, setelah itu menarik kursi perlahan supaya tidak mengeluarkan suara yang keras mendekat ke meja. Sebelum putri kecilnya bangun, Nila segera menghabiskan sarapan paginya terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2