Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 6


__ADS_3

Matahari sudah mulai terik. Kalau dihitung, Nila sudah melakukan lima kali putaran di taman berukuran lima dua ratus kali dua ratus meter itu. Keringat pun sudah bercucuran membasahi kening dan punggungnya. Nila akhirnya berhenti dan menghampiri sebuah gerobak yang menjual ketoprak tempat kedua orang tua serta adiknya berada.


"Udah capek? Nih minum dulu ... kamu udah keringetan sekali!" kata ibunya sambil menyodorkan sebotol air mineral pada Nila.


"Makasih Bu." Nila mengatur napasnya seraya mengambil air itu kemudian meminumnya hingga habis tak tersisa.


"Kamu mau makan gak, Nila?" tanya ayahnya saat hendak membayar.


"Nila mau sabu aja, Yah," jawab Nila sekenanya.


"Hah? Sabu? Bukannya itu benda terlarang di sini, Nila ... " tukas sang ayah lalu menggelengkan kepala.


"Ada Ayah ... Itu gerobaknya ada di sebelah tukang ketoprak," jawab Nila dengan santai.


Ayahnya kemudian menoleh, ternyata sabu yang dimaksud oleh Nila itu sarapan bubur kacang ijo. Kedua orang tua dan adiknya memberi tatapan malas seraya mengembuskan napas panjang.


Sepulang dari pasar, Nila mandi lagi karena tubuhnya terasa lengket karena keringat sehabis olahraga tadi. Setelah menyelesaikan semua itu, ia bersantai di kamar sambil mendengarkan musik. Tak lupa earphone pun dipasang pada kedua telinganya.


Tak disangka disaat musik tengah berputar dan Nila sampai terbawa suasana ikut bernyanyi, suara notifikasi tiba-tiba muncul. Ketika dibuka, ternyata Nila dimasukkan ke dalam sebuah grup chatting yang isinya para alumni SMA tempat Nila sekolah dulu.


"Siapa ya yang masukin aku ke grup ini?" gumamnya bertanya-tanya.


Di dalam grup itu langsung ramai, yang lebih mengejutkan lagi semua orang yang ada di sana bukan hanya seangkatan dengannya, melainkan ada juga angkatan kakak kelas yang tiga tahun di atasnya serta adik kelas empat tahun di bawahnya. Benar-benar sangat ramai, mereka saling bersahutan.


Nila hanya menyimak, hingga di chat terakhir pengumuman yang paling penting pun muncul di sana.


"Reuni? Di sekolah?" Nila melanjutkan kembali membaca pengumuman tersebut. "Minggu depan? Wah kayaknya bakal seru nih!" ucapnya sangat optimis.


Salah satu admin yang pertugas di grup itu mulai mengirimkan list siapa saja yang akan ikut. Dengan penuh semangat, Nila mengisinya diurutan nomor dua karena saat tadi ingin di nomor satu, sudah keduluan oleh orang lain.


Setelah selesai mengisi, Nila keluar aplikasi dan melanjutkan mendengarkan musik lagi memutar lagu yang pas untuk suasana hatinya serta menghiraukan chat apa saja yang ada di grup tadi karena yang paling terpenting adalah tanggal pelaksanaannya. Sudah ditandai pada kalender digital yang ada di ponselnya.


.


.


.


.


Satu minggu telah Nila lewati dengan perasaan yang masih terasa mengambang. Rasa cintanya pada Bayu selama delapan tahun lamanya itu masih terus menganggap hubungannya masih bersatu dan berjalan dengan baik. Ironisnya, Nila semakin sulit melupakan Bayu.


Walau begitu, acara reuni yang akan di hadiri malam ini akan tetap ia hadiri. Mengingat Nila juga sudah terlanjur mengisi daftar hadir sejak pendaftaran dibuka untuk yang pertama kalinya.


Perempuan berambut panjang itu telah selesai memoles wajahnya dengan tampilan make up flawless yang dipadukan oleh dress warna monokrom serta wedges setinggi tujuh centimeters.


Tepat pukul tujuh malam, Nila berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi menghadiri acara tersebut. Beruntung tempatnya itu tidak terlalu jauh dari rumahnya. Namun tetap saja karena angin malam ini cukup terasa dingin, Nila memutuskan untuk mengendarai mobil menuju tempat acara.

__ADS_1


Setibanya di sana, Nila turun dari kursi kemudi dan berjalan ke stand pintu masuk. Ternyata acara reuni itu diadakan di dalam aula sekolah yang memang sangat luas, mungkin sekitar dua kali luas lapangan futsal.


Berkat datang ke acara itu, di sana Nila bertemu dengan teman-teman satu angkatannya. Dari yang dulunya satu kelas dengannya hingga berbeda kelas namun saling kenal. Kemeriahan acara malam ini cukup mengusir rasa suntuk yang menderanya akhir-akhir ini.


Ditengah berlangsungnya acara, kebetulan Nila juga sedang sendiri berada di kursi tidak jauh dengan pintu masuk. Tiba-tiba ada seorang laki-laki duduk di sebelahnya.


"Kamu sendiri?" tanya laki-laki itu. Namun Nila tidak langsung menyadarinya sebab pandangannya pun masih fokus melihat ke arah panggung yang sedang ada pertunjukkan musik.


Lelaki itu kemudian pindah duduk tepat di depan Nila. "Kamu sendirian?"


"Oh, kamu nanya aku?" Nila bertanya balik.


"Iyalah! Siapa lagi. Cuma kamu yang duduk di sini," jawab lelaki itu.


Nila menoleh ke kanan dan kiri memastikan kalau apa yang dikatakan oleh lelaki itu memang benar adanya.


"Iya sendiri, kenapa emangnya?" Nila bertanya lagi.


"Nama kamu siapa?" Laki-laki itu kemudian mengulurkan tangannya. "Kenalin aku Dany, alumni sekolah ini jurusan IPA dulu."


"Oh, Aku Nila." Tangan Nila membalas uluran tangannya namun hanya sebentar.


"Nila ... kayak nama ikan, tapi bagus," seloroh lelaki yang bernama Dany itu.


Mendengar namanya disamakan dengan ikan, Nila hanya tersenyum sinis melihat Dany dengan tingkah serampangan.


"Dua ribu empat belas, kamu?"


"Dua ribu dua belas."


"Loh kamu kakak kelasku ternyata."


"Iya berarti kamu harus panggil aku dengan sebutan 'kakak'," kata Dany dengan percaya dirinya.


"Harus ya?" tanya Nila menatap risih.


"Iya dong!" Dany kemudian tertawa dan Nila hanya tersenyum tipis. "Omong-omong sekarang kamu kerja apa?"


"Kerja yang bisa ngehasilin uang," jawab Nila sekenanya. Sepertinya ia sudah mulai ketularan Lativa, berbicara dengan sebuab lelucon yang konyol di dalamnya.


"Ya apa ... kan banyak. Terus macam-macam lagi."


"Emangnya kenapa sih? Pengen tahu banget kayaknya!" sahut Nila sedikit kesal. Terlebih akhir-akhir ini ia memang sedang sensitif perasaannya.


"Ya emang salah kalau aku nanya kerjaan kamu. Paling gak kalau aku tahu, kapan-kapan aku bisa jemput kamu pas pulang kerja," jawab Dany menurut logikanya.


"Kalau ternyata aku pekerja dimalam hari terus pulang pagi gimana?" tanya Nila sedikit menantang.

__ADS_1


"Serius? Pekerja komersial maksudnya?" tukas Dany dengan raut wajah yang melongo.


Nila mengulum bibirnya menahan tawa, apalagi saat melihat ekspresi wajah Dany yang seolah mempercayai ucapannya.


"Dibayar berapa kamu sekali main?" tanya Dany lagi mulai penasaran.


"Gak sedikit, paling gak angka nolnya tujuh sampai sembilan digit." Nila melanjutkan aktingnya.


"Sumpah demi apa? Aku gak nyangka loh perempuan yang kelihatan anak baik kayak kamu bisa dapat segitu banyaknya sekali main. Apa jangan-jangan sugar daddy-mu banyak?" Dany semakin percaya dan malah dia yang tremor sendiri.


Tak sengaja sepasang mata Nila melihat ke arah jam dinding yang ada di dinding ruangan itu. Ternyata sudah pukul setengah sembilan malam.


"Kak, kayaknya aku mau pulang sekarang nih. Udah malam, aku juga udah mulai ngantuk."


"Serius jam segini udah ngantuk? Aku gak bisa ngebayangin waktu kamu ngelayanin pelanggan terus kamunya malah tidur sebelum pelayan itu puas," sahut Dany yang semakin lama obrolannnya semakin ke sana.


Nila beranjak dari tempat duduknya. "Kalau kamu mau coba, pesan aja lewat aplikasi menghalu dot com! Bye Kak Dany."


Sementara lelaki itu hanya terdiam, seketika perasaannya mengatakan kalau sejak tadi dirinya dikerjai oleh Nila. Dany pun kemudian ikut beranjak dari tempat dudukny, berlari keluar lalu menyusul Nila yang belum menghilang dari pandangannya.


"Nila tunggu!" Dany berteriak karena jaraknya sudah cukup jauh.


Sementara Nila yang hendak membuka pintu mobilnya mendengar suara teriakan Dany seketika di urungkan dan memilih berbalik badan lalu melihat ke sumber suara.


Lelaki itu berlari ke arahnya. "Boleh minta nomor hape-mu?" tanyanya ketika sudah berada di depan Nila.


"Buat apa?" tanya perempuan berambut panjang itu menyelidik.


"Buat ngajak kamu jalan. Siapa tahu kan kita bisa jadi teman baik," jawab Dany sambil memainkan kedua alisnya naik turun dan memberi senyuman yang paling manis menurutnya.


"Modus!" balas Nila lalu membuka pintu mobilnya namun seketika ditahan oleh Dany.


"Aku serius Nila ... " Dany mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana lalu memberikannya pada Nila, perempuan yang sedang dikejarnya itu. "Ini catat aja nomormu di sini."


"Maaf, aku gak bisa ngasih. Kalau emang masih dikasih kesempatan sama Tuhan, kita pasti bakal ketemu lagi ... " Nila menyingkirkan tangan Dany yang menahan pintu mobilnya supaya tidak bisa dibuka. "Permisi aku harus segera pulang ke rumah!" pungkasnya dan Dany pun mengalah. Dia mundur dan membiarkan Nila masuk ke dalam mobil.


"Nila! Kalau kita ketemu lagi, apa kamu bakal ngasih nomor hape-mu dan jalan sama aku?" tanya Dany sebelum Nila menutup pintunya.


Perempuan itu hanya tersenyum menyeringai.


"Kita lihat aja nanti," jawab Nila lalu menutup pintu mobilnya.


Dany hanya menatap nanar kepergian Nila dari sana.


"Kamu itu cantik, makanya aku tertarik. Bagaimanapun caranya, aku harus bisa buat kamu jatuh cinta sama aku, Nila," ujar Dany bermonolog.


Nila sedang tidak percaya kepada lelaki manapun saat ini. Luka dihatinya belum sembuh. Meski kata orang obat sakit hati itu jatuh cinta lagi, tapi jika jatuh cinta pun sesaat dan sakit hati lagi, buat apa? Lebih baik mengobati luka itu dengan kesendirian. Walau terkadang dirundung sepi, setidaknya menjaga hati jauh lebih baik demi kewarasan batin.

__ADS_1


__ADS_2