Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 105


__ADS_3

"Tapi apa, Nila?" Lalisa menatap lekat menantu kesayangannya itu. Ia tampak penasaran sekali sampai rasanya gemas karena Nila masih saja diam.


Nila tidak langsung menjawabnya. Ia meraih tas yang ada di atas meja nakas lalu mengeluarkan sebuah amplop putih yang sempat diberikan oleh dokter kandungan tadi.


"Ini, Bunda." Nila menyodorkan amplop itu pada Lalisa.


"Ini apa?" tanya Lalisa menautkan kedua alisnya sambil mengambil amplop tersebut.


"Spesial buat Bunda, hehe," seloroh Nila. Namun Lalisa semakin bingung sekaligus detak jantungnya semakin dag-dig-dug. Dia membolak-balikkan amplop itu dan hanya menemukan nama serta alamat rumah sakit yang tertera di depannya.


"Tapi kok gak ada karetnya ya?" tanya Lalisa dengan raut wajah polos. Sebenarnya ia hanya berniat bercanda.


Kali ini Nila yang sedang kehilangan konsentrasi pun menjadi bingung saat Lalisa bertanya seperti itu. "Karet, buat apa Bun?"


Ingin rasanya Lalisa tertawa sampai terbahak saat itu juga karena melihat kepolosan Nila.


"Ya, biasanya kalau spesial itu karetnya pasti dua. Seperti di tukang nasi goreng langganan Bunda." Seketika Nila menepuk kening. Bagaimana bisa dia mendapatkan mertua yang se-random itu? Pikir Nila demikian, pun terkekeh geli.


"Ya ampun Bunda, aku kira apaan," sahut Nila. Ia sama sekali tidak kepikiran tentang hal itu. Karena memang selama ini Nila jarang beli makanan di luar, sebab ibunya sangat rajin membuatkannya makanan. Itupun sering makan di luar ketika masih berada di Palembang dan jauh dari sang ibu.


Lalisa kemudian membuka amplop itu. Sementara itu, Nila tampak tenang kembali dengan posisi bersandar. Tubuhnya masih terasa lemas dan hanya ingin berbaring saja di atas tempat tidur.


"Astaga!" pekik Lalisa. Matanya membulat bersamaan dengan bibir yang membentuk huruf O. Sesaat kemudian menatap Nila seraya mengempaskan napas. "Ini serius?" tanyanya itu masih tidak percaya. Ia membacanya lagi, tapi tidak ada yang berubah. Lalisa sangat terkejut sampai tidak mampu berkata apapun.


"Serius, Bunda ... " jawab Nila, santai.


"Oh Tuhan ... Akhirnya kamu hamil juga. Bunda senang sekali rasanya!" seru Lalisa. Matanya berkaca-kaca, ia berusaha tersenyum meski bibirnya bergetar, pun memeluk Nila dengan penuh haru. "Selamat ya menantu kesayangan Bunda ... Semoga kamu dan calon cucu Bunda sehat selalu."


"Aamiin, terima kasih banyak Bunda," balas Nila dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Kalau gitu, Bunda mau telepon ayah dulu ya. Mau kasih tahu kalau dia akan memiliki cucu lagi dari anak bungsunya!" seru Lalisa tampak kesenangan sekali.


Nila tertawa pelan, "Iya Bunda ... Tapi bukannya ayah masih di perusahaan? Gimana kalau kasih tahunya nanti aja?" usulnya. Padahal Nila merasa ada sesal dalam hatinya, kenapa dia sangat jujur pada ibu mertuanya itu?

__ADS_1


"Nila Sayang ... Ini berita sangat membahagiakan. Bunda yakin setelah semuanya tahu kamu hamil, pasti pada ikut bahagia," ujar Lalisa.


"I-iya Bunda, Nila ikut aja apa kata Bunda." Nila akhirnya pasrah. Sebab ia tahu bagaimana sifat Lalisa. Ya, sebelas dua belas dengan Fatan.


Setelah itu, Nila dan juga Lalisa saling bercerita tentang seputar kehamilan.


"Bunda waktu hamil mas Fatan dulu bagaimana? Apa sama kayak yang aku alami sekarang?" tanya Nila. Siapa tahu bisa jadi ilmu baru baginya, pikirnya demikian.


"Gak. Dulu bisa dibilang Bunda itu hamil kebo. Gak dirasa, ketahuan aja pas usia kandungan lima bulan. Udah gitu dulu masih ada neneknya Fatan, ibunya Bunda. Sebagai orang tempo dulu, ternyata banyak sekali pantangan saat hamil. Apalagi Bunda asli Jakarta yang masih kental dengan adat betawi." Lalisa teringat akan masa itu.


"Terus kalau orang hamil, memang pantangannya apa Bun? Itu bukannya hal yang gak boleh dilakuin ya?" tanya Nila lagi, raut wajahnya tampak serius dengan obrolan ini.


"Banyak banget, tapi yang Bunda lakuin sekiranya memang sesuai dan dibolehkan sama ayah juga. Bagaimanapun ayah itu berperan penting banget saat Bunda hamil Fatan dulu."


Nila mengangguk dan masih diam mendengarkan cerita Lalisa.


"Pertama, Bunda gak boleh duduk di lantai tanpa dialasi oleh kain ataupun kursi lantai, soalnya nenek bilang bisa terjadi kembar air. Kedua, Bunda gak boleh makan makanan mentah, apapun! Lalapan juga termasuk apalagi sambal bawang yang hanya disiram minyak panas. Harus yang benar-benar matang. Makan sayur setiap hari, jangan terlalu sering bepergian sendiri soalnya bisa memicu kebosenan. Terus apalagi ya?" Lalisa berpikir, mencoba mengingatnya kembali.


Setelah itu masih banyak lagi yang diceritakan oleh Lalisa. Sementara Nila menikmati jadi pendengar setia yang baik. Namun tidak jarang pula Nila bertanya kalau dirinya tidak mengerti.


.


.


.


.


Di perusahaan, Fatan baru saja selesai meeting. Ia langsung pergi ke ruang kerja. Sesampainya di ruangan itu, ternyata bunda dan adik iparnya sudah tidak ada di sana.


Berhubung jadwal hari ini belum terlalu padat, Fatan pun keluar dari ruangannya.


"Bos, mau kemana?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Rusli, Fatan langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah lelaki yang sekarang menjadi sekertarisnya.


"Saya mau cari tempat makan, kamu mau ikut?"


Rusli menautkan kedua alisnya, merasa bingung. "Maaf Bos, bukannya sekarang masih jauh ke waktu makan siang?" tanyanya heran.


"Oh bukan buat makan siang, tapi buat makan malam."


Rusli terkekeh pelan. "Begitu rupanya."


"Udah kamu ikut aja, sekalian sopirin saya ya!" perintah Fatan lalu berbalik badan. Rusli hanya menunduk hormat lalu mengekor di belakang Fatan.


Setibanya di tempat parkir, benar saja. Fatan langsung memberikan kunci mobilnya pada Rusli.


"Tolong menyetir dengan baik!"


"Oke, Bos!"


Keduanya masuk ke dalam mobil.


...----------------...


Setelah cukup lama berkendara sambil mencari tempat makan yang tidak jauh dari kediaman Fatan, akhirnya ia pun menemukan tempat yang cocok untuk makan keluarga.


Sebuah resto bertema perkampungan dipilih Fatan serta beberapa makanan pun telah di pesan olehnya. Usai pemesanan tempat selesai, Fatan berniat akan kembali ke kantor untuk mengecek bagian produksi.


Nila tidak tahu tentang rencana yang sedang disusun oleh Fatan. Maka dari itu, Fatan segera menyelesaikan urusannya diperusahaan pada hari ini, barulah memberi kejutan pada istrinya itu.


Hingga tanpa terasa beberapa jam berlalu. Aktifitas di dalam perusahaan pun mulai tertib sesuai dengan peraturan yang telah dibuat. Sebab, Fatan ingin perusahaan yang dipimpinnya itu harus tertib mematuhi aturan, bukan malah melanggarnya.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2