
Flashback tentang awal mula Lativa kenal laki-laki itu sampai akhirnya hamil.
...****************...
Tepat delapan bulan yang lalu, Lativa didekati oleh seorang lelaki yang merupakan teman satu angkatannya tapi beda kelas. Saat itu Lativa memang tengah gencar semangatnya untuk mempersiapkan ujian akhir. Ia ingin segera lulus dan ingin bekerja di perusahaan tempat kakaknya bekerja juga.
Menurutnya pendapatan yang didapat oleh Nila sangat menggiurkan. Tetapi ia tidak ingat akan satu hal kalau untuk bekerja disana dengan pendapatan fantastis, minimal harus lulus Strata-1. Untuk sampai ke tahap itu, Lativa masih membutuhkan empat tahun lagi untuk dapat keterima bekerja disana. Itulah rencana awalnya.
Lantas seorang lelaki yang juga gencar mendekati Lativa itu terus berusaha mengambil hatinya, memberi perhatian serta barang-barang yang harganya tidak murah. Secara dia memang berasal dari keluarga terpandang.
Setelah satu bulan berjuang, Antony nama laki-laki itu. Akhirnya mendapat berita bahagia karena cintanya diterima oleh Lativa.
Keduanya menjalin hubungan selama tiga bulan, tapi setelah itu Lativa diputusin karena Antony telah merasa bosan. Sungguh ke kanak-kanakkan sekali bukan? Padahal awalnya Antony yang semangat mengejar cinta Lativa, tapi ujungnya malah berakhir seperti itu.
Memang di usia Lativa maupun Antony, masih dibilang belum siap menjalin hubungan yang serius seperti orang dewasa. Karena kebanyakan hanya sesuai suasana hati alias suka-suka.
Dua bulan setelah putus, Lativa maupun Antony tidak berkomunikasi lagi. Meskipun satu sekolah, mereka hanya seperti orang yang tidak saling kenal. Apalagi saat itu Antony sudah memiliki kekasih baru yang entah ke berapa. Sebab Lativa tidak peduli itu, baginya apa yang sudah selesai, ya sudah.
Di akhir pekan itu, Lativa mendapat undangan ulang tahun dari teman sekelasnya yang berasal dari keluarga kaya raya dan setiap harinya turun naik mobil. Ia datang sendiri menggunakan sepeda motor kesayangannya ke tempat acara.
Awalnya Lativa kira hanya sebuah kafe biasa. Namun saat masuk ke dalam, bau alkohol, asap rokok serta dentuman musik yang sangat keras amat dirasakan olehnya. Lativa yang memang sangat menghindari tempat seperti itu, ingin segera pulang ke rumah.
Akan tetapi saat dirinya baru saja berbalik badan, ada sebuah tangan yang menahannya seolah tidak boleh pergi dari sana. Lativa menoleh, seketika matanya membulat dengan sempurna.
"Antony! Mau apa kamu?" gertak Lativa sambil berusaha keras supaya tangan Antony pergi dari sana.
"Aku mau kamu, Sayang," jawab Antony meracau. Kedua matanya tampak sayu ditambah bau alkohol yang keluar dari mulutnya. Lativa curiga kalau Antony sedang mabuk berat.
"Lepasin Antony!" teriak Lativa, tapi laki-laki itu malah tertawa sampai terbahak. "Dasar gila!" umpatnya tapi tidak digubris oleh dia.
"Aku akan melepaskanmu, asalkan mau tidur denganku malam ini." Ucapan Antony semakin kacau.
"Ba*jing*an! Lo kira lo siapa hah? Gue gak bakal kasih kehormatan gue sama lelaki playboy macam lo!" Lativa semakin naik pitam. Ia sangat benci dengan laki-laki yang merendahkan perempuan dengan cara seperti itu. Memangnya di dunia ini hanya memikirkan ga*irah terus? Tidak kan?
Lativa menginjak kaki Antony sangat kencang. Namun siapa sangka dia mengeluarkan seluruh tenaganya lalu menyeret Lativa ke sebuah ruangan dan ternyata ruangan itu adalah private room khusus karaoke.
Antony mengempaskan tubuh Lativa ke atas sofa. Tetapi perempuan itu tidak diam saja, ia langsung bangun dan hendak mendorong Antony. Namun lagi-lagi usahanya gagal karena lututnya diapit oleh kedua kaki Antony. Lativa tidak bisa berkutik.
"Tolong! Siapapun yang ada di luar tolong gue!" teriak Lativa sekeras mungkin sampai suaranya sudah mau habis.
__ADS_1
Antony rupanya bergerak lebih cepat. Ia menurunkan seluruh celanya sampai yang terdalam lalu menaikkan dress Lativa hingga bagian bawahnya terlihat. Sungguh Lativa sangat membenci Antony saat ini.
"Aku udah lama menginginkan ini, dan inilah saatnya. Aku memiliki muuuhhhh .... "
Malam itu menjadi malam yang sangat menyedihkan bagi Lativa. Kehormatannya direnggut paksa oleh mantan kekasihnya. Ia merasa sangat kotor, terlebih cara Antony melakukan itu sangat tidak manusiawi. Sampai-sampai bagian intinya pun terasa perih karena memang Lativa tidak terbuai sama sekali. Ia hanya bisa menangis.
Saat Antony sudah merasa puas, laki-laki itu meninggalkan Lativa begitu saja. Rasa perih beserta benci meluruh menjadi satu.
Setelah kejadian itu, Lativa menjadi pendiam. Dia pun hanya bicara seperlunya saja. Berbeda dengan di hadapan ibunya, dia pandai sekali bermain mimik muka, sebab tidak ingin ibunya kecewa.
Siapa sangka tiga bulan setelah kejadian itu, Lativa tidak sadar kalau perutnya mulai membuncit bahkan tidak datang bulan sama sekali. Hingga saat upacara berlangsung, Lativa tiba-tiba pingsan dan dibawa ke ruang UKS.
Kebetulan disekolahnya itu akan ada penyuluhan tentang penyakit HIV oleh dokter kandungan.
"Bu, diruangan ini ada test pack gak?" tanya dokter itu.
Wali kelasnya menautkan kedua alis menatap dokter sampai terheran-heran. "Buat apa memangnya Dok?"
"Sepertinya anak ini butuh di cek, karena perut bagian bawahnya terasa keras tepat di rahimnya."
"Kenapa bisa begitu Dok? Saya belum sarapan loh dari rumah?" Lativa mengira itu bukan masalah, karena ia hanya merasa pusing dan mual efek dari tidak sarapan itu.
"Sebentar, sepertinya saya punya test pack di meja kantor." Wali kelasnya keluar dari ruang UKS itu.
Sesaat setelah wali kelasnya pergi. Dokter kandungan itu tersenyum pada Lativa. "Sebenarnya sejak kapan kamu merasakan seperti ini?" tanyanya dengan lembut.
"Hah?" tukas Lativa masih belum paham. "Merasakan seperti bagaimana Dok?"
"Pusing, mual atau mungkin sampai muntah."
Lativa terdiam beberapa saat seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu kembali menatap dokter itu. "Kayaknya sih udah hampir satu bulan ini, Dok. Karena emang akhir-akhir ini saya gak selera makan. Bahkan makan pun hanya malam hari."
Dokter itu menghela napas panjang. Dia merasa instingnya semakin kuat. "Saran saya setelah ini kamu datang ke klinik tempat saya praktek ya. Nanti akan saya cek melalui alat yang namanya USG. Gak usah bawa uang, ini gratis buat kamu," ucapnya membuat Lativa mendadak berpikiran buruk.
"USG? Apa aku hamil?" gumamnya dalam hati.
Tak lama wali kelasnya pun kembali dengan membawa test pack yang masih tersegel dalam bungkusnya. "Ini dok." Ia memberikannya pada dokter kandungan itu.
"Silahkan ke kamar mandi. Taruh air seni kamu ke dalam wadah ini, sedikit saja. Terus jangan lupa pasangkan alatnya dengan bagian warna putih di bawah dan biarkan terendam selama tiga menit. Setelah hasilnya muncul, kambalilah ke sini," jelas dokter dan Lativa pun mengangguk paham.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, Lativa sangat terkejut dengan hasilnya. "Garis dua? ... Aku hamil?" Ia kemudian menggeleng cepat. "Gak! Gak mungkin! Gak mungkin anak ini, adalah anak dari Antony. Aku gak mau punya anak dari laki-laki bre*ng*sek itu!" teriaknya bermonolog di dalam salah satu toilet. Beruntung di sana sedang sepi.
Namun tanpa Lativa sadar, wali kelasnya menunggu di depan pintu sejak tadi. Keduanya merasa syok. Terlebih Lativa termasuk murid yang berprestasi di kelasnya.
Tidak ingin Lativa melakukan hal yang macam-macam, wali kelasnya mengetuk pintu.
"Lativa ini Ibu, Nak. Sudah selesai belum? Sini keluar."
Lativa yang mendengar suara yang dikenalinya seketika bingung. Namun tidak butuh waktu lama, ia pun keluar.
"Yuk ke ruang UKS lagi," ajak wali kelasnya dan Lativa mengangguk pelan.
Saat di ruang UKS, Lativa hanya menundukkan wajah. Ia tidak berani menatap dokter kandungan itu serta wali kelasnya.
"Lativa, tiga bulan lagi kamu lulus sekolah. Tapi kalau kondisinya seperti ini, tiga bulan kemudian akan semakin terlihat. Ibu bisa saja membiarkan kamu tetap sekolah. Tapi guru-guru lain? Ibu gak jamin Lativa ...."
Brak!
Ketiga orang yang ada di dalam ruang UKS sangat terkejut.
"Ibu kepala sekolah?" gumam Lativa dengan suara pelan.
"Dia hamil, Dok?" tanya perempuan paruh baya itu dengan mata memerah serta bibir bergemetar. Dia tampak sangat marah sekali. Sampai Lativa maupun wali kelasnya merasa sangat terkejut sekaligus takut.
"Sepertinya begitu Bu. Setelah di cek pakai test pack ... garis dua," jawab dokter kandungan itu seraya melirik ke arah Lativa. Ia merasa iba saat melihat Lativa yang tampak sekali ketakutan.
"Keluarkan dia dari sekolah! Bikin malu saja! Sudah mau lulus malah bikin ulah," omel kepala sekolah itu sambil menyuruh wali kelas Lativa. "Panggil orang tuanya sekalian juga buatkan surat pengeluaran tidak terhormat dari sini. Segera!" Kepala sekolah itu segera pergi dari ruang UKS.
Detik itu juga harapan dalam hidup Lativa hancur serta luluh lantak. Wali kelas pun meminta maaf padanya karena tidak bisa membantunya supaya bisa bertahan di sekolah itu.
Saat ibunya datang ke sekolah, alangkah terkejutnya perempuan paruh baya itu. Hatinya langsung mendongkol, ingin marah tapi dia tahan.
Lantas ketika sudah di rumah, barulah ia meluapkan segenap emosinya pada anak bungsunya itu.
Sampai keesokan harinya masih sama. Ibunya masih sangat marah dan akhirnya tanpa diduga tiba-tiba asam lambungnya naik lalu jatuh pingsan.
...****************...
Akhirnya flashback pun selesai. Seketika Nila mengusap wajahnya sedikit kasar. Ia berusaha mengontrol emosinya supaya tidak terpancing setelah mendengar cerita adiknya tadi.
__ADS_1