Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 14


__ADS_3

Sebulan sudah akhirnya telah Nila lalui dengan penuh perjuangan. Dari mulai transfer pekerjaan kepada Alika, mendalami pekerjaan sebagai seorang sekertaris, serta mencoba membentuk hatinya lagi supaya tidak mudah retak ataupun terlena hanya karena seorang laki-laki.


Sampai detik ini Dany masih berusaha keras mengejar Nila. Lelaki itu hampir setiap hari mengirim bucket bunga ke rumah Nila maupun ke kantornya. Sungguh bucin sekali laki-laki itu! Tetapi kasihan, cintanya selalu ditolak oleh Nila.


Sementara Bayu langsung hilang kabar setelah malam itu. Nila pun tidak mau tahu lagi hal yang menyangkut paut tentang dia. Hati Nila sudah terlanjur sakit. Walau ia masih terus belajar untuk ikhlas, namun sekarang waktunya bangkit dari keterpurukan.


Banyak hal yang bisa Nila lakukan setelah putus dan mencoba menerima kenyataan yang ada. Segala bentuk kesibukan terus Nila lakoni selama sebulan terakhir guna melupakan bayangan Bayu dari memorinya.


Karena sudah muak akibat tipu daya lelaki itu, Nila sampai tidak memberitahukan Dany tentang dirinya yang pindah tugas ke Palembang.


...----------------...


Pukul 5 pagi tadi, Nila berangkat dari rumah menggunakan taksi online untuk menuju bandara. Sepanjang perjalanan, hatinya masih terenyuh ketika mengingat air mata ibu-nya melepas kepergiannya. Sebab ini kali pertamanya Nila berada jauh dari keluarga, terutama sang ibu.


Tepat pukul 8 pagi, Nila sampai di Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Kedatangannya disambut oleh seorang sopir yang telah ditugaskan dari kantor. Sopir itu memegang nametag bertuliskan nama perusahaan tempat Nila bernaung selama ini.


"Pak Tono ya?" tanya Nila saat menghampiri seorang pria dengan memakai setelan baju khas sopir berwarna hitam-hitam.


"Iya benar ... " Sopir itu menurunkan nametag-nya. "Ini Bu Nila?" tanyanya bersikap sangat ramah.


"Iya benar. Ayok Pak!" ajak Nila segera. Namun Tono masih berdiri ditempatnya.


"Sebentar Bu, saya masih harus nunggu pak Fatan," jawab Tono lalu mengedarkan pandangannya ke arah pintu kedatangan.


"Pak Fatan, CEO kantor, Pak?" Tono menganggukkan kepala. "Loh kok saya gak dapat info kalau dia dijemput juga sama Bapak?" tukas Nila berdecak pelan.


Pasalnya Nila ingin segera tiba di apartemen untuk merebahkan tubuhnya. Karena kantor hanya memberinya kompensasi libur di hari ini saja.


"Sama Bu saya juga begitu. Awalnya saya dikasih tahu oranh kantor cuma jemput Bu Nila, tapi pas lagi jalan ke bandara ... Eh ditelepon lagi suruh jemput pak Fatan juga," jelas Tono. Matanya masih terus memperhatikan ke pintu kedatangan.


"Ya udah deh kalau gitu, saya tunggu di kursi sebelah sana ya Pak?" kata Nila menunjuk ke barisan kursi tak jauh dari pintu. Tono pun melihat sekilas arah pandang Nila lalu mengangguk.


"Baik, Bu."


Sudah hampir 2 jam orang yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Nila sampai merasa bosan duduk selama itu hanya dengan memainkan ponsel sambil mendengarkan musik.


Akhirnya, Nila beranjak dari sana lalu menarik kopernya menghampiri Tono.


"Masih lama gak Pak? Saya naik taksi aja deh ya. Udah dua jam loh kita nunggu di sini. Coba telepon orang kantor lagi," kata Nila sudah sangat tidak sabar dan merasa geram.


"Baik, Bu ... Sebentar." Tono mengeluarkan ponselnya lalu melakukan panggilan. Akan tetapi baru saja panggilan itu terhubung, seorang laki-laki yang dikenali lewat sebuah foto pun muncul. Tono mengakhiri sambungan teleponnya lalu mengangkat nametag tinggi-tinggi.

__ADS_1


Nila berdiri tepat di samping Tono dengan raut wajah tidak bersahabat. Memang dari jauhnya mata memandang, Nila melihat seorang lelaki memakai kaos oblong berwarna kuning kunyit dengan jogger hitam bergaris serta terdapat label 'Kendi', memakai kacamata hitam dan sandal silikon model perahu warna hijau toska, berjalan sambil menarik koper besar dengan santai. Karena memang hanya dia orang pertama yang keluar dari pintu kedatangan. Nila kira bukan itu orangnya dan hanya bersikap acuh seraya memainkan ponsel.


Sementara laki-laki dengan ciri seperti yang disebutkan tadi, melihat nametag yang diangkat Tono dan mempercepat langkah kakinya menghampiri mereka.


"Maaf ya udah menunggu lama."


Saat mendengar suara baritone masuk ke dalam gendang telinga Nila, sontak perempuan itu menoleh. Awalnya ia merasa lega karena orang yang ditunggu akhirnya tiba. Akan tetapi saat Nila melihat wujud asli orang itu, ia terkejut bukan main.


"Yakin dia CEO yang dipilih para petinggi kantor? Tampilannya aja lebih mirip mau ke pantai sih. Apa style dia emang kayak gini? Kok aku ragu ya?" batin Nila terperangah sampai tidak ingat berkedip saat melihat lelaki itu.


"Bu Nila ..." Suara Tono akhirnya menyadarkan Nila dari lamunan unfaedahnya.


"Gimana? Kita berangkat sekarang?" tanya Nila menatap kedua orang yang ada di dekatnya sali g bergantian.


"Pak, dia Nila sekertaris saya?" tanya lelaki itu dengan lirikan meremehkan.


"Setahu saya sih iya, Pak Fatan," jawab Tono sopan.


Setelah itu laki-laki bertubuh jangkung itu hanya membulatkan mulutnya bertanda paham.


"Kamu gak ada niatan buat memperkenalkan diri sama saya?" tanya Fatan.


"Tunggu! Saya gak suka ya kalau perusahaan di sini itu disebut perusahaan cabang. Karena ditangan saya perusahaan ini akan menjadi besar selama ada di tangan saya!" ucap lelaki itu dengan penuh percaya diri. Dia melipat sebelah tangannya di dada lalu sebelahnya lagi mengusap dagu. Dia sama sekali tidak membalas uluran tangan Nila.


Seketika perempuan itu menyesal dan menarik tangannya kembali. "Iya udah iya, terserah Anda aja!" balas Nila kemudian berbalik badan dan berjalan seraya menarik kopernya.


"Mari Pak, saya antar ke apartemen," kata Tono bersikap netral.


Fatan pun mengangguk lalu berjalan lebih dulu dan Tono pun mengikuti.


...----------------...


Saat di perjalanan menuju apartemen, Nila yang duduk di sebelah Tono hanya membisu.


"Pak, kita mampir ke restoran dulu ya. Saya lapar soalnya, dari rumah gak sempat makan," kata Fatan tiba-tiba bicara.


"Astaga, aku harus mempertebal kesabaran kalau bosku macam dia. Ayo Nila jangan emosi, jangan emosi," batin Nila bermonolog.


Tono melihat Fatan dari kaca yang mengarah ke kursi penumpang belakang. "Baik, Pak."


Di sebuah restoran bintang lima yang letaknya tidak jauh dari bandara, Tono menghentikan mobilnya. Fatan kemudian langsung turun dengan membawa tas yang dislempangkan di bagian dada bidangnya.

__ADS_1


Lelaki itu bahkan tidak berbasa-basi mengajak Nila ataupun Tono turun dari mobil untuk makan bersama.


"Ibu kalau mau turun gak apa-apa. Nanti biar saya tunggu di mobil," tawar Tono.


"Pak Tono udah makan belum?" tanya Nila karena ia merasa tidak enak hati jika membiarkan sopir itu menunggunya makan.


"Udah Bu. Saya udah makan kok. Mungkin aja Ibu lapar, silahkan," jawab Tono.


"Ya udah deh, saya masuk dulu ya Pak." Nila pun akhirnya turun dan masuk ke dalam restoran itu.


Setelah memesan menu, Nila mencari meja yang masih kosong. Tak lama kemudian, akhirnya ketemu. Nila pun duduk, dan tak disangka ... Kursinya dan kursi Fatan saling berhadapan. Sesaat mata mereka pun saling bersitatap.


"Astaga, kenapa depan-depanan sama dia? Mau pindah juga kayaknya gak enak deh. Malah dia ngelihatinnya begitu, kayaknya emang itu orang seneng banget cari masalah deh!" gerutu Nila berusaha untuk tidak saling bersitatap lagi dengan Fatan.


Sementara laki-laki itu tampak biasa saja. Namun kalau dilihat dia sih lebih ke arah tebar pesona. Sok kegantengan! Apalagi cara makannya itu sangat lahap tapi tetap menly.


Beberapa menit kemudian, makan serta minuman yang sebelumnya dipesan oleh Nila pun akhirnya datang. Perempuan itu segera menghabiskan makanannya supaya bisa mendahului Fatan.


Benar saja, Nila yang memang sangat lapar sedari tadi berhasil mengalahkan Fatan yang masih asik makan dengan santainya. Walaupun mereka seolah tidak saling melihat, namun diam-diam lirikan mata keduanya tidak biaa berbohong.


Seusai makan, Nila pun beranjak dari sana dan kembali ke mobil. Sesaat kemudian, Fatan pun melakukan hal yang sama. Lantas perjalanan mereka pun dilanjutkan kembali.


Akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang dari bandara menuju apartemen, mobil yang dikendarai oleh Tono pun tiba di halaman parkir.


"Maaf Bu, Pak kopernya mau saya bantu bawakan?" tawar Tono sesaat sebelum Nila dan Fatan turun dari mobil.


"Gak usah Pak, terima kasih," jawab Nila.


"Iya Pak, saya juga gak usah. Soalnya ada barang yang harus dibawa ekstra hati-hati, takut rusak." Fatan menolak juga.


"Baik kalau begitu, selamat istirahat ya! Besok Bapak sama Ibu akan saya jemput jam enam pagi," kata Tono memberi informasi.


"Hah?" tukas Nila. "Pak Fatan juga diantar jemput sama Pak Tono juga?"


"Iya Bu. Kurang lebihnya begitu Bu," balas Tono. Mau bagaimana pun itu, harus patuh dengan perintah dari pusat.


Nila mengusap kasar wajahnya. "Saya duluan ya Pak, permisi," katanya berpamitan pada Fatan beserta Tono. Ia sudah mulai mengantuk dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2