Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 65


__ADS_3

Esoknya seperti biasa Nila membantu ibunya terlebih dahulu di pagi hari. Kali ini pekerjaannya sedikit ringan karena ada Jarfin yang juga ikut membantu.


Usai semua pekerjaan telah rapi, Nila pergi ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Namun sebelum melakukan itu, ia melihat isi pesan yang kemarin sempat dikirim oleh Fatan kemarin.


Entah kenapa hatinya tiba-tiba tergerak untuk pergi ke sana. Nila melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur, lalu segera pergi ke kamar mandi.


Tidak sampai setengah jam, dirinya telah siap. Dress berwarna coklat sebatas lutut dan bermotif bunga, menjadi pilihannya. Ditambah dengan sepatu hak tinggi berwarna krem dan rambut yang dibiarkan tergerai, apalagi kulit putih alaminya menambah aura kecantikan dari dalam tubuh pun semakin terpancar.


Nila bergegas keluar dari kamar. Lagi-lagi aroma mawar yang mampu memikat siapapun yang menghirupnya membuat Jarfin paham dan mengikuti aroma itu. Sedangkan Nila berjalan ke dapur guna mencari Mirna untuk berpamitan.


Sayangnya sang ibu tidak ada disana. Nila pun berbalik badan, tapi ternyaya malah mendapati Jarfin berada sangat dekat dengannya.


"Kamu lihat ibuku gak, Jamal?" tanya Nila lalu menautkan kedua alisnya karena tatapan Jarfin sangat intens memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Kak Nila mau kemana? Rapi banget." Bukannya menjawab pertanyaan Nila, justru laki-laki itu malah bertanya balik padanya.


"Mau ketemu orang. Kamu lihat ibuku gak? Aku buru-buru nih!" ujar Nila terdengar ketus tapi tidak sampai diambil hati oleh Jarfin.


"Kayaknya sih budhe ada di kamar tuh," jawab Jarfin tak kalah ketus, kemudian ia berbalik badan dan berjalan ke ruang keluarga.


Nila menghela napas, lalu pergi ke kamar ibunya tanpa berkata apapun lagi pada Jarfin. Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar Mirna dan ternyata Jarfin sudah menunggu di ruang tamu.


"Kak Nila, kalau aku ikut boleh gak?"


"Mau ngapain ikut? Aku lagi ada urusan penting. Mending kamu cek lagi tuh sertifikasinya, udah berhasil atau belum?" balas Nila lalu melangkah keluar rumah dan menuju garasi, karena ia akan mengendarai mobil.

__ADS_1


Jarfin mengikuti Nila sampai ke garasi. Ketika Nila membuka kunci mobil melalui tombol yang ada di tangannya, Jarfin berhenti mengikuti kakak sepupunya itu.


"Ya udah deh, hati-hati di jalan ya!" Laki-laki itu menepi sebab Nila sudah masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya.


Setelah dirasa mobilnya sudah siap, Nila melajukannya dengan perlahan keluar dari garasi rumah. Tak lupa ia pun membunyikan klakson saat melewati Jarfin yang juga melambaikan tangan ke arahnya.


...----------------...


Setelah cukup lama berkendara sembari di arahkan oleh peta online, Nila akhirnya sampai di lokasi yang telah Fatan tandai dalam peta. Dimana sebuah bangunan yang delapan puluh persen terbuat dari kaca dan kaca-kaca itu tertutupi oleh tirai berwarna putih, serta dikelilingi berbagai tanaman yang sangat rapi dan juga bersih. Bahkan tidak ada satu pun daun kering yang berserakan disekitar halamannya.


"Benar 'kan ini tempatnya? Tapi kok sepi ya ... " ucap Nila bermonolog setelah melihat ke sekeliling tempat itu. Memang sepi dan tidak terlihat ada tanda-tanda orang di sana.


Nila pun penasaran kemudian turun dari kursi kemudi. Ia membawa tas dan melangkahkan kakinya mendekati bangunan itu.


"Permisi." Nila memanggil tepat di depan pintu. "Permisi ... Pak Fatan." Ia menghela napas lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Niatnya ia ingin menghubungi lelaki itu.


Biasanya Nila selalu melihat wajah tampan itu sangat segar, ditambah tingkah serampangannya yang selalu didapati. Akan tetapi kali ini berbeda, lelaki yang ada di hadapannya hanya tersenyum simpul dengan tubuh lebih kurus dari terakhir Nila lihat.


"Pagi, Pak Fatan," sapa Nila. Sorot matanya berubah menjadi iba.


"Pagi, silahkan masuk, Nila." Fatan mempersilahkan perempuan itu masuk ke dalam.


Nila mengangguk lalu melangkahkan kalinya melewati pintu itu. Sepasang matanya melebar saat melihat kesekeliling yang ada di dalam bangunan itu. Takjub, itulah yang Nila rasakan. Lantas suara pintu yang bergeser dan tertutup sempurna itu membuat dirinya berbalik badan, menatap kembali lelaki itu.


"Anda tinggal sendiri Pak?" tanyanya, sedikit memiringkan kepala.

__ADS_1


"Nggak ... Um, bisakah kita berbicara santai. Panggil aku-kamu mungkin? Kamu 'kan bukan bawahan saya lagi," usul Fatan seraya mempersilahkan Nila untuk duduk.


Saat keduanya telah duduk. Seorang pelayan pun datang menghampiri mereka, membawakan minuman serta beberapa macam camilan.


"Silahkan, Nona, Tuan ... Saya permisi," ucap pelayan itu kemudian pergi dari sana, membiarkan Fatan dan Nila berdua di salah satu ruangan yang ada di dalam bangunan itu.


"Terima kasih," balas Nila seraya tersenyum. Setelah pelayan itu pergi, suasana menjadi canggung dalam beberapa saat.


"Ehm." Fatan melonggarkan tenggorokannya. "Kamu ke sini naik apa? Gak nyasar 'kan?" tanya lelaki itu. Sorot matanya berbinar dan terus menatap Nila dengan intens tanpa mengintimidasi. Dalam hatinya ia sangat bahagia.


"Naik mobil, Pak ... Tuh di depan. Sa- ... Maksudnya aku kira bukan disini tempatnya. Takut salah masuk rumah," jawab Nila sambil terkekeh pelan. "Sebenarnya ini rumah atau apa sih Pak? Kok lebih mirip gedung serbaguna ya?"


"Kamu ini! Panggil namaku aja, Fatan. Aku cuma pengen bicara santai sama kamu, Nila," jawab Fatan yang jauh dari pertanyaan yang ditanyakan oleh Nila.


"Oh iya ... Maaf." Nila tersenyum, tapi mendadak kikuk.


"Iya tak apa. Lupakan aja. Eum, bangunan ini sebenarnya hanya tempat santai. Soalnya hanya sebagian kecil dari lahan rumah milik ayahku," sambung Fatan, sementara Nila hanya menganggukkan kepalanya.


"Oh begitu rupanya. Omong-omong ada apa kamu memintaku kesini? Apa ada hal penting?" tanya Nila ingin langsung ke inti pembicaraan.


"Sebenarnya aku ... " Fatan menatap Nila sangat dalam. Tanpa Fatan tahu, sorot matanya yang seperti itu membuat Nila tidak kuasa menahan rasa yang selama ini dipendamnya.


"Aku apa?" tanya Nila dengan cepat.


"Aku ingin melamarmu." Jawaban itu sangat membuat dada Nila terasa sesak. Bukan, bukan rasa sakit. Melainkan rasa bahagia yang sangat membuncah di hatinya. Akan tetapi Nila masih mampu mengontrolnya, sebab perempuan itu masih ingin tahu alasan Fatan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Melamar? Karena kamu mencintai aku atau hal lain?" Nila ingin memastikan kalau cintanya benar-benar tidak bertepuk sebelah tangan. "Tapi bukankah kamu mau menikah dengan Charma? Kenapa sekarang malah ingin melamarku? Maaf ya, aku bukan boneka yang bisa kamu mainkan sesuka hati," ucap Nila yang ujung-ujungnya malah marah dan berpikiran negatif pada Fatan.


"Nila, maaf ... Beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya." Mendengar suara Fatan yang masih lemah, Nila hanya menganggukkan kepala dan memasang raut wajah serius.


__ADS_2