Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 129


__ADS_3

Alih-alih yang katanya mobil masih berada di bengkel, tentu itu hanya alasan Rusli saja. Lelaki itu sengaja memasukkannya ke bengkel supaya punya waktu untuk bicara berdua dengan Lativa. Pasalnya sudah beberapa bulan terakhir ini, Lativa memang agak menghindar. Setiap di ajak jalan pasti ada saja alasannya. Hal itu membuat Rusli semakin penasaran.


"Oke, tapi kemungkinan saya pulang agak telat. Apa Pak Rusli gak keberatan? Soalnya hari ini pekerjaan saya cukup banyak," jawab Lativa.


"Gak apa-apa, Tiv. Aku bisa nunggu kamu kok." Rusli tersenyum simpul walau Lativa tidak melihatnya. Rasa bahagia di dalam hatinya begitu membuncah. Lativa akhirnya mau diajak jalan olehnya.


"Ya udah kalau gitu teleponnya saya tutup dulu ya, Pak," pamit Lativa. Mengingat hari ini dia sedang dikejar banyak target. Belum lagi meeting dengan para kolega di luar perusahaan. Lativa harus pandai mengatur waktu.


"Oke, semangat ya!" Ucapan Rusli mampu membuat Lativa refleks menyunggingkan senyum. Dia merasa bahagia.


"Iya, Pak. Semangat!" Sontak keduanya pun terkekeh geli, bak kedua orang yang sedang kasmaran.


Usai telepon itu berakhir, mereka pun melanjutkan pekerjaan masing-masing.


...----------------...


Menjelang jam pulang kantor, Rusli tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari Fatan.


"Sore, Bos."


"Iya, sore. Gimana Rus pekerjaan hari ini lancar?"


"Lancar jaya, Bos. Kan ada penyemangat."


"Ck!" Fatan berdecak. "Bisa aja kamu ini."


"Bos sendiri gimana presentasinya? Apa ada kendala atau gak?"


"Gak ada sih, lancar juga. Oh iya saya mau minta tolong sama kamu."


Rusli mengerutkan keningnya. "Minta tolong apa Bos?"

__ADS_1


"Nanti pas kamu pulang, tolong belikan sebucket regular bunga mawar merah sama tiramisu cake ukuran dua puluh kali dua puluh. Terus beri tulisan 'I'm sorry my wife'. Habis itu bilang sama Nila itu titipan dari saya ya. Paham kan?"


Rusli sampai mengulum bibirnya karena menahan tawa. Pasti Nila sudah memakinya karena baru memberi kabar. Padahal baru saja ia akan memberitahukan tentang pesan Nila tadi.


"Baik, Bos. Paham."


"Oke, terima kasih Rus."


"Sama-sama." Sambungan telepon akhirnya terputus.


Rusli segera merapikan meja kerjanya. Mengingat apa yang dikatakan oleh Lativa tadi kalau akan pulang terlambat, Rusli memilih untuk segera pergi ke toko penjual bunga dan juga kue.


Rusli memang bisa diandalkan. Selain cekatan, ia juga sigap setiap kali menerima perintah dari Fatan, atasannya.


.


.


.


.


Tiba di kediaman Mirna, Rusli membunyikan bel rumah. Tak lama kemudian pintu terbuka dan ternyata Mirna yang muncul dari pintu tersebut.


"Permisi, Tante. Bu Nila nya ada ?" sapa Rusli bersikap sopan. Namun ia tidak bisa berjabat tangan karena kedua tangannya penuh dengan bunga dan kue.


"Ada di dalam. Ada apa ya Nak Rusli?" tanya Mirna menatap heran. Saking herannya fokus perempuan paruh baya itu tertuju pada barang yang dibawa oleh Rusli.


"Saya ke sini mau antar titipan dari Pak Fatan buat Bu Nila, Tante."


"Oh begitu, mari silahkan masuk. Nanti biar Tante yang panggil Nila." Mirna memberi jalan untuk Rusli supaya bisa masuk ke dalam. "Kamu mau minum apa?" tanya Mirna kemudian saat keduanya sudah berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Gak usah repot-repot, Tante. Saya juga gak bisa lama, soalnya udah ada janji sama Lativa. Boleh 'kan saya ajak Lativa makan malam, Tan? Sekalian saya mau coba buat melamar dia lagi." Rusli sangat berhati-hati saat berkata demikian.


Mirna menghela napas. "Rupanya dia pantang menyerah buat dapetin Lativa. Ya Tuhan kalau memang Rusli yang terbaik untuk anakku, Lativa ... Bukakan hati Lativa untuk menerimanya. Kalau dilihat, Rusli tulus orangnya." Tanpa sadar Mirna sampai tertegun.


"Tante?" panggil Rusli karena sejak tadi Mirna terdiam dengan tatapan datar pada dirinya.


Mirna terkesiap. "Oh iya, gak apa-apa. Apapun nanti keputusan Lativa, Tante akan terus dukung." Mirna tersenyum. "Kalau gitu Tante panggil Nila dulu ya. Kamu tunggu aja disini."


"Baik, Tante." Rusli pun duduk di kursi. Sementara Mirna pergi ke kamar Nila.


Sesampainya di kamar, Mirna melihat Nila sedang asik bersantai di sandaran tempat tidur. Namun wajahnya tampak masam seperti sedang marah. Mirna seketika paham, mungkin Fatan berlaku seperti itu pada Rusli untuk mencoba menenangkan hati Nila disaat dia sedang tidak bisa menemui anak sulungnya. Pikir Mirna demikian.


Mirna menghampiri Nila lalu menarik kursi kecil yang biasa digunakan untuk duduk di depan meja rias, supaya mendekat kepada Nila. "Nila ..." panggilnya lembut.


Nila pun menoleh dan berusaha merubah raut wajahnya agar menjadi biasa kembali. "Ibu, ada apa?" tanyanya baru menyadari keberadaan Mirna.


"Di depan ada Rusli. Dia bawa bunga sama kue, dia bilang itu titipan dari suamimu dan harus diberikan padamu," jelas Mirna lugas.


Nila terdiam seribu bahasa. Pasalnya sejak tadi Fatan terus menghubunginya dan mengirimkan pesan, tapi tidak ada satupun yang dijawab oleh Nila.


"Kamu masih marah ya sama suamimu?" tanya Mirna dengan suara lemah lembut.


"Gak kok, Bu," jawab Nila masih terdengar sedikit ketus.


"Ya udah kalau gitu, temui Rusli sana dan ambil pemberian suamimu. Ibu paham apa yang lagi kamu rasain, tapi ingat kamu bukan kekasihnya, melainkan istrinya. Sabar, selama suamimu masih ada perjuangan supaya bisa dapat maaf darimu ketika kamu marah, semua pasti akan baik-baik aja," tutur sang ibu.


Nila menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Ia pun mengangguk. "Iya Bu, kalau gitu Nila ke depan dulu ya." Ia turun dari tempat tidur sangat berhati-hati.


Mirna hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dia membiarkan Nila keluar dari kamar sambil menatap punggung anak sulungnya itu hingga menghilang dari pandangannya.


"Yah, kenapa rasanya aku tiba-tiba kangen sekali denganmu? Ternyata membimbing dua orang anak perempuan itu gak mudah ya. Aku salut sama kamu, Yah. Dulu sewaktu ada kamu, Nila sama Tiva nurut sekali." Mirna bermonolog dalam hati. Raut wajahnya seketika sendu tatkala mengingat mendiang suaminya yang sudah tenang di sisi Tuhan. Sampai-sampai tanpa terasa air matanya menetes, disaat itu pula Mirna terkesiap bersamaan dengan Nila yang muncul di ambang pintu.

__ADS_1


"Ibu ... habis nangis?"


Mirna buru-buru mengusap air matanya, kemudian tertawa. "Haha, nggak kok Nila. Ini Ibu kelilipan, tadi kayak ada nyamuk yang nabrak mata Ibu. Jadi perih deh sampai berair gini," elaknya karena tidak ingin Nila ikut sedih. Apalagi semenjak hamil, perasaan Nila jauh lebih sensitif.


__ADS_2