
Tak terasa hari libur pun telah usai. Pagi ini Fatan akan kembali pergi ke kantor setelah libur panjang.
Seperti biasa, Nila bangun lebih pagi untuk menyiapkan segala keperluan sang suami sebelum berangkat ke kantor. Hal itu dilakukan setelah Ara benar-benar tidur pulas kembali.
"Jas, kemeja, dasi, ikat pinggang, celana, dompet, jam tangan, dan ... beberapa berkas yang mau dibawa, udah aku masukkan ke dalam tas. Oke selesai!" gumam Nila setelah mengabsen pakaian Fatan satu per satu.
Fatan yang baru saja bangun, menghampiri istrinya terlebih dahulu untuk memberikan sebuah sapaan pagi yang penuh cinta. Dia memeluk serta memberi kecupan pada sang istri.
"Pagi, Sayang."
Nila terkekeh geli, terlebih ketika Fatan memberi kecupan di leher ya. "Pagi, Mas."
"Ara lagi tidur nih Sayang ... Main lagi yuk!" ajak laki-laki itu. Sontak Nila mengerutkan kening lalu menggeleng cepat.
"Nggak bisa, Mas ... Lihat tuh!" Nila menunjuk ke arah jam dinding. "Udah jam setengah tujuh, Mas ... Nanti kamu bisa terlambat." Kedua tangann Nila berusaha melepas tangan sang suami dari pinggangnya.
Lantas Fatan tertawa. "Hahaha ...."
Sedangkan Nila mengesah lalu berdecak. "Jahil deh kamu!" protesnya kemudian terdenyum.
Fatan menggeser tubuhnya bersama sang istri ke depan cermin berukuran besar. Keduanya melihat pantulan diri sendiri dari sana.
"Sayang, dulu sebelum kita nikah ... Aku pernah punya janji sama kamu kalau resepsi pernikahan kita menyusul," ucap Fatan terdengar serius.
Nila menautkan kedua alisnya. "Iya, terus?"
"Gimana kalau dalam waktu dekat ini, kita adakan resepsi pernikahan kita. Soalnya, aku gak mau lihat wajah sedihmu saat dipernikahan Lativa dan Rusli nanti ... Aku punya rekomendasi wedding organizer dari klienku, ya mungkin bisa kita coba buat pakai jasa mereka buat resepsi pernikahan impian kita," usul Fatan.
Sementara Nila seketika terdiam. Bahkan semenjak hidupnya sudah tenang dan nyaman pikiran bayang-bayang tentang resepsi pernikahan impian itu mendadak menghilang begitu saja. Apalagi sekarang sudah ada Ara.
"Mas ..." ucap Nila mengesah. "Menurutku resepsi pernikahan buat kita sekarang ... lupain aja deh."
"Maksudnya?" tukas Fatan bingung.
Nila menarik napas, lalu bicara. "Buat aku, nikah sama kamu secara resmi udah lebih dari cukup. Memang awalnya aku sempat berharap adanya resepsi. Tapi seiring berjalanannya waktu, harapan itu udah gak ada. Kamu, mau mengakui aku secara publik sebagai istri kamu aja, aku udah seneng banget. Ya, daripada resepsi mending uangnya dipakai untuk tabungan masa depan Ara. Meskipun kita mampu, hidup tanpa kekurangan batin maupun materil itu udah luar biasa buat aku. Sebab aku pernah merasakan bagaimana berada diposisi apa-apa serba susah. Mau beli sesuatu harus sabar. Aku gak mau Ara merasakan seperti apa yang aku rasakan dulu, Mas."
"Oke, aku paham. Aku hanya ingin kamu dan Ara bahagia. Kalian adalah dua perempuan yang sangat berharga dihidupku. Makanya kalau kamu mau sesuatu bilang aja ya sama aku. Biar aku gak salah paham, biar aku tahu apa yang kamu suka ataupun nggak. Pun sebaliknya dengan diriku." Fatan memberi pelukan hangat pada istrinya.
"Iya, Mas. Aku merasa ... Hidupku sekarang udah lebih bahagia dan bisa menerima semuanya. Yang tadinya aku pikir kamu lelaki paling sempurna, tapi ternyata kamu punya banyak hal yang gak sesuai dengan apa yang menurutku sempurna itu. Dan sekarang aku paham, mencintai kekuranganmu itu adalah hal terindah dimasa belajarku dalam pernikahan ini." Nila berbalik badan lalu mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Sedangkan Fatan tetap memeluknya. Keduanya saling menatap dalam. Tiada kata yang mampu terucap lagi, hanya tersirat bahasa cinta dari sorot mata mereka.
"Mas, mending sekarang kamu mandi. Daripada masih posisi begini. Aku takut kamu gak kontrol," usul Nila lalu terkekeh.
Fatan melepaskan tangannya, begitupun dengan Nila.
__ADS_1
"Iya iya, aku mandi. Tapi .... " Lelaki itu mendekatkan wajahnya pada wajah Nila. Tetapi Nila malah reflek memundurkan wajah sambil membulatkan mata serta menautkan kedua alisnya. Tak disangka, Fatan tiba-tiba mengedipkan mata. "Aku mencintaimu." Dia memberi kecupan singkat di bibir Nila.
Nila terkesiap hingga mengedipkan mata beberapa kali. Ia tersipu dan wajahnya tampak memerah. "Aku mencintaimu juga."
Fatan cengengesan. Ketika mendapat ucapan balasan dari istrinya. Dia pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor.
----------------
Tiba di kantor, Fatan turun dari mobil. Beberapa staf serta Rusli sudah hadir di sana menyambut kedatangannya. Hari ini dia berangkat dengan sopir, karena sepanjang perjalanan harus membuka laptop untuk mengecek email masuk.
"Selamat pagi, Pak," sapa Rusli seraya menunduk hormat bersamaan dengan para staff yang lain.
"Pagi," balas Fatan ramah lalu berjalan santai melewati mereka.
Rusli mengekor di belakang Fatan. "Bos, kemungkinan besar jadwal meeting hari ini cukup padat. Mengingat di awal tahun, kita akan mengadakan meeting besar juga dengan para ketua divisi guna menyusun plainning produksi serta marketing yang akan dijalani di tahun ini."
"Oke, atur aja. Tadi saya juga dapat email dari beberapa kolega tentang permintaan harga barang di tahun ini. Untuk itu, saya minta tolong ... Kamu hubungi Lativa dan minta daftar harganya ya. Setelah itu kirim ke saya," perintah Fatan. Keduanya masuk ke dalam lift.
"Baik, Bos."
"Satu lagi, untuk meeting besar saya minta paling lambat dua hari lagi. Mengingat kita gak bisa mengulur waktu terkait perencanaan. Pasalnya seperti yang udah kita terapkan di tahun kemarin, perencanaan yang kita buat di awal benar-benar membuahkan hasil yang sangat bagus buat profit kita ke depannya," tegas Fatan.
"Baik, Bos. Nanti akan saya kirim informasi ke masing-masing divisi terkait meeting tersebut. Supaya mereka bisa segera menyiapkan bahan yang matang," jawab Rusli.
"Bagus."
----------------
Sementara di kediaman Wicak, Nila baru saja menghubungi pihak rumah spa khusus bayi. Ia berniat untuk memijat tubuh Ara. Apalagi sejak baru lahir, Ara belum pernah kena pijatan dari ahlinya.
Tidak butuh waktu lama untuk menunggu, salah seorang perempuan datang menggunakan seragam bertuliskan rumah terapis baby yang sempat dihubungi Nila. Kalau dilihat dari wajahnya, mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan Mirna.
"Selamat pagi," sapa perempuan itu.
"Pagi, maaf cari siapa ya?" tanya satpam yang berjaga di depan.
"Saya terapis dari rumah spa baby, ingin bertemu dengan ibu Nila Anastasya."
Satpam itu memperhatikan jelas. "Sebentar ya, saya beritahu nyonya terlebih dahulu. Silahkan tunggu disini, Mbak." Dia menunjuk kursi yang ada di samping gerbang.
"Oh iya, terima kasih." Perempuan itu mengangguk patuh lalu duduk di kursi tersebut.
Beberapa menit kemudian, satpam itu kembali.
__ADS_1
"Mbak, kata nyonya langsung masuk aja ke dalam. Nyonya udah menunggu." Satpam itu membukakan pintu gerbang untuk perempuan tadi.
"Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih ya."
"Sama-sama."
Perempuan itu berjalan menuju teras rumah. Ternyata sebelum dia sampai, Nila sudah lebih dulu keluar rumah sambil menggendong Ara.
"Dengan Ibu Wati ya?" tanya Nila yang memang sudah mendapat informasi dari admin rumah spa baby kalau terapis yang datang namanya Wati. Admin itupun menyertakan foto, jadi membuat Nila lebih mudah mengenali.
"Iya, Bu. Benar ... Salam kenal, saya Wati." Perempuan itu mengulurkan tangannya guna mengajak berjabat tangan.
Dengan sikap ramahnya, Nila menyambut uluran tangan Wati. "Saya Nila Anastasya dan ini Ara anak saya."
"Wah senang bisa berkenalan dengan Anda."
"Saya juga. Mari masuk!" ajak Nila mempersilahkan perempuan itu ikut masuk ke dalam bersamanya.
Tiga puluh menit kemudian, Ara pun akhirnya selesai dipijat. Wati pamit pulang usai membereskan peralatan pujat dan membawanya lagi. Namun sebelum Wati benar-benar pergi, Nila berniat untuk memberikannya sebuah bingkisan yang dibungkus dengan paper bag.
"Bu Wati, ini ada buah tangan buat Ibu. Tolong diterima ya," kata Nila seraya menyodorkan paper bag itu pada Wati.
"Wah terima kasih banyak, Bu Nila. Semoga adek Ara sehat selalu. Begitupun dengan Bu Nila sekeluarga," balas Wati merasa terharu. Walaupun dia sudah sering mendapatkan bingkisan dari pelanggannya, tapi perasaan haru itu kerap muncul.
Nila tersenyum bahagia melihat sorot ketulusan dari mata Wati. "Sama-sama, Bu. Makasih juga udah pijat Ara sampai relaks sekali."
"Iya, Bu. Itu udah jadi tugas saya. Kalau gitu saya pamit ya, Bu. Permisi."
"Iya, hati-hati dijalan ya Bu Wati."
Setelah Wati pergi, Nila masuk lagi ke dalam rumah. Namun ketika hendak menaiki anak tangga, ia berpapasan dengan Lalisa.
"Nila, Ara gimana habis dipijat? Udah lebih nyaman?" tanya Lalisa.
"Udah kok, Bun. Sekarang Ara lagi tidur, mungkin karena kelelahan nangis juga. Eh habis dikasih susu langsung tidur," jawab Nila.
"Oh begitu, ya semoga aja setelah pijat bisa lebih sehat lagi," ucap Lalisa penuh harap.
"Iya, Bun. Aamiin ... Omong-omong Bunda mau kemana?"
"Oh ini, Bunda mau arisan dulu ... Kamu mau nitip apa?"
"Nggak ada deh, Bun kayaknya. Lagi gak ingin nitip apa-apa," jawab Nila.
__ADS_1
"Ya udah deh kalah begitu. Bunda pergi dulu ya. Bye!"
"Iya, Bun. Hati-hati ya, Bye, Bunda."