Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 115


__ADS_3

"Dia, bukannya kak Bayu?" Lativa bertanya dalam hati.


Dikira Puji, Lativa akan mengikutinya. Tetapi saat menoleh ke belakang ternyata perempuan itu sedang memperhatikan ke arah salah satu bingkai di dinding itu. Puji pun kembali menghampiri Lativa.


"Kamu kenal dengan klien saya itu?" tanya Puji membuat Lativa terkesiap lalu menoleh ke arahnya.


"Iya, saya cukup mengenalinya. Dia adalah mantan kekasih kak Nila. Tapi, bagaimana bisa bu Puji kenal sama dia?"


"Oh, awalnya saya gak kenal sama dia. Saat itu dia sendiri yang datang ke kantor saya, terus meminta saya menjadi kuasa hukumnya ya jadi saya terima," jelas Puji.


"Begitu ya?" Lativa tersenyum simpul. Pun Puji mengangguk seraya bergumam. "Kalau boleh tahu, Bu Puji sama pak Rusli udah kenal lama?" tanyanya lagi.


"Kami sebenarnya masih ada ikatan keluarga. Ibunya Rusli dan ibu saya sepupuan. Cuma setelah keluarga saya pindah ke luar negeri jadi komunikasi dan waktu bertemu pun bisa dibilang hampir putus. Eh saat saya memutuskan untuk berkarir di Indonesia, ternyata bisa dekat lagi bahkan bisa saling bekerjasama. Begitulah kurang lebih ceritanya," jelas Puji. Entah kenapa hal itu membuat perasaan Lativa bisa lega. Apa jangan-jangan Lativa mulai luluh dengan kebaikan Rusli?


"Oh iya, soal perempuan yang tadi kamu bilang mantan kekasih pak Bayu ... " Puji menjentikkan jemarinya untuk membantunya berpikir. "Nila ya?" Lativa mengangguk cepat. "Iya, Nila ... pak Bayu juga pernah sedikit cerita tentangnya. Tapi bagaimanapun kalau bukan jodoh susah ya buat sama-sama," sambung Puji seraya tertawa kecil. Begitupun dengan Lativa.


Setelah memberikan berkas, Lativa pamit kepada Puji untuk kembali ke kantor.


.


.


.


.


Di tempat lain. Seorang laki-laki tengah duduk santai di gazebo rumahnya ditemani sepuntung rokok yang sesekali dihisap olehnya. Kalau dilihat, raut wajah laki-laki itu tampak tenang dan bagai tanpa beban.


Rumah mewah yang ditempatinya saat ini, digunakan sebagai persembunyian dari dunia gelapnya. Ya, laki-laki itu adalah Antony. Seorang tangan kanan ayahnya telah berhasil membebaskannya dari penjara kemarin.


Kini Antony tinggal di rumah kedua orang tua yang 'tak berpenghuni'. Sebab tuan rumahnya sedang tidak tinggal di sana lagi. Namun berkat kejadian itu, membuat Antony kembali menempati rumah itu.

__ADS_1


"Tuan muda, makan siangnya sudah siap," kata seorang pelayan memberitahukan padanya.


"Iya. Nanti saya makan." Antony segera menghabiskan puntung rokoknya dengan mempercepat hisapan. Sepertinya dia memang sudah ahli menghisap rokok dengan kuat tanpa tersendak sampai habis lalu mengepulkannya berkali-kali ke udara.


Setelah itu, Antony membuangnya ke dalam sebuah tong khusus pembuangan sampah rokok tersebut. Lantas kemudian ia berjalan ke ruang makan.


Saat Antony sudah muncul di ruangan itu, beberapa pelayan langsung berbaris layaknya menyambut tuan muda. Antony duduk di salah satu kursi, tempat dia biasa makan bersama kedua orang tuanya.


Nasi serta lauk pauk telah tersedia di atas meja. Tidak mewah, tidak juga sederhana. Makanan yang tersaji semuanya memang kesukaan Antony, itulah yang selalu dipesan sang ibu pada para pelayan jikalau Antony berada di rumah.


Ditengah menikmati makan siang, tiba-tiba telepon rumah yang ada di ruang makan itu berbunyi. Salah satu pelayan langsung segera menghampiri untuk segera menjawab panggilan tersebut.


"Halo?"


"......."


"Baik, Pak."


"Maaf mengganggu, Tuan Muda. Barusan satpam memberitahu kalau ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda."


"Siapa?" tanya Antony singkat.


"Satpam bilang namanya, Ayu."


Antony merasa tersentak ketika mendengar nama itu. Ia langsung mengunyah sisa makanan yang ada di dalam mulutnya lalu segera mungkin menelannya. Lantas setelah itu segelas air yang masih penuh pun langsung ditenggak habis olehnya.


"Buat apa si Ayu datang ke rumah ini? Kalau Mommy sama Daddy tahu, bisa kacau!" gerutunya dalam hati. Antony segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian meninggalkan kursi serta makanan yang masih tersisa di atas piringnya.


Langkah kakinya begitu tegas berjalan untuk menghampiri perempuan yang bernama Ayu tersebut. Seolah luapan emosi yang meradang di dalam hatinya terlampiaskan melalui derap langkahnya.


Tiba di ruang tamu, ternyata perempuan itu sudah berada di sana. Antony menghentikan langkah dan memposisikan tubuhnya menjadi berhadapan dengan perempuan itu. Sementara dia, yang bernama Ayu. Berdiri tatkala Antony sudah muncul dihadapannya.

__ADS_1


"Antony ..." lirih perempuan itu memanggil nama laki-laki yang telah berhasil melanggar janjinya di depan Tuhan untuk menjaga, mencintai, serta mengasihi Lativa layaknya seorang istri.


"Ada apa kamu menemuiku disini? Bukankah udah pernah aku bilang sama kamu. Jangan sekali-kali datang kesini!" gertak Antony. Keduanya matanya membulat sempurna, aura kemarahan pun tampakpada wajahnya.


"Maaf, tapi aku kesini mau kasih tahu kamu, kalau aku ... Hamil." Ayu menundukkan wajahnya. Entah rasa malunya kemana, yang jelas dia ingin janin yang ada di dalam kandungannya itu bisa dipertanggung jawabkan oleh pelaku yang telah menghamilinya.


"Gak!" Antony tertawa. "Gak mungkin! Bisa aja itu anak lelaki lain 'kan?" sangkalnya tanpa merasa bersalah.


"Cukup ya Antony! Berhenti menyangkal semuanya!" Ayu memberontak. Selama ini perempuan itu hanya diam dan menurut dengan bujuk rayu Antony. "Selama ini kita gak pernah putus, Antony. Bahkan kamu menikah sama Tiva aja dan mengakui kandungan dia itu anakmu sendiri, apa itu gak bikin aku sakit hati? Hah! Bre-ng-sek!"


PRATT!!!!


Satu tamparan berhasil mendarat secara tiba-tiba dipipinya. Antony bagai terbangun dari mimpinya. Semua yang dialaminya selama ini begitu sangat menyakiti lebih dari satu perempuan.


Cinta hanya sebagai kata pengantar baginya, sedangkan hasrat yang menguasai jiwanya. Entah apa yang diinginkan, jelas sang ayah tidak seperti itu.


"Maaf, Ayu. Aku ... keliru."


"Bul-****!! Keliru kamu bilang!" Jari telunjuk Ayu mengarah langsung ke depan wajah Antony. "Kalau kamu sangka keliru, kita gak bakal ngelakuin hal itu lebih dari satu kali, Antony!" Ayu menurunkan jari telunjuknya, ia berusaha mengatur napas demi mengontrol emosi yang kian meledak. "Aku mau kamu tanggung jawab!"


"Hah? Apa kamu bilang? Tanggung jawab? Apa gak ada cara lain?" cecar Antony yang sebenarnya kalut setelah mendengar kabar kehamilan Ayu.


"Anak ini butuh seorang ayah! Apa kamu mau menyesal kalau gak mau tanggung jawab?" sentak Ayu semakin geram.


"Menyesal? Memangnya apa yang harus aku sesali? Kalaupun aku mau bertanggung jawab, aku belum siap menjadi seorang ayah," jawab Antony terdengar santai.


Ayu mengempaskan napas kasar. Dadanya terasa sesak mendengar penuturan Antony barusan. "Harusnya lelaki kayak kamu itu adanya bukan disini, tapi di rumah sakit jiwa! Aku bersumpah, demi anak ini. Hidupmu akan hancur, sehancur-hancurnya sampai orang tuamu aja pasti akan membuangmu! Camkan itu."


Ayu merasa kepalanya sakit jika terus berhadapan dengan Antony. Setelah menyucapkan sumpah itu, ia langsung bergegas pergi dari rumah mewah milik kedua orang tua Antony.


"Memangnya kamu siapa bisa menyumpahiku seperti itu?" sahut Antony seraya menatap kepergian Ayu yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2