Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 72


__ADS_3

Nila berniat keluar dari kamar untuk memastikan kalau barang-barangnya dan juga Fatan, sudah dikeluarkan dari bagasi mobil atau belum. Begitupun dengan Fatan yang sudah memejamkan mata. Namun ketika hendak berbalik badan, tiba-tiba saja tangan Fatan menahannya. Perempuan itu pun melihat ke arah tangannya lalu pada suaminya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Nila tersenyum. Alih-alih jetlag nya belum pulih, ia pun duduk di tepi tempat tidur seraya memandang lelaki dengan sorot teduhnya. Nila tampak sayang sekali dengannya.


Lantas Fatan membuka matanya kembali. Ia tampak sayu tapi tidak mengurangi aura ketampanannya. "Jangan kemana-mana ya ... kamu disini aja temani aku," pinta laki-laki itu dengan suara yang terdengar sedikit parau.


Nila mengembuskan napas tenang lalu berkata, "Iya, aku akan tetap disini kok buat temani kamu."


"Sayang .... " Fatan setengah berbaring dengan posisi menghadap Nila dan sebelah tangannya yang dijadikan tumpuan.


"Iya?" Sahut Nila lalu tiba-tiba tangan Fatan membe-lao pipinya sangat lembut. Namun disisi lain Nila yang sudah lama sekali tidak disentuh seperti itu, merasa merinding. Ia mencoba meredam dengan memejamkan kedua matanya, mengatur napas, tapi tidak dengan degub jantungnya.


Laki-laki itu kini merubah posisinya lagi menjadi duduk. Latas Nila membuka matanya pelahan.


"Ada apa?" tanya perempuan itu menautkan kedua alisnya, merasa curiga. Terlebih melihat raut wajah Fatan yang sangat sulit diartikan.


Fatan tidak langsung menjawab. Lelaki itu justru langsung memajukan wajahnya dan mendaratkan sebuah ci-uman tepat di bibir Nila.


Sontak Nila terkejut dan seketika merasa ada desiran aneh yang mengalir di nadinya. Karena saking terkejutnya, ia sampai tidak ingat untuk bernapas.


Namun Fatan belum melepaskannya. Ia masih ingin melihat respon sang istri. Ternyata Nila justru menerimanya dan memejamkan mata. Melihat hal itu, Fatan melepaskannya dan Nila membuka matanya.


"Boleh gak aku meminta hakku sekarang?" tanya laki-laki itu dengan mata sayu dan suara yang kian parau.


Alih-alih ingin menolak dengan alasan takut akan kondisi Fatan yang bisa saja tahu-tahu memburuk, Nila justru menganggukkan kepala mengikuti apa yang diinginkan tubuhnya. Padahal Fatan belum berbuat lebih dari sekedar ci-uman.


Setelah mendapat izin dari sang istri, sebagai lelaki dewasa sebenarnya Fatan sangat ingin sejak lama melakukan itu. Akan tetapi selama ini ditahan olehnya dan saat ini sebentar lagi keinginannya akan terwujud.

__ADS_1


Fatan menci-um bibir istrinya lagi, semakin lama menjadi sebuah pagutan. Terus dan kian menuntut lebih. Sentuhan yang diberikannya pada setiap jengkal tubuh Nila pun memberi rasa yang selalu ingin lebih lagi.


Nyanyian merdu penuh gairah itu bersatu hingga menggema di dalam ruangan itu. Entah ada yang mendengar mereka atau tidak, yang pasti hasrat yang kian menggebu itu tidak mempedulikan itu. Seban semua orang yang ada di rumah itu pun tahu, kalau mereka sudah sah menjadi suami istri.


Setelah berkumpul cukup lama, membunuh rasa lelah selama perjalanan, akhirnya keduanya sampai di puncak kenikmatan duniawi. Mereka saling berpelukan, sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Di usia yang sebentar lagi menginjak 28 tahun, kehormatan Nila akhirnya berhasil diserahkan sepenuhnya kepada sang suami. Ia berharap, semoga apa yang terjadi dalam hidupnya saat ini menjadi titik awal menuju kebahagiaan bersama Fatan di hari esok dan selamanya.


...----------------...


Keduanya tidur sangat nyenyak sekali. Hingga tak terasa matahari sudah mulai terbenam dan suasana kamar pun sudah gelap. Perlahan Nila membuka matanya, seketika hawa dingin begitu terasa. Nila menarik selimut itu hingga batas leher. Lantas ia pun tersadar kalau ada sebuah tangan yang dijadikan sebagai bantalan untuk kepalanya.


"Aaaissh! Aku hampir gak ingat kalau tadi kita ngelakuin ritual pengantin baru," ucap Nila dalam hati lalu mengusap wajahnya. Namun ia tidak langsung bangun melainkan merubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan sang suami.


Nila memandangi wajah tampan Fatan dari semburat cahaya yang menelusup masuk dari luar jendela.


"Aku baru sadar, dia benar-benar tampan. Aku selalu berdoa untukmu supaya kamu bisa lekas sembuh dan bisa terus melanjutkan menulis cerita bahagia kita," ucap Nila dalam hati.


"Seneng ya punya suami ganteng kayak aku?"


Reflek Nila merubah posisi tidurnya menjadi berbaring. Malu, dia malu sekali.


Fatan membuka matanya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Nila dan menariknya supaya lebih dekat. Alih-alih sang istri mendekat, justru Fatan lah yang bergerak mendekat. Sebab Nila sengaja menahan tubuhnya.


"Sayang, aku tanya loh sama kamu. Masa gak dijawab sih?" Fatan protes.


"Hmm." Nila mendadak gugup. Alhasil, ia malah salah tingkah. Biasanya kalau dikamarnya sendiri, ia pasti sudah lompat-lompatan di atas kasur sambil bernyanyi. Kali ini Nila hanya bisa menarik selimut sampai menutupi wajahnya.

__ADS_1


Fatan terkekeh geli melihat tingkah Nila yang sangat menggemaskan baginya itu. Lantas lelaki itu malah ikut menarik selimut dan mulai ingin lagi.


"Mas, jangan terlalu diforsir, kalau nanti kamu kelelahan bagaimana?" tanya Nila yang begitu khawatir padanya.


"Aku akan melakukannya perlahan, Sayang. Come to me, please .... "


Ketika tangan Fatan mulai menjamah tubuhnya lagi, rasa ingin pun ikut muncul. Padahal area sensitifnya masih terasa perih, tapi nyatanya Nila pun tidak jera. Mereka akhirnya melakukannya lagi.


Pelayan di rumah itu berkali-kalo mengetuk untuk memasukkan koper mereka ke dalam kamar. Tetapi sudah sangat lama menunggu, sepasang pengantin baru itu tidak ada yang keluar sama sekali. Akhirnya koper-koper itu dibiarkan berjejer rapi disamping pintu dan mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing.


.


.


.


.


Di tempat yang berbeda. Seorang lelaki tampak marah besar setelah mengetahui kabar pernikahan Fatan dan Nila. Kedua tangannya sedari tadi mengepal kuat seraya melihat ke luar jendela ruangan tempatnya berada.


"Bodoh! Kenapa gak ada yang bisa mencegah itu?" teriaknya pada kedua laki-laki lain yang bersamanya di ruangan itu juga.


"Maaf Tuan. Menurut kabar yang saya dengar, mereka sekarang pergi ke Tiongkok. Dan target akan melakukan pengobatan langsung di sana," ucap salah satu dari ketiga orang lelaki itu dengan wajah menunduk.


Sedangkan laki-laki yang menjadi tuan mereka hanya berdecih. "Keluar dari ruangan saya sekarang!" teriaknya tanpa berbalik badan. Ketiga orang itu segera keluar dari sana sebelum babak belur karena tuannya sendiri.


"Aku harus buat rencana baru untuk membuat Fatan benar-benar mati! Rupanya dia udah bisa menci-um bau-bau ancaman yang sebentar lagi akan mendekati mautnya," ucap laki-laki itu tersenyum seringai lalu tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2