
Tidak kurang dari tiga puluh menit, pembukaan persalinan Nila bertambah sangat cepat.
"Bu, udah bukaan sepuluh. Tetap atur napas dan relaks ya," ucap dokter kandungan yang kini mulai bersiap membantu persalinan Nila.
"Huh ... Huh ... Sakit, Dok!" keluh Nila ketika kontraksi semakin kuat.
"Saya beri aba-aba ya, Bu ... Hitungan ketiga Ibu boleh mengejan selama kontraksi masih kuat. Tapi kalau dirasa napas Ibu gak kuat, bisa tarik napas lagi dalam-dalam terus mengejan lagi. Siap ya, Bu?"
Nila mengangguk pasrah. Ia harus bisa menyelamatkan bayinya dan juga dirinya sendiri. Berjuang meski sendiri, karena ia bukan perempuan lemah. Hingga di ujung napas dan air matanya, Nila akhirnya mendengar suara tangisan bayi.
"Bu, selamat ya ... Anaknya perempuan, cantik seperti ibunya."
Namun suara dokter itu terdengar samar-samar. Pandangan Nila semakin lama semakin buram. Lelah, itulah yang dirasakannya. Sampai untuk melihat bayi mungil yang diperlihatkan oleh dokter pun sudah tidak jelas. Akhirnya Nila terpejam.
"Dok, ibunya pingsan!" ujar perawat yang membantu dokter di sebelah Nila.
"Dia juga mengalami pendarahan!" sahut dokter berusaha segera mengeluarkan plasenta janin dari dalam perut Nila. Beruntung tidak ada robekan di area jalan lahir.
Sekuat dan memampu mereka para tenaga medis menyelamatkan Nila dan membawa bayi mungil itu ke kamar khusus bayi untuk mendapat perawata. Bayi itu dinyatakan sehat oleh dokter anak yang juga ikut berada di ruang bersalin tersebut.
.
.
.
.
Dua jam sudah, Nila mampu melewati masa kritisnya dan pendarahan pun telah selesai. Nila dipindahkan ke ruang rawat inap. Wajahnya masih tampak pucat, tubuh pun lemas. Perjuangan di usia kehamilan yang belum genap tiga puluh sembilan minggu, akhirnya selesai. Janin yang tadinya ada di dalam kantung berisi cairan ketuban bersama plasentanya, kini telah berhasil dikeluarkan.
Lantas di tengah istirahatnya, samar-samar Nila mendengar seperti ada yang memanggilnya.
__ADS_1
"Nila ... Bangun, Nak ... Kata suster, kamu udah harus makan buat isi tenaga lagi."
Perlahan mata Nila terbuka, melihat sesosok perempuan cantik yang usianya tidak lagi muda. Ia tersenyum tipis. "Bunda ..." lirihnya.
"Syukurlah kamu udah sadar ...." Perempuan itu bernapas lega. "Bunda hampir jantungan pas dapat kabar dari pihak hotel. Mereka menemukan identitasmu di dalam tas yang kamu pakai, terus pas cek ponselmu ternyata mati. Mau gak mau, mereka membukanya dan katanya panggilan terakhir itu nomor Bunda."
Nila terkekeh pelan. "Maaf ya Bunda. Nila gak sempat hubungi Bunda."
"Iya gak apa-apa, sekarang kamu makan dulu ya ... Biar Bunda yang suapi." Lalisa belum mau bertanya lebih banyak dulu, mengingat apa yang dikatakan dokter tadi padanya, hal itu bertujuan supaya membuat mental dan fisik Nila harus sembuh terlebih dahulu.
Nila mengangguk, lalu Lalisa pun menaikkan posisi kepala pada tempat tidurnya. Sedikit demi sedikit, Nila memakan makanan yang disuapi oleh Lalisa. Hingga tak terasa semuanya dilahap habis olehnya.
"Terima kasih, Bunda ... Udah mau repot-repot kesini," balas Nila merasa bahagia karena mertuanya itu sangat sigap dan perhatian sekali dengannya.
"Sama-sama ... Bagaimanapun kamu juga anak Bunda, apalagi udah kasih Bunda cucu yang cantik sekali." Lalisa tersenyum bahagia seraya mengelus tangan Nila yang masih terpasang infus.
"Oh iya, Bunda udah kasih tahu ibu belum?" tanya Nila gugup.
Nila seketika tercekat, ia merasa kalau ibu mertuanya itu akan bertanya tentang keberadaan Fatan. "Mau tanya apa, Bun?"
"Kamu tahu Fatan dimana?"
Deg. Jantung Nila berhenti berdegub beberapa saat. Wajahnya kemudian menunduk. "Maaf, Bun ... Nila gak tahu."
Lalisa menghela napas panjang. "Kalau memang lagi ada masalah, segeralah selesaikan. Jangan berlarut-larut, beruntung Tuhan masih sayang sama kamu. Bunda gak tahu deh bakal nangis kayak gimana kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama kamu."
Melihat Lalisa tampak sedih, Nila sampai menitikkan air mata. "Maaf, Bun ... Bukan maksud Nila mau menghindar dari masalah. Tapi, Nila cuma mau menenangkan diri aja. Entah apa yang sekarang Nila rasain itu sebuah kesalahpahaman atau bukan."
"Memangnya apa yang kamu lihat di sana?" tanya Lalisa lagi. Dia begitu penasaran.
"Yang aku lihat waktu sampai di hotel, mas Fatan masuk ke dalam mobil taksi dengan perempuan. Awalnya aku gak tahu itu siapa, setelah aku ikuti ke rumah sakit ... mas Fatan menyebut nama perempuan itu. Dimana, perempuan itu pernah beberapa kali mengirim email ke mas Fatan. Aku gak tahu hubungan mereka dulunya sedekat apa. Tapi disana aku mendengar sangat jelas, kalau mas Fatan gak berterus terang pada dia kalau udah menikah." Nila mendesah lesu. "Mungkin kalau aku gak nekad buat datang, dia gak bakal tahu kalau aku adalah istrinya mas Fatan, Bun."
__ADS_1
"Siapa nama perempuan itu?" tanya Lalisa cepat.
"Mas Fatan manggilnya Ocha," jawab Nila. Ia mengusap air matanya.
Seketika Lalisa langsung menarik napas ketika Nila menyebut nama perempuan itu. "Dia kembali rupanya," gumamnya tapi masih dapat di dengar oleh Nila.
"Bunda kenal sama dia? Apa sebelumnya Bunda tahu hubungan mas Fatan dan dia bagaimana?" cecar Nila yang lebih penasaran.
"Nila ... Pertama Fatan sama dia gak pernah ada hubungan apa-apa. Kedua, setahu Bunda kalau dia itu punya sahabat terus berusaha jodoh-jodohin sahabatnya biar jadian sama Fatan tapi yang kejebak malah dia sendiri. Bunda pernah dengar Fatan cerita kalau dia sering menyatakan perasaannya lewat lagu, tulisan bahkan secara langsung," jelas Lalisa.
Nila sampai tertegun ketika mendengarkannya. "Aku kira dulu, dia adalah mantannya mas Fatan, Bun."
"Bukanlah, Nila. Lagipula Bunda gak sudi Fatan pacaran sama dia," ujar Lalisa lalu bibirnya mencebik.
"Memangnya kenapa, Bun?" Nila ingin tahu.
"Soalnya, dia dari keluarga penjahat semua. Ayahnya masuk penjara karena narkoba, ibunya pekerja di diskotik sebagai wanita malam."
Nila terpengarah. "Bagaimana Bunda bisa tahu?"
"Bunda cari tahu sendiri sampai ke akar-akarnya. Soalnya, perempuan mana sih yang kalau benar-benar gak ada maunya sebegitu ngebetnya pengen jadi menantu Bunda? Toh kalaupun dia cinta betul sama lelaki, terus lelaki gak mau sama dia ... Harusnya ya udah gitu gak deket-deketin lagi." Lalisa ngedumel terbawa emosi.
"Tapi Bunda pernah tahu gak kalau mas Fatan sempat ada rasa sama dia atau gak? Ya, biasanya hati lelaki juga pasti ada luluhnya, sekeras apapun itu," terang Nila.
Lalisa mengusap dagunya seraya berpikir ulang. "Iya juga sih, nah kalau itu Bunda belum sempat tanya lagi. Kalau masalah tentang dari Fatan nya sendiri, harus tanya langsung sama yang bersangkutan."
Nila menganggukkan kepala. "Iya, Bunda benar."
"Ya udah, Bunda telepon Fatan dulu mau nanyain dia dimana."
Namun baru saja Lalisa hendak menghubungi anak semata wayanhnya, pintu kamar rawat inap Nila ada yang mengetuk. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.
__ADS_1
"Permisi ..."