Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 74


__ADS_3

Fatan juga menghubungi pihak kepolisian terkait peristiwa yang terjadi di rumah itu. Termasuk penculikan Nila. Dia pun dibawa ke kantor polisi untuk menjelaskan semua.


Rumah itu diberi garis polisi dan tidak boleh ada yang mendekat ataupun masuk ke dalam selain orang yang berwenang guna memecahkan kasus itu. Sedangkan kedua jasad pelayan rumah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi.


Di dalam ruangan berdinding baja, Fatan berhadapan dengan seorang laki-laki berpakaian polisi lengkap. Namun Fatan belum sepenuhnya fokus karena rasa khawatir yang menguasai dirinya tentang keberadaan Nila saat ini. Tetapi dia masih bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh laki-laki itu dalam waktu tiga jam lamanya.


"Terima kasih atas kejujuranmu. Kalau nanti Anda punya informasi mengenai pelaku pembunuhan serta penculikan istri Anda, tolong segera kabari kami," kata laki-laki itu saat keduanya saling berjabat tangan.


"Baik, Pak. Saya juga minta kerjasamanya kepada pihak kepolisian untuk segera menemukan pelaku dan menghukum mereka seberat-beratnya," timpal Fatan. Dia semakin berambisi untuk mengorek tentang kasus ini. Terlebih sudah ada dua korban yang sulit untuk dimintai keterangan.


"Untuk sementara Anda jangan tinggal di rumah itu sebelum kasus terselesaikan," tambah anggota polisi itu.


"Tapi apa boleh saya membawa barang-barang penting dari rumah itu?" tanya Fatan penuh harap.


"Silahkan tidak apa," jawabnya seraya menganggukkan kepala.


"Baik, kalau gitu saya permisi." Fatan pamit dan keluar dari ruangan itu.


Tujuannya sekarang yaitu kembali ke rumah itu untuk mengambil pakaian serta dokumen penting lainnya. Beruntung tadi tangan kanannya cepat datang ke negara tempatnya berada saat ini.


Usai mengemas pakaiannya dan juga milik Nila, Fatan keluar dari rumah itu hanya membawa satu buah koper serta satu tas ransel. Langkahnya begitu berat, terlebih saat mengingat momen bersama sang istri. Ada rasa sesal juga dalam hatinya karena sempat pergi meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan Nila. Sekarang mengeluh pun percuma, dia harus kuat dan lebih semangat lagi untuk sembuh juga.


Fatan mengendarai mobilnya mengarah ke kota Beijing guna mencari hotel yang bisa ditempatinya dalam jangka waktu yang lama. Setelah menemukan yang dia cari, Fatan menghubungi tangan kanannya lagi.


"Dimana?"


"Di lobby Bos."


"Saya ke sana sekarang!"


Sambungan telepon terputus dan Fatan bergegas menghampiri laki-laki itu.

__ADS_1


"Kamu udah kabari yang lain?" tanya Fatan saat sudah sampai di lobby dan bertemu dengan tangan kanannya.


"Udah Bos. Saya udah kerahkan semua untuk mencari ke berbagai titik. Oh iya saya barusan dapat kabar dari orang yang ada di Indonesia."


Fatan menautkan kedua alisnya, firasatnya semakin tidak baik. "Kabar apa?"


"Rumah Tuan Wicak mengalami kebakaran hebat. Kedua keluarga kakak Anda berhasil melarikan diri dan sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Lalu, Tuan Wicak dan Nyonya Lalisa terkena luka bakar dan sekarang udah berhasil dilarikan ke rumah sakit."


Fatan begitu terkejut mendengar berita itu. Firasatnya benar-benar kuat sekali. "Kapan kejadiannya?" tanya lelaki itu kemudian.


"Semalam, tepat pukul sepuluh."


Fatan mengembuskan napas kasar sambil berkacak pinggang. "Bagaimana dengan Charma dan Ibu Wiwi? Apa mereka selamat?" Dia melirik tajam.


"Menurut satpam di rumah, mereka tidak ada di rumah sehari sebelum pernikahan Bos."


Fatan pun teringat memang istri pertama ayahnya dan juga adiknya itu tidak ada di acara pernikahannya kemarin.


"Tuan Wicak mengalami luka yang cukup serius, tapi Nyonya Lalisa hanya mengalami luka bakar ringan."


Fatan terdiam sambil menundukkan wajahnya. Beban yang dia pikul saat ini begitu sangat berat. Sebenarnya dia ingin sekali pulang ke Indonesia untuk menemui kedua orang tuanya. Namun keadaan disini jauh lebih serius, terlebih keberadaan Nila masih belum diketahui.


"Apa di sana udah lapor polisi?" tanya Fatan melihat laki-laki itu.


"Udah Bos ... Bos tenang aja, lebih baik masalah yang disini harus segera kita selesaikan. Teruma istri Anda. Sepertinya dalang dibalik dua kejadian ini gak mudah untuk kita taklukan. Tapi, saya yakin ... Kita pasti bisa segera mengetahuinya," ujar laki-laki itu secara tidak langsung juga memberi semangat pada Fatan.


"Ya udah, kamu bisa kembali dengan tugasmu. Sekarang saya mau pergi ke rumah sakit untuk check up ulang," kata Fatan seraya menepuk bahu orang itu.


"Oke Bos. Anda tetap hati-hati."


Fatan hanya mengangguk samar dan lelaki itu pun menunduk hormat kemudian pergi dari hadapannya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Fatan terus berpikir keras tentang kejadian saat ini. Hingga tanpa terasa mobil yang dikendarainya itu sampai rumah sakit. Fatan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu lalu turum dari kemudi dan masuk ke dalam.


Kondisi rumah sakit itu cukup ramai. Namun berhubung Fatan merupakan pasien VIP, dia berjalan masuk ke dalam ruangan dokter yang dituju tanpa harus mengantre terlebih dahulu.


"Siang Dok," sapa Fatan setelah membuka pintu dan melihat seorang laki-laki menggunakan jas berwarna putih itu menyadari kedatangannya.


"Siang, Tuan Fatan. Silahkan masuk." Dokter paruh baya itu tampak ramah sekali. "Gimana kabarnya, Tuan? Apa masih merasa sakit dibagian kepala? Obat yang saya beri diminum terus bukan?"


"Iya Dok, kebetulan obatnya juga sudah habis. Makanya saya datang lagi ke sini untuk di cek ulang. Untuk sakit kepala sendiri sudah tidak seperti saat pertama datang, sudah berkurang bahkan tidak terasa lagi dalam dua hari ini dan tubuh pun jauh terasa lebih sehat," papar Fatan jujur sebab memang seperti itu kenyataannya.


"Bagus lah kalau begitu. Sebentar, saya akan informasikan ke bagian laboratorium terlebih dahulu untuk tes ulang ya," kata dokter itu lalu meraih gagang telepon.


Fatan mengangguk dan menunggu. Tak lama kemudian, dokter itu menaruh kembali gagang teleponnya.


"Anda tunggu saja ya, nanti ada suster yang akan ke sini untuk mengambil darah dan urine. Selain itu ada serangkain tes lainnya juga untuk memastikan kalau gejala yang mengarah ke kanker otak itu sudah benar-benar hilang dari tubuh Anda," jelas dokter tampak serius.


"Baik Dok. Lakukan yang terbaik," jawab Fatan sangat yakin.


Hingga dua jam berlalu, Fatan pun akhirnya selesai melakukan serangkaian yang dimaksud oleh dokter yang menanganinya itu. Berikut dengan terapi yang diberikan, kali ini Fatan semakin terasa sehat meskipun setelah ini ia masih harus minum obat untuk masa penyembuhannya.


Menurut informasi dari dokter, hasil tes laboratorium pun sudah ada. Fatan tidak sabar untuk mengetahuinya. Tidak lama berselang, seorang perawat masuk ke dalam ruangan dokter membawa sebuah amplop berwarna putih.


"Permisi, ini Dok berkas yang Anda minta." Perawat itu menyodorkan amplop itu memberikannya pada dokter.


"Terima kasih."


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi."


Usai perawat itu pergi, dokter itu mulai membuka amplopnya lalu membacanya dengan sangat teliti. Beberapa menit berlalu, dokter itu menaruh hasilnya ke atas meja.


"Bagaimana hasilnya Dok?" tanya Fatan penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2