Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 113


__ADS_3

Lativa yang tadinya ingin berbalik badan, seketika diurungkan karena Rusli memanggilnya.


"Ada apa, Pak?" tanya Lativa tidak ketus ataupun ramah. Raut wajahnya datar dan hanya tersenyum tipis. Itupun hampir tak terlihat. Namun melihat seperti itu saja hati Rusli sangat bahagia.


Rusli melangkahkan kakinya mendekat ke arah perempuan itu. Tetapi ketika sudah berhadapan dengan Lativa, tiba-tiba ponselnya malah berdering.


"Astaga, siapa sih yang telepon?" kata Rusli dalam hati. Dia sedikit kesal karena mungkin bisa jadi akan merusak rencananya. Setelah dilihat nama orang yang meneleponnya, Rusli tidak berani untuk tidak menjawabnya.


"Maaf ya Lativa, aku mau jawab telepon dulu. Nanti aku kirim pesan untukmu."


Hah! Aku? Lativa sampai menautkan kedua alisnya mendengar kata 'aku' yang baru saja diucapkan oleh Rusli. Akan tetapi lagi-lagi perempuan satu itu tidak ingin mempermasalahkan ataupun melebih-lebihkan. Bisa saja kata tersebut hanya sebuah spontanitas bagi Rusli, pikir Lativa demikian.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." Lativa menunduk hormat lalu pergi dari hadapan Rusli.


.


.


.


.


Panggilan dari Fatan itu untuk memanggilnya supaya cepat ke ruangan. Sesampainya di ruangan, Rusli melihat tumpukan berkas yang sebelumnya masih ada, kini tidak ada.


"Rus, tadi saya dapat terusan email dari bagian produksi. Katanya ada salah satu kolega kita mau menambah jumlah disetiap pengiriman." Fatan beranjak dari kursi kebesarannya. "Kita harus cek langsung ke lapangan sekarang!" sambungnya sambil memasang kancing jasnya.


"Baik, Bos."


Fatan berjalan lebih dulu, lalu diikuti oleh Rusli. Mereka berjalan menuju gedung produksi yang terpisah dari gedung kantor. Diantara kedua gedung itu diberi area khusus pejalan kaki yang diberi atap transparan berwarna biru muda.


Setibanya di depan lobby gedung produksi, keduanya disambut oleh seorang manager bagian tersebut.


"Selamat siang, Pak Fatan dan Pak Rusli," sapanya ramah. Padahal kenyataannya lelaki itu sangat gugup dengan kedatangan atasannya yang sangat mendadak dan tanpa memberi informasi apapun.


"Siang. Saya mau lihat daftat kolega yang udah bekerjasama dengan kita," kata Fatan. Raut wajahnya datar dan serius, serta sikapnya mirip sekali dengan freezer. Sangat dingin.


"Baik, Pak. Mari akan saya tunjukkan," kata lelaki itu lalu mempersilahkan Fatan dan Rusli untuk masuk ke dalam.


Sambil berjalan, Rusli membuka email yang dimaksud oleh Fatan tadi. Ternyata email itu memang dikirim langsung dari alamat email manager produksi.

__ADS_1


Sidak dadakan yang dilakukan oleh Fatan berhasil membuat semua orang yang ada di ruangan produksi memasang raut wajah tegang.


Setelah di cek ulang, ternyata memang terjadi perlonjakan penjualan di pasar terhadap barang yang mereka hasilkan. Usut punya usut, Rusli mampu dengan cepat menjaring awalnya bisa seperti itu.


Ternyata rupanya hanya berawal dari salah satu akun media sosial yang menggunakan produk mereka saat melakukan siaran langsung. Terlebih akun tersebut juga memiliki banyak pengikut.


Seketika sebuah ide pun muncul di benak Rusli. Niatnya ide itu akan disalurkan saat meeting mingguan pertama untuk bahan promosi.


Berbeda dengan Fatan yang masih terus berbincang serius dengan manager produksi. Tidak disangka Fatan yang pembawaannya serampangan, bisa seserius itu saat bekerja.


Tanpa terasa sudah satu jam lamanya Fatan dan Rusli ada di sana.


"Nanti pokoknya setiap akan mengirim barang kepada mereka, harus ada tanda tangan saya. Biar saya tahu kalau proses pengiriman berjalan sebagaimana mestinya," ujar Fatan.


"Baik, Pak. Saya dan team akan perbaiki lagi."


...----------------...


Malam hari di kediaman keluarga besar Wicak. Seperti biasa makan malam keluarga berlangsung tenang. Kedua anak Elisa pun sudah tidak lagi mencari perhatian. Keduanya duduk manis ditempat mereka masing-masing.


Usai makan malam, Nila tidak langsung pergi ke kamar. Ia bersama keempat keponakannya bermain di ruang keluarga sambil menonton televisi.


Disaat sedang asiknya bermain, Elisa datang untuk memanggil kedua anaknya karena harus belajar.


"Five minutes again, Mommy!" seru Aycel sambil berlari, berkejar-kejaran dengan saudaranya yang lain.


"No! Memangnya Mommy gak tahu lima menitnya kalian itu bisa jadi satu jam!" tegas Elisa. Matanya melirik tajam kepada kedua anaknya.


"Ah, Mommy!" protes Ghina yang masih ingin bermain.


Nila pun akhirnya berdiri. "Gengs! Udah dulu ya mainnya. Besok kita lanjut lagi, Tante juga mau bobo nih," katanya lalu pura-pura menguap. "Ngantuk sekali rasanya!" sambung Nila.


"Yah, oke deh." Raut wajah kecewa terpancar dari keempat orang anak yang sangat manis dan lucu itu. Meski begitu keempatnya tetap nurut. Satu per satu dari mereka pergi ke kamar masing-masing.


"Bye bye! See you tomorrow, Gengs!" seru Nila sambil melambaikan tangan.


Setelah semuanya pergi, Nila pun lekas ke kamarnya. Seban ia juga yakin kalau Fatan sudah berada di dalam kamar, menunggu dirinya.


"Mas ..." panggil Nila saat masuk ke dalam kamar. Ternyata memang Fatan sudah berada di sana. Namun lelaki itu tampak sibuk di depan laptopnya. "Serius banget, lagi ngerjain apa sih?" tanyanya menghampiri Fatan lalu memeluk lelaki itu dari belakang.

__ADS_1


"Aku lagi cek kerjaan, Sayang ..." jawab Fatan. Laki-laki itu menoleh kemudian menci* um kening sang istri.


"Memangnya belum ada yang selesai?" tanya Nila lagi.


"Bukan belum selesai sih, lebih tepatnya lagi cek aja ... takut ada informasi penting yang mendadak. Ini udahan kok .... " Nila berpindah posisi menjadi duduk bersebelahan dengan Fatan. "Ada apa?" tanya Fatan kemudian.


"Aku pengen tidur ... Tapi punggung sama pinggang ya pengen sambil di pijet sampai aku tidur," jawab Nila lirih. Suaranya terdengar manja, tapi bagi Fatan justru malah lucu.


"Uluh, uluh .... Ayok kita ke kasur, biar aku pijet sampai kamu bobo cantik," timpal Fatan.


"Au, Mas!" pekik Nila. Tak disangka lelaki itu tidak membiarkan Nila berjalan sendiri, dia mengangkat tubuh sang istri ala pengantin. Beruntung berat badan Nila belum naik drastis karena kehamilannya masih terbilang muda.


Fatan membaringkan Nila secara perlahan ke atas tempat tidur. Dia memperhatikan dengan lekat wajah cantik istrinya. Rasanya ingin sekali membuat Nila menjadi makanan penutup untuknya, tapi mengingat di kehamilan yang masih muda ini sangat riskan terjadi keguguran, maka keinginan itu harus dipendam semetara.


Setelah Nila berada pada posisi yang nyaman, Fatan pun mulai memijat tubuh bagian belakang Nila dengan penuh perasaan.


"Oh iya, tadi pagi Lativa mampir ke sini," kata Nila.


"Pagi? Bukannya harusnya dia di kantor?" tanya Fatan heran.


"Dia bilang habis meeting di tempat makan dekat sini, terus bawain aku camilan. Terus dia juga cerita soal Rusli yang mau bantuin dia," jawab Nila santai.


"Oh iya, aku juga udah tahu soal itu dari Rusli langsung."


"Kalau sampai suatu saat nanti Rusli melamar Lativa gimana?" tanya Nila. Kesadarannya mulai berkurang karena rasa kantuk ditambah nikmatnya pijatan yang diberikan oleh Fatan.


"Ya gak gimana-gimana. Tergantung dari Lativa sendiri siap apa nggaknya. Aku yakin kok, Rusli pasti tahu saat yang tepat itu kapan. Apalagi dia bukan tipikal lelaki yang tergesa-gesa disetiap mengambil keputusan."


"Oh ... Zzzzzzzz."


Fatan menghentikan pijatannya seraya mengembuskan napas panjang. "Dia malah tidur, baru lagi serius bahas soal adiknya." Lantas Fatan terkekeh pelan. "Good night, Sayang." Sebuah kecupan pun mendarat di kening Nila, lalu ia pun ikut tidur.


.


.


.


.

__ADS_1


Esok harinya, Lativa datang ke kantor seperti biasa. Saling menyapa pada setiap pegawai yang berpapasan dengannya, hingga ketika sampai di meja kerjanya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat sebuah bucket bunga dengan paduan warna yang cantik bertengger di atas meja kerjanya.


"Bunga siapa ini?"


__ADS_2