
Nila menaruh kopernya di dekat pintu lalu berjalan dan menghambur menghampiri Fatan yang masih terbaring pasca operasi. Sementara Rusli yang masih berdiri di dekat pintu langsung menunduk hormat untuk berpamitan pada tuan nya.
"Mas, kenapa bisa kayak gini sih?" tanya perempuan berambut panjang itu tampak sangat khawatir.
"Aku gak apa-apa kok, Sayang ... Kamu tenang aja," jawab Fatan sambil terkekeh kesenangaan melihat Nila khawatit seperti itu.
"Apanya yang gak apa-apa! Gara-gara ditusuk si Edward kamu sampai masuk ruang operasi loh, Mas!" sembur Nila. Lantas Fatan langsung membawa sang istri ke dalam pelukan.
"Maaf ya udah bikin kamu cemas. Aku juga gak tahu kalau bisa sampai terjadi seperti ini," ucap Fatan sambil mengelus lembut punggung sang istri. Nila pun menghela napas panjang.
"Aku cuma takut kehilangan kamu, Mas," lirih Nila tanpa sadar sampai menitikan air matanya. Oh, betapa remuk jantungnya dengan keadaan Fatan seperti ini. Beruntung lelaki itu masih bisa sadar dan bicara padanya. Entah kalau sampai tidak, mungkin Nila akan menangis sambil guling-guling di lantai rumah sakit.
"Maafin aku ya. Lain kali aku akan lebih hati-hati lagi," timpal Fatan. Sesaat kemudian mereka pun saling melepaskan pelukan karena tidak ingin membuat Fatan merasa sakit akibat lukanya. Lelaki itu pun menghapus air mata yang masih tersisa di pipi sang istri. "Jangan nangis lagi ya, aku juga ikut sedih," sambungnya dengan sorot teduh.
Nila mengangguk lalu tersenyum. "Mungkin karena aku terlalu takut jadi sampai menangis."
Fatan tidak berucap apapun. Lelaki itu malah tersenyum sambil mengusap pipi mulus istrinya dengan sangat gemas. Sesaat kemudian, dia teringat akan informasi mengenai keberadaan Lativa saat ini.
"Sayang, aku ingin membicarakan tentang Lativa." Ucapan Fatan membuat Nila seketika menautkan kedua alisnya.
"Bagaimana Mas? Apa udah diketahui keberadaannya sekarang? Dimana dia?" cecar Nila sangat penasaran.
"Dia gak ada di Amerika seperti yang kamu bilang. Tapi .... " Fatan menghentikan ucapannya sejenak guna menarik napas.
"Tapi apa? Kenapa?" Nila semakin dibuat penasaran.
"Tapi sebenarnya dia ada di salah satu pulau pada kepulauan seribu. Kalau kamu mau menjemputnya sekarang, pergilah ... Biar nanti Rusli yang akan menemanimu," ungkap Fatan dengan raut wajah serius tapi masih tampak santai.
Berbeda dengan Nila yang masih diam karena berpikir. "Kenapa dia bisa ada di sana? Kata Ibu dia pergi ke Amerika, ada apa sebenarnya?" gumamnya tapi masih dapat di dengar oleh Fatan.
__ADS_1
"Menurutku, kamu lebih baik segera temui dia. Siapa tahu dia memang sedang butuh bantuanmu, Sayang ... Aku gak apa-apa kok. Lagi pula pelayanan di rumah sakit ini sangat baik, jadi kamu gak usah khawatir ya ... " usul Fatan tapi tidak begitu saja diterima oleh Nila. Perempuan satu itu malah memicingkan mata.
"Kenapa wajahmu kelihatan tenang sekali? Apa kamu gak mau aku temani disini? Atau mungkin ada suster atau dokter yang lebih cantik dari aku?" celoteh Nila. Fatan sampai terbelalak mendengar pertanyaan itu dari mulut sang istri. Selama ini Nila tidak pernah seperti itu, sekalipun cemburu. Bagi Fatan, Nila mendadak sangat aneh.
"Astaga, Sayang ... Kamu habis makan apa tadi? Kenapa bisa kepikiran kayak gitu?" balas Fatan menepuk keningnya sendiri, lalu memegang kening Nila. "Agak panas sih, tapi apa ini penyebabnya?" sambung lelaki itu membuat Nila bertambah kesal.
"Ih apaan sih! Aku justru belum makan apa-apa semenjak berangkat ke sini. Kamu tuh ya!" Nila merajuk. Kedua tangan perempuan itu bersilang dada dengan raut wajah ditekuk, cemberut.
"Iya deh, iya. Maaf ya, Sayang. Aku bercanda." Sebelah tangan Fatan yang tidak terpasang infus pun meraih tangan sabg isri dan menggenggamnya. "Lagi pula. Aku berkata seperti itu karena aku tahu, kamu sayang banget sama adik kamu. Jujur, aku juga ingin ditemani sama kamu disini sampai aku sembuh. Tapi, mendengar informasi tentang Lativa dari Rusli itu membuat aku berpikir kalau kamu harus segera ke sana," jelas Fatan.
Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Fatan dengan tutut kata lemah lembut, akhirnya membuat hati Nila tersentuh. Sorot matanya berubah kembali menjadi seorang Nila yang selalu memberikan kehangatan walaupun baru menatapnya saja.
"Baiklah .... " Nila mengembuskan napas panjang. "Aku akan pergi ke sana. Maafin aku ya Mas, karena udah berpikiran negatif duluan sama kamu," ucapnya merasa malu dengan wajah menunduk.
Lantas Fatan tersenyum lalu tangannya meraih dagu sang istri seakan memaksa supaya Nila menatap dirinya.
"Kamu tenang aja ya, selama kamu pergi menemui adikmu ... Kalian akan aman," ucap Fatan sangat yakin sambil menatap lekat istrinya.
"Kamu siapnya kapan? Besok atau lusa?" tawar Fatan.
"Kenapa gak hari ini aja? Aku siap kok, kebetulan tubuhku juga sedang sehat. Kenapa harus nunggu besok atau lusa?" sahut Nila. Perempuan itu ingin segera urusannya tentang sang adik cepat selesai.
"Apa kamu gak lelah? 'Kan baru aja sampai. Aku gak mau kalau kamu sampai sakit, Sayang. Biarlah hari ini kamu disini terlebih dahulu," ujar Fatan juga mengkhawatirkan kesehatan sang istri.
Nila menghela napas, "Baiklah, aku nurut apa kata kamu," ucapnya dan itu membuat Fatan merasa lega.
Fatan kemudian memanggil Rusli yang ternyata lelaki yang dicarinya itu tidak benar-benar pergi. Tetapi Rusli hanya menunggu di luar kamar, supaya tuan dan nyonya nya bisa leluasa saat berbincang.
Tak lama setelah itu, Rusli masuk ke dalam kamar. Tak lupa dengan sopan santunnya yang patut di acungi jempol. "Permisi, Bos dan Nyonya. Ada apa panggil saya?"
__ADS_1
"Saya ada tugas untukmu," kata Fatan serius.
"Tugas apa Bos?"
"Besok pagi saya minta tolong kamu untuk antarkan istri saya pergi ke tempat dimana adiknya berada. Temani dia dan buat penjagaan ketat untuk mereka. Saya yakin dan percaya kalau kamu bisa diandalkan!" perintah Fatan. Lelaki itu bukan hanya sekadar memerintah, tapi juga menaruh kepercayaan penuh pada tangan kanannya.
"Baik, Bos! Saya bersedia," sahut Rusli sangat yakin.
"Ya udah, besok jangan sampai telat! Sekarang kamu boleh pergi untuk mengurus akomodasi dan lain-lain," titah Fatan dan Rusli langsung menunduk hormat lalu pergi dari hadapan keduanya.
Sesaat setelah Rusli pergi, Nila mengambil sebuah kursi lalu ditarik supaya bisa berdekatan dengan tempat tidur suaminya. Dilihatnya makanan di atas bankar nakas itu masih rapih dan belum tersentuh sama sekali, berikut juga segelas jus buah yang juga ditutupi oleh plastik wrap.
"Mas belum makan?" tanya Nila sambil mengalihkan pandangannya ke arah sang suami.
Fatan menggeleng pelan, "Belum ... Tadi saat buka mata, aku sama sekali gak kepikiran untuk makan. Tapi pas tahu ada kamu datang, aku mendadak lapar. He he he," jawab Fatan diakhiri senyum lebar hingga menunjukkan barisan giginya yang rapih serta bersih.
"Hmm .... " Nila memutar malas bola matanya. "Ya udah, sekarang Mas makan dulu ya." Lantas iapun membuka plastik wrapping yang menutupi makanan itu, kemudian menyuapi Fatan sedikit demi sedikit hingga habis tak tersisa.
Nila tersenyum bahagia karena Fatan bisa menghabiskan makanan itu serta meminum jus tersebut.
"Udah kenyang, Mas?" tanya Nila setelah merapihkan alat makan di atas bankar nakar.
"Udah, Sayang .... "
Tak lama berselang, dokter bersama seorang perawat pun masuk untuk memeriksa keadaan Fatan saat ini sekaligus memberi obat anti nyeri dan pusing melalui infus. Setelah pemeriksaan selesai, dokter dan perawat itu keluar dari ruangan itu.
Berhubung obat yang diberikan bisa menyebabkan kantuk, Fatan pun akhirnya kembali beristirahat. Sementara Nila, membaringkan tubuhnya di sebuah sofa untuk beristirahat juga.
...****************...
__ADS_1