Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 135


__ADS_3

Mobil taksi yang mereka tumpangi, berhenti di depan lobby hotel tempat Fatan menginap. Sebelum turun, Fatan memberikan sejumlah uang sesuai tarif perjalanan dari rumah sakit tadi yang tertera di layar dashboard mobil. Setelah membayar, Fatan melirik ke arah Nila. Ternyata istrinya baru saja melepas sabuk pengaman dan hendak membuka pintu. Dengan segera, Fatan turun lebih dulu karena berniat membantu Nila turun dari mobil.


Namun rupanya sebelum niatnya terpenuhi, Nila sudah lebih dulu turun lalu menutup pintunya kembali. Perempuan itu hanya melirik sekilas ke arah suaminya, lalu memilih jalan lebih dulu, meninggalkan sang suami yang masih berdiri di tempatnya.


Fatan menghela napas, lalu berkata, "Perempuan kalau udah ngambek, pasti gak inget apa-apa. Aku lagi sakit loh, Sayang ... Kenapa ninggalin aku sendirian?" Fatan berseru sambil merengek dan menunjukkan raut menyedihkan. Ia segera menyusul sang istri masuk ke dalam lobby hotel dengan mempercepat langkahnya.


Tiba di dalam, Fatan sempat kehilangan keberadaan Nila dari pandangannya. Ia mengedarkan pandangannya. Tidak lama berselang, Fatan menemukan keberadaan Nila berada di depan lobby. Sontak dirinya pun sadar kalau Nila tidak tahu letak kamarnya.


Fatan menekan salah satu tombol yang terletak di samping pintu lift. Lantas ia menoleh ke arah Nila, tapi sayangnya pandangan perempuan itu masih tetap saja menatap lurus ke depan.


"Kamu kenapa gak nungguin aku?" tanyanya, lalu hanya dijawab helaan napas oleh Nila.


Belum sempat Nila menjawab, pintu lift itu terbuka. Nila berjalan lebih dulu lagi, Fatan pun mengikuti.


"Sayang, kamu masih marah?" Lagi-lagi Fatan bertanya karena tidak kuat didiamkan oleh Nila sejak tadi. Namun sikap Nila masih sama, acuh dan tidak peduli.


Berhubung kamar tempat Fatan menginap di hotel itu berada di lantai yang tidak terlalu tinggi, jadi keduanya pun tidak butuh waktu lama untuk segera sampai. Setelah pintu terbuka, Fatan langsung bergegas keluar dari lift lebih dulu guna memberitahu letak kamarnya. Setelah itu Nila pun mengikuti.


"Silahkan masuk," pinta Fatan bersuara lembut. Nila mengangguk pelan lalu masuk ke dalam.


Ketika pintu sudah ditutup kembali, Fatan bergegas menyusul Nila lalu meraih tangannya. Sontak Nila pun menghentikan langkahnya. Dengan sedikit tarikan, tubuh Nila berbalik dan kini menjadi saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Fatan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nila. Hembusan napas yang dikeluarkan keduanya pun bisa saling merasakannya.


"Lepasin aku, Mas!" pinta Nila penuh penekanan. Sebab suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Aku gak akan lepasin kamu, selama kamu masih mendiamkan aku," jawab Fatan lalu semakin mengeratkan pelukannya. Namun sesaat kemudian, ia longgarkan kembali mengingat perut Nila terasa mengganjal.


"Aku gak akan marah kalau kamu gak buat aku marah duluan!" timpal Nila. Sorot matanya menjurus tajam bersamaan dengan rahang yang mengerat.


"Oke, baiklah ... " Fatan perlahan melepaskan pelukannya. "Aku minta maaf. Aku salah karena dari awal Ocha datang menghampiriku, aku gak bilang kalau udah menikah."


"Ck!" Nila berdecak kesal. "Oh begitu, terus kalau aku gak nekad datang ke sini, sampai kapanpun dia akan nyangka kalau kamu itu bujangan, iya Mas?" Nada bicaranya sudah mulai menginggi.


"Bukan, bukan begitu maksudnya, Sayang ... " lerai Fatan, tapi Nila malah memalingkan wajahnya seraya bersilang dada.

__ADS_1


"Terus apa?" Suara Nila mulai bergetar. Ia menoleh lagi pada sang suami. "Apa yang membuatmu menyembunyikannya? Apa karena belum ada acara resepsi atau karena aku dari kalangan biasa, sehingga kamu enggan buat bilang kalau kamu ini udah menikah, Mas?" cecarnya dengan manik mata yang sudah berkaca-kaca.


Fatan mengusap kasar wajahnya. Lelaki itu sangat berat untuk menceritakan, ada hubungan apa antara dia dan perempuan tadi. Padahal hatinya terus mendorongnya supaya bisa jujur pada istrinya.


Cukup lama keduanya saling diam, Nila akhirnya bicara lagi. "Oke, kalau kamu gak mau cerita ... Biar aku yang cari tahu sendiri. Kalau sampai nanti aku tahu dari orang lain, aku akan memberimu pelajaran!" tekannya dengan jari telunjuk yang mengarah langsung pada kedua mata Fatan.


Nila langsung pergi ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya yang terasa pegal. Ia bahkan menghiraukan Fatan yang masih mematung di tempat.


.


.


.


.


Siang harinya, Nila keluar dari kamar hotel sendirian. Sementara Fatan masih tertidur usai minum obat. Tujuannya kali ini akan pergi ke pusat perbelanjaan yang terkenal di Bali untuk membeli beberapa potong pakaian, serta koper kecil untuk memuat pakaiannya sendiri. Sebab koper yang dipakai oleh suaminya sudah terisi penuh.


Nila menaiki taksi sambil menggunakan peta online untuk pergi ke tempat tersebut. Walaupun amarahnya tadi sempat meledak, setelah membaringkan tubuh dan istirahat. Sekarang sudah cukup baik. Anggap saja perjalanannya kali ini sebagai hiburan ditengah rumitnya hidup.


Sedangkan di kamar hotel tempat Fatan menginap, lelaki itu tidak sengaja meraba kesamping. Namun rasanya datar, Fatan langsung membuka mata lalu terperanjat duduk di atas tempat tidur.


"Sayang! Kamu dimana?"


Fatan turun dari tempat tidur dan mencari keberadaan Nila kesekeliling kamar itu. Namun hasilnya nihil. Nila sama sekali tidak ditemukan.


"Astaga, kemana perginya dia?" gumamnya merasa cemas sekaligus khawatir. Pasalnya Nila sedang berbadan dua. Perasaan Fatan pun semakin gelisah.


Lelaki itu menghubungi resepsionis hotel. Siapa tahu ada yang melihat kemana perginya Nila.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"


"Siang. Apa Anda melihat seorang perempuan yang sedang hamil besar melewati lobby?"

__ADS_1


"Perempuan hamil?" Resepsionis itu melirik ke arah teman yang ada disampingnya. Lantas temannya itu mengangguk lalu memberitahukan melalui gerakan tangannya yaitu menuju ke luar lobby.


"Maaf Tuan, saya tidak melihat perempuan itu. Tetapi teman saya yang melihat. Dia bilang kalau perempuan yang Anda maksud berjalan keluar hotel."


Fatan menepuk keningnya. Lelaki itu benar-benar tidak habis pikir. Karena masalah tadi, sampai membuat Nila seperti ini.


"Baik, terima kasih."


Sambungan telepon langsung diputus oleh Fatan. Dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, setelah itu barulah pergi keluar kamar untuk menyusul istrinya.


Fatan menggunakan jaringan navigasi untuk melacak keberadaan Nila. Kebetulan memang perempuan satu itu sedang mengaktifkan navigasi tersebut. Alhasil Fatan pun bisa dengan cepat mengetahui keberadaan Nila.


.


.


.


.


Disaat yang bersamaan, baik mobil taksi yang ditumpangi oleh Nila maupun Fatan berhenti di tempat yang sama. Dengan santainya Nila turun dari mobil setelah membayar tarif, begitupun dengan Fatan.


Nila mengedarkan pandangan untuk mencari toko pakaian yang akan disambanginya. Namun ternyata pandangannya terhenti ketika melihat Fatan telah berdiri tidak jauh darinya. Kedua mata serta mulutnya membulat membentuk huruf O bersamaan.


"Kenapa? Kanget banget kayaknya."


Nila bersusah payah menelan ludahnya. Seketika ia baru ingat kalau dirinya bisa dilacak melalui navigasi yang sedang aktif pada ponselnya.


"Gak kok, biasa aja," balas Nila acuh.


Fatan mendekat ke arahnya. "Terus kenapa kamu gak bilang kalau mau kesini? Kamu gak ingat kalau ada anakku yang masih kamu bawa-bawa di dalam perut kamu?" sindirnya lalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


"Terserah akulah! Kamu aja gak peduli perasaan aku dan anakku. Ngapain juga harus kasih tahu kamu kemana aku pergi." Nila membalas dengan sindiran yang lebih keras.

__ADS_1


Seketika Fatan menarik napas dalam-dalam dan terdiam beberapa saat.


__ADS_2