Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 44


__ADS_3

Sejujurnya Nila sangat ingin marah pada adiknya. Namun mau bagaimana lagi? Marah pun rasanya percuma. Jika itu tetap dilakukan, bisa saja mengenai mental Lativa juga yang sebenarnya sedang butuh dukungan, bukan hujatan.


"Sini peluk Kakak .... " Nila merentangkan tangannya. Melihat apa yang tengah dilakukan sang kakak, Lativa tertegun dengan mata berkaca-kaca. Dikiranya Nila juga akan memojokkannya. "Kenapa diam? Sini ...." Lativa langsung memeluk sang kakak. Ia menangis kembali sampai bahunya bergetar hebat.


"Kakak tahu, sebenarnya kamu ini adalah anak yang baik dan gak macam-macam. Kamu harus lapang dada, gak boleh stres ... karena ini semua bagian dari garis takdir yang udah Tuhan tentukan buat hidup kamu. Semua hanya butuh waktu, terlebih ibu," kata Nila sambil mengelus punggung sang adik.


"Terus sekolahku gimana Kak?" tanya Lativa disela tangisnya.


"Kamu tenang aja." Nila melepaskan pelukannya . "Setelah anak ini lahir ... Kamu bisa ikut kejar paket. Sekarang, lebih baik kita temui orang tua Antony. Biar dia mau tanggung jawab," sambungnya lalu meraih kedua tangan Lativa.


"Kalau mereka gak terima aku gimana Kak? Aku juga benci banget sama lelaki itu!" sungut Lativa. Sorot mata tampak sekali ketakutan.


"Kamu gak sendiri, Tiva ... Ada Kakak!" tegas Nila meraup wajah Lativa seolah memaksa supaya menatap matanya.


Sontak Lativa pun tidak bisa berkata-kata. Ia kembali memeluk Nila sambil menyerukan tangisannya.


Usai merasa lega karena emosinya telah terluapkan pada sang kakak, Lativa kini sudah tidak menangis lagi.


"Sekarang kita ke dokter kandungan ya. Biar janin yang ada di perut kamu bisa diketahui kondisinya seperti apa," bujuk Nila, suaranya terdengar lembut sekali. Perempuan itu memang pandai menenangkan orang lain, tapi sulit untuk dirinya sendiri.


Lativa menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Semakin lama perutmu akan semakin besar. Kita bisa mengantisipasinya sejak dini, Tiva ... " bujuk Nila sekali lagi. Lantas Lativa pun mende*sah pelan.


"Ya udah deh, aku nurut aja apa kata Kakak." Keduanya pun akhirnya pergi ke dokter kandungan yang ada di rumah sakit itu.


...----------------...


Usai memeriksakan kondisi kandungan Lativa, disatu sisi Nila merasa lega karena dinyatakan sehat untuk keduanya. Namun disisi lain, ia mulai berpikir tentang cara berhadapan dengan keluarga ayah biologis dari janin yang ada di dalam kandungan Lativa tersebut.


"Tiva, kamu tunggu sini ya. Kakak mau urus administrasinya supaya kamu bisa dapat vitamin," pesan Nila dan langsung dijawab dengan anggukkan kepala oleh Lativa. Nila pun kemudian pergi ke bagian administrasi khusus farmasi.


Sejauh mata memandang, tidak jauh dari tempat Nila berdiri ada seorang perempuan yang tampak sinis ketika melihat keberadaannya di sana. Sesekali ia berdecih seolah tidak sudi melihat Nila lagi.

__ADS_1


"Ngapain sih perempuan itu selalu aja nongol di depan mataku? Aku semakin muak!" gerutunya lalu memalingkan wajah.


Sementara itu, Nila yang sudah selesai membayar biaya rawat jalan adiknya, segera menghampiri Lativa. Tak sengaja matanya menangkap perempuan tadi yang lebih dulu melihat keberadaannya.


"Bu Nimas. Dunia sempit sekali! Berasa Jakarta seluas ini, selalu ketemunya sama orang macam dia lagi, huh!" cibir Nila dalam hati. Ia melirik sekilas lalu memunggungi perempuan separuh abad itu.


"Udah selesai Kak?" tanya Lativa saat melihat kakaknya sudah kembali dan suduk disebelahnya.


Nila mengangguk. "Udah. Tinggal nunggu obatnya selesai diracik," jawabnya seraya menoleh lalu tersenyum simpul.


"Kak .... "


"Hm, apa?"


"Kakak yakin mau ke rumah Antony?" tanya Lativa ragu-ragu.


"Iya, kenapa nggak? Harus ke rumahnya. Kita pun udah punya bukti kalau kamu memang benar-benar mengandung. Apalagi yang akan kamu takuti?" jawab Nila sedikit monohok.


"Ya maka dari itu, kita harus menemuinya!"


"Nyonya. Lativa Anandita." Seorang apoteker memanggil namanya. Nila kemudian beranjak dari tempat duduk lalu menghampiri apoteker tersebut.


Tak lama kemudian melihat Nila berjalan ke arahnya, Lativa pun berdiri.


"Ayok, Tiv!" ajak Nila dan Lativa mengekor dari belakang.


Keduanya memilih pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mengambil mobil. Barulah setelah itu pergi ke rumah Antony yang alamatnya didapat dari wali kelasnya Lativa.


...----------------...


Nila menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah gerbang besi berukuran besar berwarna emas.


"Tiv, lihat lagi petanya ... Bener gak ini rumahnya si Antony?" tanya Nila seraya mencoba melihat ke dalam rumah. Namun apalah daya, motif pada gerbang itu sangat detail. Sehingga ia begitu sulit untuk melihat ke dalam.

__ADS_1


"Benar kok, Kak," jawab Lativa yang menyamai kembali alamat di peta online dengan papan bertuliskan alamat rumah di salah satu dinding pembatas itu.


"Coba Kakak tanya satpam rumahnya dulu ya." Nila pun turun dari kursi kemudi. Ia berjalan menghampiri pos satpam yang berukuran hampir menyerupai kamar mandinya di rumah.


"Permisi ... " panggil Nila seraya melongok ke dalam kaca warna hitam yang ada di pos itu. Lantas seorang laki-laki keluar dari dalamnya.


Tubuh laki-laki itu tinggi, besar serta berkulit hitam. Jika dilihat wajahnya pun lumayan menyeramkan, ditambah Nila melihat banyak sekali CCTV di rumah itu.


"Caro siapa?" tanya laki-laki itu dengan suara baritone yang tegas.


"Benar ini kediaman keluarga Baskoro?" tanya Nila dengan sopan.


"Benar. Anda ada perlu apa?" Laki-laki itu bertanya balik dengan sorot sinis serta curiga.


"Bisa ketemu dengan mereka? Soalnya ada sesuatu yang penting," tegas Nila mulai menunjukkan taringnya. Sorot matanya tegas serta rahang yang tiba-tiba mengeras.


"Anda siapa? Orang penting di negara ini? Apa sudah ada janji sebelumnya dengan beliau?" cecar laki-laki itu. Tatapannya bahkan sangat mengintimidasi.


"Kalau pun diperbolehkan masuk ke dalam, kami hanya ingin berbicara secara kekeluargaan dengan Tuan dan Nyonya Baskoro serta Antony," kata Nila, masih bersikap sopan.


Laki-laki itu tidak langsung menjawabnya. Dia malah berbalik badan lalu masuk kembali ke dalam pos tanpa ada sepatah katapun. Namun rupanya tidak selang lama setelah itu, dia keluar kembali dengan membawa sebuah map berwarna kuning.


"Ini isi dulu daftar tamunya. Saya akan meminta izin pada yang bersangkutan," ucapnya seraya memberikan amplop itu pada Nila.


Tentu perempuan itu tidak langsung mengisi dan membubuhi tanda tangan. Melainkan membacanya terlebih dahulu, setelah tidak ada informasi apapun Nila mulai menulis identitasnya.


"Ini Pak, udah." Kemudian map pun dikembalikan.


"Ya sudah, tunggu sebentar di sini ya!" ujarnya dan Nila mengangguk setuju.


Laki-laki itu masuk ke dalam pos. Beberapa menit berlalu, akhirnya dia keluar lagi. Nila yang sejak tadi berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada, langsung melepaskannya.


"Bagaimana Pak? Apa kami bisa menemui mereka?"

__ADS_1


__ADS_2