
Setibanya di rumah sakit, Lativa langsung ke ruang rawat ibunya. Sedangkan Nila pergi ke bagian administrasi.
Setelah berkas sudah diurus, Nila pun pergi ke ruang rawat inap ibunya. Namun tiba-tiba kejadian di depan matanya saat ini sama seperti dua hari yang lalu. Ia melihat Bayu keluar dari poli kejiwaan itu. Namun kali ini berbeda, Bayu hanya sendiri.
Rasa penasaran Nila pun tergugah untuk mencari tahu. Akan tetapi deringan ponsel membuatnya terkejut dan langsung masuk ke dalam lift sebelum Bayu melihat keberadaannya.
Nila langsung menjawab tanpa melihat dulu siapa yang meneleponnya.
"Halo?" sapanya seperti biasa.
"Kamu di rumah sakit ini juga?"
Seketika Nila tercekat. "Suara itu ..." gumamnya dalam hati. Ia mengenali suara itu. Padahal sudah sejak lama apapun yang berhubungan dengan pemilik suara itu sudah terputus.
"Ap-apa?" Nila terbata. "Rupanya dia udah lihat aku lebih dulu," ucapnya kemudian dalam hati. Saat mendengar suara langkah kaki berhenti tepat di belakangnya, Nila semakin mematung. Sekujur tubuhnya terasa kaku lalu napasnya pun tertahan beberapa saat. Lantas ia berbalik badan dengan posisi ponsel yang masih ditempelkan pada telinganya.
"Hai!" sapa Nila sambil mengempaskan napas lalu tersenyum kikuk.
Bayu memutuskan panggilannya dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Begitupun dengan Nila, tapi dia tetap memegang ponsel di tangannya.
"Sedang apa kamu disini? Ada yang sakit?" tanya laki-laki itu.
"Ibuku sakit, tapi sekarang udah boleh pulang," jawab Nila seraya memperhatikan Bayu dengan seksama.
"Gak ada yang aneh, kayaknya bukan Bayu deh yang punya sakit jiwa. Dari dulu kan ibunya yang kurang se-ons!" pikirnya, bermonolog dalam hati.
"Kamu nyetir mobil sendiri, Nila?" Bayu bertanya lagi. Dilihat dari sikap laki-laki itu memang ada perubahan. Bayu jauh lebih tenang dan santai, tidak seperti terakhir mereka bertemu.
"Iya, kamu?"
"Aku diantar sopir."
__ADS_1
Nila menautkan kedua alisnya . "Sejak kapan?"
"Sejak aku menikah, dulu. Sekarang udah pisah." Bayu menarik napas seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Oh ... " Nila manggut-manggut. "Um, Bayu!"
"Apa?" Lelaki itu menatap lekat sepasang mata yang dulu sempat ia banggakan.
"Kalau boleh tahu, siapa yang sakit?" Sebenarnya Nila ingin menambahi kata jiwa. Namun takut Bayu tersinggung. Jadi hanya memberi kode saja, Nila harap sih ... Bayu bisa mengerti.
Nampaknya Bayu berpikir sejenak dengan apa yang dimaksudkan pada pertanyaan Nila itu. Ia menggaruk ujung pelipisnya yang tidak gatal.
"Oh, maksud kamu tadi lihat aku keluar dari poli kejiwaan ya?" Bayu memastikan kalau apa yang dimasudkan Nila tidak salah paham.
Perempuan itu mengangguk cepat. "Iya."
"Mama ku. Dia menderita Obsessive Compulsive Disorder atau sering disebut OCD. Makanya aku bawa ke poli kejiwaan," ungkap Bayu membuat Nila tercengang.
"Sejak ..." Bayu menghentikan ucapannya seraya menoleh ke kanan dan kiri, seolah sedang memastikan kalau keadaan disekitar mereka itu aman. "Nila ...." Ia menatap Nila.
"Kenapa?" tanya perempuan itu yang ikut menoleh ke sekeliling mereka.
"Kita ngobrol di taman yang ada di sana yuk! Lagipula kita udah lama gak ngobrol bareng," ajak Bayu menunjuk ke arah taman yang tidak jauh dari tempat mereka.
Nila mengikuti arah pandang Bayu, lalu menatap lelaki itu lagi. "Maaf Bayu, sekarang aku gak bisa lama-lama ... Kalau mau, sepulang aku antarkan ibu sama Lativa ke rumah, kita bisa ketemu di luar," ujar Nila memberi pilihan lain.
"Oh seperti itu ... " balas Bayu tampak berpikir. Sementara Nila menunggu jawabannya. "Oke deh, nanti kabari aku lagi ya. Aku tunggu!" Laki-laki itu tersenyum. Refleks Nila pun ikut tersenyum. "Kalau gitu, aku ke kantor dulu. Bye Nila," pungkasnya seraya mengangkat sebelah tangan, berpamitan pada Nila.
"Iya. Bye ... Bayu." Nila tetap berdiri di tempatnya. Tetap memberikan senyum walau tak sesumringah dulu, hingga lelaki itu berbalik badan. Ia menatapnya sampai menghilang dari pandangan. Setelah itu, barulah Nila masuk ke dalam lift.
Ketika tiba di depan ruang rawat inap ibunya, disaat Nila hendak memegang gagang pintu ternyata sudah lebih dulu dibuka oleh dokter dari dalam.
__ADS_1
"Pagi, Dok," sapa Nila dan dokter itu tersenyum. Dia, dokter yang masih sama. Tatapannya juga. Seperti memiliki ketertarikan pada perempuan cantik dan mandiri seperti Nila.
"Pagi ... Ibu Anda baru saja selesai saya periksa dan sudah bisa pulang sekarang. Terus nanti ada obat yang harus ditebus di bagian farmasi ya," kata dokter itu memberitahu.
"Oh iya, baik Dok. Terima kasih banyak karena udah merawat ibu saya selama beberapa hari ini," balas Nila dengan sopan.
"Sama-sama," ucap dokter itu sambil memberikan senyum termanisnya. Sayangnya meskipun ia tertarik pada Nila, tapi ia tidak bisa mendekatinya. Sebab ada rasa ketakutan tersendiri seperti yang sudah-sudah. Hubungannya dengan salah satu anggota keluarga pasien tidak pernah berlangsung lama.
Dokter itu kemudian pamit lalu pergi dari hadapan Nila. Setelah dokter pergi, Nila pun masuk ke dalam.
"Kakak darimana aja? Kok lama?" protes Lativa yang terlihat baru saja selesai mengemas pakaian ibunya ke dalam tas berukuran besar.
"Oh tadi habis ketemu teman di bawah. Ternyata keluarga teman Kakak itu ada yang berobat juga di rumah sakit ini," jawab Nila seraya duduk di kursi. Sebab di kamar rawat inap itu tidak ada sofa.
Lativa hanya membentuk mulutnya menyerupai huruf 'O' tanpa bersuara lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ini udah selesai semua?" tanya Nila, terlebih melihat seisi ruangan itu sudah rapi dan bersih.
"Udah kok," jawab Mirna. "Oh iya tadi kamu ketemu dokter di depan? Katanya ada obat ya buat Ibu?" tanyanya kemudian.
"Iya, Bu. Apa Nila ambil obatnya dulu ya?" usul Nila meminta pendapat ibunya.
"Jangan! Nanti kamu capek bolak-balik," cegah Mirna. "Nanti kita sama-sama aja turun ke bawah ya!" sambungnya.
"Ya udah deh kalau gitu. Sini, Tiv tasnya!" Nila beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Tiva dan membawa tas itu. Sedangkan Lativa membantu ibunya berjalan menuju lantai bawah.
Saat sudah di lantai bawah, Lativa dan ibunya menunggu di kursi yang masih kosong. Ternyata suasana di bagian farmasi cukup ramai. Sementara itu, Nila sedang mengurus pengambilan obat.
Beberapa menit kemudian, Nila menghampiri ibu serta adiknya.
"Yuk udah selesai, kita pulang!" ajak Nila sambil menaruh obat itu ke dalam tasnya, lalu membawa tas ibunya kembali.
__ADS_1
Lativa dan ibunya beranjak dari tempat duduk dan mereka pun keluar dari rumah sakit. Namun sebelum itu, Nila pergi ke mobilnya terlebih dahulu untuk menaikkan ibu dan adiknya dari lobby. Mengingat kondisi sang ibu yang baru saja membaik, serta Lativa yang sedang hamil muda. Lantas mereka pun pulang ke rumah.