
Setelah berhasil dibujuk oleh sang ibu, Lativa akhirnya mau untuk pergi ke rumah sakit. Nila membantu mengemas pakaian Lativa yang masih ada di dalam lemarinya ke dalam tas, sedangkan Mirna dan Lalisa memilih menemani Lativa di kamar yang sekarang ditempati oleh Lalisa. Sebab hanya kamar Nila yang tidak ditempati oleh orang lain selain sang empunya.
Selesai mengemas, Nila beserta Lativa, ibunya dan ibu mertuanya itu lekas pergi ke rumah sakit. Oh iya, Rusli sudah berpamitan kepada tuan rumah karena harus memastikan kalau persidangan nanti berjalan dengan lancar.
Tiba di rumah sakit, mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan teras menuju pintu instalasi gawat darurat. Nila turun lebih dulu untuk memanggil perawat guna membawakan kursi roda untuk Lativa.
Tidak lama kemudian, Nila kembali membuka pintu mobil lalu membantu sang adik turun dan naik ke atas kursi roda itu. Setelah berhasil, Lativa langsung dibawa ke dalam. Mirna dan Lalisa pun mengikuti. Sementara Nila pergi kebagian administrasi.
"Bisa ditunjukkan kelengkapan identitas pasien?" tanya petugas administrasi saat sudah giliran Nila, duduk di hadapannya.
"Oh iya, ini ada kartu identitas dan kartu keluarga." Nila kemudian menyodorkannnya pada petugas administrasi itu.
Dengan sigap, petugas pun segera memasukkan data ke monitor. "Pembayarannya melalui cash atau ada jaminan kesehatan?" tanyanya lagi.
Nila dengan cepat menjawab. "Cash!"
"Baik."
Tidak butuh waktu lama, adminiatrasi sudah berhasil. Nila sudah memegang bukti dan lekas menuju tempat Lativa dibaringkan.
"Ibu, Bunda ... Administrasi untuk rawat inap Lativa udah selesai. Kamarnya juga udah dapat ... Paling sebentar lagi akan ada perawat yang akan membawanya ke kamar," papar Nila merasa lega.
Namun ketika Lalisa melihat ke arah jam tangan yang melingkar di lengannya. Ia tersadar kalau sidang lanjutan sebentar lagi akan di mulai.
"Semuanya, kayaknya sekarang aku harus pergi ke pengadilan deh. Setengah jam lagi sidang akan dimulai," kata Lalisa pada ketiga perempuan di depannya.
"Jeng Lalisa, bagaimana kalau kamu berangkat sama Nila aja? Soalnya aku mau temani Lativa di sini," usul Mirna seolah menjadi angin segar ditengah perasaan Lalisa yang mulai panik.
"Ide bagus. Ayok Nila, ikut sama Bunda!" ajak Lalisa. Belum sempat Nila menjawab, Lalisa sudah lebih dulu meraih tangan menantunya.
"Kami pergi dulu ya, doakan sidangnya lancar dan gak ada gangguan lagi," ujar Lalisa lalu melambaikan tangan.
__ADS_1
Namun saat Lalisa hendak menarik tangan Nila, seketika Nila sengaja menahan tubuhnya.
"Sebentar Bunda ... " Nila mengeluarkan berkas administrasi milik Lativa dari dalam tasnya kepada sang ibu. "Bu, ini berkas rumah sakit. Semua biaya udah aku bayar lunas sampai Lativa sembuh. Tolong Ibu pegang dan simpan ya, siapa tahu nanti butuh," jelas Nila.
"Oh iya, berkas ini akan Ibu simpan," sahut Mirna setelah menerimanya.
"Kalau gitu aku pergi dulu ya Bu, Tiva. Semoga lekas sembuh." Nila pun pamit dan pergi bersama Lalisa.
Tidak lama Nila pergi, dua orang perawat langsung sigap memasang infus dan alat medis lainnya pada tubuh Lativa. Setelah selesai, Lativa langsung dibawa ke ruang rawat inap yang telah di pesan oleh Nila sebelumnya. Mirna pun bisa bernapas lega dan rasa sedihnya berkurang setelah melihat anak bungsunya itu sudah kembali bersamanya, meski harus kehilangan calon cucunya.
.
.
.
.
Nila dan Lalisa tiba di depan pintu ruang sidang akan yang berlangsung beberapa menit lagi. Saat keduanya masuk, ternyata sudah banyak yang menempati kursi tamu di sana.
"Mungkin kebanyakan dari mereka akan berbicara sebagai saksi, Bu," balas Nila sambil berbisik juga pada ibu mertuanya.
Akhirnya sidang pun di mulai. Seorang jaksa penuntut umum diberikan waktu untuk mengungkap kejahatan para terdakwa yang sudah duduk bertekuk lutut di lantai.
Selama jaksa itu berbicara, manik mata Lalisa terus menatap tajam ke arah Edward yang sejak tadi hanya menunduk dan enggan mengangkat wajahnya. Entah karena malu atau memang takut?
Karena sangat mendadak dan tidak ada yang membela, para terdakwa itu tidak membawa seoranh pengacara salah seorang pun. Mereka masuk ruang sidang dengan tangan hampa.
Benar saja, para orang yang hadir disana memang sengaja didatangkan sebagai saksi. Tentu usul seperti itu siapa lagi kalau bukan Rusli dan tim yang merencanakannya. Mereka memang sengaja melakukan itu, guna menjebak lawan yang kebanyakan sulit dibaca permainannya.
Satu jam sudah sidang berlangsung, kini giliran hakim yang menutuskan. Kasus pembunuhan berencana itu pun resmi selesai dengan Edward dan Kemal yang dihukum pidana mati, serta para orang suruhan mereka dengan hukuman yang berbeda-beda.
__ADS_1
Setelah hakim mengetuk palu tanda putusan sekaligus persidangan usai, satu per satu orang yang tadinya duduk di kursi tamu meninggalkan ruang sidang. Sedangkan para tersangka sudah diamankan terlebih dahulu oleh anggota kepolisian.
"Akhirnya, Bunda merasa lega. Tapi disisi lain, Bunda sedih kalau ingat anak-anak Elisa. Terlebih sebentar lagi mereka gak punya ayah," ucap Lalisa mendadak sedih saat mengingat cucu-cucunya.
"Tapi Bun, kenapa kak Elisa gak datang ya? Apa dia sengaja?" tanya Nila yang memang sejak tadi tidak melihat keberadaan kakak iparnya itu di sana.
Lalisa mengangkat kedua bahunya bersamaan. "Entah, Nila ... Elisa itu perempuan yang pandai menjaga aib suaminya. Bunda yakin kok dia pasti tahu soal kelakuan Kemal ... Apalagi Adinda, istrinya Edward. Yang Bunda tahu, dia itu sabar sekali menghadapi sikap Edward yang sangat trempramental. Sayang, jodoh mereka gak seperti ekspetasinya," papar Lalisa lalu menghela napas panjang.
"Ya semoga aja kak Elisa dan kak Adinda bisa tegar ya, Bun. Walau kenyataannya sabar dan tegar itu sulit, bukankah Tuhan memang udah menyiapkan segala yang indah di atas setiap ujianya," ucap Nila.
"Aamiin. Ya udah yuk kita keluar ! Kamu kapan kembali ke Palembang?" ajak Lalisa sambil bertanya.
"Mungkin besok pagi Bun. Sekarang sepertinya aku mau istirahat dulu. Gak tahu kenapa tubuhku raanya lelah sekali," jawab Nila sembali mengelus tengkuk leher.
"Iya kamu tuh kayaknya butuh banget istirahat. Ya udah yuk kita pulang, istirahat di rumah. Lagipula Lativa kan ada ibu mu," ajak Lalisa lagi yang merasa tidak tega kalau Nila terlalu lama ada di ruangan itu.
"Iya Bun. Ayok!"
.
.
.
.
Sampai di rumah, Nila langsung pergi ke kamarnya. Ia mengaitkan tas pada hanger yang terdapat di belakang pintu, lalu berjalan menuju tempat tidur guna merebahkan badan.
"Akhirnya bisa tiduran nyaman kayak gini. Sepertinya tidur siang dulu enak. Ya kali aja habis tidur, badanku sehat lagi!" ujar Nila bermonolog.
Namun sebelum ia benar-benar tertidur, ia memastikan terlebih dahulu ponselnya. Takut-takut kalau Fatan tiba-tiba meneleponnya. Lantas setelah dilihat tidak ada, Nila mengirimkan Fatan pesan untuk memberitahukan kalau dirinya akan tidur siang terlebih dahulu.
__ADS_1
...****************...