Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 160


__ADS_3

Nila terkesiap ketika suaminya bertanya. "Gak apa-apa kok, Mas. Tapi gak tahu kenapa kalau memang aku beneran hamil. Rasanya ... agak berbeda dari saat dulu aku hamil Ara."


"Bisa jadi memang gak setiap kehamilan sama, Sayang. Kalau begitu, aku harus ekstra menjaga kamu dan Ara. Tetap semangat istriku, aku akan tetap bersamamu!" seru Fatan. Dia tampak bahagia sekali karena akan memiliki anak lagi.


"Permisi." Dokter yang bertugas di ruang instalasi gawat darurat kembali mendatangi mereka. Lantas Fatan dan Nila menoleh bersamaan. "Tuan, Nyonya ... Ini surat rujukannya. Kebetulan dokter kandungan di rumah sakit ini masih ada jam praktek, jadi Nyonya bisa diperiksakan sekarang," ucap dokter itu seraya memberikan surat yang dimaksud.


"Baik, Dok. Tapi nanti kami akan bertemu dengan dokter siapa ya?" tanya Fatan memastikan seraya mengambil surat itu.


"Dokter Andin. Sebenarnya dokter kandungan di rumah sakit ini ada tiga. Dokter Andin, dokter Melki dan satu lagi dokter Syiha. Tetapi bagian praktek di hari ini hanya ada dokter Andin. Bagaimana? Atau mungkin Tuan dan Nyonya ada refrensi dokter kandungan? Kalau boleh tahu ini kehamilan keberapa ya?" Dokter itu menjelaskan, sekaligus bertanya pada mereka.


"Sekarang kehamilan kedua, Dok. Sebelumnya sih dokter kandungan yang menangani istri saya bersalin di rumah sakit lain. Apa surat rujukannya bisa kalau bukan ke dokter kandungan rumah sakit ini?" tanya Fatan memastikan kembali. Wajahnya tampak serius. Sebab dia tidak ingin sembarangan pergi ke dokter kandungan.


"Oh begitu. Bisa kok, karena saya buatnya untuk umum."


"Tapi dokter Andin nya udah Dokter beritahu belum ya?" tanya Fatan lagi.


"Oh belum kok. Niatnya kalau memang mau, saya akan beritahu beliau. Karena memang untuk dokter kandungan sendiri kan tergantung kecocokan Tuan dan Nyonya," jelas dokter itu.


Fatan menoleh ke arah sang istri yang sudah mulai lemas. Sebab Nila belum diberi obat ataupun pasang infus sama sekali. Perempuan itu hanya berbaring sambil sesekali memejamkan mata.


Fatan terus berpikir, dia juga tidak tega kalau harus pindah rumah sakit dalam keadaan Nila yang kemungkinan sesar sudah tidak mampu berjalan sendiri.


"Ya udah deh, Dok. Kami bertemu dengan dokter Andin aja. Sekalian saya minta dibawakan kursi roda untuk istri saya ya." Fatan akhirnya memberi keputusan.


"Baik, kalau sudah oke, saya akan hubungi dokter Andin supaya Nyonya bisa diperiksakan terlebih dahulu. Apalagi pasien beliau memang sangat ramai setiap prakteknya," kata dokter itu.


 "Baik, Dok. Terima kasih banyak ya," ucap Fatan, lalu dokter itu bergegas pergi guna mengambil kursi roda.


Tidak lama kemudian, dokter itu datang bersama seorang perawat yang mendorong kursi roda kosong. Fatan segera membantu Nila untuk turun dari tempat tidur lalu menaikkannya ke atas kursi roda.


"Lekas sehat ya, Nyonya," ucap dokter itu ramah.

__ADS_1


Nila mengangguk seraya tersenyum. "Terima kasih, Dok."


"Sama-sama. Silahkan Nyonya bisa langsung bertemu dengan dokter Andin sekarang."


"Baik, Dok." Fatan berniat untuk mengambil alih yang mendorong kursi roda sang istri. "Sus, biar saya aja yang dorong. Suster tunjukkan aja ruangannya ya," pintanya kemudian. Perawat itu mengangguk patuh lalu membiarkan Fatan yang melakukannya.


Ketika tiba di area poli spesialis. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh dokter yang ada di ruangan tadi. Pasien dokter Andin sangat ramai.


Mereka disuruh menunggu sebentar, karena ada pasien yang belum lama masuk ke dalam. Maka tidak mungkin juga kalau pasien itu disuruh keluar lagi. Tidak ada 10 menit, pasien itu keluar dan Nila serta Fatan di persilahkan masuk.


"Selamat sore, Ayah dan Bunda. Ini yang pasien dari IGD ya?" Begitulah sapaan seorang perempuan dengan rambut dikuncir menyerupai buntut kuda, wajah tampak paruh baya tapi masih terlihat segar dan cantik. Di jas putihnya tertulis dalam nametag yaitu dokter Andin Syafira, Sp.OG.


"Sore, Dok. Iya benar," jawab Fatan.


"Mari kalau gitu kita lansung periksa," ajak dokter Andin.


Fatan mendorong kursi roda istrinya mendekat ke tempat tidur yang ada di ruangan itu. Lantas membantu sang istri untuk naik ke sana.


Dokter menaruh cairan bertekstur gel secukupnya ke atas perut Nila. Rasanya dingin, mungkin karena ruangan itu terdapat pendingin ruangan. Lantas dokter itu mulai mengoperasikan alat yang disebut USG.


"Maaf, Bunda namanya siapa tadi?" tanya dokter Andin. Dia melirik sekilas lalu menatap ke layar monitor yang ada di hadapannya kembali.


"Nila, Dok," jawab Nila.


"Kalau boleh tahu, ini kehamilan keberapa ya Bun?" Dokter itu sedang mencari letak kantung rahim.


"Kedua, Dok."


"Anak pertama usianya berapa?"


"Baru sembilan bulan."

__ADS_1


"Wah, masih kecil sekali. Tapi full ASi atau dibantu susu formula?"


"Full ASI, dok. Tapi anak saya bukan tipe yang doyan makan. Kalau makan pasti gak pernah habis, beda sama ngemil. Dia senang sekali."


"Wajar sih Bun. Karena dia masih full ASI dari bundanya. Yang penting ganti saja camilannya dengan camilan berat yang bisa buat dia kenyang, ya." Dokter Andin tersenyum, pun sama halnya dengan Nila yang diiringi dengan anggukkan kepala karena merasa paham.


"Iya, Dok."


Tiba-tiba dokter Andin menahan menghentikan pergerakan alat itu tepat di atas perut bagian bawah. Lantas kemudian, dia menekan salah satu tombol yang ada di dekat monitornya.


"Nah ini, Bunda ... Ayah. Ternyata kantung rahimnya ada disini. Dan kalau kita perbesar hanya ada satu kantung. Tapi usianya masih sangat kecil. Kalau diukur, sekitar delapan centimeters. Jadi, janinnya belum terlihat. Namun letaknya sudah bagus sih, ada di dalam rahim. Mungkin nanti akan saya berikan vitamin asam folat supaya kandungannya kuat ya, Bun," jelas dokter Andin sambil menunjukkan yang dia maksud melalui layar besar dan menggunakan kursor sebagai alat petunjuknya.


"Lalu bagaimana kalau posisinya sedang hamil tapi menyusui, Dok?" tanya Fatan. Lelaki itu jauh lebih tertarik.


"Saran saya, lebih baik disapih atau dihentikan. Kenapa?" Dokter itu menatap Fatan dan Nila saling bergantian, sambil menjauhkan alat yang pemeriksa kandungan dari perut Nila. Setelah itu Fatan membantu menutup perut istrinya lagi.


"Karena menyusui saat sedang hamil dikhawatirkan dapat memicu gangguan kesehatan. Contoh, menyusui saat hamil apalagi masih dalam trismester pertama kemungkinan bisa memicu kontraksi, keguguran serta kekurangan nutrisi yang dibutuhkan oleh janin. Tidak usah mendadak, tapi perlahan saja. Dan pastikan susu formula yang akan diberikan padanya itu sesuai rentang usia ya," lanjut dokter Andin.


"Dok, kenapa saya merasa kehamilan kali ini berbeda ya? Rasanya tubuh saya itu lemah sekali. Makan minum aja gak masuk, pasti keluar lagi," keluh Nila, matanya mulai terasa kunang-kunang. Beberapa detik kemudian, Nila tidak sadarkan diri.


Fatan yang menyadari hal itu pun tersentak kaget. "Sayang, Sayang." Lelaki itu menepuk pelan wajah istrinya. Namun Nila sama sekali tidak ada respon. "Dok, istri saya pingsan!" tegasnya sangat khawatir.


Dokter Andin juga ikut terkejut. "Ayah, dimohon mundur sebentar ya. Saya akan memeriksakan kondisi pasien." Dia segera mengambil langkah pertolongan pertama. Dia juga memasangkan infus ditangan Nila.


Dokter Andin menghampiri Fatan, lalu berkata. "Kondisi bunda sudah mulai stabil berkat cairan infus yang sudah masuk ke dalam tubuhnya. Tidak lama lagi bunda akan sadar."


Fatan percaya saja, lelaki itu menghampiri istrinya untuk memastikan kembali. Ternyata benar saja, Nila akhirnya sadar. Fatan bisa sedikit bernapas lega.


"Ayah, sepertinya bunda harus rawat inap sampai kondisinya sudah benar-benar kuat. Saya akan minta perawat untuk membawakan tempat tidur untuk bunda. Dan Ayah bisa segera mengurus administrasi rawat inapnya," ucap dokter Andin.


"Baik, Dok." Fatan mengangguk paham.

__ADS_1


__ADS_2