Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 137


__ADS_3

Fatan mencari Nila di sepanjang jalan pusat perbelanjaan itu, menggunakan mobil sewanya. Berjalan dari titik utama sampai ke toko yang ada di ujung jalan. lalu balik lagi ke titik utama. Tetap saja dia tidak menemukan istrinya.


Dia semakin dirundung gelisah. Meski begitu, dia tidak putus asa, mencoba berpikir keras. Cukup lama berada di sekitar tempat tersebut, dia akhirnya pergi dan beralih menelusuri jalan menuju hotel tempatnya menginap.


Fatan sengaja melajukan mobil sangat pelan. Dia tidak ingin sampai sedetikpun Nila terlewati begitu saja. Akan tetapi hasilnya tetap sama, nihil. Nila tidak ada di sana.


Di tengah pencariannya, ponsel Fatan berdering. Dia segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Nama yang tertera dalam panggilan itu ternyata Rusli. Padahal dalam hatinya berharap kalau panggilan itu dari Nila. Ah, tapi mana mungkin Nila menghubunginya lebih dulu ditengah suasana hato yang sedang tidak baik-baik saja?


"Halo, Rus?"


"Halo, Bos. Saya hanya mau memberitahu, kalau barusan saya kirim file laporan akhir tahun tahap pertama dari bu Elisa."


"Oh gitu, oke. Nanti akan saya cek lagi."


(Tin Tin, Pip Pip. Ngeeeeeng!) Rusli mendengar suara keramaian lalu lintas.


"Maaf, Bos lagi di jalan?"


"Iya," jawab Fatan singkat.


"Oh begitu rupanya. Hati-hati di jalan Bos."


"Terima kasih. Udah dulu ya, Rus."


Fatan langsung memutuskan sambungan telepon. Ketika dirinya baru saja hendak menaruh ponselnya kembali, ponselnya berdering lagi.


"Siapa lagi sih yang telepon?" gerutu Fatan lalu memilih menepikan mobil karena jalan raya disekitarnya cukup ramai. "Bunda?" pekiknya sambil bersusah payah menelan ludah saat melihat nama yang tertera dalam panggilan itu. Dengan tangan gemetar, dia menjawab panggilan telepon dari bundanya.


"Ha-halo, Bun?"


"Fatan! Kamu sama Nila gak? Bunda khawatir banget dari pas berangkat sampai sekarang gak ngabarin Bunda sama sekali. Apa dia udah ketemu kamu atau belum?" Suara perempuan itu terdengar sangat khawatir.

__ADS_1


Sementara Fatan semakin keringat dingin. "Duh, aku harus bilang apa ke bunda? Kalau aku cerita yang sebenarnya, bunda pasti langsung nyusul ke sini buat marahin aku." Dia bermonolog dengan suara yang sangat pelan.


"Halo? Fatan? Masih dengar bunda gak sih? Malah diam lagi ini anak!" omel Lalisa.


"Iya, Bun. Iya ... Aku masih dengar. Sabar, Bun ...." Lelaki itu menghela napas. "Fatan lagi di jalan, Bun. Tadi Nila pengen rujak, ya ini lagi aku dicarikan rujak buah," jawab Fatan terpaksa berbohong.


"Tapi nomornya gak aktif juga loh, apa ponselnya mati?" cecar Lalisa.


"Oh ya? Wah aku baru tahu kalau itu, soalnya pas aku pergi tadi Nila masih tidur. Jadi gak sempat mengecek ponselnya." Sebenarnya ada rasa bersalah dari dalam lubuk hati Fatan. Karena terlalu bingung untuk jawab, mau tidak mau dia harus merangkai skenario sekaligus berharap masalah antara dirinya dan Nila tidak sampai tercium oleh Lalisa hingga masalah tersebut selesai.


"Oh begitu. Tapi kalau nanti kamu udah pulang dan Nila udah bangun, tolong bilang sama dia ya. Ditanyain Bunda, suruh telepon!" tegas Lalisa.


Fatan mengacak rambut yang tampak frustasi. "Iya, Bun. Oke." Akhirnya sambungan telepon itu diputus oleh Lalisa.


Berhubung hanya tersisa acara hiburan selama tiga hari terakhir ini, Fatan meminta izin untuk menyelesaikan lebih awal pada pembina pelatihan itu. Beruntung Fatan bisa dengan mudah mendapat izin.


Fatan segera kembali ke kamar untuk mengemas barang untuk segera pulang ke Jakarta. Sebab firasatnya bilang kalau Nila tidak mungkin masih berada di Bali.


Usai berkemas, Fatan keluar dari kamar untuk check out dari hotel itu. Dia tidak memiliki alasan lagi untuk tetap tinggal di sana, mengikuti acara pelatihan itu sampai akhir.


Dipikirannya sekarang adalah tentang istri, calon anaknya, serta keselamatan rumah tangganya. Hati kecilnya mengakui kalau sikapnya salah. Hal itu dikarenakan tentang bayangan masa lalu ketika melihat keberadaan Ocha yang tiba-tiba.


Fatan pun berpikir, "Apa jangan-jangan Nila baca email dari Ocha beberapa bulan yang lalu? Aku aja sampai gak ingat karena seingatku hanya membaca satu kali."


Setelah selesai check in, Fatan duduk di lobby hotel dengan koper yang sengaja dia letakkan tidak jauh dari tempat duduknya. Dia mengeluarkan ponsel untuk memesan tiket pesawat menuju Jakarta. Tidak hanya itu, dia juga mengecek email dari Ocha kembali.


Kedua matanya seketika melebar, karena saking terkejutnya. "Ternyata Ocha beberapa kali mengirim email dan semua itu udah terbaca. Kalau Rusli rasanya gak mungkin buat buka email saya. Apa mungkin Nila yang melakukannya?" Fatan mengusap kasar wajahnya. "Astaga! Sepertinya Nila udah salah paham duluan sebelum aku cerita. Bodoh lo Fatan, bodoh! Kalau udah begini mau cari istri lo kemana coba!" gerutunya. Dia menyalahkan dirinya sendiri.


Hal yang selama ini dilihatnya tampak baik-baik saja. Namun rupanya mampu membuat pendamping hidupnya memiliki pemikiran-pemikiran sendiri.


Tanpa Fatan tahu, bagi Nila alasan bungkam dengan semua itu hanya ingin menjaga suasana hatinya supaya tidak membuat janinnya stres. Tetapi disisi lain, Fatan yang ternyata tirak peka akan perasaan Nila yang sudah terlanjur kecewa.

__ADS_1


"Pasti Nila pikir, keberadaan Ocha di hotel yang sama itu memang sengaja. Astaga, Tuhan ... Aku harus gimana?" Berkali-kali Fatan mengusap wajahnya yang sudah memerah. Sakit yang tadi sempat dirasa, seketika hilang dan tidak terasa lagi.


"Fatan ...."


Suara perempuan itu membuat Fatan menyingkirkan tangan dari wajahnya. Dia mendongak dan ternyata perempuan yang sudah berdiri di sampingnya itu ternyata Ocha.


"Ocha?" gumamnya pelan.


"Kamu ngapain disini? Kok kelihatannya suntuk banget. Istri kamu mana memangnya?" Perempuan itu duduk di sofa yang berhadapan dengannya.


Fatan menarik napas. "Cuma ngantuk aja kok. Maaf, Cha. Aku harus balik ke Jakarta." Dia berdiri seraya memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana. "Oh iya, aku harap ini pertemuan terakhir kita. Sukses terus buat karirmu. Bye." Fatan meraih gagang koper lalu pergi dari hadapan Ocha.


Sementara Ocha yang masih duduk langsung terperangah setelah Fatan mengatakan demikian. "Apa kamu sebenci itu sama aku, Fatan?" gumamnya pelan lalu air matanya tanpa sadar menetes. "Apa kamu tahu? perasaanku hancur ketika tahu kalau kamu udah punya istri. Pengorbananku untuk bisa ketemu sama kamu sia-sia. Apalagi ... Ah, aku gak nyangka kamu sejahat itu Fatan." Ocha menangis terguguk sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Ditengah perihnya kenyataan yang Ocha terima, seorang lelaki muncul lalu duduk di tempat yang sebelumnya Fatan tempati. Ocha kira, Fatan kembali. Tetapi saat dilihatnya, ternyata teman satu profesi, sekaligus sahabatnya.


"Haikal?" pekik Ocha yang belum sadar wajahnya masih dipenuhi sisa air matanya.


"Kenapa? Kaget banget sih? Lo ngapain nangis disini? Malu kali! Udah gede juga," ujar lelaki itu berlagak marah padahal sebenarnya merasa kasihan dengan Ocha.


"Gue cuma kelilipan," elak Ocha lalu segera menghapus air matanya.


Namun lelaki yang bernama Haikal itu malah tertawa. "Hahahaha .... Lo kira gue baru kenal lo kemarin sore? Gue udah tahu kali siapa lelaki yang barusan lo temuin, Cha. Lagian ya, kan lo udah tahu kalau dia udah nikah. Masih aja dikejar. Please, Cha lo harus fokus dengan tujuan lo berkarir itu buat apa? Gue rasa lo harus lupain dia. Awas aja lo kalau sampai jadi pelakor! Gue gak mau jadi sahabat lo lagi!" ancamnya sangat tegas.


"Yah, jangan gitu dong. Oke deh, gue akan belajar lupain perasaan gue ke dia. Lo mau kan bantu gue?" sahut Ocha. Tangisan tadi sudah membuat hatinya lebih lega, kehadiran Haikal membuat Ocha tergugah untuk bisa bangkit dari masa lalu.


"Pasti dong!" Haikal tersenyum dengan sorot mata berbinar.


"Tanpa lo minta, gue akan berusaha buat lupain masa lalu lo, Cha. Dan bakal gue ganti dengan memori baru yang pastinya sama gue dong!" kata Haikal dalam hatinya.


"Ya udah, mending kita ke ballroom sekarang. Bentar lagi barang-barang bakal kita pasang!" ajak Haikal. Lantas Ocha pun mengangguk bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2