
Acara lamaran Lativa dan Rusli pun akhirnya selesai. Para tamu pun sudah pamit pulang sedari tadi.
Lativa senantiasa menemani Rusli ke hotel guna mengantarkan keluarga besar lelaki itu. Sebab rasanya tidak mungkin kalau hari ini juga harus pulang kembali ke kampung halaman.
Sementara Mirna, memilih ikut pulang bersama Nila ke kediaman Wicak. Pasalnya jika pulang ke rumahnya sendiri terasa sepi. Apalagi tidak ada Lativa.
Tidak terbayang kalau Lativa akan tinggal bersama Rusli setelah menikah nanti. Tetapi bagaimanapun, Mirna tidak merasa keberatan. Sebab kewajiban perempuan setelah menikah yaitu ikut dengan suami. Satu hal yang paling penting, jangan lupakan orang tua sendiri. Biar senang ataupun susah, sesekali menjenguk orang tua. Sebab kunjungan anak ke rumah adalah hal yang paling dinantikan.
Di hotel tempat Lativa dan Rusli berada. Keluarga besar lelaki itu sangat menyambut hangat kehadiran Lativa sebagai anggota keluarga baru mereka. Rasa bahagia turut dirasakan oleh Lativa ketika mendapatkan perlakuan itu.
Sementara yang lain beristirahat termasuk Rusli. Lativa pergi ke restauran hotel bersama calon mertua perempuannya. Namanya, Gina Darwati dan Lativa memanggilanya dengan sebutan ibu.
Keduanya duduk di dekat jendela besar dan saling berhadapan. Sebelumnya mereka sudah memesan menu untuk teman berbincang dan sekarang pesanan itu sudah tersedia di atas meja.
"Lativa Anindita, ibu suka namamu," puji Gina di awal perbincangan mereka. Ini adalah kali pertama keduanya bertemu dan duduk bersama.
"Terima kasih, Bu. Kata ibuku, nama itu pemberian mendiang ayah," jawab Lativa merasa tersipu.
"Oh iya, kalau boleh tahu ayahmu meninggal kenapa?" tanya Gina penasaran.
"Kecelakaan, Bu. Waktu itu ada orang yang sengaja menabrak ayah. Tapi untungnya kak Nila berani mengambil tindakan, dia kenal dengan pengacara handal. Gak lama kejadian, pelakunya pun divonis yang setimpal dengan perbuatannya," jawab Lativa jujur.
"Ibu turut bangga dengan keberanian kakakmu. Dan sejauh Rusli cerita tentang kamu, ternyata apa yang pernah kamu alami hampir sama dengan ibu dulu sewaktu sebelum bertemu dengan bapaknya Rusli." Ingatan Gina seketika terbesit tentang masa lalunya.
"Maksud Ibu?" tanya Lativa belum paham.
"Dulu, Ibu gak pernah mau nikah muda. Ibu pengen kuliah dan jadi sarjana. Tapi mantan Ibu terus meneror bahkan hampir menyulik Ibu. Ya walaupun bedanya, Ibu bisa meloloskan diri dan gak jadi dinodai sama dia. Tapi tetap aja trauma. Sampai Ibu ketemu dengan bapaknya Rusli pun Ibu masih takut. Ya Rusli dan bapaknya itu memiliki kesamaan dalam memperjuangkan seseorang yang dicintainya. Cukup lama Ibu berkecamuk dalam trauma masa lalu, akhirnya Ibu terima beliau."
Lativa merasa empati terhadap apa yang diceritakan oleh Gina. Masa lalu keduanya sekilas sama.
__ADS_1
"Benar, mas Rusli memang yang aku lihat sekilas acuh. Seakan gak mau tahu. Tapi diam-diam dia itu pengamat yang handal." Lativa terkekeh. "Buktinya dia bisa menghilangkan trauma yang aku alami."
Gina meraih tangan Lativa yang diletakkan di atas meja. "Lativa, Ibu harap setelah kalian menikah nanti ... Teruslah sama-sama saling belajar. Baik kamu ataupun Rusli memang punya masa lalu yang berbeda, tapi ingat kalian punya masa depan yang sama. Kelak, jika kalian ditimpa masalah besar, selama Rusli masih mencintaimu seutuhnya. Pun dengan dirimu juga, bertahanlah ya, Nak."
Lativa mengangguk sambil tersenyum tulus. "Iya, Bu. Apa yang Ibu sampaikan padaku, akan aku ingat selalu. Nasehat Ibu bisa aku jadikan perbaikan untuk diriku dan juga mas Rusli kedepannya ... Aku mau bilang terima kasih karena udah terima aku di keluarga besar mas Rusli. Aku bersyukur punya ibu mertua yang sangat baik."
"Sama-sama, Nak. Rusli itu anak tunggal. Dari kecil, hidupnya sederhana. Satu hal lagi yang harus kamu tahu, Rusli itu anaknya manja. Jadi, kalau nanti dia manja sama kamu, maklumi ya. Ya, walaupun manja, dia termasuk lelaki yang mandiri juga kok." Gina menambahkan.
"Bu, apa mas Rusli sebelumnya sering menemui Ibu dan bapak?" tanya Lativa.
"Sangat jarang sekali. Ya, kami paham dengan kesibukan dia. Dulu kan pekerjaannya gak seperti sekarang. Kalau dia lagi ditugaskan dekat rumah, dia selalu menyempatkan diri pulang menemui kami. Tapi lebih sering kami cuma berkomunikasi lewat telepon." Pembawaan Gina yang begitu tenang dan sejuk, membuat pikiran Lativa pun ikut merasakan yang sama. Perbincangan itu berlangsung cukup lama. Canda tawa pun turut mengalir disela obrolan mereka.
...----------------...
Di kediaman Wicak, Nila baru saja selesai menidurkan Ara di tempat tidurnya. Dengan sangat hati-hati ia berjalan menjauh dari putri kecilnya. Tak lupa juga kamera yang menghadap ke tempat tidur Ara pun di pasang dan disambungkan ke ponselnya. Hal itu berjaga-jaga jikalau Ara bangun dan menangis, ia bisa mengetahuinya melalui peringatan di ponsel. Jadi, Nila kemana-mana harus membawa ponsel kalau meninggalkan Ara sendirian di kamar.
"Mas Fatan kemana ya? pelayan rumah juga tumben banget sepi. Aku telepon aja deh." Nila bermonolog lalu membuka layar ponsel. Kedua ibu jarinya dengan lihai mengetik nama sang suami yang tertera di kontak. Setelah itu barulah ia memanggilnya.
Tidak lama terhubung, Fatan pun menjawabnya.
"Iya, Sayang ... Ada apa?"
"Mas dimana? Kok ngilang sih daritadi aku ke kamar," omel Nila.
"Uluh ... Uluh ... Kangen ya sama aku?" Alih-alih menjawab, Fatan malah meledek.
"Dih kamu ya, ditanyain malah jadi kepedean," ujar Nila berlagak ketus.
"Aku di halaman belakang, Sayang. Lagi lihat kebun anggur hijau. Ternyata buahnya udah banyak. Sini dong, kita makan bareng."
__ADS_1
"Oh gitu, oke aku ke sana sekarang."
Lantas Nila menjauhkan layar ponsel dari telinganya dan mengakhiri telepon itu.
Tiba di halaman belakang rumah, Nila pergi ke area perkebunan anggur. Meski tidak luas, tapi rumah kaca itu mampu menampung 3 macam jenis anggur. Dari yang warna merah, hijau, sampai warna hitam dan semuanya tanpa memiliki biji pada daging buahnya.
Tidak sulit bagi Nila menemukan suaminya di dalam sana. "Mas." Ia memeluk Fatan dari belakang. Sontak lelaki itu terkejut dengan perlakuan darinya.
"Eh, Sayang." Fatan berbalik badan sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nila. Lantas mengecup bibir perempuan itu singkat.
"Mas, anggur disini kalau semuanya panen mau diapakan?" tanya Nila sembari melihat sekeliling. Bahkan di atas kepalanya terdapat sebonggol buah anggur siap petik.
Fatan tidak langsung menjawabnya. Lelaki itu memetik sebuah anggur yang ada di kepala Nila lalu menyuapinya. "Gimana enak bukan?"
Nila mengangguk seraya mengunyah dan merasakan sensasi segar dari buah anggur itu ditengah panasnya di siang ini. "Manis, asem sedikit, segar. Enak banget! Um ... Yummy!" Ia kegirangan, padahal baru mencoba sebuah, belum sebonggol.
"Aku juga belum tahu bakal diapakan. Soalnya ini adalah kali pertamanya ada kebun anggur dan berhasil berbuah," jawab Fatan lalu ikut mencobanya. Dia pun menikmati rasa yang sama seperti yang dirasakan oleh Nila saat memakan anggur tersebut.
"Gimana kalau kita bagi-bagi ke pegawai perusahaan, Mas? Aku rasa ini cukup. Banyak banget loh kalau dipanen semua," usul Nila.
"Iya juga ya. Boleh deh nanti dihitung lagi ada berapa banyak, ya kalau cukup memang lebih baik dibagi-bagi," sahut Fatan menyetujui usul dari istrinya.
"Sayang, kok kamu gak ikut tidur sama Ara? Aku kira kamu ke kamar mau ikut tidut siang juga." Fatan menggunting sebonggol lagi lalu memberikannya pada Nila.
"Gak tahu, aku gak bisa tidur. Pikiranku was-was, kamu tiba-tiba hilang aja. Aku kira juga kamu bakal ikut ke kamar." Nila protes pada suaminya.
"Hehe, tadinya aku dapat telepon dari klien sambil jalan ke halaman belakang, eh gak sengaja lihat kebun anggur jadi betah disini."
Namun sebelum panen di mulai, keduanya memakan anggur bersama secara langsung dari pohonnya sambil berbincang seru. Mereka begitu menikmati waktu berdua, disaat Ara sedang tidur pulas.
__ADS_1