
Pandangan Nila seketika meremang, cairan bening yang ada di ekor matanya pun tiba-tiba jatuh, menetes membasahi pipi mulusnya. Kedua kaki yang tadinya kuat menopang tubuh, seketika merasa lemas hingga bertekuk lutut ke lantai sesaat setelah panggilan itu berakhir.
"Mas ... Kamu harus kuat," lirih Nila dalam hatinya. Rasa takut kian menyelimuti hatinya.
Namun Nila tidak hanya berdiam diri dan menangis saat mendapat kabar insiden itu dari Rusli. Ia segera bangkit dan memberitahukan pada Mirna dan juga Lalisa. Kebetulan, Fatan memang menyuruh Nila untuk tinggal di rumah ibunya, jelas demi keselamatannya juga. Sebab Fatan khawatir kalau sampai Nila ditinggal sendiri di villa tempatnya menginap.
Tap! Tap! Tap! Nila berjalan sambil tergopoh-gopoh mencari keberadaan keberadaan kedua perempuan itu. Ternyata mereka berada di halaman belakang sedang berbincang seraya menikmati secangkir teh dan juga camilan.
"Bu, Bunda ... " panggil Nila sambil mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal.
"Ada apa, Nila?" tanya kedua perempuan yang hampir sebaya itu dengan raut wajah yang tampak cemas.
"Barusan, aku dapat kabar dari Rusli kalau mas Fatan terkena luka tusukan di bagian perutnya," jawab Nila. Napasnya mulai teratur kembali.
"Hah! Apa?" sahut Mirna dan Lalisa bersamaan karena sangat terkejut sama seperti Nila di awal.
"Siapa yang berani melakukan itu sama anak Bunda, Nila? Coba bilang! Biar Bunda yang akan kasih dia pelajaran!" Lalisa tersungut emosi. Ia tidak terima kalau anaknya dilukai, apalagi sampai ditusuk seperti itu.
"Rusli bilang kalau yang melakukan itu adalah ... " Nila menjedanya sebentar, lalu melanjutkan ucapannya lagi. "Edward."
"Apa? Edward?" Suara Lalisa kian meninggi. Ia benar-benar naik pitam. "Dimana dia sekarang?" sambungnya bertanya pada Nila. Sementara Mirna masih bersikap tenang supaya bisa berpikir jernih dalam menghadapi berita buruk itu.
"Edward udah berada di kantor polisi terdekat dengan lokasi kejadian, Bun. Rusli bilang tadi Edward sempat ingin melarikan diri. Tapi untungnya keburu ada polisi yang datang, terus menghadangnya dengan dua tembakan di kedua kakinya," jelas Nila yang sudah bisa menenangkan diri, walaupun sifatnya sementara. Bagaimanapun istri mana yang tidak khawatir saat mendengar kabar kalau suaminya mengalami luka tusukan akibat orang lain?
"Bunda pokoknya gak rela kalau si Edward sama Kemal itu cuma dapat hukuman penjara. Lebih baik mereka dihukum mati aja, biar gak ada lagi korban kerakusan mereka!" tekan Lalisa dengan emosi yang masih menggebu.
Nila mengangguk cepat, menyetujui apa yang ditekankan oleh Lalisa. "Oh iya, aku sampai gak ingat mau cerita tentang Jamal," ucapnya kemudian.
"Maksud kamu Jarfin?" tanya Mirna memastikan dengan kedua alis yang ditautkan.
__ADS_1
Nila mengangguk yakin. "Dia terlibat juga dalam kerjasama dengan Kemal. Kemarin pas di kantor polisi, Nila sempat lihat dia keluar dari pintu belakang. Agak aneh sih, makanya Nila hampiri dia. Tapi lebih anehnya lagi saat melihat mas Fatan, Jamal malah lari kencang banget!" ungkapnya serius.
"Astaga ... Padahal pas pamit keluar dari rumah ini, dia bilang mau nyewa kos. Kok malah ketemu sama si Kemal, Kemal itu sih!" decak Mirna merasa tidak habis pikir dengan tingkah Jarfin yang selama ini dianggapnya sebagai anak baik dan penurut.
Nila mengangkat kedua bahunya. "Entah, Nila juga gak paham. Tapi dia bilang sama polisi, kalau ternyata dia itu habis dipecat jadi pegawai negeri dan sertifikasinya pun dicabut pemerintah. Kira-kira tante Widya tahu beneran gak ya soal ini?"
"Nanti akan Ibu bicarakan dengannya melalui sambungan telepon. Pasalnya kalau cuma lewat pesan nanti takut salah paham," usul Mirna sambil merumat kedua tangannya.
"Iya, lebih baik begitu. Kata pihak kepolisian, sidang lanjutan akan digelar besok. Kemungkinan Nila akan pergi ke Palembang buat nemenin mas Fatan. Paling gak nanti Rusli ataupun temannya yang lain mewakili kami," papar Nila yang sebenarnya sudah tidak sabar ingin bertemu sang suami.
Lalisa dan Mirna saling bertukar pandang. Sesaat kemudian kembali menatap Nila bersamaan.
"Kalau gitu, biar kami yang ikut menghadiri persidangan lanjutan itu. Terutama para terdakwa, ingin rasanya Bunda tarik telinganya, sentil bibirnya sama eeeuurrrggghh! Gemas sekali sama kelakuan bi*adab mereka itu," sarkas Lalisa sambil merumat-rumat kedua telapak tangannya seakan dirinya sedang membalaskan dendam pada Kemal dan juga Edward.
Namun bukannya ikut marah, Nila justru terkekeh geli. "Tapi Bun, kata Jamal ... Yang sampai sekarang belum diketahui keberadaannya justru Charma," ungkap Nila lagi.
"Ibu sama Bunda tunggu sebentar, aku baru ingat sesuatu," kata Nila lalu berbalik badan dan bergegas pergi dari hadapan kedua perempuan itu. Saat Nila pergi, Mirna dan Lalisa hanya saling bertukar pandang dan menghela napas bersamaan.
Nila pergi ke kamarnya untuk mengambil sebuah kartu privider yang seingatnya masih baru dan belum lama ini ia beli, ketika melewati sebuah counter saat perjalanan menuju ke rumah beberapa waktu yang lalu. Niatnya Nila akan menggunakan nomor ponsel baru itu untuk melacak keberadaan Charma. Setelah ketemu, Nila kembali menghampiri Mirna dan Lalisa di halaman belakang.
"Bunda, apa Bunda masih simpan nomor ponsel Charma yang sekiranya aktif?" tanya Nila saat sudah berada bersama mereka.
"Oh iya sebentar, biar Bunda cari dulu ya ... " Lalisa meraih ponselnya yang ada di atas meja lalu mencari kontak Charma di sana. Tidak lama mencari, ia pun menemukannya. "Ini, coba kamu catat, Nila!" perintahnya kemudian menyebutkan angka yang tertera di layar ponsel. Nila pun mencoba memanggil.
"Aktif gak?" tanya Lalisa dengan suara yang sangat pelan.
Nila mengangguk, tapi tiba-tiba ia gelisah karena panggilan yang dilakukannya itu tidak kunjung mendapat jawaban hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya.
Raut wajah Nila tampak serius, dan hal itu membuat Lalisa dan Mirna menatapnya dengan sorot yang pernuh tanda tanya.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Lalisa. Perempuan itu sudah tidak sabar ingin mendengarnya.
Nila menggeleng lemah. "Aktif tapi gak dijawab sama sekali," jawabnya diiringi raut sedih. Tetapi sesaat kemudian, "Ah, iya!" terbesit sebuah ide di dalam pikirannya.
"Kenapa?" tanya Lalisa dan Mirna bersamaan.
"Aku akan coba lacak dia melalui peta online. Mungkin aja dia bisa kedeteksi keberadaannya sekarang!" usul Nila sesaat kemudian tersenyum simpul pada kedua orang tuanya itu.
"Oh iya kamu benar! Coba lakukanlah!" seru Lalisa mendukung, dan Mirna pun mengangguk tanda setuju.
Nila mencoba melacak keberadaan Charma. Tidak butuh waktu lama, sebuah sinyal muncul dalam peta online itu.
"Ibu, Bunda!" seru Nila dan mereka pun saling mendekat. Nila sengaja menaruh ponselnya ke atas meja supaya semuanya bisa melihat.
"Coba aktifkan video record, Nila. Siapa tahu butuh buat pelacakan kepada pihak kepolisian atau gak ... Kamu bisa kirimkan video itu pada Rusli," usul Lalisa dan segera Nila lakukan.
"Kalau menurut peta, Charma masih ada di pulau Jawa." Nila memperbesar jangkauan pada peta itu. "Ya ampun, dia ada di dekat pulau Nusa Kambangan. Sedang apa ya dia di sana?" ucapnya.
Usai rekaman itu selesai, Nila mengirimkannya kepada Rusli berikut sebuah catatan. Tak lama kemudian, Rusli pun mengirimkan alamat rumah sakit serta nomor kamar rawat inap tempat Fatan berada pada Nila.
"Ibu, Bunda ... Sepertinya aku akan berangkat ke Palembang sekarang. Mas Fatan udah keluar dari ruang operasi dan juga udah di pindahkan ke ruang rawat inap," kata Nila seraya berpamitan pada Lalisa dan juga Mirna.
"Ya udah, segera bersiap. Biar nanti Ibu bantu panggilkan taksi untukmu," kata Mirna lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Siap Ibu!" sahut Nila tersenyum pada ibunya, kemudian menatap Lalisa. "Bunda aku pergi dulu ya, doakan mas Fatan ya Bun supaya dia bisa lekas sembuh."
"Pasti, Bunda akan selalu doakan kalian supaya bahagia selalu," ucap Lalisa tulus.
Beberapa menit berlalu, Nila telah selesai bersiap dengan membawa sebuah koper yang berisi pakaiannya. Mobil taksi pun telah siap di depan halaman rumah dan Nila berangkat menuju Palembang.
__ADS_1