Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 127


__ADS_3

Di tempat yang berbeda, Fatan baru saja tiba di bandara. Kedatangannya di sambut oleh seorang lelaki berpakaian serba hitam yang biasa di pakai oleh para sopir pribadi dari kalangan tertentu.


"Selamat pagi, dengan Pak Fatan Adisuryo dari perusahaan W-Company?" tanya lelaki itu. Dia ditugaskan oleh pihak penyenggara acara yang akan diikuti oleh Fatan selama seminggu kedepan.


"Pagi, iya benar. Anda siapa ya?" Dengan raut wajah serius, Fatan menatap lekat lelaki itu.


"Perkenalkan, Pak. Saya Adul, sopir yang akan mengantar jemput Anda selama acara pelatihan berlangsung," jawab lelaki itu memperkenalkan dirinya.


"Oh iya. Baik, salam kenal," balas Fatan seraya tersenyum simpul.


"Kalau begitu, silahkan masuk ke dalam mobil, Pak. Biar koper Anda saya masukkan terlebih dahulu ke bagasi," kata Adul.


"Oke." Fatan patuh. Ia lekas masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang bagian belakang.


Adul mengantarkan Fatan ke salah satu hotel bintang tujuh yang ada di pusat kota itu. Namun Adul hanya mengantarkannya sampai ke depan lobby hotel saja, selebihnya sudah ada panitia yang akan mengurus penginapan itu.


Sebelum mendapatkan kunci kamar, Fatan lebih dulu di jelaskan oleh salah seorang panitia tentang bagaimana proses atau alur selama pelatihan berlangsung dan dibantu melihat pada susunan acaranya.


Setelah panitia itu selesai menjelaskan, Fatan mengangguk paham. Barulah panitia itu pun mengambilkan kunci kamar untuk Fatan.


Saat pengambilan kuci sudah selesai, Fatan pun akhirnya bisa mendapat nomor kamar yang akan ditempatinya selama seminggu ke depan.


"Pak Fatan, ini kunci kamarnya. Kalau ada apa-apa bisa hubungi pihak hotel ataupun di grup panitia ya. Sebab, hanya Anda yang menginap dihotel ini. Sementara yang lainnya hanya beberapa yang tinggal disinj juga," jelas panitia seraya memberikan kunci pada Fatan


"Baik kalau begitu saya pergi ke kamar dulu ya!' Fatan berpamitan pada panitia itu, setelah menerima kunci.


.

__ADS_1


.


.


.


Matahari sudah berganti menajadi rembulan. Sayang, langit di malam ini tidak ada taburan bintang. Konon katanya kalau kondisi seperti itu, esok hari bisa jadi akan turun hujan atau, langit akan mendung. Apa benar begitu? Entah, yang jelas memang langit terlihat mendung. Bukan malam cerah seperti biasanya.


Sementara di kediaman Mirna, penghuni rumah tengah asik menikmati makan malam. Tentu hidangan yang tersedia di atas meja itu adalah hasil masakan Mirna sendiri. Walaupun kali ini ada Nila yang membantu memotong sayurannya.


Usai ketiga perempuan selesai menikmati makan malam, Nila membantu sang ibu mencuci piring. Sedangkan Lativa memilih pergi ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengambil ponsel.


"Tiv .... " sapa Nila saat baru saja selesai mencuci piring, keluar dari dapur dan melihat Lativa tengah duduk santai di ruang keluarga.


"Eh, Kak. Sini duduk!" seru Lativa yang sudah berada di ruang keluarga dengan ponsel di tangannya. Ia menggeser duduknya untuk memberikan tempat supaya Nila bisa duduk bersebelahan dengannya.


"Ya begitulah, Kak. Tapi aku cukup nyaman jalaninnya. Hehe," jawab Lativa. Tetapi bagi Nila jawabannya itu sangat ambigu.


"Jalanin sama yang mana nih? Kerjaan atau sama Rusli?" tanya Nila lagi. Sekarang mulai menjurus ke inti pembicaraan.


"Kerjaan dong, Kak." Lativa tersenyum meski terlihat dipaksakan.


"Oh, terus hubungan kamu sama Rusli bagaimana? Apa masih dekat?" Nila langsung pada intinya. Memang pada dasarnya Nila tidak suka bertele-tele. Selain kesabarannya setipis tisu, sikap tegasnya tidak berubah.


"Um .... " Lativa seketika menaikkan kedua alisnya. Napasnya pun tertahan dalam beberapa detik karena saking tercekatnya. Setelah itu, ia mengembuskan napas panjang. "Ya, gak ada yang berubah. Kami dekat hanya karena hubungan kerja, Kak. Profesionalitas aja. Selebihnya .... " Ia menghentikan ucapannya sambil berpikir keras untuk mencari kata-kata yang tepat supaya apa yang akan dijelaskannya nanti akan mudah dipahami oleh Nila.


"Selebihnya, apa?" tanya Nila penasaran. Perempuan berambut panjang itu menatap lekat sang adik.

__ADS_1


"Selebihnya, aku belum siap buat nerima dia jadi calon suami aku, Kak," pungkas Lativa. Hal itu membuat Nila tertegun beberapa saat, kemudian menatapnya lagi.


"Dia pernah melamarmu?" Nila semakin lekat menatap adik semata wayangnya itu.


Lativa mengangguk pelan.


"Kapan?" Perasaan Nila semakin tergugah untuk tahu lebih banyak.


"Beberapa minggu yang lalu. Di sana ada kak Fatan juga kok. Dia mergokin kami sewaktu di rooftop."


"Mas Fatan?" tukas Nila merasa terkejut. Pasalnya Fatan sama sekali tidak cerita soal hal itu. Pikiran Nila tiba-tiba kalut. "Terus respon Rusli sendiri bagaimana pas kamu bilang belum siap?"


"Yang aku tahu, dia sempat diam. Jujur aku gak tega, tapi aku gak mau buat keputusan yang aku sendiri belum yakin betul. Apa aku salah, Kak? Habis itu aku gak berani lihat wajahnya, aku pamit pergi dari sana." Kedua mata Lativa sudah berkaca-kaca.


Lantas Nila pun akhirnya paham. Ia menarik napas sangat dalam. Namun ketika ia hendak berbicara, Mirna datang menghampiri mereka.


"Seperti yang pernah Ibu bilang pada kakakmu dulu sebelum dia menikah dengan suaminya. Kalau menikah harus udah benar-benar yakin. Ibu rasa kamu gak salah, Tiv. Tapi kamu harus ingat, terlalu larut dalam trauma itu juga gak baik buat diri kamu sendiri. Bisa jadi kamu sulit untuk berkembang kalau masa lalu itulah yang terus membatasi masa depan yang sedang menantimu saat ini, atau nanti. Saran Ibu sih ... kalau memang ada lelaki baik mau menikahimu, jangan ditolak. Itu bisa jadi pintu rezeki dan kebahagiaan kamu nantinya. Sebab lelaki yang baik pasti akan memperlakukan pasangannya dengan baik pula," sahut Mirna panjang lebar.


"Tunggu!" Lativa menautkan kedua alisnya. "Dari kalimat Ibu yang terakhir ... Bikin Tiva mikir. Apa pak Rusli pernah bilang sama Ibu soal niatnya mau melamar?"


"Iya, benar. Tepatnya sih mungkin bisa jadi sebelum dia lamar kamu secara langsung," jawab Mirna. Perempuan paruh baya itu bersikap netral, karena yang tahu Lativa sejak lahir ya dirinya. Makanya Mirna percaya, suatu saat pasti Lativa akan mengambil keputusan yang tepat.


"Rusli juga pernah bilang ke Kakak dan mas Fatan juga kok. Dia minta izin mau menikah denganmu. Itu aja, tapi soal mas Fatan ada di rooftop ... Kakak sendiri malah baru tahu dari kamu," sanggah Nila.


"Oh begitu rupanya ...." Lativa mengusap tengkuk lehernya. Dia mendadak salah tingkah. Sementara Nila dan Mirna saling bertukar pandang.


"Udah gak usah dipikirin. Toh kalaupun memang Rusli jodoh kamu, pasti kalian akan sama-sama," timpal Nila lalu terkekeh geli.

__ADS_1


Berhubung malam sudah mulai larut, akhirnya mereka mengakhiri perbicangan dan segera pergi ke kamar masing-masing. Namun dikarenakan Nila sedang hamil besar, Mirna pun menemaninya.


__ADS_2