
Menjelang akhir tahun, usia kandungan Nila sudah memasuki trismester tiga. Itu artinya Nila harus ekstra mempersiapkan diri jelang persalinan nanti.
Disamping itu, Nila merasa sedih karena sang suami harus pergi ke luar kota untuk melakukan perjalanan dinas. Sejak semalam Nila terus menggenggam erat tangan suaminya, tidak rela kalau sang suami harus pergi selama seminggu kedepan.
Di sisi lain, Lalisa juga akan pergi untuk mendampingi Wicak sebagai tamu undangan penting di salah satu negara yang ada di benua Eropa. Sungguh Nila merasa semakin sedih, apalagi hubungannya dengan ibunya Elisa tidak sedekat seperti dengan ibunya Fatan.
Fatan terus membujuk sang istri supaya mau ditinggal sementara. "Sayang, sebentar lagi aku harus berangkat. Mau ya ditinggal di rumah? Atau mau aku antar ke rumah ibu biar kamu gak kesepian di rumah ini."
"Memangnya kenapa sih aku gak boleh ikut? Padahal kandunganku masih aman buat naik pesawat!" keluh Nila dengan mata memerah dan berderai air mata.
"Bukannya gak boleh, Sayang ... Aku di sana pasti kegiatannya padat. Aku takut kamu kelelahan dan ... Malah lebih banyak sendiri," tutur Fatan dengan tatapan teduh. Lelaki itu berharap supaya Nila bisa segera mengerti.
Nila menghela napas berat. Tatapannya terlihat sendu serta berkaca-kaca. Tidak pernah sebelumnya ia merasa sesedih ini. Akhirnya dengan berat hati, Nila pun mengizinkan Fatan pergi.
"Ya udah gak apa-apa. Nanti aku akan tinggal di rumah ibu selama kamu pergi. Tapi dengan satu syarat!" Lirikan tajam langsung Nila lontarkan pada sang suami.
"Apa itu syaratnya, Sayang?" tanya Fatan seraya menaikkan sebelah alis matanya.
"Harus terus kabari aku. Awas aja kalau susah dihubungi!" protes Nila dengan wajah cemberut.
Melihat sikap sang istri seperti itu, Fatan pun tertawa. "Iya, iya. Apa sih yang gak buat kamu?" rayunya lalu memeluk erat sang istri.
"Apa tugasnya gak bisa pulang lebih cepat, Mas?" Nila bernegosiasi lagi.
"Gak bisa, Sayang. Lagi pula, aku kan di sana pelatihan. Jadwal yang disusun sama pihak penyelenggara pun kamu udah tahu sendiri padatnya seperti apa. Makanya aku gak bisa ajak kamu." Fatan mencoba menerangkannya lagi. Ya, setelah itu Nila menghela napas kembali.
"Ya udah, aku antar kamu sampai bandara aja kalau gitu. Boleh 'kan?" Nila memberi tatapan memohon pada suaminya.
"Iya, boleh. Yuk, berangkat!" ajak Fatan.
Semua perlengkapan yang akan dibawanya ke kota tujuan, sudah lebih dulu ditaruh oleh pelayan ke bagasi mobil.
Lantas sebelum pergi ke Bandara, Fatan memberi waktu pada Nila mengemasi pakaiannya untuk tinggal sementara di kediaman Mirna dan juga Lativa. Beberapa saat kemudian, keduanya pun pergi.
__ADS_1
Rumah mewah itu mendadak sepi, karena beberapa tuan rumah tidak ada di tempat dalam beberapa hari ke depan.
.
.
.
.
Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Fatan memberi tanda perpisahan sementara kepada sang istri. Lelaki itu memberi kecupan yang sangat lama pada kening istrinya. Hal itu membuat hati Nila merasa terenyuh kembali.
"Hati-hati dijalan ya, Mas. Semoga segala urusan kamu di sana lancar dan juga ... Tetap jaga kesehatan. Sampai ketemu lagi," ucap Nila sesaat setelah Fatan melepaskan kecupannya. Tak lupa Fatan pun bertekuk lutut untuk berbicara pada calon buah hati mereka.
"Hai, Baby! Daddy pergi dulu ya. Baik-baik di perut mommy. Jadi anak baik ya, Daddy pergi dulu, muuuaaacchh!"
"Iya, Daddy!" Nila menirukan seolah calon buah hati mereka yang menyahuti ucapan Fatan. Setelah itu ia pun terkekeh geli.
Fatan kembali berdiri. "Aku pergi dulu ya, Sayang. Kabari aku kalau kamu udah sampai rumah Ibu." Kecupan pun mendarat lagi di kening Nila.
"Iya, Sayang ... Bye!"
Nila melambaikan tangannya, pun dengan Fatan. Setelah Fatan berbalik badan, Nila hanya bisa menatap punggung suaminya hingga menghilang dari pandangannya. Sedih, tapi mau bagaimana lagi.
Menjadi seorang istri seorang pembisnis, apalagi sebagai pimpinan perusahaan. Harus rela ditinggal saat keluar kota demi tugas. Membiarkan sang suami bebas mengasah kemampuannya supaya lebih pintar lagi dalam berbisnis.
Nila tahu pasti, pasar bisnis tidak selamanya berjalan ke atas dengan lancar. Ada saatnya harus melewati tanjakan yang licin. Kalau terpeleset, ya harus coba lagi sampai titik keberhasilan yang kita mau iti bisa tercapai.
Nila pun berusaha yakin dan mengendalikan egonya. Sementara waktu ia harus rela berjauhan, sebab jika urusannya telah selesai pasti dia akan kembali.
Nila masih terus belajar, bagaimana caranya tidak mengekang Fatan. Sebab menggenggam terlalu erat juga tidak baik dan terlalu membebaskan juga tidak baik. Mencintai Fatan sewajarnya, sesuai kemampuannya dalam bersabar.
Cukup lama tertegun setelah Fatan menghilang dari pandangannya, Nila tidak sadar kalau ia sampai meneteskan air mata.
__ADS_1
"Aku harus segera pulang ke rumah ibu!" ujarnya kemudian berbalik badan dan berjalan menuju mobil yang tadi ditumpanginya bersama sang suami.
Sepanjang jalan, Nila terus melihat ke luar jendela. Melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi hingga mencakar langit berjejer rapi. Sesekali ia mengelus perutnya yang hampir sebesar buah semangka.
.
.
.
.
Nila akhirnya sampai di halaman rumah Mirna.
"Terima kasih ya, Pak!" ucap Nila sebelum turun dari mobil.
"Sama-sama, Nyonya. Oh iya, kalau Nyonya butuh antar jemput langsung hubungi saya aja ya. Soalnya itu pesan dari Tuan Fatan sama saya," balas sopir itu.
"Iya, Pak. Oke." Nila tersenyum lalu turun dari mobil dengan hati-hati.
Setelah Nila menutup pintu, sopir itu melajukan kembali mobilnya pergi dari sana. Nila pun masuk ke dalam rumah. Ia mencari keberadaan sang ibu, yang ternyata ada di dalam kamarnya.
"Eh kamu udah pulang," kata Mirna. Perempuan paruh baya itu sedang menaruh pakaian yang Nila bawa ke dalam lemari.
"Iya, Bu. Tadi pas banget gak lama sampai, eh pesawatnya mau take off," jawab Nila yang kemudian duduk di sebelah Mirna. "Ibu gak usah repot-repot, nanti biar Nila aja yang beresin," cegahnya kemudian.
"Gak apa-apa. Kamu pasti capek habis dari Bandara. Mending kamu istirahat dulu ya," kata Mirna tidak merasa direpotkan sama sekali.
"Iya deh, makasih ya Bu," balas Nila lalu menaikkan kedua kakinya ke atas tempat tidur untuk mencari posisi nyaman. "Oh iya Bu, biasanya Lativa pulang jam berapa?" tanyanya kemudian.
"Paling sore sih kadang jam enam, tapi pernah juga pulang jam delapan malam. Gak nentu. Katanya tergantung pekerjaan," jawab Mirna.
"Oh gitu. Tapi Ibu sering lihat Lativa diantar jemput Rusli gak?" Nila mulai penasaran dengan hubungan sang adik dengan sekertaris suaminya. Sebab sudah cukup lama Lativa belum bercerita lagi padanya tentang hal itu.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini sih gak pernah, tumben. Apa hubungan mereka merenggang ya? Ibu juga gak tahu pasti. Kamu tahu sendiri 'kan adikmu itu kayak gimana. Apalagi semenjak kecelakaan itu dia jadi tertutup banget. Coba nanti kamu tanya ya kalau dia udah di rumah. Soalnya Ibu suka ngerasa gak enak mau nanya, takut dia masih trauma," jelas Mirna.
"Ya udah deh nanti Nila coba tanyain ke dia."