Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 54


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Nila sudah selesai bersiap untuk pergi ke acara pernikahan sang adik. Begitu pula dengan Lativa yang juga sudah selesai dirias sedemikian rupa supaya terlihat cantik oleh perias yang sengaja di datangkan pihak keluarga Antony ke rumahnya.


Nila memakai kebaya berwarna merah muda yang dipadukan dengan rok span bermotif batik. Setelan kebaya yang Nila gunakan, rupanya juga senada dengan sang ibu. Hanya saja berbeda pada model pakaiannya saja.


Ketika semuanya sudah siap dan perias pun sudah pergi dari rumah, mereka berangkat menuju tempat acara. Mereka sengaja berangkat pagi, karena permintaan kedua orang tua Antony sendiri. Tak lupa juga pakaian Lativa yang sudah dikemas ke dalam sebuah koper berukuran besar.


Sepanjang perjalanan ketiga perempuan yang ada di mobil hanya diam. Nila fokus menyetir mobil, Mirna menikmati perjalanan, sedangkan Lativa? banyak sekali yang berkecambuk di dalam pikirannya. Pasalnya dia sendiri pun belum tahu acara seperti apa yang akan digelar oleh keluarga Antony.


Tak terasa dua puluh menit perjalanan, mereka pun akhirnya tiba di rumah Antony. Jika dilihat dari depan, tampak sepi dan seolah tidak ada acara apapun. Namun satpam di rumah itu sudah mengenali mobil milik Nila. Dia segera membukakan pintu gerbang untuk mereka.


Beberapa saat kemudian, Nila turun lebih dulu lalu menurunkan koper. Setelah itu ia pun menghampiri satpam rumah itu yang baru saja selesai menutup gerbang.


"Pak, rumah ini kok sepi banget ya?" tanya Nila menatap heran ke sekeliling halaman rumah yang sudah terlihat rapi.


"Iya Non. Kata Nyonya, acaranya di taman belakang. Itupun hanya dihadiri oleh kedua belah pihak keluarga inti sama pelayan di rumah ini aja," jawab satpam itu.


Tiba-tiba dua orang pelayan rumah pun datang menghampiri mereka.


"Permisi ... " ucap salah satu diantara mereka.


Nila menoleh, begitupun dengan Lativa dan juga ibunya.


"Nyonya dan juga Nona-Nona, mari ikut kami, semuanya telah menunggu di tempat acara," ajak salah satu pelayan itu dengan sopan. Keduanya berdiri berdampingan seraya menunduk hormat.


Mirna merasa sungkan diperlakukan seperti itu. Ia pun menuntun Lativa untuk segera berjalan.


"Baik, terima kasih," ucap Mirna.


Kedua pelayan tadi berjalan di kanan dan kiri mereka, yang satu memberi petunjuk jalan dan satunya lagi menarik koper milik Lativa yang akan di taruh di kamar Antony.


Semakin mendekati tempat acara, detak jantung Lativa semakin tidak keruan. Cemas, takut, ragu, serta gelisah melebur jadi satu. Padahal seharusnya tidak ada yang perlu ditakuti.


Saat tiba di ambang pintu, ketiga perempuan berbeda usia itu begitu terkejut dengan dekorasi acara pernikahan yang akan dimulai sebentar lagi.


"Tiva, ini sih mereka benar-benar niat mengadakan acaranya. Semoga saja pernikahanmu dengan Antony setelah ini akan bahagia hingga maut memisahkan," kata Nila seraya menoleh ke arah sang adik yang berdiri disebelahnya.


"Iya Kak, semoga aja. Doakan aku ya!" ujar Lativa. Lantas mereka pun duduk di kursi yang telah disediakan masing-masing.

__ADS_1


Tidak butuh waktu yang lama, Lativa dan Antony akhirnya sah menjadi sepasang suami istri. Nila beserta Mirna pun ikut terharu sampai menangis bahagia.


"Ibu gak nyangka, Lativa akan menikah lebih dulu dibanding kamu Nila," ucap Mirna seraya menepuk tangan anak sulungnya yang diletakkan di atas paha.


"Iya Bu, Nila juga gak nyangka. Padahal dari segi kesiapan, Nila sebenarnya udah siap menikah. Tapi calonnya aja yang belum ada," balas Nila. Perempuan itu menoleh ke ibunya dengan menunjukkan senyum yang begitu tulus.


"Belum waktunya aja Nila ... Ibu yakin siapapun nanti laki-laki yang akan menjadi suamimu, pasti dia adalah lelaki pilihan Tuhan untukmu," timpal Mirna menyemangati Nila supaya tidak merasa minder karena telah dilangkah oleh adiknya.


Namun Nila terkekeh. "Iya Ibu benar, mungkin belum waktunya," sahut perempuan itu.


Setelah acara selesai, Nila dan Mirna pamit dari sana. Sedangkan Lativa memang sengaja ditinggal disana, karena memang dia akan tinggal di rumah mewah itu bersama suaminya.


...----------------...


"Bu, Nila mau siap-siap dulu ya. Soalnya kemarin sempat ditelepon Pak Fatan kalau harus segera kembali ke Palembang, kerjaan disana benar-benar sangat numpuk," kata Nila saat keduanya baru saja tiba di rumah.


"Oh begitu, ya udah sana siap-siap," kata sang ibu sambil mengelus lengan Nila.


"Ibu gak apa-apa 'kan kalau Nila tinggal sendiri di rumah?" tanya Nila sedikit khawatir.


"Syukur lah Bu. Kalau ada apa-apa telepon Nila aja ya," pinta Nila lalu memeluk ibunya. "Nila sayang banget sama Ibu."


Sang ibu terharu, dia membalas pelukan anaknya penuh suka cita. "Ibu juga sayang banget sama kamu, Nila."


Sesaat kemudian, mereka pun saling melepaskan pelukannya. "Bu, Nila ke kamar dulu ya. Ibu istirahat ya."


Mirna menganggukkan kepala sambil tersenyum. "Iya."


Satu jam kemudian, Nila keluar dari kamar telah mengenakan setelan kantor yang rapi. Riasan wajah selepas acara tadi pun sengaja tidak dihapus karena Nila mengejar waktu pesawat yang sebentar lagi akan berangkat menuju Palembang.


Nila pun berpamitan terlebih dahulu pada ibunya yang sedang berada di kamar. Setelah selesai, ia pun bergegas pergi dengan menggunakan taksi online yang telah dipesan sebelumnya.


Saat Nila sudah menutup pintu, sopir taksi pun melajukan mobilnya. Berhubung jalan utama menuju bandara masih sepi, tidak sampai satu jam Nila telah sampai.


Sopir itu sengaja menghentikan mobil yang dikendarainya tepat di depan lobby keberangkatan. Usai membayar, Nila pun turun.


Seperti biasa, Nila check in sebelum masuk ke kabin pesawat. Namun kali ini ia tidak menunggu terlebih dahulu setelah check in, melainkan langsung di arahkan menuju kabin pesawat oleh petugas keamanan di sana.

__ADS_1


Pesawat yang ditumpangi oleh Nila pun terbang menuju kota tujuan. Selama berada di pesawat, Nila sempat memesan camilan untuk mengisi perutnya yang mulai terasa lapar kembali. Terlebih saat ditempat acara tadi, Nila tidak terlalu banyak makan. Bukan karena makanannya yang tidak enak, tapi karena selera makannya sedang berkurang.


Sesampainya di kota tujuan, Nila bergegas turun lalu menghubungi ibunya melalui pesan singkat untuk memberitahukan kalau dirinya telah sampai di Palembang.


Berhubung masih dalam jam kantor, Nila langsung pergi ke kantor tempatnya bekerja menaiki mobil taksi yang memang sudah ada di sekitar lobby pintu kedatangan.


...----------------...


Nila akhirnya sampai di kantor. Ia segera turun dan masuk ke dalam. Para pegawai yang melihat kedatangannya pun tak segan untuk menyapa. Selain itu Nila juga juga tetap dengan sikap ramahnya membalas sapaan mereka.


Saat pintu lift telah terbuka, Nila melangkahkan kakinya keluar dari lift itu. Dari kejauhan. Meja kerjanya masih tertata rapi seperti terakhir ia tinggalkan.


Nila menaruh tasnya di sebuah laci yang ada di meja kerjanya itu, kemudian masuk ke dalam ruang kerja Fatan. Seperti kebiasaannya sebelum masuk, Nila pun mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ya, Masuk!"


Usai mendapat perintah dari pemilik ruangan itu, Nila membuka pintu. Tanpa sengaja ia saling bertatapan dengan Fatan.


"Kapam kamu sampai, Nila?" tanya lelak itu mengerutkan keningnya.


"Barusan," jawab Nila singkat. Lantas perempuan itu mendekati atasannya sambil menatap heran. "Sejak kapan Anda memakai kacamata, Pak?" tanyanya kemudian.


Fatan mengangkat seluruh wajahnya seraya berdiri dan membuka kacamata yang tadi dipertanyakan oleh Nila. "Baru dua hari terakhir ini." Jawabannya terdengar sangat santai.


"Setahu saya Anda gak punya minus ataupun silinder. Kenapa bisa seperti itu? Apa itu hanya kacamata gaya?" cecar Nila semakin pernasaran. Akan tetapi pertanyaan darinya, bagi Fatan seperti sedang mengintrogasi dan membuat tidak nyaman pada lelaki itu.


"Saya gak apa-apa, hanya sedang ingin saja pakai kacamata," jawab Fatan sekenanya.


"Oh ya udah. Um, mengenai meeting besok bagaimana Pak?" Nila langsung bertanya pada intinya.


"Oh iya, begini. Berhubung nanti malam saya akan pergi ke Tiongkok, besok tolong kamu wakilkan ya. Nanti hasil meetingnya kirimkan lewat email ke saya." Fatan kemudian mengeluarkan tumpukkan berkas dari dalam laci yang ada di mejanya.


"Tunggu, Pak! Bukannya gak ada jadwal perjalanan dinas ke Tiongkok? Atau memang Anda ada urusan lain?" potong Nila.


"Saya akan tinggal cukup lama disana. Jadi, selama saya gak di kantor ini ... Tolong kamu pegang baik-baik ya tugas yang harus kamu lakukan. Terus, ayah saya bilang kalau CEO kantor ini akan digantikan dengan Edward," jelas Fatan. Namun saat ia bicara, matanya seakan enggan untuk menatap Nila yang berdiri di hadapannya.


"Hah? Serius Pak?" Nila seketika tercengang. "Lantas Pak Edward itu masih ada hubungan keluarga dengan Anda?"

__ADS_1


__ADS_2