Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 60


__ADS_3

Setelah membantu ibunya membereskan meja makan, Nila pergi ke ruang keluarga. Perempuan itu mengambil remote kemudian menekan tombol on untuk menyalakan televisi berukuran 52 inch itu. Lantas Nila pun duduk sambil menyalakan layar ponselnya. Tujuan utamanya memainkan ponsel untuk mencari inspirasi yang bisa dijadikannya ladang usaha. Fokusnya pun menjadi ke layar ponsel, sedangkan televisi yang ada di depannya itu dibiarkan menyala.


Beberapa menit kemudian, Mirna yang baru saja keluar dari kamar menghampiri Nila dari arah belakang.


"Loh, loh, loh ... Itu kenapa TV-nya dibiarin nyala? Pantas aja kok tumben tayangannya horor, tapi kamu gak teriak-teriak. Tahunya lagi fokus nyari ide masakan toh," sindir Mirna lalu ikut duduk di sebelah Nila.


Mendengar celotehan sang ibu, Nila pun akhirnya sadar. Wajahnya pun terangkat dan pertama kali yang ia lihat ke layar televisi yang sedang menayangkan film horor.


"Hah! Astaga!" Nila terkejut lalu buru-buru mencari keberasaan remote untuk mengganti channel.


Sementara itu, Mirna hanya menggelengkan kepalanya. "Nila, Nila ...."


"Ibu ... " lirih Nila seraya menaruh ponselnya yang masih dalam keadaan menyala ke atas paha.


"Kamu cari ide masakan buat apa? Jualan?" tanya Mirna. Perempuan paruh baya itu melihat ada semangat yang membara dari dalam diri Nila.


"Iya, Bu." Nila mengangguk lalu mengangkat ponselnya kembali.


"Ibu rasa gak usah buru-buru Nila ... Istirahatkan dulu dirimu, Ibu tahu kamu lelah," pinta Mirna yang sebenarnya merasa kasihan pada Nila. Terlebih usia anak sulungnya itu sebentar lagi menginjak 28 tahun, bukankah usia segitu sudah termasuk matang untuk menikah? Mirna khawatir Nila keasikan bekerja, mengumpulkan pundi-pundi uang, tapi malah tidak kunjung menikah.


"Nila tahu, Bu ... maka dari itu, Nila mau buka usaha di rumah. Bisa libur sesuka hati, dan terikat pada jam kerja, benar begitu 'kan Bu?" ujar Nila dengan semangat yang memburu.

__ADS_1


"Iya benar sih, tapi untuk berasa dimasa seperti itu jika usaha yang kamu jalani sudah besar. Kalau baru hanya kamu dan Ibu, itu justru bisa jadi gak ada liburnya. Kamu harus siap fisik dan mental untuk berperang, dalam artian usaha awal yang baru kamu geluti. Sungguh, lelahnya akan terasa dua kali lipat daripada kerja di kantor, Nila," jelas Mirna mencoba memberi pengertian pada anak sulungnya itu.


Seketika Nila memantung beberapa saat, lalu menoleh ke ibunya yang duduk disamping. "Bu ..." Ia menaruh ponselnya.


"Nila cuma ingin menuruti kata hati aja ... Bagimapun hidup akan tetap berjalan, Bu ... Dan Nila rasa, selama tenaga dan pikiran Nila sanggup, kenapa harus nunggu nanti?" Perempuan itu hanya ingin didukung oleh ibunya. Apapun jalan yang akan ditempuhnya.


"Ya udah deh kalau gitu ... Ibu terserah kamu aja. Selama kamu nyaman menjalaninya, Ibu akan tetap dukung," ucap Mirna sembari tersenyum membuat hari Nila kian lega dan juga ikut mengembangkan senyumnya.


"Terima kasih banyak, Bu." Nila memeluk sang ibu dengan penuh kasih sayang.


"Oh iya, tadi Ibu dapet telepon dari tante Widya. Dia tanya kalau anak sulungnya itu boleh gak tinggal dirumah kita, soalnya dia lagi nunggu sertifikasinya," kata Mirna memberitahu Nila.


"Anak sulung tante Widya, Bu?" Nila memastikan dan Mirna pun menganggukkan kepalanya. "Si Jamal maksud Ibu?" tanyanya lagi, tapi Mirna malah mengerutkan keningnya.


Seketika Nila terkekeh geli. "Iya itu maksud Nila. Kan emang dipanggilnya Jamal, Bu."


"Hih! Kamu ini kalau tantemu tahu, bisa-bisa dia marah banget loh. Nama anaknya bagus-bagus dipanggil Jamal," seloroh Mirna lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Loh Ibu mau kemana? Nanti dia tidur dimana?" tanya Nila lagi. Sebab di rumah itu hanya terdapat 3 kamar tidur saja.


"Kayaknya di kamar Tiva, lagi pula Jarfin juga gak lama. Paling hanya tiga sampai empat bulan, dia juga mau nyari kerja sampingan. Malah pinginnya dia, jadi ojek online," jawab Mirna sejelas mungkin. Tetapi jawaban itu hanya didengar dari adik sepupunya Mirna saja, pastinya pun belum tahu.

__ADS_1


"Um, tapi Bu. Omong-omong soal Tiva ... Dia benar gak bilang apa-apa lagi selain mau pergi ke Amerika?" tanya Nila mengalihkan pembicaraannya sejenak dari sepupunya itu.


"Bener, Nila. Ibu juga gak paham. Pas Ibu tanya, dia seperti lagi sembunyiin sesuatu. Anak itu, selalu bikin Ibu resah," kata Mirna lalu mengelus dadanya. Raut wajahnya tampak gelisah tatkala membahas tentang anak bungsunya yang sudah menikah.


"Nila juga belum sempat hubungi dia, nanti deh bakal Nila coba. Apalagi perbedaan waktu Jakarta sama Amerika kan lumayan panjang, Bu." Nila mencoba menenangkan hati ibunya. Ya memang diantara dirinya dan Lativa, justru adiknya itu lebih terbuka pada sang ibu. Makanya saat melihat ada yang berbeda dari Lativa, Mirna pasti menyadarinya.


"Iya Ibu harap sih gak terjadi apa-apa sama adikmu. Kasihan ... malah dia lagi hamil, mau bolak-balik juga jauh pula. Ditambah dia juga gak kasih tahu kita 'kan alamat tempat tinggalnya dimana?" keluh Mirna mengembuskan napas panjang. Setelah itu, ia berjalan dan berniat pergi ke kamarnya. "Ibu tidur dulu ya, Nila. Kamu jangan sampai bergadang!" serunya sebelum masuk ke dalam kamar.


"Iya, Bu!" balas Nila dari ruang keluarga. Ia mengusap wajahnya berkali-kali seraya mengatur napas. "Apa aku coba hubungi Tiva dulu ya? Siapa tahu nomor ponselnya aktif. Lagi pula disana masih siang, kalau gak salah," ucapnya bermonolong.


Nila meraih ponselnya kembali sambil mengecilkan volume televisi, lalu menyalakan layar ponsel dan mencari nomor Lativa di kontaknya. Tidak lama setelah itu, Nila pun menemukannya.


"Nah ini dia!" Nila memanggil melalui aplikasi hijau.


Beberapa saat menunggu, ternyata pangggilan itu tidak kunjung menunjukkan kata 'berdering'. Alhasil Nila pun mengakhiri. Perempuan itu melihat kembali ke arah jam dinding.


"Apa mungkin Tiva sama Antony masih ada di pesawat ya? 'kan biasanya data pun harus dimatikan supaya gak mengganggu penerbangan," gumam Nila bermonolog.


Tiba-tiba rasa kantuk pun menyerangnya. Nila beranjak dari sofa lalu mematikan televisi. Tak lupa ia mengecek pintu depan, apakah sudah dikunci oleh ibunya atau belum.


Saat dilihat, ternyata belum. Nila melihat keluar jendela terlebih dahulu untuk memastikan kondisi rumahnya aman terkendali. Setelah itu barulah ia mengunci pintu kemudian mematikan lampu utama yang ada di ruang tamu. Nila berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Nila membuka laptopnya terlebih dahulu. Apalagi di dalam laptop itu menyimpan banyak sekali data perusahaan tempatnya bekerja kemarin, karena sekarang sudah tidak lagi. Bukan hanya itu, diam-diam Nila mengambil gambar Fatan disaat lelaki itu tidak sadar sedang dibidik.


"Kalau aja aku bisa menawar, bolehkah aku egois demi perasaan ini?"


__ADS_2