
Selama 3 hari berjauhan dengan sang suami. Nila tetap santai, sebab Fatan menepati janjnya untuk tetap selalu memberinya kabar. Terkadang, keduanya saling melalukan panggilan video untuk mengobati rasa rindu masing-masing.
Namun tiba-tiba ada yang berubah dari Fatan. Tepat di hari keempat, hampir seharian ini lelaki itu tidak menghubungi Nila sama sekali.
Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu padanya? Itulah pertanyaan yang sempat terlintas di benak Nila setelah berkali-kali mencoba menghubungi suaminya tapi tudak kunjung ada jawaban.
Alhasil, Nila yang semakin gelisah memilih untuk segera mengganti pakaian dan berniat pergi ke kantor sang suami. Mengingat khusus acara yang sedang diikutinya itu, tidak didampingi oleh Rusli.
Setelah di rasa rapi, Nila pun bergegas keluar dari kamar. Namun disaat dirinya membuka pintu, ia berpapasan dengan sang ibu yang juga baru keluar dari dapur.
"Nila? Kamu mau kemana? Kok rapi sekali." Mirna menautkan kedua alisnya.
"Mau main ke kantornya mas Fatan, Bu. Bosen juga di rumah terus, boleh 'kan Bu?" Sebenarnya hati Nila merasa ketar-ketir, takut Mirna tidak mengizinkannya.
"Memangnya kenapa kamu mau ke kantor suamimu? Lagi pula Fatan 'kan gak ada di sana. Terus, kamu mau ketemu sama siapa?" cecar Mirna. Perempuan paruh baya itu menatap lekat anak sulungnya.
"Ya, mau main aja Bu ke sana. Ke ruangan mas Fatan," jawab Nila semakin gugup. Tetapi ia tetap mengikuti firasatnya, ingin pergi ke kantor sang suami.
Mirna menghela napas. Tiba-tiba firasatnya sebagai seorang ibu merasa menolak kalau Nila sampai pergi ke sana. "Apa ada sesuatu yang terjadi sama kalian,hm?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Mirna.
"Aku gak tahu kalau yang aku rasain firasat atau bukan. Tapi yang jelas perasaanku tiba-tiba gak enak. Kayak ada sesuatu gitu, Bu," jelas Nila yang mencoba mengungkapkan apa yang dirasakannya. Walaupun rasanya sulit.
"Kalau kamu merasa seperti itu, pasti ada sebabnya dong. Memangnya kalau boleh tahu kenapa? Mungkin Ibu bisa bantu cari jalan keluar. Apalagi kamu lagi hamil seperti ini, kalau ke sana gak ada suamimu Ibu yang khawatir, Nila. Nanti disangka Ibu malah membiarkan kamu," pinta Mirna dengan sorot teduhnya.
"Hm ...." Nila menghela napas berat. "Hampir seharian ini mas Fatan susah banget dihubunginya, Bu. Kemarin-kemarin walaupun dia sibuk, dia tetap balas pesan aku. Aku heran, pengen mastiin aja. Apalagi dia perginya sendirian."
"Astaga, Nila ...." Mirna menepuk keningnya sendiri. "Ibu kira kenapa. Hm." Perempuan itu sampai menggelengkan kepalanya. "Ya, Ibu tahu kamu khawatir. Mungkin memang sekarang lagi sibuk sekali suamimu itu. Makanya belum sempat menghubungi kamu. Coba kamu bersabar ya ... Mungkin aja setelah selesai bisa langsung menghubungi kamu."
"Tapi apa perlu Nila tanyakan ke Rusli, Bu? Siapa tahu dia punya informasi terkait mas Fatan." Nila merumat kedua tangannya.
"Ya silahkan, tapi tanyanya lewat telepon aja ya. Atau kalau perlu video call sekalian. Biar kelihatan dia bohong atau gak," jawab Mirna.
__ADS_1
"Iya deh, Nila ikut saran dari Ibu." Nila mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, kemudian menghubungi Rusli melalui panggilan video call.
.
.
.
.
Di perusahaan, Rusli sedang sibuk dengan berbagai urusan. Pekerjaannya menjadi dua kali lipat semenjak Fatan mengikuti pelatihan. Di tengah fokusnya sedang penuh, tiba-tiba panggilan masuk dari ponselnya. Rusli mengalihkan pandangannya sejenak dari layar laptop untuk menoleh ke arah layar ponsel yang sedang berkedip serta bergetar.
"Bu Nila? Ada apa ya? Tumben pakai segala panggilan video call. Duh, gimana jawabnya ini? Kenapa aku jadi salah tingkah begini ya," gumam Rusli langsung merapikan pakaiannya. Ia pun menggunakan layar laptopnya sebagai sandaran ponsel. Lantas menjawab panggilan telepon video dari Nila.
"Selamat siang, Bu," sapa Rusli.
"Siang ...." Nila menarik napas. "Rus, saya mau tanya. Dari pagi Pak Fatan ada hubungi kamu gak?"
"Ada, Bu. Beliau meminta beberapa data perusahaan. Bilangnya untuk dijadikan bahan presentasi."
"Memangnya kenapa ya, Bu kalau boleh tahu?" Pertanyaan itupun dengan sangat hati-hati Rusli lontarkan.
"Oh gak, um ... Kalau misalkan nanti dia ada hubungi kamu lagi, tolong bilang padanya ya suruh balas pesan saya," pesan Nila.
"Begitu rupanya ... Baik, Bu. Nanti akan saya sampaikan." Rusli tidak enak hati untuk bertanya lagi. Lelaki itu hanya bisa menurut dengan apa yang dikatakan oleh istri Bos nya itu.
"Ya udah deh, itu aja. Jangan lupa disampaikan ya, Rus!" Nila menekankan sekali lagi.
"Siap, laksanakan, Bu!"
"Terima kasih sebelumnya, maaf ya ganggu waktunya. Siang, Rus."
__ADS_1
"Sama-sama, Bu ... Santai aja. Siang juga, Bu."
Usai sambungan telepon itu berakhir, kali ini telepon internal yang ada di atas meja Rusli pun berbunyi. Lelaki itu segera menjawabnya.
"Halo?"
"Pak Rusli, maaf ganggu waktunya ..." Suara perempuan yang terdengar itu tidak asing bagi Rusli. Suara yang selama ini selalu membuat hatinya bergetar. Siapa lagi kalau bukan Lativa.
"Iya Tiv, gak apa-apa. Ada apa telepon? Biasanya kirim pesan," balas Rusli.
"Begini Pak, kata bu Elisa ... Laporan akhir tahun ini sepertinya gak bisa bertahap, tapi harus dijadikan satu. Gimana, Pak? Apa boleh?"
Rusli terdiam beberapa saat. Sebagai tangan kanan Fatan, dia harus cermat dalam mengambil keputusan. Terlebih jika saat ini Fatan sedang tidak ada di tempat untuk dimintai pendapat.
"Kalau separuhnya dulu dikirim ke aku bisa gak? Soalnya biar aku juga bisa lebih detail lagi periksanya," tawar Rusli.
"Menurut saya sih bisa, tapi sayangnya bu Elisa tetap ingin dijadikan satu. Apalagi pihak bagian gudang dan pengiriman juga maunya sama. Masalahnya ada beberapa bahan baku produksi yang memang laporannya dijadikan satu. Kalau memang nanti ada data yang gak sesuai pun, dampaknya akan ke bagian pemasaran juga. Khawatirnya kami salah memberi harga saat meeting sama management."
"Begitu ya?" Rusli berpikir ulang. Mencari solusi supaya antara keinginannya dan mereka itu bisa sejalan. Akhirnya, iapun berpikir kalau harus didiskusikan kembali pada Fatan. Mengingat dokumen laporan yang dimaksud oleh Lativa itu merupakan proyek terbaru mereka yang bekerja sama dengan perusahaan milik ayahnya Antony.
"Tiv?"
"Iya, Pak?"
"Gini aja, bilang sama yang ditugasin terkait laporan itu. Sekarang lebih baik kerjakan dulu aja sambil jalan. Nanti kalau pak Fatan sedang senggang, aku akan bicara dengaannya untuk solusi terkait hal itu. Ya?"
"Oke deh, Pak kalau gitu."
"Sip! Oh iya, sore pulang bareng sama aku ya? Kamu bawa mobil gak? Soalnya mobil aku masih di bengkel."
Ditempat yang berbeda, Lativa reflek mengautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Tumben banget mobilnya di bengkel dan belum selesai," ucapnya dalam hati.
"Gimana, Tiv ? Boleh gak?"