
Tiga bulan kemudian. Usia kandungan Nila sudah memasuki minggu ke dua puluh empat. Rencananya sore nanti, Nila dan Fatan akan melaksanakan acara 'gender reveral'. Di acara itu keduanya hanya mengundang anggota keluarga dan kerabat dekat saja.
Sebelum acara itu dimulai, Nila menyempatkan diri untuk pergi ke salon kecantikan. Bagi Nila berinvestasi melalui perawatan tubuh itu jauh lebih penting, dibanding beli barang mewah. Kalau tubuh terawat, mau pakai baju apapun tetap akan terlihat cantik dan pantas.
Tentunya Nila tidak berangkat sendiri. Ia ditemani oleh sang ibu mertua. Semenjak Nila hamil, sikap Lalisa berubah menjadi lebih melindungi menantu serta calon cucunya itu. Walaupun Nila orang baru di keluarga Wicak, tapi rasanya sudah seperti keluarga sendiri. Salon kecantikan yang Nila datangi pun tidak sembarangan. Lalisa lah yang merekomendasikannya.
"Selamat pagi, Nyonya."
Seorang pelayan menyapa sangat ramah saat Nila dan Lalisa datang.
"Pagi," sahut keduanya bersamaan.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya pelayan itu mengarahkan mereka ke sebuah resepsionis, yang nantinya harus melakukan registrasi terlebih dahulu.
"Kami mau perawatan, Sist ... Biasa full body, tapi khusus menantu saya ini perawatan yang aman untuk ibu hamil ya," kata Lalisa.
"Baik, kalau gitu mari saya perlihatkan sekalian jelaskan macam-macam paket perawatan disini."
Pelayan itu mengeluarkan sebuah tab lalu mengarahkan layarnya ke depan Lalisa dan juga Nila. Dia juga sambil menjelaskan kepada mereka seperti yang dibilangnya barusan.
"Nah itu dia macam-macamnya. Nyonya bisa isi form ini terlebih dahulu ya, sekalian mencantumkan paket apa yang akan diambil," sambung pelayan itu.
"Oke baik."
Usai mengisi formulir, keduanya langsung diarahkan untuk pergi ke sebuah ruangan. Dimana mereka harus berganti pakaian terlebih dahulu, barulah keduanya akan dilayani oleh terapis yang berbeda.
Dua jam berlalu, baik Nila maupun Lalisa sampai tertidur pulas. Keduanya dibangunkan karena baluran pijatan tadi harus dibersihkan terlebih dahulu dengan berendam air hangat ditambah taburan kelopak bunga mawar serta wewangian yang begitu khas saat memasuki indera penci*uman. Rasanya dari ujung kepala hingga kaki terasa sangat relaks.
Perawatan tubuh pun akhirnya selesai. Nila dan Lalisa segera berganti pakaian, dan setelah itu kembali pulang ke rumah.
.
.
.
.
Sementara di perusahaan. Fatan masih fokus di depan layar laptopnya. Sebentar lagi meeting dengan para kepala bagian divisi akan dilaksanakan. Namun ia masih di beri waktu untuk mengecek hasil laporan masing-masing divisi yang telah berada di tangannya.
Di sela fokusnya, tiba-tiba saja ada email masuk. Tetapi alamat email itu sangat asing bagi Fatan. Karena penasaran, ia pun akhirnya membukanya terlebih dahulu.
__ADS_1
Dear Fatan,
Masih inget gak sama aku? Ocha!
Rencananya akhir tahun ini aku akan kembali ke Indonesia. Oh iya, gimana nih udah move on belum dari masa lalu? hehe ...
Kalau ada waktu, kita ketemuan ya! Rencananya juga aku bakal menginap di Bali. See you!
Your Special Friend,
Ocha
"Ocha? Kemana aja dia selama ini? Kenapa baru sempat hubungi aku sekarang?" gumamnya. Namun mengingat waktu yang tidak banyak, akhirnya pesan itu ditinggalkan saja. Fatan kembali ke pekerjaannya.
Beberapa menit berlalu, pintu ruangannya pun ada yang mengetuk.
"Ya, masuk!" perintah Fatan.
Saat pintu terbuka, ternyata Rusli yang muncul. "Bos, kita harus meeting sekarang. Semua kepala divisi udah menunggu di ruang meeting."
"Oke!" Fatan menutup layar laptopnya tanpa dimatikan terlebih dahulu, kemudian membawa benda itu ke ruang meeting. Tidak lupa juga ponselnya. Sebab benda pipih berbentuk persegi panjang itu sangatlah berarti baginya.
Tiba di ruang meeting, semua orang yang hadir seketika berdiri dan memberi hormat saat Fatan masuk ke dalam ruangan.
Selama meeting berlangsung, raut wajah semuanya sama. Yaitu sangat serius memperhatikan pembicara yang ada di depan.
Hingga satu jam kemudian, meeting pun berakhir. Fatan dan Rusli keluar terlebih dahulu, dan disusul oleh para peserta meeting lainnya.
Ketika sudah kembali ke ruang kerjanya, Fatan menyuruh Rusli menghampirinya melalui sambungan telepon intern.
"Rus, tolong ke ruangan saya ya. Sekarang!"
Belum juga Rusli menjawab, Fatan sudah lebih dulu memutuskan panggilannya.
"Ada apa Bos panggil saya?" tanya Rusli.
"Saya baru ingat soal hasil meeting tadi, minta tolong ya bilang sama semua bagian terutama bagian produksi ... jangan ada lagi kesalahan komunikasi. Terus juga perkara merekrut pegawai baru, kalau belum butuh banget lebih baik menarik orang dari bagian lain yang ada di produksi juga. Intinya harus dimaksimalkan," jelas Fatan.
"Oh iya, Bos. Baik. Tapi memangnya kita masih menutup lowongan untuk pegawai baru, Bos?" Rusli ingin memaatikan supaya informasi yang tersebar ke pegawaj perusahaan bisa jelas.
"Saya rasa untuk bulan ini belum. Mengingat jumlah permintaan barang pun kenaikannya belum signifikan. Tapi saat saya lihat laporan dari bagian gudang, permintaan barang akan banyak saat akhir tahun nanti," jawab Fatan sambil meletakkan kedua tangannya ke atas meja.
__ADS_1
"Baik Bos nanti akan saya konfirmasi lagi ke bagian gudang. Khawatirnya bisa tiba-tiba ada pesanan mendadak seperti waktu itu," kata Rusli.
"Benar juga sih. Ya udah nanti kasih informasi ke saya juga ya, Rus!" ujar Fatan.
"Siap! Ada lagi yang mau dibicarakan Bos?" tanya Rusli karena pekerjaannya sangat padat.
"Gak ada. Kamu bisa kembali ke meja kerjamu."
"Baik, Bos. Kalau gitu saya permisi." Usai Rusli pamit, Fatan kembali mengecek email tadi. Dia membacanya lagi, tapi dalam hati tidak ingin membalas pesan itu. Sebab Fatan tahu, kalau Nila sampai membacanya pasti akan banyak pertanyaan yang di dapat. Alhasil, pesan itu pun di hapus olehnya.
.
.
.
.
Tepat pukul 4 sore, para tamu sudah berdatangan ke kediaman Wicak. Para pelayan yang berada di pintu masuk langsung mengarahkannya ke tempat acara yang berada di halaman belakang rumah.
Nuansa dekorasi perpaduan merah muda dan biru, dengan tema garden party tidak mengurangi suasana kekeluargaan di dalamnya. Meskipun tidak terlalu banyak tamu yang hadir, Nila menyambutnya dengan penuh suka cita. Terlebih Fatan, ada beberapa kolega yang merupakan temannya sendiri juga turut hadir.
Lima belas menit kemudian, acara pun dimulai. Seorang lelaki yang membawakan acara itu naik ke atas panggung. Dengan pembawaan yang begitu santai, membuat semua orang yang ada di acara itu merasa terhibur.
Hiburan dalam acara itu juga sangat mengisi dan mampu membaur pada semua terutama para anak-anak yang ikut bermain. Hingga tiba pada acara inti, Nila dan Fatan naik ke atas panggung lalu berdiri di belakang sebuah kotak besar berwarna merah muda dan biru.
"Sebentar lagi kita akan tahu nih, kira-kira apa sih jenis kelamin calon anak mereka ... Baiklah tanpa membuang banyak wakti, dalam hitungan ketiga kalian langsung buka sama-sama ya!" seru pembawa acara itu.
Senyum dari sepasang suami istri itu terus mengembang. Hati keduanya sangat bahagia.
"Satu ... Dua ... Tiga!"
Booom!!! Asap berwarna merah muda keluar dari dalam kotak. Bersamaan dengan itu, beberapa crew juga menyalakan tembakan kejutan ke arah panggung.
"Wah, ternyata baby girl! Selamat ya! Beri tepuk tangan semuanya pada calon mommy dan daddy ini!"
Suara gemuruh tepuk tangan pun santer terdengar meriah.
"Mari kita doakan untuk keluarga kecil ini, semoga kehamilannya lancar, ibu dan janinnya sehat sampai kelahiran nanti. Dengan bertambahnya malaikat kecil ditengah mereka, semoga bisa jadi penawar dan teruz diberi kebahagiaaan yang bertubi-tubi dar Tuhan Yang Maha Kuasa. Itulah akhir kata yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya selama acara ini mungkin ada yang tidak berkenan baik tingkah ataupun ucapan, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Selamat menikmati hidangan dan sampai berjumpa lagi!"
Usai pembawa acara pamit, para crew yang bertugas dibalik layar pun langsung menyalakan musik santai. Para tamu undangan satu per satu beranjak dari tempat duduknya untuk menikmati hidangan yang telah di sediakan. Sementara Nila dan Fatan juga ikut turun dari panggung dan berbaur dengan para tamu.
__ADS_1
Ketika langit mulai gelap, tanda malam pun tiba. Sebelum terlanjur larut, para tamu undangan berpamitan kepada tuan rumah untuk pulang ke rumah masing-masing. Tidak lupa juga ucapan selamat terus sampai pada Nila dan juga Fatan.
Setelah tempat acara sepi, keduanya kembali ke kamar untuk beristirahat.