Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 75


__ADS_3

"Selamat Tuan, jaringan penyebab kanker yang menyerang bagian otak Anda sudah sangat sedikit sekali. Nanti saya akan resepkan obatnya lagi untuk beberapa minggu ke depan. Kalau obatnya sudah habis, kembali lagi ke sini untuk memeriksakan ulang ya," jawab dokter itu tersenyum sampai terlihat guratan di kedua ekor matanya.


Manik mata Fatan seketika berbinar. Dia bahagia sekali. Itu artinya tidak lama lagi dia akan sembuh dan sehat seperti sedia kala. Akan tetapi hatinya masih merasa sedih, sebab sekarang tidak ada Nila disisinya untuk mendengar kabar baik ini.


"Saya sarankan untuk tetap menjaga pola makan, rutin olahraga minimal seminggu tiga kali dan satu lagi ... Jangan sampai stres," lanjut dokter itu sembari memberikan selembar kertas pada Fatan. "Dan ini resep obatnya."


"Baik Dok, saya akan usahakan. Terima kasih banyak," balas Fatan masih dengan ekspresi bahagianya. "Tapi Dok apa jaringan kanker itu bisa ada lagi tidak kalau sudah dinyatakan benar-benar sembuh?" tanya lelaki itu kemudian.


"Selama Anda selektif dan lebih peduli dengan diri Anda sendiri, kemungkinan besar tidak akan ada lagi. Mencegah lebih baik daripada mengobati bukan?" jawab dokter itu dan Fatan pun mengangguk paham.


Fatan kemudian pamit dan keluar dari ruangan itu untuk menuju bagian farmasi. Tiga puluh menit kemudian, Fatan sudah mendapatkan obat. Ia pun mengendarai mobilnya kembali ke hotel.


.


.


.


Sementara, Nila sudah berada di dalam pesawat komersial sendirian. Lantas perempuan itu tiba-tiba sadar setelah tadi sempat pingsan.


"Aku dimana?" gumamnya seraya menggesekkan tangan ke salah satu matanya. Sesaat kemudian dia melihat ke sekeliling. "Hah! Di pesawat? Mau kemana sebenarnya ini? Suamiku?" Nila mencari keberadaan ponselnya di kantung celana. Namun ternyata nihil, tidak ada apapun disana.


"Astaga! Kenapa bisa aku disini?" Perempuan itu berdecak kesal. Panik, takut dan gelisah menjadi satu.


"Orang aneh!"


Sontak Nila menoleh ke orang yang duduk di sebelahnya. Matanya memicing seraya menjauhkan wajah dari orang yang mencibirnya barusan.

__ADS_1


"Siapa yang aneh?" timpal Nila pada orang yang berjenis kelamin perempuan itu.


"Kamu lah siapa lagi!" jawabnya dongkol.


Nila pun menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi wajah seakan tidak terima. Lantas dia pun berdecak lalu mengempaskan napas kasar.


"Pesawat ini mau kemana sih?" Mau tidak mau, Nila bertanya padanya. Perempuan tomboy dengan wajah ketus dan gaya berpakaian seperti anak punk.


"Indonesia," jawab perempuan itu singkat. Lirikan matanya pun sangat sinis.


"Hah? Ke Indonesia?" Nila menggaruk kepalanya yang tidak merasa gatal. "Kacau! Mas Fatan masih disana. Siapa orang yang biarin aku naik pesawat ini sih?" Nila semakin frustasi dibuatnya.


Sedangkan perempuan itu lagi-lagi hanya melihat sinis ke arahnya.


"Oh iya, kamu tahu gak tadi aku ke sini diantar siapa?" tanya Nila memastikan.


"Aku tadi kayaknya pingsan deh," ucap Nila berpikir kembali lalu menoleh ke arah jendela. Di sana hanya tampak hamparan awan bak menyerupai lautan, putih dan berkabut.


"Pantas hembusan napasnya tadi beda." Perempuan itu menyadarkan punggung lalu memejamkan mata. "Mending kamu tidur lagi aja. Aku ngantuk banget soalnya. Sumpah tadi hampir aja jantungku copot gara-gara kamu!" ujar perempuan itu lalu dia pun benar-benar tertidur.


Sementara, Nila mengempaskan puggungnya pada sandaran kursi penumpang sambil melipat kedua tangannya di dada. "Pokoknya sampai di bandara nanti, aku mau langsung ke rumah ibu!" tekatnya bicara dalam hati dan pandangannya masih melihat ke luar jendela. Lantas dia berpikir lagi, "Tapi siapa ya yang bawa aku ke sini? Apa mereka sengaja mengirimku ke tanah air supaya menjauh dari suamiku?" batin Nila kembali berpikir keras.


Berhubung pesawat sedang dalam kondisi tenang, Nila berdiri dan pura-pura akan pergi ke toilet guna memastikan tidak ada penjahat di kabin pesawat tersebut.


"Gak ada yang mencurigakan sih di sini." Nila menelisik tajam ke seluruh kabin.


Namun ketika hendak masuk ke dalam toilet, tiba-tiba saja lampu emergency pesawat itu menyala.

__ADS_1


JLEG! Pesawat mendadak terempas sedikit kebawah. Nila hampir kehilangan keseimbangan, tapi beruntungnya ia masih bisa berpegangan pada sebuah siku dinding di sana.


"Mohon maaf atas ketidak nyamanan ini. Para penumpang diharap tenang. Karena pilot sedang berusaha mengendalikan pesawat ini lagi. Jangan lupa memakai pelampung yang terdapat di samping kursi Anda. Tetap ditempat, pakai sabuk pengaman dan berdoa, supaya kita semua bisa selamat."


"Hah! Ada apa ini? Kenapa pesawatnya terus berguncang?" Nila mendadak gelisah. Pikirannya langsung mengarah ke negatif. Dia takut setelah ini tidak dapat bertemu dengan suaminya lagi. Terlebih permasalahan yang sedang dialaminya dan menghantuinya itu belum ada titik terangnya.


Hanya dalam hitungan detik, pesawat itu terjun sangat cepat.


"Nona!" teriak seorang perempuan. Nila mencari keberadaan suara itu dan ternyata dia seorang pramugari yang sudah berdiri di dekat pintu. Tangannya dilambaikan memberi isyarat supaya Nila mendekat ke arahnya.


Tanpa berpikir lama, Nila yang seluruh tubuhnya sedang bergemetar, mendekati pramugari itu.


"Pegangan ke sini, saya akan bantu Nona untuk memakai pelampung," kata pramugari itu. Sementara Nila mengangguk patuh.


"Sekarang sepertinya kita berada di ketinggian kurang dari seribu meter di atas permukaan laut. Saya minta buang rasa takut. Kita akan lompat dari sini. Karena kemungkinan beberapa menit lagi pesawat akan menabrak sebuah gunung yang tidak jauh dari sini. Dan jangan sampai eratan tangan kita terlepas, paham?" kata pramugari itu memberi petunjuk usai keduanya memakai pelampung. Nila seketika tercengang.


Semua orang di kabin sudah berteriak sangat kencang, sedangkan pilot serta co-pilot pun sedang berusaha bekerja sama sembari menyambungkan radar ke terminal bandara terdekat dari sana.


"Setelah saya buka pintu, kita langsung lompat sama-sama. Siap ya?" Nila mengangguk cepat dengan rasa takut yang menguasai dirinya. Terlebih dibawahnya itu adalah laut. Tanpa banyak orang yang tahu kalau dirinya begitu fobia dengan air dengan dasar yang dalam. "Satu ... Dua ... Tiga!"


Pintu terbuka dan angin kencang berembus ke wajah mereka. Ketika melihat ke bawah, Nila seketika merinding dari ujung kaki hingga kepala. Ingatan akan kejadian saat masih kecil dulu tiba-tiba terlintas di kepalanya.


"Ayo Nona lompat!" perintah pramugari itu.


Tidak di sangka, saat Nila hendak melompat ke bawah ada seseorang yang menarik tangannya. Reflek pramugari itu ikut menarik tangan Nila. Keduanya sempat terpontang-panting karena orang itu.


Namun di detik terakhir pesawat itu akan menabrak sebuah lereng gunung. Nila terempas ke luar, sedangkan pramugari itu tetap di dalam pesawat dan pintu pun tertutup kencang.

__ADS_1


"Apa hidupku akan berakhir?"


__ADS_2