
Tanpa malam, mungkin kita tidak akan mengenal bintang dan juga bulan. Tanpa mengenal, mungkin kita tidak akan mengerti dan paham. Fase awal hingga akhir sebuah cerita pasti dilalui dengan yang namanya proses. Seperti halnya matahari yang sedang bergulir dari petang menuju malam.
Tepat pukul tujuh malam, Nila telah siap. Begitupun dengan Fatan. Seperti biasa, mobil yang dikendarai oleh Fatan berada di posisi paling belakang dari anggota keluarga yang lain. Padahal yang punya acara justru dia. Mereka memang terlalu santai, mau diprotes bagaimanapun pasti jawabnya hanya 'iya'.
Untuk mencegah Nila merasa mual di dalam mobil, Fatan pun mengganti aroma pengharum mobil dengan wangi yang sama seperti parfum yang dipakai oleh Nila. Ide itu tercetus ketika dirinya tidak sengaja melewati toko parfum bermerk saat akan perjalanan ke rumah.
"Mas, kok wangi mobilnya sama kayak parfum aku sih?" Nila menghirup aroma itu berkali-kali supaaya ia yakin.
"Iya, sengaja. Gimana kata kamu? Masih terasa mual?" tanya Fatan seraya menoleh dan penuh harap.
"Ya, udah gak terlalu mual sih. Tapi kok bisa kepikiran kayak gini?" tanya Nila penasaran.
"Aku ikuti kata hati aja," jawab Fatan sambil fokus mengendarai mobilnya.
Fatan bersorak bahagia dalam hati, idenya berhasil!
"Kalau begini, aku bisa pergi ke kantor," timpal Nila. Namun seketika raut wajah Fatan berubah tampak tidak suka.
__ADS_1
"Gak boleh!" tegas lelaki itu.
"Loh? Kenapa? Kan aku udah gak mabok kendaraan lagi," sahut Nila menatap curiga.
"Sayang, aku cuma pengen kamu fokus aja. Merawat diri, membahagiakan dirimu sendiri, kalau kamu bahagia. Kandungan kamu pasti bakal nyaman bukan? Kamu juga boleh kok ke kantor temenin aku kerja, tapi cuma sebatas menemani ya jangan ikutan pusing mikirin pekerjaan. Biar itu urusan aku dan orang-orang di kantor aja," celoteh Fatan membuat Nila langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Ternyata masih ada lelaki tampan yang sangat perhatian sekali. Kalau begini, mana mungkin aku gak luluh.
Nila terkesiap setelah tadi sampai tercekat menatap sang suami. "Iya Mas, terima kasih ya ...."
Fatan mengelus lembut kepala Nila. "Sama-sama, Sayang. Kan hasil kerjaku memang buat kamu dan keluarga kecil kita. Memangnya buat siapa lagi?"
Tanpa terasa keduanya sampai di sebuah resto. Fatan menurunkan Nila terlebih dahulu, sementara dirinya pergi untuk memarkirkan mobil.
Ketika Nila masuk ke dalam, lampu di ruangan tiba-tiba mati. Ia mendadak ragu untuk masuk. Akhirnya Nila menutup pintunya lagi dan menunggu Fatan di teras pintu masuk.
Beberapa saat kemudian, Fatang datang menghampiri Nila.
__ADS_1
"Loh, kok kamu gak masuk, Sayang?" tanya Fatan heran.
"Takut, Mas. Di dalam lampunya mati, gelap banget," jawab Nila dengan raut wajah polosnya.
"Ah. Masa sih? Bunda dan yang lainnya udah di dalam pasti. Tuh mobil mereka sebelahan di sana." Fatan meraih tangan sang istri lalu menggenggamnya. Namun saat hendak melangkah, tangan Nila langsung menahannya. Ia pun menoleh. "Kenapa Sayang?"
"Mas yakin mau masuk?" tanya Nila sebab telapak tangannya mulai dingin karena saking takutnya.
"Iya kalau gak masuk, nanti kamu lapar. Kasihan anak kita juga pasti udah pengen makan, Sayang. Ayok!" ajak Fatan menarik tangan Nila.
"Mas ...."
"Udah gak apa-apa. Kan sama aku," balas Fatan. Kata-kata itu mampu mengurangi rasa takut yang tengah dirasakan oleh Nila.
Fatan membuka pintunya, dan ...
"Surprise!"
__ADS_1
...****************...