
"Kenalan dong, saya orang yang selama ini ada buat Winda. Dia butuh apapun selalu saya beri. Sedangkan kamu? Apa gunanya kamu sebagai suaminya dia?" kelakar laki-laki yang bernama Yunadi itu di ujung telepon.
Bayu berdecih. "Memangnya kamu punya apa sampai bisa memberi apapun buat dia?"
"Perhatian, waktu, dan paling penting ... KE PU A SAN!"
Bayu terkekeh pelan lalu menganggukkan kepalanya sambil melihat Winda dengan tatapan remeh.
"Oh, kamu cinta sama dia?" tanya Bayu lagi pada laki-laki itu. Namun kali ini ia sengaja mengaktifkan loudspeaker-nya.
"Iya, saya sangat mencintainya dan ... dia pun begitu."
"Bagus kalau begitu, itu artinya setelah perceraian saya dengan Winda selesai, kamu bisa memiliki dia seutuhnya," kata Bayu tersenyum menyeringai pada Winda.
Akan tetapi Winda malah menggelengkan kepalanya dengan raut wajah memelas tampak sangat ingin dikasihani.
Bayu pun tiba-tiba memiliki ide konyol yang bisa menjebak Yunadi beserta Winda supaya mau dibawa ke kantor polisi untuk menjelaskan kesaksian mereka.
"Oke, meskipun saya bukan orang kaya seperti kamu. Saya akan melalukan apapun supaya Winda bisa bahagia bersama saya." Lelaki itu terdengar sungguh-sungguh dan sangat percaya diri.
Bagaimana tidak mau dengan perempuan cantik seperti Winda. Profesi sebagai artis terkenal dan banyak uang pula. Pantas saja Yunadi sangat mengagung-agungkan perempuan itu, apalagi dia sudah mendapat semuanya yang belum pernah Winda berikan kepada Bayu selama ini.
"Hebat sekali! Bagaimana kalau sekarang kita ketemuan? Saya yang akan jemput kamu. Anggap aja sebagai rasa terima kasih saya kepada kamu karena telah mencintai istri saya setulus hati," tawar Bayu. Tentunya penawaran itu sangat menggiurkan bagi Yunadi.
"Gak masalah. Dimana?" Lelaki itu menyanggupi. Bayu pun merasa senang.
"Nanti saya share location. Kamu tunggu aja."
"Oke."
Bayu langsung mengakhiri sambungan teleponnya. Sementara Winda sudah tampak tegang sejak tadi, ia pun seketika turun dari tempat tidur lalu bertekuk lutut sambil memegangi sebelah kaki Bayu.
"Minggir Winda," ucap Bayu masih sabar dengan suara pelan. Namun Winda semakin mengeratkan pegangannya.
"Maafin aku Mas. Aku salah, aku udah mengkhianati kamu. Harusnya aku gak ngelakuin itu. Aku gak mau pisah sama kamu," kata Winda berusaha menangis sampai tersedu di kaki suaminya.
"Aku sama sekali gak merasa dikhianati. I'm fine! Kalau kamu merasa itu salah, berarti yang kamu khianati itu pernikahan ini. Dari awal aku gak pernah ada rasa sama kamu, sedikitpun. Sekarang lebih baik kamu ikut aku!" tegas Bayu lalu mengempaskan tangan Winda dari kakinya.
__ADS_1
"Mas ... Aku belum mandi," kata Winda sambil mendongakkan kepalanya dan masih terdengar isakan tangisnya.
"Cepat! aku tunggu."
Winda beranjak lalu pergi ke kamar mandi. Sementara Bayu mulai menghubungi anggota polisi untuk membantunya menjebak Yunadi dan juga Winda. Lokasinya pun telah dikirim ke masing-masing kontak mereka.
...****************...
Sebentar lagi Bayu sampai di lokasi. Dimana tempat yang sudah ia rencanakan sebelumnya.
Dari kejauhan Winda sudah melihat Yunadi telah berdiri dipinggir jalan. Detak jantung perempuan itu semakin tak keruan. Ia bahkan terus merumat kedua tangannya. Rasa cemas, takut dan sedih semua jadi satu.
"Dia laki-laki itu?" tanya Bayu menunjuk ke arah Yunadi yang berada tidak jauh dari mereka.
"I-iya," jawab Winda semakin gugup dan perasaannya tiba-tiba merasa tidak enak.
Bayu menepikan mobilnya seraya mengeluarkan ponsel lalu memberi informasi kepada pihak kepolisian yang sudah berjaga di sana.
Ketika Bayu dan Winda turun dari mobil, beberapa aparat pun keluar dari persembunyiannya. Baik Winda maupun Yunadi sangat terkejut.
"Saudara Yunadi dan Saudari Winda, mohon ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan mengenai dugaan tabrak lari yang kalian lakukan!" ucap salah seorang anggota.
"Bawa saja mereka Pak. Nanti saya akan menyusul," kata Bayu. Lelaki itu langsung masuk ke dalam mobilnya kembali.
Winda dan Yunadi berhasil dibekuk lalu dibawa masuk ke dalam mobil polisi. Sementara Bayu melajukan mobilnya ke sebuah tempat dimana dulu pernah didatanginya bersama Nila saat mereka pertama kali bertemu.
...----------------...
Tempat dimana Bayu berada saat ini, dulunya sebuah taman yang ramai karena sering dikunjungi orang-orang komplek. Ya, taman itu ada di dalam komplek tempat tinggal Nila.
Kalau mengingat kenangan indah di masa lalu. Bayu tak habis pikir karena telah melepas Nila begitu saja. Padahal kisah mereka tidak sebentar, tapi 8 tahun lamanya.
Bayu duduk di salah satu kursi yang sudah mulai berkarat. Meskipun taman itu sepi tapi masih tampak terawat. Hanya saja kolam yang dulunya penuh air dan juga terdapat ikan, sekarang kering dan dipenuhi oleh dedaunan yang berguguran.
Bayu mengempaskan napasnya berkali-kali. Dadanya semakin terasa terhimpit, sesak hingga ingin sekali menangis saat ini juga. Andai kata-katanya saat ia memutuskan Nila waktu itu tidak tergesa-gesa, pasti sampai saat ini keduanya masih baik-baik saja. Sayang, nasi sudah menjadi bubur. Nila pasti kecewa sekali dengannya, pikir Bayu demikian.
Wajahnya menunduk dengan kedua tangan yang saling ditautkan di atas paha. Hatinya sangat tak menentu, kalut dan sedang butuh sandaran untuk berbagi keluh kesah.
__ADS_1
Lantas sebuah tangan menepuk pelan bahunya. Bayu menoleh, menegakkan tubuhnya dan menatap seseorang yang telah berdiri tepat di sampingnya.
"Nila ... " ucap Bayu lirih. Matanya memerah entah sejak kapan, namun ia segera mengusap wajah.
"Sedang apa kamu disini?" tanya perempuan berambut panjang itu seraya menatap heran.
"Ng ... Um, gak kok tadi aku cuma kebetulan aja lewat sini. Aku kira kondisinya masih sama kayak dulu, tahunya sekarang udah beda ya? Sepi," jawab Bayu, canggung dan salah tingkah.
Nila ikut duduk disebelahnya. "Iya, udah lama banget taman ini sepi. Paling kalau jam-jam segini di hari Minggu itu hanya beberapa orang aja yang nongkrong disini."
"Kamu sendiri, kok tahu aku disini?" Bayu bertanya balik pada Nila.
"Aku juga gak sengaja lewat, mau ke minimarket depan komplek. Terus aku gak sengaja juga lihat kamu. Awalnya, aku gak mau nyamperin kamu kayak gini. Aku takut Winda semakin benci sama aku. Tapi, entah kenapa aku cuma ingin menyapamu aja," jelas Nila. Sesekali perempuan itu melirik ke arah Bayu, lelaki yang pernah membuatnya menaruh harapan besar.
"Aku minta maaf ... " Bayu menunduk kembali. Sedangkan Nila hanya diam, menunggunya berkata lagi. "Aku yakin setelah keputusanku beberapa bulan yang lalu, hidupmu pasti gak mudah. Sampai-sampai aku gak nyangka, kalau ayah-mu jadi korban tabrak lari," sambung Bayu.
"Ya ... Mau bagaimana lagi? Sekarang aku berpikir kalau masa itu adalah bagian dari takdirku. Walaupun sampai saat ini aku masih gak tahu salahku apa dimata mama-mu. Apa karena strata sosial kita berbeda sekarang?" Nila mengungkapkan apa yang masih mengganjal di hatinya selama ini.
Bayu terdiam beberapa saat. Ia sedang berpikir untuk merangkai kata apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan mantan kekasihnya itu. Namun tiba-tiba ponsel Bayu berdering. Sepertinya Nila tidak akan mendapat jawaban atas pertanyaannya itu sekarang.
Home is calling ...
Bayu segera menjawabnya. Sebab tidak biasanya orang rumah menelepon. Perasaannya tiba-tiba takut terjadi sesuatu di rumahnya.
"Halo?"
"Den Bayu, Nyonya pingsan Den. Mukanya udah pucat sekali. Aden dimana?"
"Ya udah Bi. Saya segera pulang sekarang!" Bayu langsung mengakhiri panggilan tersebut.
"Nila, aku minta maaf karena belum bisa beri jawaban atas pertanyaan kamu tadi. Aku pergi dulu," kata Bayu kemudian beranjak dari tempat duduknya dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, Nila mengempaskan napasnya. "Dia bahkan gak bilang sampai ketemu dilain waktu. Udahlah, ayolah hati move on dari Bayu! Kemarin-kemarin udah hampir bisa. Masa karena habis ngobrol beberapa menit aja jadi gagal move on," gerutu Nila bermonolog lalu pergi dari taman itu ke tujuan awalnya.
...****************...
__ADS_1