
Tema makan siang hari ini adalah menu sehat. Nila yang memesannya melalui aplikasi online. Walaupun memang setiap hari yang disajikan untuk Fatan itu menu sehat, tapi kehadiran Nila menjadi lebih spesial bagi Fatan. Karena biasanya Fatan lebih sering makan sendiri di ruangan, kalau sedang tidak ada meeting di luar kantor dengan klien pas jam makan siang.
Nila menghampiri sang suami. Ia berdiri tepat di samping suaminya.
"Mas, udah jam istirahat. Makan siang dulu yuk!" ajak Nila lalu berpindah posisi menjadi duduk di pangkuan Fatan. Tangannya pun tidak tinggal diam, ia sengaja mengalungkan manja ke leher Fatan dengan tatapan menggoda.
Sementara Fatan yang mendapatkan perlakuan itu, tersentak kaget. Bagaimana bisa seorang Nila yang dikenalnya kalem, mendadak menjadi perempuan 'nakal' di depannya? Apa Nila sudah tidak sungkan lagi bertingkah manja pada suaminya? Selama ini Fatan yang selalu 'mengajak' saat akan melakukan hubungan suami istri. Atau mungkin Nila takut akan tergoda dengan perempuan yang lebih 'nakal' pada sang suami?
Fatan berusaha bersikap tenang, lirikan matanya tertuju pada petunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. Entah, hasrat seorang Fatan seperti melesat naik. Iapun menatap lekat kedua mata sang istri. "Kalau aku makan kamu gimana?" Ia membalas tatapan nakal yang tidak terduga.
"Mas ...." Nila membulatkan matanya, sedangkan kedua tangan Fatan melingkar di pinggangnya sengaja di eratkan sampai hampir tidak ada jarak diantara mereka.
"Siapa suruh duduk posisi begini? Kalau aku udah gak tahan gimana?" cecar Fatan sambil menaikkan kedua alis matanya, dan tiba-tiba menjepit hidung Nila dengan jari tangannya.
"Mas, ampun!" pekik Nila kesakitan. Karena terlalu gemas, alhasil hidungnya terlihat jadi merah saat Fatan melepaskan jepitannya. "Jahat banget sih, sakit tahu!" keluh Nila, manik matanya pun sampai berkaca-kaca.
"Maaf ya, lagi pula siapa suruh mancing-mancing!" tukas Fatan lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di seluruh area wajah Nila.
"Ya udah yuk, makan ... Aku sama dede udah kelaperan. Kalau aku makan duluan kamu bisa-bisa kehabisan," ajak Nila bernada manja seraya beranjak dari posisinya.
Fatan pun terkekeh geli. "Kalau habis kan bisa pesan lagi, Sayang ...."
"Ih ... Ayok makan siang dulu ya ...." Nila memasang wajah cemberut.
"Iya, iya ayok." Fatan akhirnya mau menuruti kemauan sang istri. Lelaki itupun kemudian beranjak dari kursi kebesarannya, lalu berjalan dengan datang yang ditarik oleh Nila.
.
.
.
.
Tak terasa sebentar lagi waktu jam pulang kantor akan tiba. Nila beranjak dari sofa dan hendak pergi ke toilet.
__ADS_1
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Fatan yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya.
"Ke toilet, Mas," jawab Nila menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah sang suami.
"Oh ya udah, aku mau ke bagian marketing sebentar ya," pamit Fatan, kemudian Nila pun menganggukkan kepala.
Fatan pun keluar dari ruangan dan Nila pergi ke toilet untuk bersiap-siap.
Beberapa menit kemudian, Nila keluar dari toilet. Namun ia belum melihat Fatan kembali. Sementara laptopnya masih menyala dan satu menit lagi waktunya pulang.
"Mas Fatan masih lama gak ya? Laptopnya masih nyala. Apa aku matikan aja kali ya. Coba deh aku lihat dulu," gumamnya lalu menghampiri meja kerja sang suami dan duduk di kursi kebesaran.
Saat melihat meja kerja yang masih belum rapih, Nila pun membereskannya terlebih dahulu. Lantas tiba-tiba sebuah email masuk muncul di layar laptop milik Fatan. Nila tidak sengaja membacanya. Namun melihat sekilas isi pesannya itu bersifat pribadi, maka karena penasaran Nila membukanya.
Dear Fatan,
Kok pesanku gak dibalas sih? Oh iya boleh minta nomor ponsel kamu gak? Biar kita bisa kabar-kabaran dan dekat lagi seperti dulu. Jangan lupa balas pesanku yang ini ya.
Regards,
"Pesan? Apa sebelumnya dia pernah kirim pesan ke mas Fatan? Tapi dia bilang gak dibalas, apa mungkin mas Fatan gak respon dia? Aku simpan deh alamat emailnya. Siapa tahu butuh." Nila bergegas melakukan niatnya, tapi karena pesan itu sudah terbaca, akhirnya ia memilih menghapusnya.
Sepintas Nila merasa cemburu serta bertanya-tanya. Siapa Ocha? Apa dia masa lalu Fatan?
Tetapi, perempuan itu pada dasarnya tidak begitu saja menerima hal-hal negatif tanpa ada konfirmasi langsung dari sang penerima. Alhasil Nila mencoba bersikap biasa saja, dan tetap berpikir positif.
Tak lama kemudian, Fatan masuk ke ruangan dan melihat Nila duduk di kursinya. Nila tersenyum manis di hadapan suaminya.
"Kamu udah selesai, Sayang?" tanya Fatan.
"Udah, Mas. Mau pulang sekarang?" jawab Nila lalu bertanya balik.
"Oke, kita pulang sekarang. Tapi laptopku belum dimatikan. Bisa minta tolong, Sayang?" pinta Fatan. Lelaki itu tidak curiga sama sekali dengan Nila. Sementara Nila pun mengangguk penuh semangat.
Usai semuanya rapih, keduanya keluar dari ruangan itu. Nila senantiasa terlihat bahagia, ia berusaha melupakan hal tadi dan enggan bertanya kepada Fatan sebelum Fatan sendiri yang bercerita.
__ADS_1
.
.
.
.
Tiba di rumah, mereka berpapasan dengan Lalisa yang juga baru turun dari mobil.
"Bunda darimana?" tanya Nila, berjalan menghampiri ibu mertuanya.
"Tadi habis temenin bibi buat belanja ke supermarket. Soalnya ada bahan makanan yang udah habis. Ya. Bunda bosen di rumah terus, jadi ikut aja deh." Lalisa kekeh geli. Memang kalau dilihat dari raut wajahnya saat ini ia tampak lebih segar. Padahal sudah sore dan belum mandi juga.
"Oh gitu ya, Bun. Aku kira Bunda dari salon, seger banget sih kelihatannya," puji Nila.
Kedua perempuan itu berjalan di depan Fatan. Memang kalau istrinya sudah sama sang ibu, dia terkadang seakan dilupakan. Terlebih kalau perbincangan keduanya sangat seru, Fatan siap-siap jadi patung.
"Huh! Tadi tuh ya Bunda ngantuk banget tapi gak bisa tidur. Untung si bibi datang, ya sekalian refreshing deh! Kapan-kapan ikut Bunda belanja bareng lagi ya. Bagusnya sih kalau kandungan kamu udah tiga puluh enam minggu keatas," ujar Lalisa.
"Memangnya kenapa Bun? Masih beberapa minggu lagi dong!" sahut Nila.
"Soalnya diwaktu trimester tiga itu, kamu harus banyak gerak. Jalan kaki, senam hamil, sama ... " Lalisa mendekatkan wajahnya ke telinga Nila. "Sering-sering ditengokin suamimu," ucapnya tapi suaranya sengaja dikeraskan karena ada Fatan di belakang Nila.
Mendengar Lalisa bicara seperti itu, Nila pun tertawa. "Harus ya itu, Bun?"
"Harus!" tegas Lalisa seraya melirik tajam ke arah Fatan.
"Biasa aja Bun lihatnya. Fatan juga tahu," timpal Fatan lalu memutar malas bola matanya.
"Bagus! Ya udah kalian mandi dan istirahat dulu. Nanti pas makan malam jangan kelamaan ya keluar dari kamarnya. Gak bagus loh makan terlalu larut malam!" kata Lalisa kemudian berlalu dari hadapam anak dan menantunya.
Nila melirik ke arah Fatan. "Ditengokin itu apa sih Mas?"
Mendengar pertanyaan itu, Fatan langsung menepuk keningnya. Dia kira Nila tahu apa yang dimaksud 'ditengokin' seperti apa yang dibilang bundanya tadi, tapi ternyata ... Tidak mengerti.
__ADS_1