
"Waaaw! Pagi-pagi ada yang dapat kiriman bunga nih!" seru Betty yang baru saja tiba. "Keren sih kamu, baru beberapa hari kerja disini udah dapat penggemar," sambungnya merasa iri.
"Apaan sih Bet. Aku justru takut tahu!" elak Lativa. Dalam hatinya takut kalau Antony yang melakukan hal itu.
"Kok takut sih? Apalagi kalau yang deketin orang yang kerja di perusahaan ini juga. Pasti uangnya banyak," timpal Betty. Karena memang setahunya itu, penghasilan di perusahaan pimpinan Fatan ini di atas rata-rata daerah Jakarta. Padahal gaji pun beragam sesuai dengan lulusan sekolah, posisi juga mempengaruhi, jadi tidak bisa disama-ratakan.
"Ah, kamu ini Bet!" sahut Lativa lalu memindahkan bucket bunga itu ke kolong mejanya. Hal itu dikarenakan di atas meja kerja Lativa sudah banyak dokumen yang menumpuk, lalu duduk di kursi.
Betty memutar malas bola matanya, "Tetap aja Tiv. Kamu harus bersyukur ada yang lirik disini. Seandainya ada laki-laki di perusahaan ini yang mau aku deketin ... Eh salah, deketin aku maksudnya. Apalagi gajinya besar, sebesar otot lengannya. Duh, beneran deh gak bakal aku tolak!"
"Kerja, kerja! Masih pagi udah menghayal aja sih kamu tuh. Dimana-mana kalau mau dapat uang banyak itu kerja, Bet. Ya walaupun ada lelaki kaya raya yang mau sama kita, tetap aja kalau kita punya penghasilan sendiri pasti lebih leluasa buat pakainya," timpal Lativa.
Betty langsung melirik ke arah Lativa. "Memangnya kamu mau kerja terus, Tiv? Gak mau gitu jadi ibu rumah tangga aja yang cuma di rumah, urus anak, layani suami, udah."
"Gak sesimpel itu tahu gak sih. Pada masanya nanti pasti kita punya situasi dan kondisi yang berbeda. Memangnya kamu kira jadi ibu rumah tangga itu gampang?" Lativa menghela napas. Jelas dirinya masih belum siap dan belum puas dengan masa mudanya.
"Gak sih, hehehe ... Tapi kalau ada asisten rumah tangga itu gampang deh," sahut Betty sambil terkekeh, sedangkan Lativa hanya menggelengkan kepalanya.
"Omong-omong, laporan yang kemarin kamu buat udah selesai belum? Soalnya hari ini harus diserahin ke pak Rusli, buat di tanda tangani pak Fatan," kata Lativa mengingatkan Betty. Terlebih atasan mereka yang ketusnya bukan main.
"Laporan?" Betty langsung menyalakan laptop nya. "Astaga, Tiva ... Kayaknya kehapus deh. Duh gimana ini? Jam berapa sih di serahinnya?" Betty mulai panik.
Lativa mengangkat kedua bahunya bersamaan. "Kayaknya sih antara jam sembilan atau gak sepuluh. Soalnya di jam-jam segitu bos-bos baru aja selesai meeting."
Betty langsung melihat ke arah waktu yang terpampang jelas di layar laptop. "Apa? Satu jam lagi dong? Aduh!"
"Udah gak usah panik. Sana kerjain. Bukannya gak sampai satu jam juga bisa selesai itu laporan," sanggah Lativa dengan santainya.
"Oh iya ya, hehehe." Betty segera membuat ulang laporannya yang sempat terhapus.
Benar saja, tidak lama setelah itu Jenna datang. "Betty, Tiva ... Hari ini ada tiga klien yang ingin bernegosiasi untuk kerjasama. Saya minta, kalian bisa datang tepat waktu," katanya terdengar tegas.
__ADS_1
"Semuanya minta ketemuan di luar kantor, Bu?" tanya Lativa, sedangkan Betty masih curi-curi mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jenna karena masih fokus membuat laporan.
"Iya, nanti alamatnya akan saya share ke kalian." Jenna menoleh ke arah Betty yang terlihat sibuk pada laptopnya. "Betty!" panggilnya.
"Iya, Bu!"
Lativa mengulum bibirnya menahan tawa.
"Laporan yang saya minta kemarin udah selesai belum?" tanya Jenna. Seketika Betty langsung keringat dingin. Apalagi saat melihat tatapan Jenna seperti ibu tiri jahat.
"Laporan yang mana ya, Bu?" Karena terlalu panik, Betty sampai salah mengajukan pertanyaan. Ia sampai mengerutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Loh kok yang mana sih? Memangnya laporan yang harus kamu buat berapa banyak? 'Kan cuma satu," timpal Jenna mulai geram.
Betty meringis. "Maaf Bu, ini lagi saya buat ulang. Kemarin kelupaan disimpan, jadi terhapus otomatis." Dia merasa sangat deg deg kan sekali.
"Astaga!" pekik Jenna dengan suara tinggi. Sementara Lativa terus memberi kode kepada Betty sambil mengusap dadanya sendiri dan bilang 'sabar' tanpa bersuara.
.
.
.
.
Disela waktu makan siang, Lativa memilih keluar kantor karena harus menyerahkan berkas kepada Puji. Namun ketika dirinya hendak masuk ke dalam mobil, terdengar suara lelaki yang memanggilnya.
"Lativa!"
Perempuan yang dipanggilnya pun menoleh ke sumber suara. Ternyata Rusli yang memanggilnya.
__ADS_1
"Ada apa Pak Rusli?" tanya Lativa mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya kembali.
"Kamu mau kemana?" Rusli bertanya balik.
"Saya mau nyerahin berkas ke kantornya bu Puji, Pak." Lativa menunjukkan sebuah map coklat yang sedang dipegangnya.
"Sendirian? Apa mau saya antar?" tawar Rusli. Lelaki itu tidak sedang berbasa-basi, dia memang tulus untuk menemani Lativa jika memang Lativa mau.
"Iya, Pak. Sendiri ... Gak usah, Pak. Saya bisa kok sendiri. Alamat kantornya juga gak jauh dari sini, sekalian saya juga mau beli makan siang di luar kantor. Mungkin Pak Rusli mau titip makan siang?"
"Oh nggak. Saya udah pesan makan siang tadi bareng bos ... Um, kamu beneran gak mau diantar sama saya?" Rusli, Rusli. Sepertinya dia memang tidak bisa melihat Lativa sendirian. Padahal pekerjaannya hari ini cukup padat. Kalau sampai Fatan mengomel, bisa habis dia ... Di bully!
"Benar, Pak. Terima kasih atas tawarannya. Omong-omong maaf saya gak punya banyak waktu. Kayaknya saya harus cepat pergi, soalnya waktu jam makan siang udah semakin sedikit," kata Lativa yang sedikit tidak enak pada Rusli saat berkata demikian.
Rusli melihat ke arah arlogi yang melingkar pada pergelangan tangannya. "Oh iya benar! Ya udah kamu hati-hati di jalan ya. Kalau ada apa-apa, atau butuh sesuatu bisa hubungi saya."
"Baik, Pak. Kalau gitu saya permisi ya." Lativa menunduk hormat lalu berbalik badan dan membuka pintu.
Setelah mobil yang dikendarai Lativa pergi, kini giliran Rusli masuk lahi ke dalam perusahaan.
Sepanjang jalan Lativa pun menyadari, kata 'aku' yang diucapkan Rusli kemarin hanya sebuah spontanitas saja.
"Memang pada dasarnya sikap lelaki yang jatuh cinta itu hampir mirip. Bedanya dari cara berpikir kita terhadapnya, atau bisa jadi karena memang lelaki itu tulus."
Sehatinya berharap pada manusia itu jauh lebih tinggi resiko sakit hatinya, dibanding pada Tuhan.
Tanpa terasa menyetir sambil mendengarkan musik santai, ditambah pikiran sedang tidak baik-baik saja, Lativa akhirnya sampai di depan sebuah kantor pengacara milik Pujiningdyah.
Ia turun seraya membawa tas serta tidak ketinggalak berkas yang diminta Puji kemarin sebagai persyaratan pengajuan gugatan cerai. Kebetulan Puji memang sedang berada di kantornya. Lativa pun diberi sambutan hangat oleh sang empunya.
Namun ketika Lativa baru saja masuk, ia takjub akan dekorasi ruang kantor Puji. Di area dinding, banyak sekali bingkai foto. Dari sekian banyak foto, ada satu foto yang sangat dikenali Lativa.
__ADS_1
"Dia ..."