
Pesawat yang Fatan tumpangi telah mendarat dengan aman dan mulus di bandara Soekarno-Hatta. Usai mengambil koper di bagian pengambilan barang, dia menghubungi sekertarisnya.
"Rus, kamu dimana?" tanyanya seraya berjalan menghampiri salah satu kursi kosong.
"Masih di kantor, Bos. Sebentar lagi mau pulang. Ada apa, Bos?"
"Bisa temui saya sekarang di bandara?"
"Bos pulang lebih awal? Apakah ada masalah?"
Fatan mengulum bibirnya. "Nanti akan saya beritahu. Saya tunggu." Lantas sambungan telepon itu diputus olehnya.
Cukup lama Fatan menunggu, Rusli akhirnya datang juga.
"Maaf, Bos udah buat nunggu lama." Rusli menunduk hormat.
"Iya gak apa-apa." Fatan memberi lirikan kepada Rusli supaya duduk di kursi kosong disebelahnya.
Rusli mengangguk patuh. "Sebenarnya ada apa, Bos?" tanyanya kemudian beberapa saat setelah duduk.
Fatan mulai menceritakan semuanya. Sementara Rusli tampak serius mendengarkan apa yang sedang Fatan bicarakan.
"Saya harap kamu jangan beritahu siapapun termasuk ibu saya maupun ibu mertua saya. Terlebih Lativa, saya benar-benar butuh bantuanmu sekarang," tegas Fatan diakhir ceritanya.
"Baik Bos. Saya mengerti. Kalau begitu, saya akan suruh beberapa orang untuk segera mencari keberadaan Bu Nila," kata Rusli. "Tapi omong-omong, sekarang Bos mau menginap dulu di hotel atau pulang ke rumah?" sambungnya.
"Ya, saya paling mau menginap di hotel dekat sini. Kalau pulang ke rumah, cari mati itu namanya!" Fatan mencebik seraya meliruk sinis ke arah Rusli.
Sontak Rusli menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sambil cengengesan. "Oh iya ya, maaf Bos."
"Ya udah .... " Fatan beranjak dari tempat duduknya. "Saya akan mencari hotel sekarang. Jangan lupa segera lakukan perintah dari saya!" lanjutnya tegas.
"Baik, Bos." Rusli ikut berdiri lalu menunduk hormat ketika Fatan berbalik badan dan pergi dari hadapannya.
.
.
.
__ADS_1
.
Sedangkan di salah satu hotel berbintang di pusat kota Jakarta, Nila baru saja selesai mandi. Lilitan handuk di tubuh dan kepala masih dipakainya sambil memilih pakaian yang dibelinya ketika di Bali tadi untuk ia kenakan.
Meski hanya beberapa potong dress serta pakaian dalam, setidaknya bisa ia gunakan selama menengkan diri di hotel itu. Sejak usia kandungannya masuk trismester tiga, Nila memang tidak pernah lagi memakai celana, termasuk setelan piyama tidur. Ia lebih senang memakai dress panjang sampai ke mata kaki dengan lengan tiga perempat. Mungkin bisa dibilang, pakaian itu sudah menjadi pakaian hariannya.
Setelah memakai baju, Nila duduk di tepi ranjang. Ia menoleh ke arah ponsel yang masih tergeletak rapih di atas meja nakas dengan kondisi mati.
"Kalau aku nyalakan, nanti mas Fatan bisa nemuin aku disini. Aku merasa lebih baik untuk sementara waktu menghilang darinya. Apalagi kalau membahas soal perempuan itu. Menyebalkan sekali!" gerutunya lalu membaringkan tubuh dengan posisi miring ke kanan.
Mengingat sebentar lagi akan makan malam, Nila menonton televisi untuk membunuh rasa bosan. Akan tetapi, merasa tubuhnya lebih segar dan relaks karena habis mandi, Nila mulai mengantuk. Alhasil tanpa sadar, ia tertidur pulas dan televisi yang ditonton olehnya masih dalam keadaan menyala.
Tepat pukul setengah delapan malam, Nila terbangun karena merasa tersentak. Perutnya terasa kencang dan seperti ada dorongan yang sangat kuat.
"Au! Apa ini yang namanya kontraksi?" ucapnya bermonolog berusaha menahan dan menerapkan ilmu yang diajarkan selama kelas hamil.
Nila bangun lalu duduk sejenak. Mencoba mengatur napas dan mulai menggerakkan tubuh untuk meminimalisir rasa sakit yang menjalar dari punggung hingga tulang ekor.
"Ya Tuhan, kenapa rasanya semakin lama terasa sakit? Padahal aku belum waktunya bersalin." Nila terus mencari posisi nyaman.
Durasi waktu kontraksi yang di alaminya semakin dekat. Tiba-tiba saja .... Pluksrrrrrr .....
Nila semakin hilang kesadaran, tapi bagaimanapun ia harus tetap kuat. Mungkin saja anak yang dikandungnya itu ingin lahir lebih cepat dari hari perkiraan, pikirnya demkian. Ia tetap mengatur napas sambil tersenyum. Perlahan ia berjalan mendekat ke sebuah telepon untuk meminta bantuan.
Sambil bergemetar, Nila menekan nomor resepsionis hotel.
"Selamat sore, ada yang bisa kami bantu Bapak atau Ibu?"
"Sore ... saya di kamar seratus tujuh puluh empat. Tolong panggilkan saya ambulance. Saya mau melahirkan!" Nila tanpa sengaja berteriak karena tiba-tiba saja ada dorongan yang sangat kuat.
"Apa?" Resepsionis pun tidak kalah terkejut. "Baik Bu, tunggu sebentar ya."
Setelah sambungan telepon terputus, resepsionis itu langsung menghubungi rumah sakit terdekat. Selanjutnya sembari menunggu ambulance datang, dia melapor ke atasannya supaya bisa menghampiri kamar tempat Nila menginap terlebih dahulu untuk melihat keadaan tamunya.
Beberapa menit berlalu, beberapa anggota medis datang membawa kursi roda. Nila dibantu di naikkan ke atas kursi itu dengan hati-hati. Dalam keadaan masih menahan mulas, sesekali Nila merintih. Kini matanya semakin berkaca-kaca.
Ketika Nila sedang masuk ke dalam mobil ambulance, sebuah mobil taksi berhenti tidak jauh dari mobil tersebut. Lantas turun seorang laki-laki, disusul koper yang dikeluarkan dari bagasi. Lelaki itu tampak heran melihat mobil ambulance terparkir di depan lobby hotel.
Perasaannya mendadak tidak enak. Hatinya pun sangat tergugah ingin bertanya kepala salah satu pegawai hotel.
__ADS_1
"Permisi, yang tadi itu tamu hotel ini?" Dia melihat ke arah nametag pegawai hotel dengan jabatan manager.
"Iya benar."
"Ada apa dengannya? Apa telah terjadi sesuatu dengannya?" tanya lelaki itu yang tidak lain adalah Fatan. Dia semakin penasaran.
"Tadi beliau menelepon resepsionis, lalu meminta dipanggilkan ambulance. Beliau bilang kalau dirinya akan melahirkan."
Fatan tercekat, dia sampai bersusah payah menelan ludahnya. "Kalau boleh tahu, nama tamunya siapa ya?"
"Maaf Pak, saya juga tidak hafal nama aslinya. Soalnya yang saya tahu hanya nomor kamarnya saja."
"Boleh gak saya minta datanya? Kebetulan saya lagi cari istri saya." Fatan memelas memohon kepada manager hotel itu.
"Mari ikut dengan saya, soalnya yang mengurus data tamu yang datang dan keluar itu ada di bagian resepsionis." Manager itu mempersilahkan Fatan masuk ke dalam dan membawanya ke depan meja resepsionis.
Setelah data di cek kembali, ternyata Nila sengaja meminta kepada resepsionis itu untuk dirahasiakan keberadaannya. Sehingga Fatan tidak bisa mendapat informasi apapun kecuali atas izin dari Nila sendiri.
Bagaimanapun Fatan tidak bisa memaksa, dan dia memilih check in di hotel itu. Setelah mendapat kunci, Fatan lekas menuju kamarnya.
.
.
.
.
Sementara di rumah sakit, Nila baru saja tiba dan langsung ditaruh di salah satu tempat tidur yang ada di ruang instalasi gawat darurat. Seorang perawat bergegas menghampiri Nila dan memeriksakannya.
"Bu, ini udah bukaan enam. Kita ke ruang bersalin sekarang ya? Air ketuban Ibu juga udah mulai berkurang, saya khawatir janinnya akan menelan air ketuban," jelas perawat itu dengan tegas.
"Bukaan enam?" tukas Nila terkejut. "Tapi saya belum mengurus administrasi, Sus," sambungnya.
"Ibu gak usah khawatir, yang jelas sekarang Ibu harus berjuang dulu di fase aktif ini ... Apa Ibu bawa buku kontrol hamil?"
Nila baru teringat, ia pun memelas menatap perawat itu lalu menggelengkan kepala. "Saya gak bawa, Sus. Bukunya di rumah."
"Ya udah gak apa-apa. Nanti sambil menunggu bukaan lengkap, Ibu akan melakukan beberapa tes ya, salah satunya tes darah. Terus saya minta nomor telepon keluarga yang Ibu hafal untuk memberitahu keadaan Ibu."
__ADS_1
Nila sedang tidak bisa berpikir. Ia hanya menganggukkan kepala saja. Kontraksi yang dialaminya saat ini benar-benar membuatnya tidak fokus terhadap hal apapun. Terlebih kejadian ini baru pertama kalinya bagi Nila.