
Dua minggu kemudian.
Hari yang dinanti Lativa dan Rusli akhirnya tiba. Persiapan yang bisa dibilang santai tapi serius, pun membuahkan hasil yang sesuai dengan keinginan.
Acara itu digelar di salah satu restauran ternama yang tidak jauh dari rumah Mirna. Memang mengenai tempat ada perbedaan dari rencana awal yang ingin Lativa diadakan di rumah secara sederhana. Namun dari Rusli sendiri menginginkan yang terbaik dimata keluarga Lativa ataupun dirinya.
Mereka sempat mengalami perdebatan alot ketika membahas hal tersebut. Hingga akhirnya orang-orang terdekat pun ikut turun tangan untuk memberi nasehat pada mereka. Tidak dapat dipungkiri, sejauh keduanya mempersiapkan acara itu, baik Lativa ataupun Rusli hampir jatuh sakit.
Meski demikian, pengalaman itu menjadi hal terindah sepanjang perjalanan mereka. Banyak hal yang bisa dipetik, satu diantaranya keduanya bisa menunjukkan kalau visi dan misinya sama, satu tujuan.
Tepat pada pukul 8 pagi, para tamu undangan beserta keluarga besar sudah hadir di dalam ruangan itu. Lativa dan Rusli sengaja tidak mengambil konsep di luar ruangan, sebab cuaca akhir-akhir ini sedang mengalami pancaroba yang sangat signifikan. Maka dari itu, acara diadakan di dalam ruangan.
Keluarga inti dari kedua belah pihak pasangan sudah duduk saling berhadapan. Sementara tamu undangan duduk menghadap mereka. Suasana berubah hening ketika pembawa acara itu telah membuka jalannya acara.
"Selamat pagi semua!"
"Pagi."
"Gimana kabarnya hari ini?"
"Baik!"
"Ya syukurlah kalau semuanya dalam keadaan sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan lahir dan batin selalu oleh Tuhan ya ... Oke, pertama-tama saya sebagai pembawa acara juga mengucap syukur karena sudah diberi kesempatan berdiri disini untuk membersamai dalam acara lamaran Lativa dan Rusli ! Mari semua bertepuk tangan."
Suara riuh tepuk tangan menggema ke seluruh ruangan.
Pembawa acara itu mampu membuat suasana tetap santai. Dari mulai sambutan perwakilan kedua pihak keluarga, sampai pada sebuah momen tukar cincin. Senyum dan tawa tak lepas dari para tamu yang hadir, terpasuk pasangan kekasih itu sendiri.
Usai acara puncak selesai, pembawa acara pun menutup jalannya acara. Lantas setelah itu, acara bebas.
Acara ini menjadi momen dimana keluarga yang tadinya jarang bahkan hampir tidak pernah bertemu, akhirnya dipertemukan. Termasuk Jarfin dan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Saat telah keluar dari penjara, Jarfin memilih tinggal bersama orang tuanya di kampung. Dia malu jika tetap di Ibu Kota dan bertemu dengan keluarga Mirna. Tetapi, saat ini dia datang. Dengan mengenyampingkan rasa malunya, Jarfin memberanikan diri menemui guna bersalaman dengan Nila dan juga Fatan. Karena sebelumnya dia sudah lebih dulu bicara pada Mirna ditemani orang tuanya.
"Hai, Kak."
Nila yang saat ini sedang menggendong Ara sambil berbincang dengan saudaranya yang lain, pun menoleh ke sumber suara.
"Jamal?" Nila menautkan kedua alisnya. Ia sedikit menjauh serta pamit sebentar pada sanak saudaranya yang lain. "Ada apa?"
Tidak jauh dari tempat Jarfin berdiri, Nila juga melihat keberadaan Widya yang sedang berbincang dengan Mirna.
"Kak, aku mau minta maaf ya atas kejadian waktu itu," kata Jarfin pelan.
"Oh iya, gak apa-apa. Kakak juga udah maafin kamu. Yang penting jangan diulangi lagi ya. Omong-omong sekarang kamu kerja dimana?" Dengan kerendahan hatinya, Nila tetap menyambut hangat niat baik Jarfin.
"Aku jaga toko punya mama, Kak. Kebetulan pegawai sebelumnya mengundurkan diri karena harus melahirkan dan pulang ke kampung halaman. Ya daripada toko dipegang orang lain, bapak sama mama kasih percayaan ke aku," jelas Jarfin. Sementara Nila menghela napas. "Habisnya disini gak ada harapan," sambungnya pelan.
"Ya bagus dong. Itu artinya orang tua kamu masih sayang. Coba kalau gak, mungkin kejadian kemarin mereka udah usir kamu dari rumah," balas Nila.
"Iya, menurut kamu dia mirip siapa? Kakak atau Mas Fatan?" tanya Nila.
"Um, coba aku lihat." Jarfin memperhatikan Ara sangat serius. Bayi yang belum genap 2 bulan itu mulai sadar diperhatikan olehnya. Bahkan Ara ikut memperhatikan Jarfin tanpa berkedip.
"Hai, adek cantik." Lelaki itu menyapa Ara dengan memberikan senyum termanisnya. Akan tetapi bukannya tertawa, Ara malah terkejut dan menangis. "Kak, dia nangis," ujarnya ikut terkejut.
"Yah, Ara kok nangis." Nila berusaha mendiamkan anaknya terlebih dahulu. "Cup, cup, cup ... Ara kenapa nangis? Gak apa-apa kok, om nya baik."
Di pintu masuk, Fatan yang baru saja masuk. Dia melihat putri kecilnya menangis. Dengan sigap, dia langsung menghampiri sang istri. Dia jug melihat Jarfin di sana. Namun tatapannya begitu dingin. Karena memang sejak awal, Fatan maupun Jarfin tidak pernah menyapa hangat. "Ara kenapa, Sayang?" tanyanya. Dia segera mengambil alih anaknya dari tangan Nila.
"Tadi sewaktu Jarfin menyapanya, Ara langsung nangis. Mngkin karena Ara baru lihat Jarfin, jadi dia merasa asing," jelas Nila.
Namun ketika sudah berada di tangan Fatan, tangis Ara langsung terdiam. Melihat seperti itu, mungkin benar apa yang dikatakan oleh Nila barusan, pikir Fatan demikian.
__ADS_1
"Kak Fatan ..." panggil Jarfin lalu menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat.
"Ada apa?" tanya Fatan dingin.
"Aku cuma mau minta maaf," kata Jarfin.
"Iya, udah saya maafin." Suara Fatan terdengar ketus. "Sayang, aku bawa Ara ke sana ya," ucapnya pada sang istri seraya menunjuk ke barisan kursi paling depan.
Nila mengikuti arah pandang suaminya lalu menganggukkan kepala. "Oh iya, Mas."
Sesaat setelah Fatan pergi, Nila dan Jarfin berbincang kembali. Kini keduanya menghampiri aneka camilan yang ada di atas meja prasmanan, lalu duduk di salah satu kursi.
"Jamal, sekarang kamu udah punya gebetan belum?" tanya Nila usai keduanya duduk saling berhadapan dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Hanya disela dengan 2 buah kursi kosong.
"Ah, Kak Nila ini. Aku belum punya apa-apa buat ngegebet perempuan. Lagipula di kampung, perempuannya rata-rata baru lulus SMA," jawab Jarfin. Nila melihat memang ada perubahan dari pemikiran adik sepupunya itu. Tidak seperti sebelum masuk penjara yang lebih serampangan dari Fatan dan terkadang tidak tahu aturan.
"Bukannya bagus kalau begitu? 'Kan kamu suka daun muda. Apalagi mereka baru banget bisa dipetik," timpal Nila seraya terkekeh.
"Gak lah, Kak. Aku belum kepikiran kesitu. Semenjak pamorku di kampung jadi turun drastis gara-gara dapat lebel mantan napi, jadi aku harus kembalikan dulu nama baik bapak sama mamah. Walaupun memang secara materi orang tuaku masih dibilang sangat mampu, ya aku biarin dululah para daun muda itu berpuas diri dimasa muda mereka. Siapa tahu kalau aku udah siap, nanti satu diantara mereka bakal aku petik yang paling bagus bibit, bebet dan bobotnya." Mendengar ucapan Jarfin, Nila sedikit takjub. Pemikiran laki-laki itu memang sudah jauh lebih dewasa.
"Ya syukurlah kalau kamu bisa berpikir seperti itu. Artinya, kamu bisa belajar dari kesalahan. Oh iya, omong-omong emang kamu jaga toko tante Widya yang mana? Bukannya mama mu itu bisnis kosmetik ya?"
"Iya awalnya. Terus toko kosmetiknya gak jadi di buat toko. Jadi mama lebih milih di rumah aja, jualan online. Kalau aku jaga toko sembako. Ya lumayan lah, setiap hari selalu ramai karena tipenya lebih ke agen distributor gitu, bukan toko sembako biasa," jelas Jarfin.
"Terus suppliernya darimana?" tanya Nila mulai penasaran.
"Macam-macam, Kak. Tapi kami sih lebih milih beli langsung ke pabriknya. Selain murah, kalau ada promo pun toko bisa untung besar. Um, Kakak mau buka toko sembako juga?" Jarfin bertanya balik.
"Belum kepikiran sih, dulu ibu pernah ajak Kakak buat bisnis. Tapi sampai sekarang gak pernah Kakak sahutin. Soalnya Kakak takut ibu kecapekan," jawab Nila.
"Benar juga sih, Kak. Lagian Kakak sih enak ada kak Fatan yang terus kasih suntikan dana," ujar Jarfin sembari tertawa.
__ADS_1
"Bisa aja deh kamu, Jamal!"