Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 117


__ADS_3

"Si-al!" Antony membuang air liurnya ke samping. Perutnya terasa sakit sekali karena Rusli menghantamnya sangat keras. "Siapa sih lo?" bentaknya tidak terima mendapat serangan mendadak.


"Kamu gak perlu tahu siapa saya. Yang jelas, cepat pergi dari sini sebelum saya teriakin maling!" tegas Rusli dengan raut wajah sangar dan tatapan tajam.


"Jangan ikut campur lo! Ini urusan gue sama dia!" Jari telunjuk Antony menjurus langsung ke arah Lativa.


"Dasar bocah ingusan!" umpat Rusli. "Kalau kamu menghargai seorang perempuan, seharusnya kamu gak perlu maksa dia! Jelas dia gak mau, masih aja dipaksa. Kelakuan kamu itu bisa terjerat undang-undang."


"Sok pintar lo jadi orang! Nih gue kasih tahu ya sama lo. Dia ini tuh istri gue, jadi gue bebas mau lakuin apa aja sama dia," sahut Antony tidak mau kalah.


"Istri?" Rusli tertawa lalu berdecih. "Mana ada seorang suami memperlakukan istrinya seperti sampah? Eh tunggu, bisa jadi ada sih. Antara suaminya gak normal, atau mungkin jiwanya sakit, ups!"


"Jadi lo bilang gue gila?" Suara Antony langsung meninggi. Lelaki itu sangat tidak terima.


"Bukan saya loh yang bilang. Jelas kamu sendiri yang menyimpulkannya. Padahal bukan itu yang saya maksud," timpal Rusli.


"Terus maksud lo apa? Tahu-tahu muncul, malah sok jadi pahlawan lagi!" sahut Antony dengan suara yang masih meninggi.


"Udah kamu gak perlu tahu saya siapa. Lebih baik kamu segera pergi dari sini. Daripada saya telepon polisi karena kamu dicurigai melakukan tindak kriminal. Kamu mau masuk penjara?" kata Rusli bersikap santai.


"Bre*ngs*ek!" Dengan cepat Antony membalas pukulan Rusli. Namun siapa sangka, Rusli masih mampu membaca gerak geriknya. Seketika tangan Rusli menghadang kepalan tangan Antony.


"Sekali kamu berani memukul saya, jangan harap kamu bisa menghirup udara bebas. Karena saya pastikan, nasibmu akan berujung dibalik jeruji besi," ancam Rusli. Lantas kekuatan otot tangan Antony perlahan melemas. Sepertinya ancaman Rusli mampu membuat nyalinya menciut.


Melihat Antony menjauhkan kepalan tangannya, membuat Rusli tersenyum seringai. "Kenapa? takut masuk penjara?"


Antony mendengus kesal. "Bukan. Karena gue masih pengen bebas dan bersenang-senang," jawabnya sangat santai.


"Bagus, mending pergi dari sini. Huss!" usir Rusli seraya melipat kedua tangannya di dada.


Sebelum pergi, Antony berbalik badan melihat Lativa. Raut wajah perempuan itu tampak pucat, mungkin dia takut kalau kedua laki-laki yang ada di hadapannya itu akan baku hantam. Namun melihat Antony menatapnya, raut wajahnya menjadi normal kembali.


"Tiva ... Aku harap kamu bisa berpikir jernih dan kita bisa sama-sama lagi," ucap Antony dengan sorot mata teduh.


Lativa melihat dari manik mata Antony tidak ada ketulusan sama sekali. Perempuan itu semakin tidak tertarik untuk mempertahankan hubungannya dengan Antony yang jelas sangat manipulatif.

__ADS_1


Lativa tidak menyahuti sepatah katapun. Dia hanya diam dengan tatapan kosong ke arah lain. Usai mengucapkan itu, Antony berbalik badan lagi kemudian pergi dari halaman rumah Lativa.


Saat Antony sudah benar-benar pergi bahkan tidak terlihat, Rusli masuk ke dalam mobil lalu memarkirkannya di halaman rumah Lativa. Setelah itu, Rusli keluar dengan membawa buah tangan yang dibelinya tadi di toko roti.


Lativa bernapas lega, ia menyambut kedatangan Rusli dengan ramah. "Silahkan masuk Pak."


"Iya, terima kasih." Keduanya masuk ke dalam rumah.


"Um, Pak Rusli silahkan duduk di sini terlebih dahulu ya, soalnya saya mau panggil ibu," kata Lativa.


"Oh iya, oke."


Setelah Rusli duduk, Lativa pergi mencari ibunya di dalam. Ternyata Mirna sedang berada di kamar. Lativa membuka pintu kamar orang tuanya dengan pelan.


"Bu ...."


Mirna yang sedang bercermin pun menoleh. "Eh kamu udah pulang."


"Iya, Bu."


"Mau mandi dulu, Bu. Tapi di depan ada atasan Tiva. Dia mau kenalan sama Ibu," jawab Lativa membuat Mirna langsung menautkan kedua alisnya.


"Atasanmu, kenalan sama Ibu? Ada apa nih?" cecar Mirna penasaran. Sebab tidak biasanya Lativa membawa tamu ke rumah.


"Iya ... Tiva juga gak tahu, Bu. Coba deh Ibu tanya aja ya, bilang sama dia kalau Tiva mau mandi dulu," ujar Lativa yang sudah merasa ingin segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


"Ya udah deh, sana mandi. Jangan lama-lama ya!"


"Iya, Bu."


Lativa langsung bergegas pergi ke kamarnya sendiri. Sedangkan Mirna keluar dari kamar lalu pergi ke dapur terlebih dahulu untuk mempersiapkan minuman serta camilan.


Beberapa saat kemudian, Mirna muncul dan Rusli langsung berdiri seraya memberi hormat pada ibunya Lativa.


"Selamat malam Tante, maaf mengganggu waktunya," sapa Rusli ramah.

__ADS_1


"Selamat malam, maaf juga ya udah nunggu lama. Lativa tadi izin mau mandi dulu katanya. Ini disilahkan dicicipi," kata Mirna seraya menaruh nampan yang di tangannya itu ke atas meja.


"Terima kasih, Tante. Maaf jadi ngerepotin," sahut Rusli merasa sungkan, sedangkan Mirna tersenyum. "Oh iya ini ... Buat Tante," sambungnya seraya memberikan buah tangan itu pada Mirna.


"Wah apa ini?" Mirna membaca merk yang tertera pada depan paperbag itu dengan mata berbinar. Ia tampak bahagia. "Terima kasih banyak," ucapnya diiringi senyum sampai membuat kerutan di kedua ekor matanya.


"Sama-sama, Tante." Rusli yang melihat Mirna senang karena pemberiannya, pun ikut senang.


Sambil menunggu Lativa selesai mandi, Rusli berbincang terlebih dahulu dengan Mirna. Lelaki itu pandai sekali mengambil hati calon mertuanya. Banyak hal pula yang Rusli tanyakan pada Mirna terkait Lativa.


Pun sama halnya dengan Mirna. Berbicara dengan Rusli membuatnya amat yakin, kalau dia adalah lelaki yang baik.


Beberapa menit berlalu, Lativa datang.


"Seru banget, ngomongin apa sih?" tanya Lativa ikut bergabung dengan ibunya dan juga Rusli.


"Ini loh Tiv, pak Rusli ini banyak tanya-tanya tentang kamu. Ya udah deh Ibu ceritain dari kamu kecil sampai sekarang ini," jawab Mirna seraya terkekeh.


Lativa hanya tersenyum. Dipikirannya, entah apa yang diceritakan sang ibu. Semoga saja tidak terlalu mendetail.


"Oh iya, berhubung pada baru pulang kerja. Pasti belum makan malam bukan? Yuk kita makan malam sama-sama!" ajak Mirna seraya berdiri.


Rusli melirik ke arah Lativa. Seakan memberi kode pada perempuan satu itu untuk menawarkannya makan malam bersama. Duh, Rusli mau test Lativa sepertinya.


"Maaf, Tante kayaknya saya ..."


"Ikut makan malam disini aja Pak. Saya yakin Pak Rusli juga pasti lapar, bukan?" Belum sempat Rusli melanjutkan ucapannya, Lativa lebih dulu memotongnya dan itu seperti yang diharapkan oleh Rusli.


"Baik, terima kasih ...."


Lativa tersenyum tipis, bahkan hampir tak terlihat. Mereka bertiga pun akhirnya makan malam bersama. Masakan Mirna yang enak, membuat Rusli maupun Lativa sangat lahap memakannya. Ditambah memang sejak tadi keduanya sudah merasa lapar. Nasi serta lauk pauk yang tersedia di atas meja pun sampai ludes tak tersisa.


Usai makan malam, Rusli dan Lativa berbincang di ruang tamu. Obrolan mereka semakin lama semakin terasa nyaman satu sama lain. Terlebih jarak usia diantara keduanya cukup jauh, mungkin karena kedewasaan serta sikap santai Rusli membuat Lativa dengan mudah terbawa dan nyambung.


Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, Rusli pun berpamitan pada Lativa dan juga Mirna untuk pulang ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2