Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 92


__ADS_3

Pesawat yang Nila tumpangi telah sampai di Bandara Sultan Mahmud Baddaruddin II. Ia pun turun dari badan pesawat menuju tempat pengambilan barang.


Sementara di depan lobby kedatangan, sebuah mobil beserta sopir sudah menunggu Nila. Kendaraan itu memang sengaja Rusli siapkan untuk menjemput istri kesayangan bos nya itu ke rumah sakit.


Bebeberapa menit berlalu, Nila akhirnya keluar dari lobby sambil menarik koper. Ia menoleh ke kanan dan kiri mencari kendaraan yang akan di tumpanginya. Lantas sopir yang disuruh Rusli itu menghampirinya.


"Selamat sore, Nyonya ... " sapa lelaki berpakaian serba hitam khas seorang sopir pribadi.


Nila pun menoleh ke sumber suara. "Sore," balasnya dengan raut wajah bingung. "Maaf, Bapak siapa ya?" tanyanya kemudian.


"Loh? Memangnya pak Rusli gak kasih informasi ke Nyonya soal penjemputan di bandara?" Sopir itu malah bertanya balik.


Nila menggeleng yakin. "Saya tanyakan terlebih dahulu sama Rusli ya," katanya lalu tangannya merogoh ke dalam tas yang dikaitkan ke bahu guna mengambil ponsel. Lantas saat Nila membuka layar ponsel, benar saja kalau Rusli mengirimkannya pesan terkait penjemputan di bandara. Niatnya ingin menelepon lelaki itupun seketika diurungkan.


"Oh iya saya baru baca pesannya. Bapak ini berarti Pak Komar ya?" tanya Nila memastikan.


"Iya, Nyonya. Saya Komar," jawab sopir itu jujur dan Nila akhirnya mengangguk percaya. "Kalau gitu mari saya antarkan ke rumah sakit, karena Tuan udah menunggu," sambungnya lalu Nila pun ikut bersama sopir itu masuk ke dalam mobil.


.


.


.


.


Di rumah sakit, Kesadaran Fatan sudah pulih seratus persen. Ia sudah boleh minum dan makan yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit. Namun saat Fatan membuka mata, ia hanya melihat Rusli di sana.

__ADS_1


"Rus, istri saya mana?" Itulah yang ditanyakan oleh Fatan pertama kali. Terlebih dirinya sudah masuk ke ruangan rawat inap.


"Bos tenang aja, Nyonya Nila udah dalam perjalanan kesini. Tadi saya udah perintahin orang untuk menjemputnya di bandara," jawab Rusli. Lelaki itu tahu betul betapa sayangnya Fatan pada Nila.


"Terima kasih banyak, Rus. Kamu selalu membantuku di saat-saat tersulit sekalipun seperti ini," ucap Fatan terharu.


"Sama-sama Bos. Bagaimanapun Anda adalah Tuan saya. Jadi, gak perlu sungkan untuk meminta bantuan pada saya," balas Rusli tetap bersikap sopan meski raut wajahnya tampak datar dan tidak ada ekspresi sama sekali.


"Rus, kalau setelah putusan hukuman mereka selesai dan adiknya istri saya udah bisa ditemuin, kamu bisa bebas dari saya. Setelah ini, saya hanya ingin hidup tenang tanpa ada yang mempersalahkan kedudukan lagi," ucap Fatan. Suaranya masih terdengar lemah, tapi hal itu dapat Rusli pahami.


"Memangnya ada apa Bos? Apa Bos jadi tinggal di GhuangZhou?" tanya Rusli yang sebenarnya merasa sedih kalau sampai terlepas dari Fatan. Meskipun acap kali perkerjaan yang ditugaskan padanya seberat apapun itu, tapi ia sangat tahu kalau Fatan itu adalah orang yang baik sebagai seorang atasan.


"Iya, rencananya saya akan tinggal di sana merintis usaha dari nol bersama istri saya. Di akhir pertemuan kita nanti, semua bayaran untukmu dan juga orang-orang dibawahmu yang telah mambantu saya akan saya bayar penhh sebelum saya putuskan kontrak kerja saya dengan kalian," tutur Fatan.


"Bos yakin bikin bisnis baru hanya berdua aja? Ya, siapa tahu Bos butuh orang untuk dijadikan asisten, mungkin?" Rusli sedang memberi kode agar Fatan mau mengajaknya lagi untuk bisnis bersama.


"Ck! Ah Bos kok masih ingat aja sih. Saya aja sampai gak inget kalau pernah bilang seperti itu sama Bos," sahut Rusli terkekeh pelan. "Dan akhirnya saya memilih tetap setia bekerja sama Bos dibanding menikahi pujaan hati saya," sambungnya membuat Fatan mengerutkan kening.


"Loh kenapa bisa begitu?" tukas Fatan terbelalak karena terkejut mendengarnya.


"Soalnya sebelum melamar dia, ternyata udah ada lelaki lain yang melamarnya," jawab Rusli lalu mengangguk yakin.


"Oh jadi kamu itu kecolongan 'start' rupanya? Dilema gak sih ditinggal nikah begitu?" Fatan, Fatan kok dia jadi ingin tahu banget sih!


"Ya, sulitlah Bos pokoknya kalau diungkapkan ... Oh iya sebenarnya ada informasi terbaru terkait adiknya Nyonya Nila." Rusli buru-buru mengganti tema pembicaraan. Sebab jika terus menuruti alur pertanyaan dari Fatan tidak akan ada habisnya, bahkan lelaki itu bisa jadi akan membuat Rusli semakin akrab.


Bukannya tidak ingin, ya namanya manusia kalau sudah akrab dan kenal atasan cukup dekat pasti pandangannya akan berbeda. Secara tidak sadar, dan hal itu pasti akan terjadi. Sedangkan Rusli hanya ingin tetap menjaga keprofesionalitasan kerjanya saja.

__ADS_1


"Apa itu? Coba jelaskan!" perintah Fatan dengan raut wajah yang seketika serius.


"Ternyata perempuan yang bernama Lativa Anindita itu dibawa Antony ke sebuah tempat. Tepatnya pada salah satu pulau di kepulauan seribu, dan ... " Rusli menghentikan ucapannya guna mengecek kembali ponselnya. "Di sana, agen saya bilang kalau ternyata Lativa tinggal bersama seorang perempuan yang usianya hampir sama dengan Nyonya Nila dan ini foto perempuan itu," ungkapnya lalu menunjukkan sebuah gambar yang tertera di layar ponsel pada Fatan.


Seketika Fatan terbelalak saat melihat ada seseorang yang ia kenali selain Lativa pada gambar itu. "Dia ... Mawar?" Sayangnya ia hanya mengucapkan di dalam hati.


"Ada apa Bos?" tanya Rusli sambil menautkan kedua alisnya, menatap Fatan yang hampir tak berkedip.


"Oh, bukan apa-apa," jawab Fatan lalu diiringi helaan napas. "Apa Antony yang menyuruh Lativa tinggal bersama perempuan itu?" tanyanya kemudian.


"Saya rasa bukan. Sebab menurut agen saya, perempuan yang bersama Lativa itu hanya berniat menolong. Pasalnya perempuan itu menemukan Lativa dalam keadaan kedua kaki dengan darah yang mengalir," ungkap Rusli.


"Darah?" gumam Fatan dan Rusli pun menganggukkan kepala. "Apa mungkin Lativa keguguran?" tanya Fatan seraya menatap Rusli serius.


"Kemungkinan sih iya," jawab Rusli hanya perkiraannya saja.


Tak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu. Fatan dan Rusli menghentikan perbincangan mereka.


"Rus, coba kamu lihat siapa yang datang," perintah Fatan dan Rusli pun mengangguk paham lalu bergegas menghampiri pintu.


Saat dibuka, ternyata Nila sudah datang.


"Nyonya Nila, Tuan," kata Rusli sambil menyambut kedatangan Nila dengan menunduk hormat. "Silahkan masuk, Nyonya." Rusli membiarkan Nila masuk ke dalam. Perempuan itupun sembari menarik kopernya.


Fatan tersenyum saat melihat Nila ada di hadapannya, serta manik matanya pun ikut berbinar karena terlalu bahagia.


"Sayang ... " ucap Fatan lirih.

__ADS_1


__ADS_2