
Fatan yang baru saja selesai mandi, baru sadar kalau pinselnya sejak tadi berdering. Ia berjalan menghampiri benda itu yang sebelumnya ditaruh di atas tempat tidur. Keningnya seketika mengkerut tatkala melihat nama yang tertera dalam panggilan itu.
"Aduh, bunda telepon lagi!" gumamnya lalu beedecak sambil mengacak rambut seperti orang yang tampak frustasi.
Alih-alih ingin menghindari sang bunda, Fatan akhirnya menjawab panggilan itu. Entah kenapa hatinya tergugah ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh Lalisa padanya.
"Halo, Bun."
"Hei, anak nakal! Kamu lagi ngapain sih?" semprot Lalisa yang sudah naik pitam. Pasalnya dia sudah berkali-kali menghubungi, tapi tidak kunjung ada jawaban.
Fatan sampai menjauhkan layar ponselnya dari daun telinga karena terasa berdenging. "Aku habis mandi, Bun," jawabnya terdengar tanpa merasa bersalah.
"Astaga! Kamu mandi atau main air? Susah sekali sih dihubunginya dari tadi!" Lalisa semakin menyentak. Ingin rasanya perempuan satu itu memaki sambil menjewer telinga anak semata wayangnya.
"Aku baru sampai hotel, Bun ... terus mandi. Kenapa sih memangnya?" Fatan masih sabar memberi respon terhadap bundanya. Padahal perasaannya masih ketar-ketir takut Lalisa bertanya tentang Nila lagi.
"Hotel mana?" tanya sang bunda lebih ketus dari sebelumnya.
"Je double you Marriot, Bun. Aku udah di Jakarta."
"Apa? Kamu udah di Jakarta? Terus Nila gimana? Kamu ninggalin Nila di sana?" Lalisa berpura-pura tidak tahu. Sepertinya dia sengaja melakukan itu.
"Bu-bukan begitu, Bun." Fatan sangat gugup, ia sampai terbata.
"Share location, sekarang!" tegas Lalisa lalu memutuskan sambungan telepon itu.
Fatan tercengang ketika sang bunda tiba-tiba memutuskan sambungan teleponnya. Sampai-sampai bibirnya terasa kaku dan sulit dikatupkan lagi. "Hah!" Ia mengempaskan napas kasar. "Sayang, kamu dimana sih? Kalau begini jadinya, bisa tamatlah riwayatku!" keluhnya dengan wajah sangat melas lalu menjauhkan ponselnya dari daun telinga.
Tidak ingin Lalisa semakin marah, Fatan langsung mengirim lokasi berupa peta online melalui sebuah pesan. Ia segera memakai pakaian sebelum Lalisa sampai di tempatnya.
Sedangkan Lalisa yang mendapat pesan darinya, segera membacanya tanpa membalas sepatah katapun.
...----------------...
Hampir satu jam berlalu, bel yang ada di kamar Fatan pun berbunyi. Lelaki itu segera melihat ke sebuah celah kecil yang ada di pintu. Matanya seketika melebar ketika melihat orang yang sudah berada di depan pintu, lalu membukanya.
"Bunda," sapa Fatan sambil mempersilahkan bundanya masuk ke dalam.
Tampak raut penuh kekesalan dari wajah Lalisa. Bahkan sapaan yang dilontarkan oleh Fatan pun tidak dibalas sama sekali. Lalisa langsung menyelonong masuk begitu saja.
__ADS_1
Fatan menghela napas sembari menutup pintunya kembali. Jangan ditanya bagaimana perasaannya, sudah pasti jantung merasa tidak aman, berdegub tidak keruan. Kedua tangannya bergetar, lalu ia berbalik badan.
"A-ada apa, Bun?" tanyanya hati-hati.
Lalisa menaruh tasnya ke atas sofa, mengempaskan napas kasar lalu berbalik badan.
"Dimana Nila?" Sorot mata perempuan itu sangat tajam layaknya sebuah belati yang siap digunakan untuk menikam musuh.
"Nggak ada di sini, Bun," jawab Fatan yang mulai ketakutan. Terlebih sedari mendapat tatapan mematikan dari sang bunda, tiba-tiba saja pikirannya terlintas sebuah ketakutan, bahwasanya bagaimana kalau Lalisa akan membunuhnya saat ini juga?
"Terus, kamu tahu gak dimana dia?" tanya Lalisa lagi.
Fatan menggelengkan kepala. "Nah itu, aku juga gak tahu, Bun."
"Berani jelasin ke Bunda?" Lalisa mendekat pada anaknya. "Kenapa kamu malah pulang ke sini kalau keberadaan Nila aja, kamu gak tahu?" Lalisa terus mencecar Fatan.
"Bun ... " Fatan menutar malas bola matanya. Bukan karena tidak menyukai keberadaan bundanya di sana, melainkan pikirannya saat ini sudah semakin rumit.
"Apa?! Mau cari alasan?" sulut Lalisa.
"Bukan begitu Bun, beri aku waku buat cerita." Fatan tampak memohon.
Fatan menganggukkan kepala seraya menghela napas panjang.
"Oke, gini loh Bun ... Awalnya pagi-pagi tadi aku sakit. Kepala pening, badan mengigil, dan jauh dari Nila juga. Rasanya gak enak. Terus aku telepon pihak hotel untuk membawakan dokter. Tapi ternyata bukannya dokter yang datang, malah Ocha ... Dia lihat aku udah lemas dan pucat. Akhirnya aku juga udah ngerasa gak kuat berdiri, Ocha bawa aku ke rumah sakit. Yang gak disangka, di rumah sakit itu ternyata ada Nila. Aku kaget sekali," terang Fatan.
Lalisa paham, disisi lain Fatan ingin menolak bantuan dari perempuan itu tapi tubuhnya sedang tidak berdaya.
"Kamu bilang gak ke dia, kalau kamu udah nikah?" tanya Lalisa, kedua tangannya bersilang dada.
Fatan menggelengkan kepala. Seketika jari telunjuk Lalisa terangkat lalu mendarat di kening Fatan dan memberi dorongan pada kepalanya cukup kencang sampai tubuh lelaki itu sempoyongan, kehilangan keseimbangan.
"Bodohnya kamu memang begitu. Harusnya kalau dari awal pas ketemu dengan dia lagi, terus ngomong kalau kamu udah nikah. Dia pasti jaga jarak sama kamu dan Nila gak bakal marah!" omel Lalisa.
"Iya Bun, memang aku yang salah dan gak langsung bilang ke Ocha." Fatan mengusap wajahnya. "Aku sampai gak tahu lagi harus bagaimana? Makanya aku pilih pulang ke Jakarta dan gak pulang ke rumah, supaya bisa segera temuin Nila, Bun."
"Sekarang Bunda tanya, kamu tahu darimana kalau Nila udah di Jakarta? Bagaimana kalau dia masih di Bali, sendirian. Lagi hamil pula, kalau terjadi sesuatu dengannya bagaimana?" Lalisa benar-benar marah pada anak laki-lakinya itu.
Namun Fatan tidak mampu menjawab. Dia hanya diam sambil menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Kamu harusnya sadar, Nila itu lagi hamil. Janin yang ada di kandungannya itu anak kamu. Darah daging kamu, Fatan! Kalau sampai Nila sakit hati, itu bisa fatal buat kesehatan mentalnya juga." Lalisa mulai sedikit merendahkan nada suaranya.
"Aku punya alasan Bun buat bilang seperti itu ke Ocha!" suara Fatan tiba-tiba meninggi, seakan sedang melakukan pembelaan pada dirinya sendiri. Hal itu membuat Lalisa tersentak dan berbalik takut.
"Alasan apa? Atas nama persahabatan?" sindir Lalisa dengan raut wajah sinisnya.
"Aku gak mau dia malah gangguin Nila, Bun."
"Gangguin gimana maksudmu? ... Alasan!" Lalisa menepuk lengan Fatan cukup keras karena terlalu merasa gemas.
"Ya udah kalau Bunda gak mau percaya. Besok aku bakal cari keberadaan Niila!" tegas Fatan bersamaan dengan tekad dan juga ambisi.
"Terus kenapa perempuan itu bisa tahu kalau kamu ada di sana? Menginap di hotel yang sama pula! sangat mencurigakan sekali!" Lalisa melipat kedua tangannya di dada sambil memicingkan matanya.
"Aku gak tahu, Bun kalau penginapan kami sama. Tapi yang jelas segala kegiatan pelatihanku itu udah disusun sama pihak panitia. Jadi aku terima beres. Kalau dia sih aku gak peduli," balas Fatan acuh.
"Terus, kenapa kamu gak gunain aja itu orang-orang suruhanmu buat cari Nila?" Lalisa mendelik tajam.
"Gak, Bun. Kalaupun aku pakai, aku hanya takut beritanya sampai ke telinga ayah."
Lalisa berdecak, hatinya begitu keras untuk mempercayai Fatan begitu saja. "Kalau gitu ikut Bunda sekarang!" tegasnya lagi karena sudah sangat geram.
"Kemana, Bun?" tanya Fatan cepat.
"Mending kamu buruan ganti baju. Bunda tungguin lima menit dari sekarang!" perintah Lalisa seperti sedang menatar anaknya sendiri.
Namun Fatan masih tidak bergerak dari tempatnya. Berbalik badan pun tidak. Laki-laki itu tertegun seraya menerka. Ada apa sebenarnya? Apa yang telah terjadi? pikirnya demikian.
"Fatan!" teriak Lalisa semakin bertambah kesal.
Lelaki itu langsung terkesiap. "Iya deh iya, Bun." Dia akhirnya pasrah, menurut sepeti yang sang bunda mau.
...----------------...
Usai berganti pakaian, Fatan menghampiri Lalisa yang sedang duduk di kursi. "Ayok, Bun! Kita mau kemana sih?" tanyanya kemudian.
"Udah gak perlu banyak tanya. Ikut aja sama Bunda!" Lalisa menarik tangan Fatan. Mau tidak mau, Fatan pun akhirnya menurut saja.
Keduanya masuk kedalam mobil. Tak lama setelah itu, sopir yang mengemudikan pun melajukan mobilnya.
__ADS_1
Tiba di depan pintu masuk rumah sakit, Fatan menatap kesekeliling sampai terheran-heran. "Ngapain kita ke rumah sakit, Bun?"