
...Jangan menyesal, apalagi menyerah kalau sudah tahu masa lalunya seperti apa. Seharusnya perbaiki diri supaya bisa lebih layak dari orang yang pernah singgah di waktu sebelum kita saling bertemu....
...****************...
Lativa baru saja selesai memarkirkan mobil. Lantas suara notifikasi yang berasal dari ponselnya pun berbunyi. Ia segera meraih tas dan mencari keberadaan benda itu di sana. Ia membuka layar ponsel setelah berhasil mendapatkannya. Dalam pesan masuk itu satu di antaranya adalah dari Nila.
"Kak Nila? Tumben kirim pesan pagi-pagi gini." Setelah di cek, ternyata waktu diterimanya itu semalam. "Astaga, dia kirimnya semalam. Ya ampun baru sempat aku buka gara-gara pulang langsung tidur," ucapnya bermonolog.
"Minta tolong dibelikan ponsel? Memang ponselnya kenapa? Bukannya semalam baik-baik aja?" Lativa mengerutkan kening seraya berpikir. "Apa aku telepon aja kali ya?" sambungnya lalu melakukan panggilan kepada Nila.
Namun sayang, perempuan yang dihubunginya tidak kunjung menjawab. Akhirnya Lativa bergegas turun dari mobil lalu masuk ke dalam.
Ketika dirinya sedang menunggu di salah satu pintu lift yang terbuka, tak disangka dirinya bertemu dengan Fatan. Lelaki itu baru saja keluar dari lift yang lain.
Lativa menunduk hormat. "Selamat pagi, Pak."
"Pagi, Tiv." Usai menyahuti sapaannya, Fatan berjalan lagi. Lelaki itu terlihat sendirian tanpa ada Rusli yang mengikutinya di belakang.
Lativa pun masuk ke dalam lift yang sempat di masuki oleh kakak iparnya.
"Kak Fatan mau kemana ya? Tumben sendiri. Kok rasanya aku ragu mau tanya ke dia soal kak Nila. Aku buru-buru ke meja kerja deh, biar bisa hubungi kak Nila lagi," gumamnya bermonolog.
Sesampainya di meja kerja, Lativa duduk seraya menaruh tasnya ke atas meja. Ia mengeluarkan ponselnya kembali dari dalam tas, lalu mencoba menghubungi Nila lagi. Tidak lama terhubung, panggilan pun akhirnya dijawab.
"Iya, Tiv?" sahut Nila, terdengar sepi. Mungkin bayi nya sedang tidur, pikir Lativa demikian.
"Kak, aku mau tanya tentang pesan Kakak tadi itu ... Ponsel Kakak rusak?"
"Oh nggak. Cuma bosen aja, kepingin ganti."
"Oh gitu, tapi Kakak baik-baik aja 'kan? Memangnya suami Kakak kasih izin buat pulang ke rumah ibu setelah dari rumah sakit?"
"Izinin kok, Tiv. Kamu tenang aja."
Lativa menarik napas. "Oke, nanti sepulang dari kantor, aku belikan ya. Tapi memangnya Kakak bisa dibolehin pulang kapan?"
"Belum tahu, Tiv. Soalnya dokternya belum visit ke sini."
"Oh iya! Kakak udah makan? Atau mau makan sesuatu?" Lativa begitu perhatian terhadap sang kakak.
"Udah kok, Tiv. Makasih, tapi sekarang Kakak udah kenyang."
"Baiklah kalau gitu, aku kerja dulu ya Kak. Happy new Mom!" seru Lativa.
__ADS_1
Di seberang telepon, Nila terdengar kekehan tawanya. "Have a nice day, working woman!" balasnya.
Lantas sambungan telepon pun terputus. Lativa menaruh ponselnya ke atas meja dan mulai memeriksa pekerjaan yang akan dikerjakannya hari ini. Sebab beberapa menit lagi akan masuk jam kantor.
...----------------...
Di sebuah toko bunga, Fatan baru saja selesai membeli sebuah bucket mawar putih yang dipadukan dengan krisan merah muda, tampak cantik dan sangat romantis. Dia kemudian mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
Namun sebelum menemui sang istri, Fatan lebih dulu kembali ke hotel untuk mengambil barang-barangnya. Ketika tiba di hotel, tidak sengaja matanya menangkap seseorang yang dia kenali.
"Bukannya itu Mawar? Dia sama laki-laki, apa itu suaminya?" gumamnya. Beruntung jarak antara dirinya dan perempuan itu cukup jauh. Jadi kemungkinan besar hanya Fatan yang menyadari kehadirannya, pun tidak sebaliknya dengan perempuan itu.
Dia berjalan ke arah lift. Jadwalnya hari ini masih santai karena memang belum waktunya dia masuk kantor. Tiba di kamar hotel, Fatan merapikan pakaian yang sempat ditaruhnya sembarang. Setelah itu, dia keluar dan check out dari hotel tersebut.
"Ah, lebih baik aku telepon istriku dulu sebelum ke rumah sakit. Mungkin aja dia ingin sesuatu." Inisiatif itu muncul begitu saja.
Dia sambil melangkah ke tempat parkir untuk menaruh kopernya ke dalam bagasi mobil. Ketika sudah duduk di kursi kemudi, Fatan mengeluarkan ponsel lalu menghubungi sang istri.
"Halo, Mas?"
"Pagi, Sayang ... Udah sarapan belum?"
"Udah kok. Makasih ya sarapannya."
"Ada apa Mas telepon?"
"Um, aku mau tanya ... Kamu lagi ingin sesuatu gak? Kebetulan aku tadi ke kantor sebentar terus ke hotel buat ambil barang. Sekarang mau ke rumah sakit. Mungkin kamu butuh sesuatu?"
"Oh gitu, kayaknya enggak deh, Mas. Kemarin bunda udah bawain pakaian ganti juga buat aku sama baby."
"Begitu ya?"
"Iya. Memangnya Mas gak balik lagi ke kantor?"
"Nggak. Aku mau temenin kamu aja di rumah sakit. Kan sekarang masih tugas luar. Minggu depan baru ke kantor seperti biasanya," jelas Fatan. Disisi lain, lelaki itu merasa lega. Sebab dari respon dan nada suara yang ditunjukkan oleh Nila, kalau keadaan keduanya sudah mulai mencair.
"Tapi beneran nih gak mau apa-apa?".
"Iya, Mas. Mending pulang dulu ke rumah, taruh koper biar pakaian kotornya langsung dicuci sama bibi."
"Ya udah deh, kalau gitu aku balik dulu ke rumah ya ... Bye, Sayang."
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Bye."
__ADS_1
Fatan menyunggingkan senyum setelah komunikasinya dengan Nila perlahan kembali. Pikirannya saat ini bukan lagi hanya tentang perasaan mereka berdua. Melainkan malaikat kecilnya juga.
Dia melajukan mobil keluar dari tempat parkir yang ada di hotel itu. Tak lupa dia juga menyalakan musik tempo cepat sebagai penyemangat paginya.
Ketika tiba di kediaman Wicak, Fatan turun lalu menyuruh seorang pelayan untuk menurunkan koper dari dalam bagasi. Tak hanya itu, dia juga sekaligus menyuruh untuk mencucikan pakaian kotor yang ada di sana.
Kepulangannya di sambut oleh sang bunda yang baru saja keluar dari ruang makan.
"Kamu darimana?" Nada bicara perempuan satu itu masih terdengar ketus. Sebab hatinya masih merasa dongkol dengan kelakuan putranya.
"Dari kantor, Bun. Tapi gak lama," jawab Fatan santai.
"Oh, Nila gimana? Semalam begadang gak?" Lalisa lebih tertarik mendengar kabar menantu serta cucunya.
"Ya udah lebih baik, tadi sewaktu aku tinggal ... Nila belum bangun. Sewaktu dia tidur baby sempat beberapa kali merengek. Aku gak tega mau bangunin Nila yang baru aja tidur. Ya udah deh aku gendong, eh diam."
"Syukurlah. Biar kamu ngerasain rasanya punya anak baru lahir itu kayak gimana. Jangan ngelimpahin semua ke Nila. Tapi kamu harus bantu juga!" tandas Lalisa.
"Iya Bunda ... Lama-lama Bunda kayak ibu tiri aku deh, galak banget. Perasaan bu Wiwi aja gak segalak itu," protes Fatan.
"Eh! Kok Bunda malah dibandingin sih? Gak bisa!" Lalisa tidak terima. Kedua alisnya disatukan. "Bunda kayak gini biar kamu itu sadar. Diibaratkan ya, walau rumput tetangga kelihatan lebih hijau. Kamu harus lihat gajah segede gaban yang ada di depan mata. Bersyukur, jangan cuma ketemu masa lalu belom kelar malah jadi lelaki jahanam yang bisanya nyakitin istri!"
"Iya Bunda ... Aku paham kok apa yang harus aku lakuin. Aku juga udah minta maaf sama Nila semalam. Udah ceritain semuanya. Doain ya Bun, semoga masalah kami cepat selesai," ucap Fatan dengan kerendahan hatinya.
"Iya, aamiin. Oh iya, pulang dari rumah sakit Nila bakal tinggal disini 'kan?" tanya Lalisa yang tidak ingin jauh dengan cucu dan menantunya.
"Nah kalau itu, Nila yang minta sendiri kalau sepulang nanti, dia bakal tinggal di rumah ibunya," jawab Fatan dengan wajah lesu.
"Loh kenapa? Kan ada Bunda!" tukas Lalisa.
"Dia bilang kepingin diurus sama ibunya. Aku sempat ingin melarang, tapi bagaimanapun permintaannya selama dia gak ngelarang aku buat ketemu dia dan juga baby kami. Ya ujungnya aku izinkan."
"Haa ... " Lalisa mengembuskan napas panjang. "Bunda paham sih bagaimana di posisi dia. Ya udah kalau gitu, gak masalah. Ibunya juga sangat telaten dalam mengurus bayi. Soalnya kalau Bunda buat gendong aja berbalik kaku," ujarnya menerimaa.
"Nah itu dia ... Oh iya Bunda mau kemana? Kok rapi banget?" tanya Fatan kemudian.
"Mau ke pasar bersih nemenin bibi belanja sayur. Kenapa? Mau anterin?" Lalisa menyolot kembali. Namun kali ini hanya bercanda saja.
"Gak mau lah, mending aku ke rumah sakit deh nemenin Nila dan mainan baru aku." Fatan meledek sang bunda sambil menjulurkan lidahnya.
"Menyebalkan anak satu ini! Habis ini buat lagi sana, biar yang sekarang sama Bunda aja," balas Lalisa menjadi kesal.
"Ya nanti, aku diskusi dulu sama Nila!" seru Fatan sambil berbalik badan dan berjalan menuju kamar yang ditempati olehnya dan juga Nila.
__ADS_1