Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 156


__ADS_3

Enam bulan kemudian.


Lativa dan Rusli akhirnya telah resmi menjadi sepasang suami istri. Bahagia? Pasti dong. Karena hari ini adalah hari yang dinantikan oleh mereka sejak lama.


Berbulan-bulan mempersiapkan, hasilnya sungguh lebih dari ekspetasi mereka. Tidak hanya itu, seluruh anggota keluarga besar kedua belah mempelai pun turut hadir memberi ucapan selamat kepada mereka.


Walaupun awalnya Lativa sempat merasa galau dan hampir jatuh sakit, tapi Rusli mampu menguatkan serta memberikan semangat padanya. Secara pekerjaan mereka sangat padat. Namun semua itu mampu mereka lalui.


Tak hentinya ucapan syukur bergeming di dalam kalbu keduanya. Hidup baru pun akan dimulai setelah pesta berakhir.


...----------------...


Dua hari kemudian, Lativa duduk di kursi tamu ruang keluarga berhadapan dengan Mirna. Mereka bicara empat mata.


"Bu ... Sebelumnya aku mau minta maaf sama Ibu. Atas kesalahan yang pernah aku alami dulu, hal itu diluar batas kemampuanku. Tapi kasih sayang Ibu yang sangat tulus sama aku. Yang bahkan kalau aku berada diposisi Ibu pun rasanya gak sanggup." Lativa mulai berderai air mata. "Untuk itu, aku berharap kerendahan hati Ibu ... Mohon dibukakan pintu maaf untukku. Sekarang aku udah menjadi seorang istri, yang mungkin beberapa bulan, tahun atau entah suatu hari nanti akan menjadi seorang ibu juga. Aku harap, Ibu tetap sehat selalu."


Mirna ikut sedih mendengarnya. "Tiva, seorang ibu itu akan selalu memaafkan anaknya lebih dulu tanpa menunggu anak itu meminta maaf. Ibu pun sama. Ibu hanya bisa berdoa pada Tuhan, semoga kamu dan nak Rusli bisa bahagia selalu dalam membina rumah tangga. Biarlah masa lalumu itu sebagai pelajaran berharga."


Lativa menyeka air matanya sendiri. "Iya, Bu ... Tapi aku sedih," ucapnya sambil terisak.


"Sedih kenapa?" tanya Mirna menautkan kedua alis matanya.


"Besok aku mau ikut mas Rusli pindah dari sini ke rumahnya. Ibu tahu kan kalau aku gak bisa masak?" Lativa mendadak resah.


"Iya Ibu tahu. Memangnya kenapa? Bukannya gak masalah bagi suamimu kalau kamu itu gak bisa masak?" Mirna semakin heran melihat anak bungsunya.


"lya juga sih Bu .... " Lativa mengatur napasnya terlebih dulu.


"Tiva, kamu itu udah milik suamimu. Ibu udah gak berhak lagi atas dirimu seutuhnya. Kamu gak perlu takut akan peristiwa dulu. Rusli dan Antony adalah orang yang berbeda. Kan kamu yang pilih Rusli sendiri buat jadi suamimu. Ibu yakin kok kalau mereka itu orang yang berbeda." Mirna mencoba meyakinkan Lativa. Terlebih usia Lativa sendiri belum genap 20 tahun. Jadi segala apapun yang ada dalam pola pikirnya, bisa terpengaruh dengan perasaannya.


"Lagian kamu itu masih bisa main kesini. Udah gak usah nangis. Lebih baik mulai wujudkan rencana masa depanmu bersama suamimu," sambung Mirna.


Lativa tidak mampu berkata-kata lagi. Perlahan kekhawatirannya terempas digantikan dengan kata-kata mutiara dari ibunya. Ia pun bisa jauh lebih lega karena memiliki ibu yang sangat perhatian dengannya.


Sore harinya, Rusli datang menjemput Lativa di rumah Mirna. Lelaki itu membawa mobilnya sendiri. Dia memang tidak seperti Fatan yang bebas kapan saja membawa seorang sopir.


Tok, tok, tok. Dia mengetuk pintu.

__ADS_1


Sementara di dalam, Lativa baru saja selesai mengemas pakaian dan barang-barangnya. Ketika hendak beranjak dan membukakan pintu, Mirna datang ke kamarnya.


"Kamu disini aja ya, biar Ibu yang bukakan pintunya," kata Mirna, lalu Lativa pun mengangguk dan duduk kembali.


Mirna keluar dari kamar, dan berjalan menuju pintu yang bersebelahan dengan ruang tamu. Setelah dibuka, ternyata Rusli, menantunya.


"Sore, Bu. Tiva lagi apa ya?" tanya lelaki itu.


"Sore, dia lagi di kamar. Silahkan masuk, Nak." Mirna membuka lebar pintunya, sehingga Rusli bisa masuk ke dalam.


"Makasih, Bu," balas Rusli lalu masuk ke dalam.


"Iya." Mirna menutup pintunya kembali.


Rusli bergegas menghampiri istrinya. Setelah resmi menikah, dia bersama Lativa memang tinggal di kediaman Mirna sementara waktu. Tadi pagi dia sempat pulang ke rumahnya untuk memastikan kalau rumahnya sudah dibersihkan oleh asisten rumah tangga.


Lelaki itu memang sengaja menyewa beberapa orang jasa itu secara harian. Artinya datang pagi, pulang sore. Sebab dirinya tidak ingin memberatkan Lativa dalam mengurus rumah, apalagi keduanya sama-sama bekerja.


Disisi lain, Rusli juga baru pindah rumah di salah satu kawasan elit daerah Serpong. Rumah itu hasil keputusan bersama sebelum mengambil keputusan untuk membelinya. Ya memang agak lebih jauh dari tempat kerja mereka, tapi demi kenyamanan dan keduanya pun berangkat ke kantor bersama, jadilah mereka tinggal disana.


Lativa tampak bahagia ketika suaminya datang. "Hai, Beb!" serunya. Lantas kemudian Rusli memberi kecupan di keningnya.


"Barang-barang kamu semuanya udah beres?" tanya Rusli. Matanya melihat ke sekeliling kamar yang tampak penuh dengan koper-koper besar milik Lativa.


Perempuan itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Udah beres semua kok."


"Oke, mau pulang sekarang atau bagaimana? Kamu udah bilang sama ibu?" tanya Rusli lagi.


"Ya kalau mau sekarang gak apa-apa. Aku udah bilang kok tadi sama ibu," jawab Lativa.


"Ya udah kalau gitu sekarang giliran aku mau pamit sama ibu ya. Kopernya biarin aja disini, nanti aku yang dorong ke depan," kata Rusli, kemudian Lativa mengangguk paham. Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya lalu keluar dari kamar untuk mencari keberadaan mertuanya.


"Bu ... " Mirna berbalik badan. Dia baru saja selesai merapihkan meja makan. " Saya sama Lativa mau pamit pulang ke rumah kami ya," kata Rusli saat telah menemukan keberadaan ibu mertuanya.


"Apa mau pulang sekarang, Nak?" tanya Mirna. Ya waktunya sudah tiba, ia harus merelakan Lativa pergi mengikuti Rusli.


"Iya, Bu. Ibu gak keberatan 'kan? Kalau Tiva tinggal di rumah kami?" tanya Rusli memastikan kalau Mirna tidak keberatan sama sekali.

__ADS_1


"Oh nggak, Nak. Nggak keberatan sama sekali. Lagipula Lativa memang harus patuh sama suaminya," jawab Mirna.


"Terima kasih ya, Bu. Nanti kalau kami sama-sama libur kerja, kami usahakan main ke rumah Ibu." Rusli mencium punggung tangan Mirna. Lelaki itu membuat Mirna terenyuh serta merasa beruntung kalau Lativa jatuh ke orang yang tepat.


"Sama-sama, Nak. Ibu titip Tiva ya. Dia memang manja, mungkin sebelumnya kamu udah tahu tentang dia. Ibu minta tolong, jaga Tiva, sayangi Tiva ya." Berhubung sang suami telah tiada, jadi Mirna lah yang berkata demikian. Sama halnya ketika Fatan membawa Nila pergi dari rumah itu.


"Iya, Bu. Ibu tenang aja, saya akan berusaha untuk menjaganya serta menyayanginya. Sehat-sehat terus ya, Bu," kata Rusli sopan. Sementara Mirna sampai mengeluarkan air mata, karena ini adalah kali kedua dia ditinggalkan oleh kedua anaknya.


"Aamiin ..." ucap Mirna penuh harap.


"Kalau gitu, kami pamit ya, Bu," kata Rusli.


"Iya, Nak."


Rusli pergi, kembali ke kamar Lativa. Dia mengeluarkan koper-koper itu dari dalam sana. Sedangkan Lativa berpamitan dengan sang ibu, saling memeluk penuh haru.


...----------------...


Ketika tiba di rumah, Lativa membantu suaminya membawakan koper-koper itu. Tidak disangka, dari yang terakhir ia lihat hanya sebuah ruang kosong tanpa dekorasi apapun, kini ketika membuka pintu ia begitu takjub dengan barang-barang serta design interior yang sesuai dengan seleranya.


"Beb, ini bagus banget!" serunya dengan mata berbinar.


"Siapa dulu dong yang buat?" Rusli berkata dengan bangganya.


Seketika Lativa mengerutkan kening. "Siapa memangnya, Beb?"


"Orang yang ngerjainnya dong, Beb. Masa aku sih. Kan aku sama kamu terus dari kemarin," jawab Rusli dengan wajah serius.


"Hehe, hehe, hehe, hehe ... Lucu kamu, Beb." Lativa bertepuk tangan.


Namun tiba-tiba, Rusli langsung mengangkat tubuh istrinya. Sontak Lativa pun mengalungkan kedua tangannya di leher Rusli supaya tidak terjatuh.


"Beb, kok dadakan sih. Kayak tahu bulat aja!" protes Lativa yang memang belum siap diperlakukan seperti itu.


Akan tetapi, Rusli malah mendekatkan bibirnya tepat di telinga Lativa. Hembusan napas lelaki itu terasa menggelitik dan membuat bulu halus disekitar leher seketika berdiri. "Kita cobain kamar baru yuk!"


Rusli bergegas membawa Lativa ke kamar baru mereka. Keduanya pun akhirnya melakukan aktifitas layaknya sepasang pengantin baru.

__ADS_1


__ADS_2