Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 36


__ADS_3

Esoknya, Nila berangkat dari rumah pukul 10 pagi menuju kantor pusat. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan teman-teman lama di sana, berikut Bu Vanka sekaligus mentornya selama menjabat sebagai sekertaris.


Sesampainya di sana, Nila langsung menuju ke ruang meeting. Sebab, menurut informasi dari Bu Vanka kalau pertemuan mereka akan berlangsung di ruangan tersebut.


Namun saat baru saja membuka pintu, Nila dihadapkan oleh 2 orang laki-laki lintas usia. Orang yang melihat pasti sudah bisa menebak kalau mereka adalah ayah dan anak yang sedang bicara dengan kedua raut wajah tampak sangat serius serta memiliki taraf ketampanan yang sama rata. Lantas mereka menoleh bersamaan ke arah pintu.


"Maaf mengganggu waktunya Pak. Saya kira Pak Fatan belum datang," ucap Nila seraya menunduk hormat.


"Nila, kamu tunggu di luar dulu ya!" tegas Fatan. Setelah mendengar perintah, Nila keluar dari ruangan itu dan memilih menunggu di luar ruangan.


Hingga tepat dimana masing-masing kepala bagian datang dan Nila memastikan terlebih dahulu ke dalam, Pembicaraaan ayah dan anak itu sudah selesai atau belum. Barulah setelah mendapat perintah lagi, Nila mempersiapkan para petinggi perusahaan memasuki ruang meeting itu supaya bisa segera dimulai pembahasannya.


...----------------...


Meeting pun akhirnya telah selesai. Semua peserta yang tadi ikut pada meeting itu, telah meninggalkan ruangan satu per satu, berikut ayahnya Fatan. Sementara Nila masih merapikan catatannya kemudian dimasukkan ke dalam tas.


"Nila ... " panggil Fatan yang masih duduk santai di kursinya.


Perempuan itu menghentikan kegiatannya lalu menoleh. "Ada apa Pak?" tanyanya kemudian.


"Bagaimana keadaan adikmu? Apa sudah semakin baik?" Fatan yang awalnya basa-basi.


"Ya, bisa dibilang begitu. Dia anak yang kuat kok, Pak," jawab Nila lalu tersenyum.


"Syukurlah. Oh iya, setelah ini kamu mau kemana?" Fatan bertanya lagi. Sejujurnya ia merasa penat apalagi tadi sempat membahas hal yang menguras isi otaknya bersama sang ayah.

__ADS_1


Nila mengangkat kedua bahunya. "Entah ... Mungkin pulang ke rumah, Pak. Kenapa memangnya?" Nila menautkan kedua alisnya. Sebab ia menyadari kalau atasannya itu terlihat sangat muram.


"Mau temenin saya ke mall gak?" Mendengar Fatan berbicara saya-kamu lagi, Nila bernapas lega. Itu artinya yang semalam memang Fatan sedang butuh seseorang teman yang bisa membuatnya nyaman.


"Oke." Nila mengangguk penuh semangat. Kebetulan ada sesuatu juga yang ingin ia cari di mall. Rasanya sudah lama sekali ia tidak pergi ke tempat seperti itu. Lantas Fatan mengembangkan senyum, raut wajahnya pun seketika bersinar terang.


Keduanya segera pergi dari ruangan itu dan menuju halaman parkir. Ketika sampai di depan mobil Nila, Fatan buru-buru mencegah perempuan itu supaya tidak duduk di kursi kemudi.


"Nila, mana kunci mobilmu? Sini biar saya yang nyetir!" seru laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya. Dengan senang hati Nila pun memberikan kunci mobilnya pada Fatan.


Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, perjalanan pun dimulai. Nila sengaja memutar musik kesukaannya.


"Suka gak sama lagu dari anak band Indonesia?" tanya perempuan itu seraya membesarkan volume.


Lantas perempuan itu mengatur volumenya kembali supaya pas didengar dan bisa dijadikan sebagai soundtrack saat keduanya bicara.


"Nila, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Fatan sekilas menoleh ke arah Nila yang duduk disebelahnya.


"Tentang apa?" tanya Nila mulai curiga.


"Tapi kamu harus janji dan jujur sama saya ... " Nila menatap intens ke arah laki-laki yang duduk di sebelahnya. Fatan yang menyadari itu hanya tersenyum tipis. "Kamu tenang aja, saya gak bakal nyebarin kemana-mana kok!" ucapnya berusaha meyakinkan Nila.


"Iya, oke deh ... Mau tanya apa memangnya Pak?" tanya Nila. Perempuan itu akhirnya pasrah dan mulai bersiap menerima pertanyaan dari Fatan.


"Soal perempuan yang semalam melarikan adikmu ke rumah sakit, kayaknya dia gak suka sekali sama kamu. Kalau boleh tahu, kenapa?" Fatan hanya sesekali melihat ke arah Nila karena ia sambil fokus menyetir.

__ADS_1


Nila diam beberapa saat, lalu akhirnya menjawab. "Jadi dia itu ibunya mantan pacar saya, namanya Ibu Nimas. Nah mantan pacar saya namanya Bayu. Sebenernya sampai sekarang pun saya gak tahu salah saya dimana. Selama saya pacaran sama Bayu, saya gak pernah ketemu sama dia. Sayangnya belum sempat saya tanya langsung sama Bayu, semua kontak yang berhubungan dengan saya pun udah diputus duluan sama Bayu," jelasnya.


"Oh ... Memangnya kalian berapa lama pacaran? Kok sampai segitunya?" Fatan semakin penasaran. Apalagi dengan kata-kata yang diucapkan oleh Nimas padanya kemarin malam sebelum pergi.


"Saya sama Bayu pernah pacaram selama delapan tahun. Awal kenal lewat sosmed, waktu itu dia lagi meniti karir, katanya. Terus pas bisnisnya udah sukses, saya kira dia bakal datang ke rumah buat melamar. Gak taunya dia malah putusin saya, demi perempuan pilihan ibunya. Sangat lucu bukan?" Nila tersenyum menyeringai sambil melirik ke arah Fatan. Ia yakin air matanya tidak lagi terjatuh kala mengingat tentang masa itu.


"Oh jadi permasalahannya ada sama ibunya mantan kamu ya? ... Tapi apa mantan kamu gak memperjuangkan kamu? Harusnya kalau dia memang cinta sama kamu, dia harusnya perjuangian." Fatan mengeluarkan pendapatnya.


Nila terkekeh pelan. "Saya juga gak ngerti. Ya udahlah, itu udah bagian dari masa lalu, Pak."


"Apa selama pacaran kamu sering minta sesuatu seperti barang mewah atau semacamnya sama dia?" tanya Fatan lagi.


"Nggak!" jawab Nila dengan tegas. "Selama saya pacaran sama dia, saya gak pernah minta apapun dan ya paling dia yang suka tiba-tiba kasih hadiah. Tapi apa itu juga saya yang salah?" sambungnya menatap sendu.


"Gak juga sih. Tapi kalau dia memang beneran laki-laki, harusnya dia juga bisa kasih penjelasan serta pengertian kepada ibunya. Mungkin ibunya pun akan mengerti."


Nila menarik napas panjang. "Ya ... Mungkin harusnya gitu. Sekarang saya gak mau lagi lihat ke belakang. Semuanya udah berakhir. Jadi untuk apa masih terus bertanya-tanya ya kan?" Ia menoleh sekilas ke arah Fatan. "Tentang sikap ibu Nimas yang benci sekali dengan saya, gak pernah saya ambil pusing ... Dan saya yakin dibalik menghindari anaknya berjodoh sama saya, mungkin dia mau menantu yang terbaik untuk anaknya."


Fatan mengembangkan senyumnya yang begitu tulus pada Nila. Dalam hatinya salut akan perjuangan perempuan itu supaya bisa bangkit ditambah pekerjaannya yang gak mudah selama dengannya.


"Saya doakan semoga suatu hari nanti, kamu dapat jodoh yang tepat," ucap Fatan yang sebenarnya tidak mampu berkata-kata apapun lagi.


"Aamiin Pak. Terima kasih doanya." Nila pun ikut tersenyum lega.


Tak terasa keduanya telah sampai di sebuah mall terbesar di Jakarta. Fatan segera mencari tempat parkir yang ada di basement mall tersebut.

__ADS_1


__ADS_2