
Keesokan harinya, tepat pukul 8 pagi. Lalisa datang ke rumah sakit membawa Ara. Ia tidak sendiri, melainkan mengajak salah satu pelayan rumah untuk membawakan tas yang berisi kebutuhan Ara.
Disaat Lalisa datang, Nila sedang asik menyantap sarapannya. Akan tetapi ia tidak melihat keberadaan anak laki-lakinya itu.
"Bunda, Ara!" seru Nila saat menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka.
"Nila, gimana keadaan kamu? Apa udah lebih baik?" tanya Lalisa seraya menghampiri menantu kesayangannya.
"Udah kok, Bun. Sekarang udah bisa masuk makanan sedikit demi sedikit." Lalisa memeluk Nila. "Tapi Bun, kok payu*daraku rasanya sakit sekali ya? terus kalau dipegang kayak keras gitu," keluh Nila. Ia meringis karena rasanya benar-benar tidak nyaman.
"Mungkin karena air susunya gak dikeluarkan. Jadi meradang seperti itu. Apa kamu merasa demam juga?" Lalisa menarik kursi semata lalu duduk tepat di samping Nila sembari memangku Ara. Namun Ara malah memberontak dan tidak ingin neneknya duduk.
"Sini, Bun. Ara sama aku aja." Nila mengambil alih, sejujurnya dia sangat merindukan putri kecilnya. Lalisa pun memindahkan Ara kepada Nila dengan sangat hati-hati. "Semalam sempat demam, Bun. Rasanya gak keruan gitu," lanjut Nila menjawab pertanyaan mertuanya.
"Coba dikompres air hangat ya? Ada washlap gak disini?" Lalisa mrngedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Namun hasilnya nihil, ia tidak menemukan benda yang dicari.
"Mungkin kalau minta ke perawat bisa dibawakan, Bun," usul Nila.
"Oh iya benar, buat panggil perawatnya bagaimana? Bunda kok agak asing sama ruang rawat inap disini ya? Agak beda dari tipe eksekutif kebanyakan," ujar Lalisa.
"Benar, Bun. Memang rumah sakit ini agak lain, mungkin juga karena masih baru, Bun," timpal Nila.
"Oh iya? Bunda juga baru ke rumah sakit ini sih. Padahal jaraknya gak jauh dari rumah." Lalisa pun baru menyadari.
Disisi lain, Ara yang awalnya baik-baik saja saat Nila memangkunya, lama kelamaan menjadi gelisah. Dari sorot matanya gadis Ara tampak menginginkan sesuatu yang sudah dirindukannya sejak kemarin sore.
Nila menatap kasihan pada Ara. Rasanya ia tidak tega dengan putri kecilnya yang harus berhenti memberi ASI lebih awal dari rencananya, yaitu saat Ara menginjak usia 2 tahun. "
__ADS_1
Ara," sapa Nila dengan bibir yang gemetar. Hatinya sangat terenyuh.
Lalisa yang melihat pun ikut berempati, seakan bisa merasakan apa yang menantunya rasakan.
"Kamu harus tega, Nila. Bagaimanapun ada nyawa lain yang sedang tumbuh di dalam rahimmu saat ini," kata Lalisa. Perempuan itu memang belum pernah berada diposisi Nila seperti saat ini. Tetapi disisi lain, dia sangat ingin memiliki cucu yang banyak dari anak kandungnya sendiri.
Ara menangis, seakan memberontak kalau dia ingin meminum air susu ibunya.
"Ara Sayang ... Sebentar ya Omay bikinin susu dulu. Sini gendong sama Omay." Lalisa mengambil alih kembali. Alasanya supaya Nila tidak semakin sedih.
Pelayan yang ikut bersama Lalisa tadi segera membuatkan susu untuk Ara.
"Bunda udah belikan Ara susu?" tanya Nila ketika pelayan itu mengeluarkan sekaleng susu berukuran 750 gram dengan merk yang selama ini terkenal sebagai susu formula paling bagus dan mahal karena mangandung DHA yang lebih tinggi dari susu formula lainnya.
"Udah, Nila. Semalam Bunda sempat telepon Fatan. Terus Fatan kasih tahu semuanya ke Bunda. Jadi berhubung masih belum larut malam, Bunda langsung pergi ke apotek buat cari susu Ara. Niatnya semalam Bunda telepon mau nanyain keadaan kamu, sekalian mau bilang kalau stok ASI perah di kulkas udah sedikit banget. Tapi untungnya waktu pertama kali Bunda kasih Ara susu ini, eh dia mau." Lalisa berterus terang.
"Oh begitu rupanya. Aku juga sempat kepikiran, soalnya sejak kemarin pagi aku belum sempat memerah ASI," tambah Nila.
"Nah kan? Lihat. Ara suka kan?" Lalisa menatap Ara lalu beberapa saat kemudian mengalihkan pandangannya kepada Nila sambil memangku Ara yang sedang minum susu. "Lebih baik, sekarang kamu fokus di kehamilanmu saat ini ya. Gak usah pikirin macam-macam. Tenang aja, Fatan masih sanggup kok belikan susu buat Ara."
Nila mengesah. "Iya, Bun ... Um, menurut Bunda kalau aku sewa pengasuh buat bantu aku jagain Ara bagaimana?" tanyanya kemudian.
"Kalau sekarang kayaknya Bunda masih sanggup buat bantu kamu. Mungkin saran Bunda sih nanti aja kalau adiknya Ara udah lahir. Dengan begitu, kamu juga masih bisa kontrol buat tumbuh kembang anak-anak," usul Lalisa. Bagaimanapun dirinya akan semakin tua, rapuh dan bahkan untuk menggendong cucunya kelak tidak akan sekuat sekarang.
"Oke deh kalau begitu saran Bunda aku terima. Nanti bakal aku diskusikan lagi sama mas Fatan."
Lalisa mengangguk seraya tersenyum. "Ayok dilanjut lagi sarapannya. Dihabiskan selagi selera makan kamu kembali. Ara juga kayaknya ... Udah mau tidur."
__ADS_1
"Iya, Bunda." Nila mendekatkan nampan makanannya kembali yang sebelumnya sempat dijauhkan karena harus menggendong Ara, mengantisipasi supaya tidak berantakan.
"Omong-omong, Fatan kemana? Berangkat ke kantor?" tanya Lalisa kembali menyadari tidak ada Fatan di sana.
"Iya, Bun. Tadi pagi-pagi sekali, mungkin jam setengah tujuh. Rusli datang ke sini. Terus mereka ngobrol di sofa habis itu pamit ke kantor. Katanya sih sebentar, soalnya mas Fatan juga gak pakai ... Pakaian rapi," jelas Nila, lalu Lalisa pun mengangguk paham.
"Oh iya Bun, kemarin sewaktu aku di IGD. Dokternya kenal sama mas Fatan. Ternyata dia temannya Ocha. Dia juga menyangka kalau mas Fatan sama Ocha itu pacaran. Aku heran deh, kenapa dunia rasanya sempit sekali," tambah Nila curhat pada mertuanya.
Sementara Ara yang sudah tertidur langsung dilepas dot nya supaya tidak tersendak. Ara pun dibiarkan sejenak berada di pangkuan Lalisa sampai benar-benar pulas.
"Bunda sebenarnya sangat muak sekali mendengar nama dia. Padahal beberapa tahun terakhir ini Bunda lega sekali gak ada dia ataupun menyebut namanya diperadaban hidup Bunda. Eh sekarang muncul lagi," ujar Lalisa yang tampak sekali membenci Ocha.
"Aku udah maafin mas Fatan. Mungkin waktu itu aku salah paham dengannya. Dan kesalahan terbesarku itu terlalu berharap lebih dari mas Fatan. Namun nyatanya aku malah bertemu dengan rasa kecewa, sampai aku lupa kalau mas Fatan hanya manusia biasa," sanggah Nila.
"Benar, memang sebagai seorang istri terkadang harus bisa meredam emosi terlebih dahulu sebelum bertindak. Bunda rasa kamu itu perempuan yang punya pemikiran dewasa. Kamu mampu menyembunyikan keburukan suami dari semua orang termasuk ibu suamimu sendiri. Ya, itu gak masalah selagi kamu bisa mengontrol diri. Menenangkan diri saat batinmu sedang gak baik-baik aja itu wajar. Tapi kamu harus ingat satu hal." Lalisa menghentikan ucapannya sejenak karena harus memindahkan Ara ke atas sofa terlebih dahulu.
"Apa itu Bun?" Nila menatap lekat mertuanya. Ia merasa tidak sabar dengan apa yang akan diucapkan oleh Lalisa selanjutnya.
Beberapa saat kemudian, Lalisa kembali duduk kursi semata menghadap menantunya. "Jika ada kesalahan pada Fatan, jangan pernah bercerita pada ibu ataupun adikmu. Cerita aja sama Bunda kalau, kamu sendiri udah penat menyimpan sendiri. Kenapa? Karena Bunda yang tahu tentang Fatan dan supaya gak ada yang namanya salah paham."
Nila mengesah. "Iya, Bun. Makanya aku bersyukur bisa dekat dengan Bunda. Entah kalau nggak, mungkin waktu masalah itu terjadi aku gak mungkin mau hamil anak mas Fatan lagi dan malah memilih pergi. Tapi aku juga bersyukur, Tuhan kasih aku kesabaran dan kekuatan. Aku bisa belajar melihat dari berbagai sisi kehidupan yang ada di sekelilingku. Makasih banyak ya, Bunda."
Lalisa meraih sebelah tangan Nila lalu menggenggamnya. "Memang udah seharusnya sebagai orang tua dari pihak suami itu gak pilih kasih. Kalau Fatan yang salah, ya Bunda ataupun ayah akan tegas sama dia. Biar dia gak jadi laki-laki plinplan. Bagitupun dengan kamu. Selebihnya kami hanya menengahin aja, ibarat kata memberi wadah sambil mengingatkan, apapun masalahnya, perpisahan itu akan tetap menjadi pilihan paling terakhir."
Nila menarik napasnya sangat dalam. Beruntung waktu itu ia tidak sempat memutuskan pisah pada suaminya. Kini semuanya mulai terbuka.
"Aku boleh peluk Bunda?" tanyanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Boleh dong." Lalisa beranjak dari duduknya lalu memeluk menantu kesayangannya.
Pelayan rumah yang ada disana ikut tersentuh hatinya. Dia menangis tanpa suara. Hanya air mata yang menetes tanpa disadarinya. "Mereka lebih terlihat seperti ibu dan anak baru bertemu setelah sekian lama terpisah. Aku jadi rindu pada anakku di kampung," ucapnya dalam hati.