
"Mereka bilang kalau kualitas produk kita udah menurun. Nggak sama seperti awal-awal bekerjasama dengan mereka. Terus saya sempat tanya, kualitas produk bagian mana yang menurun. Sekertaris pak Ali malah jawabnya kalau pemilik perusahaan intinya mau mengundurkan diri dari kerjasama ini," jelas Rusli.
"Aneh. Kenapa bisa seperti itu? Kalau begitu mereka gak profesional dong. Harusnya kalau memang kualitas produk kita menurun, mereka pasti akan memakai form pengajuan klaim. Gak tiba-tiba membatalkan kontrak kerjasama seperti ini! Padahal yang saya tahu, Pak Ali itu udah berkecimpung di dunia bisnis jauh sebelum saya." Wajah Fatan memerah, dia kesal setelah mendengar berita yang disampaikan oleh Rusli barusan.
Sampai di ruangan kerja, Fatan langsung menaruh tas ke atas meja lalu berkacak pinggang seraya mengempaskan napas kasar. Sementara Rusli masih mengekor dibelakangnya dan berdiri tidak jauh dari meja kerja atasannya itu.
"Kamu masih pegang surat perjanjiannya gak?" tanya Fatan pada Rusli, kemudian berbalik badan.
"Masih, Bos. Saya akan ambilkan dulu." Rusli bergegas keluar ruangan, kemudian pergi ke meja kerjanya. Tak lama, dia kembali membawa beberapa map warna biru ditangannya.
Rusli menaruh map-map itu ke atas meja kerja Fatan. "Ini berkas yang Bos minta. Ada surat kontrak kerjasama, serta form transaksi pembelian barang kepada kita. Silahkan Bos periksa dulu."
"Oke. Tapi apa sebelumnya mereka kirim email ke kamu terkait hal ini?" tanya Fatan lagi. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin bertemu langsung dengan Ali.
"Terakhir saya mendapat email dari Bu Elisa aja, Bos. Itupun mengenai laporan penjualan ke perusahaan Pak Ali dan email itu saya terima sebelum saya cuti nikah," jawab Rusli jujur.
"Ya udah. Saya akan periksa dulu. Kamu bisa kembali ke tempat." Suasana hati Fatan mendadak buruk setelah mendengar kabar itu. Dia merasa sangat aneh atas kejadian ini, seperti ada yang janggal.
"Baik, Bos. Permisi." Rusli menunduk hormat lalu keluar dari ruang kerja Fatan, menuju meja kerjanya.
Fatan memijat keningnya lalu uduk di kursi kebesarannya. Dia mulai membuka serta meneliti satu per satu isi dari map itu.
"Gak ada yang janggal. Semua yang ada di dalam laporan ini sangat normal seperti kolega yang lain. Ada apa ya sebenarnya dengan mereka? Sepertinya aku harus pergi menemui Pak Ali," gumamya dalam hati.
Fatan kembali menutup map-map itu, kemudian meraih gagang telepon yang ada di atas meja untuk menghubungi Rusli.
"Rus, tolong sambungkan saya ke pak Ali," pinta Fatan.
"Baik, Bos." Sambungan telepon itu terputus.
Fatan menunggu beberapa saat, lalu telepon yang ada di atas mejanya berbunyi. Dia segera menjawab.
"Bos maaf. Sekertarisnya bilang kalau pak Ali sedang sibuk dan gak bisa diganggu," kata Rusli.
Fatan seketika berdecak seraya mengepalkan tangannya. Sebab selama ini perusahaan milik ayahnya Antony itu menjadi kolega terbanyak pertama dalam membeli produk perusahaan yang dipimpin olehnya.
__ADS_1
"Kamu tanya gak dia sibuk kenapa?"
"Udah saya tanya Bos. Tapi sekertarisnya gak mau kasih tahu tentang alasan sibuknya pak Ali."
Fatan mengempaskan napas kasar. "Ya udah, saya akan ke perusahaannya sekarang. Tolong kalau ada meeting jadwalkan setelah makan siang aja ya." Usai memberi perintah, dia langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Rusli.
Lelaki itu mengusap wajah berkali-kali, lalu beranjak dari kursi kebesarannya. Kesabarannya sedang diuji, sebagaimana dia adalah jantung utama perusahaan. Segala proses keluar masuk barang di perusahaan itu, semua diputuskan olehnya. Meskipun tidak jarang dia bersama tim melakukan diskusi terlebih dahulu.
Fatan memasukkan map-map tadi ke dalam tas, kemudian membawanya keluar dari ruangan. Saat pintunya terbuka, Rusli seketika diri sambil menunduk hormat sampai Fatan masuk ke dalam lift.
...----------------...
Tepat pukul 10 pagi, Fatan tiba di perusahaan milik Ali. Ia turun kemudian masuk ke dalam. Sedangkan sopir yang mengantarnya pun pergi ke tempat parkir khusus tamu.
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang resepsionis perempuan seraya tersenyum ramah padanya.
"Pagi, saya ingin bertemu dengan Pak Ali bisa?" tanya Fatan.
"Maaf, apa sebelumnya Anda sudah buat janji dengan beliau?" Resepsionis itu bertanya balik.
"Mohon maaf Pak. Menurut informasi yang saya dapat, kalau Anda belum buat janji, maka tidak bisa bertemu dengan Pak Ali," ucap resepsionis itu. Dia tampak gugup melihat wajah Fatan yang mulai memerah.
"Informasi darimana? Atau nggak, saya mau bertemu dengan sekertarisnya deh." Fatan pun semakin penasaran. Ia mempertajam pengamatannya. Namun resepsionis itu justru takut dan bahkan enggan melihat wajah Fatan secara langsung.
"B-baik, Pak. Mohon ditunggu sebentar ya. Anda bisa duduk dulu di sofa, Pak. Silahkan," kata resepsionis itu yang semakin gugup.
Fatan menganggukkan kepalanya, bersedia menunggu.
Tidak lama berselang, resepsionis itu berdiri lalu menghampiri Fatan yang sedang melihat fokus ke kayar ponsel.
"Permisi, Pak. Saya sudah beritahu Bu Liza, kata beliau Anda bisa bertemu dengannya sekarang di ruang meeting. Mari akan saya beritahukan ruangannya," ajak resepsionis itu bersikap sopan.
Fatan mengangguk paham lalu beranjak dari tempat duduknya. Tak lupa tasnya pun dibawa. Ia membiarkan resepsionis itu berjalan lebih dulu. Ternyata ruang meeting yang dimaksud letaknya tidak jauh dari lobby tadi.
"Silahkan, Pak menunggu disini. Sebentar lagi Bu Liza akan datang."
__ADS_1
"Iya, terima kasih."
Fatan masuk ke dalam lalu resepsionis itu menutup pintunya kembali. Cukup lama ia menunggu, pintu ruang meeting itu terbuka. Ia melihat seorang perempuan dari balik pintu itu, tapi ternyata perempuan itu tidak sendiri. Melainkan bersama seorang laki-laki.
Fatan merasa asing dengan kedua orang itu. Pasalnya ini adalah kali pertama ia datang ke kantor kolega secara langsung. Karena biasanya yang bertugas meeting bersama pimpinan perusahaan itu adalah Rusli. Ia berdiri menyambut 'tuan rumah'.
"Maaf, sudah buat Anda menunggu lama," ucap laki-laki yang datang bersama perempuan yang Fatan yakini itu adalah Bu Liza.
"Gak masalah," balas Fatan acuh.
"Oh iya perkenalkan saya Antony dan ini Liza sekertaris saya."
"Maaf, saya ingin bertemu dengan Bu Liza saja. Memangnya jabatan Anda disini apa ya?" Fatan memang sedikit banyak tahu tentang Antony dari Nila.
"Saya pewaris sah satu-satunya atas perusahaan ini. Dan semenjak mendiang ayah dan ibu saya meninggal, otomatis harta kekayaanya jatuh ke tangan saya," ucap Antony penuh kesombongan dan sangat angkuh.
"Apa? Jadi Pak Ali dan istrinya sudah meninggal? Sejak kapan?" Fatan memastikan pendengarannya.
"Iya, tepat seminggu yang lalu." Antony tersenyum seringai serta menatap remeh ke arah Fatan.
Namun disisi lain, Fatan tetap bersikap tenang. Lelaki itu memang terkejut, sebab kepergian seniornya dalam bidang bisnis sangat mendadak.
"Kenapa tidak ada media yang memberitakannya? Padahal ayah Anda termasuk orang yang paling royal dan ramah dalam kanca bisnis." Fatan mempertajam tatapannya. Memancing Antony untuk bercerita.
"Anda hanya orang luar. Jadi tidak perlu tahu. Saya yakin Anda kesini karena tidak terima ya dengan pemutusan kontrak kerjasama dengan kami?" tebak Antony lalu tertawa.
"Anda salah. Saya bukan tidak terima. Saya kesini hanya memastikan saja kalau email dari Bu Liza ini benar adanya. Ya kalau memang benar, disini posisinya pihak Anda yang memutuskan. Maka Anda harus membayar denda atas sisa masa kontrak, sesuai yang tertera pada perjanjian awal. Dan dengan ini pihak saya tidak akan mengeluarkan ganti rugi sepeser pun," tegas Fatan.
Antony hanya menghela napas. "Lantas bagaimana dengan barang yang Anda kirim tidak sesuai standar kami? Apa perlu saya menuntut melalui jalur hukum?" Lagi-lagi Antony mengancam dengan kekuasaan ayahnya, karena dia tahu kalau tadinya Ali memang pembisnis yang kuat.
"Kami akan mengeceknya kembali. Tapi kalau sampai ada kecurangan dari pihak Anda, maka Anda yang harus membayar denda sebesar dua kali lipat!" Fatan berusaha mengatur emosinya. Sebab menghadapi seorang anak kecil baginya itu bukanlah hal yang sulit.
"Oke, lakukan saja. Sekarang lebih baik ikut dengan saya ke gudang untuk memastikan kalau barang-barang Anda memang layak jual!" Antony tidak ingin kalah tegasnya.
"Oke."
__ADS_1
Ketiga orang itu akhirnya keluar dari ruang meeting dan menuju gudang penyimpanan yang ada di perusahaan milik Ali tersebut.