
"Dia ada di kamarnya. Tadi saat polisi telepon kebetulan yang jawab Tiva, dia baru aja pulang sekolah. Terus dia mendadak diam setelah tahu ayah-nya meninggal dunia," jelas ibu, suaranya terdengar sengau.
Nila mende*sah pelan. "Bu, Nila ke kamar Tiva dulu ya," ucapnya dan sang ibu pun mengangguk. Ia beranjak dari sana lalu pergi ke kamar adik-nya.
Sebelum masuk, Nila mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun tidak ada jawab dari dalam. Perlahan ia buka pintunya.
"Tiva ... "
Nila melihat adiknya duduk di tepi tempat tidur dengan posisi menghadap ke luar jendela. Dia masih menggunakan seragam sekolahnya, belum ada yang dilepas dari tubuhnya kecuali sepatu. Bahkan kaos kakinya pun masih terpasang.
Nila menatap adiknya sebentar, Tiva hanya menatap kosong ke depan dan tidak melirik ke arah sang kakak sama sekali. Lantas Nila pun duduk di sampingnya.
"Kakak tahu, ini berat banget buat kita. Ayah yang pergi terkesan mendadak seperti ini, sulit sekali buat kita terima. Kamu, Kakak dan Ibu sayang banget sama ayah. Tapi bagaimanapun, kita harus rela karena suatu hari nanti kita pun sama akan pergi juga ke pangkuan-Nya. Ayah boleh gugur ditengah kasih sayangnya telah tercurah untuk kita semua. Tapi semua yang udah ayah lakuin untuk kehidupan kita sampai sebesar ini, udah mendakan kalau beliau adalah sosok yang luar biasa," tutur Nila.
"Apa setelah ayah pergi, hidup kita akan bahagia Kak?" tanya Lativa yang akhirnya angkat bicara. Ia menoleh dengan matanya yang tampak sayu dan sembab.
Nila meraih salah satu tangan adik-nya lalu dipindahkan ke atas pangkuannya. "Bukan akan, tapi harus bahagia ... Sebab kita masih diberi waktu dan itu gak dapat dihentikan begitu aja. Hidup kita terus berjalan, sampai Tuhan suatu saat nanti panggil kita juga karena sudah waktunya pulang."
Seketika Lativa memeluk sang kakak sangat erat. Tangisannya langsung pecah. Begitu pula dengan Nila.
Cukup lama kedua bersaudara itu meluapkan kesedihan mereka, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
Lativa seketika melepaskan pelukannya. "Siapa ya Kak?" tanyanya kemudian.
Nila hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban 'tidak tahu'. "Coba Kakak lihat dulu ya!" ucapnya lalu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
Setelah dibuka ternyata sang ibu.
"Nila, ayah harus segera dikebumikan sekarang. Mengingat jasad ayah tidak dimandikan karena ada bagian tubuh yang hancur, jadi biar gak terlalu lama," kata ibu-nya dan Nila pun mengangguk paham.
"Tiva, ayok kita antarkan ayah ke tempat peristirahatan yang terakhir!" ajak Nila pada adiknya. Tiva hanya mengangguk pelan lalu membuka tas dan juga kaos kakinya.
...----------------...
Seusai pemakaman dan para pelayat sudah pada pulang ke rumah masing-masing, di dalam rumah itu hanya ada mereka bertiga. Ibu, Nila dan Lativa. Ketiganya duduk di ruang tamu yang beralaskan karpet.
__ADS_1
"Nila, apa kamu udah makan?" tanya ibu. Padahal ia sendiri belum makan, bahkan tidak selera makan sama sekali. Terlebih sama dengan Lativa.
"Belum Bu nanti aja. Nila masih kenyang ... Kalau Ibu sama Tiva udah makan belum?"
"Sama Ibu juga rasanya kenyang ... Tiva tuh yang dari pulang sekolah belum makan," jawab ibu menoleh ke arah Lativa yang duduk sambil menyandarkan punggungnya di dinding dan kedua kaki ditekuk rapat.
"Gak Kak, aku gak selera makan!" sahut Lativa terdengar ketus. Memang dari segi emosional, Lativa masih belum bisa bersikap dewasa. Ia selalu mengutarakan apa yang dirasanya secara gamlang.
"Ya udah kalau gitu nanti kita makan malam di luar aja ya," kata Nila berusaha menghibur ibu dan adik-nya. "Oh iya Bu ... Gimana apa polisi udah ada kabar gimana kejadian sebenarnya tentang kematian ayah?" tanya perempuan itu yang sudah sangat ingin tahu.
"Belum. Terakhir pihak polisi bilang kalau ayah itu korban tabrak lari. Soalnya posisi ayah saat itu akan menyebrang jalan, terus mobil ayah di kantor dan ayah lagi ada tugas luar. Kejadiannya sangat singkat. Ayah terpental cukup jauh," jelas ibunya lagi.
"Tapi pas ibu dikasih tahu gak kalau ayah sempat sadar?" tanya Nila penasaran.
"Nggak ada, polisi pun gak ada informasi soal itu. Mungkin memang udah waktunya ayah pergi," jawab ibu, pasrah akan keadaan saat ini.
"Gini aja, besok Nila akan ke kantor polisi. Nila akan cari tahu siapa pelakunya. Kalau memang ada unsur kesengajaan, Nila akan sewa pengacara untuk menempuh jalur hukum!" tegas Nila. Firasatnya bilang ada yang mengganjal soal kematian ayahnya.
"Nila, kita ini orang awam. Lebih baik simpan uangmu untuk kebutuhan kamu nanti, Nak. Sewa pengacaea itu kan gak sedikit biayanya." Ibu tidak ingin merepotkan Nila. Sebab jika memang ada yang sengaja, ibu-nya hanya berharap semoga Tuhan akan membalasnya.
Sementara Lativa langsung mendekati ibu-nya lalu bicara, "Lebih baik kita dukung langkah yanh akan diambil kak Nila, Bu. Siapa lagi yang membuatnya kuat selain kita?" kata gadis berusial 15 tahun itu.
Sang ibu menghela napas panjang. "Selama itu baik buat kita semua, Ibu akan selalu mendukung. Karena sekarang cuma kalian yang Ibu punya."
Lativa memeluk ibu-nya. "Tiva sayang sama Ibu."
Di kamar, Nila baru saja selesai mandi. Ia berniat untuk menelepon Fatan guna memberitahu kalau dirinya akan kembali ke Palembang lusa.
Tidak ada yang berarti pada percakapan itu, hanya sekadar memberitahu semata. Setelah itu Nila pun memilih istirahat.
...----------------...
Keesokan harinya, Nila berangkat pukul 8 pagi dari rumah bersama ibu-nya. Karena adik-nya harus berangkat ke sekolah.
Sesampainya di kantor polisi, Nila bergegas menuju ruang pengaduan. Namun ternyata setelah bertanya lebih lanjut di sana, kejadian yang menimpa mendiang ayah-nya itu sudah masuk ke dalam investigasi. Nila beserta ibu-nya pun menemui anggota polisi yang bertugas dibagian itu.
__ADS_1
Perbincangan berlangsung cukup alot. Akan tetapi ditengah obrolan serius mereka, polisi yang tengah bersama mereka pun mendapat sebuah notifikasi. Tak lama, polisi itu menunjukkan layar ponselnya kepada kedua orang perempuan yang ada di depannya.
"Anda kenal mobil dengan plat nomor ini?" tanya polisi itu.
Nila melihat plat nomor itu dengan seksama. Seketika ia merasa pernah melihat, tapi entah dimana.
"Gak kenal Pak," jawab Nila yakin.
"Kalau Ibu-nya kenal mobil dengan plat nomor ini?" Polisi itu mengarahkan layar ponselnya ke depan ibu-nya Nila. Namu perempuan paruh baya itu menggelengkan kepalanya.
"Baiklah kalau gak kenal, saya akan cek melalui sistem." Polisi itu menaruh ponselnya di atas meja lalu mulai mengetik nomor plat itu melaui keyboard. Setelah ketemu, polisi itu berbicara lagi.
"Mobil dengan plat nomor tadi tertangkap kamera oleh seorang saksi saat sedang membidik gambar di area tempat kejadian ... Dan pemilik nomor itu adalah ... Bayu Guntara, berusia tiga puluh tahun, tempat tinggal di Jalan Klender Lama nomor tujuh puluh tiga."
Nila tercengang setelah polisi itu menyebutkan nama pemilik nomor mobil yang telah berhasil menghilangkan nyawa ayah-nya.
"Bayu ... Kamu jahat sekali!" umpatnya dalam hati.
"Pak, maaf. Bisa segera panggilkan pemilik mobil itu sekarang?" tanya Nila dengan raut wajah serius.
"Baik. Saya akan memanggilnya." Polisi itu langsung membuat lalu mencetak surat panggilan kepada Bayu kemudian menyuruh beberapa anak buahnya menemuinya.
"Nila, apa itu Bayu mantan pacarmu?" bisik sang ibu. Tepat di samping Nila.
"Iya, Bu. Nila harus buat perhitungan sama dia!"
...----------------...
Setelah makan siang, Nila mendapat informasi dari polisi kalau Bayu akan datang ke kantor untuk memenuhi panggilan. Ia yang saat itu baru saja selesai makan siang di salah satu mall bersama ibu dan adiknya, langsung pergi dari sana menuju kantor polisi.
Tidak butuh waktu lama Nila mengendarai mobil dan kebetulan jalan raya pun sedang tidak padat, ia sampai di kantor polisi hanya memerlukan waktu selama lima belas menit.
...****************...
__ADS_1