
Usai mengeringkan tubuh, Nila keluar dari kamar mandi. Dilihatnya, Fatan sudah santai duduk di sofa sambil menonton televisi. Ia masih memakai handuk kimono untuk menutupi tubuhnya serta handuk kecil yang sengaja digulung pada kepalanya.
"Sini, Sayang," panggil Fatan sambil melambaikan tangan, menyuruh Nila mendekat padanya. Ia juga menepuk sofa kosong yang ada di sebelahnya.
Nila mengangguk patuh seraya tersenyum. "Ada apa, Mas?" tanyanya saat sudah duduk berdampingan dengan sang suami.
Fatan meraih paperbag itu, lalu memberikannya pada Nila. "Ini hadiah buat kamu. Karena kamu udah mau mengandung anakku dan mencintaiku apa adanya dengan tulus," ucapnya dengan sorot mata teduh yang berhasil membuat hati Nila meleleh seperti keju mozarella.
Dalam hitungan detik, Nila tercekat sampai tidak dapat berkata apapun. Ditatapnya paperbag itu beberapa saat lalu beralih pada suaminya. Namun tidak ada senyum semringah yang terhias di wajah perempuan itu.
"Mas, bisa aja deh bikin aku seneng. Tapi Mas, aku gak mencintai kamu apa adanya loh," balas Nila dengan raut wajah serius. Sontak Fatan langsung menarik paperbagnya kembali.
"Loh kok gitu?" tukas lelaki itu. Dari responnya dia tampak marah dan tidak terima. Bisa-bisanya Nila berkata seperti itu. Membuat dirinya amat kesal sekali.
Karena tidak ingin Fatan semakin salah paham, Nila pun langsung mencoba meluruskannya.
"Iya ... Kalau aku mencintai kamu apa adanya, hubungan kita gak akan berkembang. Kita gak bisa membuat perubahan pada diri kita sendiri terhadap hubungan kita ke arah yang lebih baik. Perasaan boleh aja tetap sama, tapi kalau dari kita tetap berhenti ditempat itu aja padahal kita sendiri udah gak nyaman, bagaimana? Komunikasi jadi berkurang, tanpa sadar nanti yang ada cinta pun akan hilang. Intinya, aku sama seperti perempuan lain. Yaitu ingin mencintai dan dicintai suami secara layak, diberikan materi yang cukup, serta kasih sayang dan cinta setiap hari," jelas Nila. Tutut katanya yang lembut membuat Fatan tercekat ketika mendengarnya.
Lantas Fatan pun berpikir, "Ada ya perempuan seperti Nila? Memiliki pemikiran dewasa, cantik, tutur katanya lembut, sikapnya baik. Aku merasa beruntung mendapatkannya," pujinya dalam hati.
"Kamu habis makan apa, Sayang?" Tidak hanya sekadar bertanya, Fatan bahkan menyentuh kening Nila dengan punggung tangannya. Lelaki itu menatap heran sang istri. Fatan harus waspada nih, bisa jadi setelah ini Nila malah beneran merajuk.
Namun rupanya Nila hanya menghela napas, sesaat keumudian pun berkata, "Gak makan apa-apa kok, cuma tadi sempet saling cerita aja sama bunda," jawabnya jujur
"Fix ini sih racun bunda." Fatan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Nila langsung menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Gak apa-apa dong selama racunnya baik dan bisa memperkokoh hubungan kita," timpal Nila santai.
"Iya deh. Iya, Sayang." Fatan terkekeh lalu mengecup kening sang istri. "I love you so much, everyday and forever."
Pun Nila ikut terkekeh. "I love you too, my husband," balasnya kemudian mengecup pipi kanan dan kiri serta kening Fatan. "Jadi .... ?" Nila melirik ke arah paperbag. Memberi kode pada suaminya.
"Jadi ?" Akan tetapi Fatan malah tidak sadar dengan apa yang dikode oleh Nila.
Sampai-sampai Nila pun memutar malas bola matanya. "Jadinya hadiah itu buat aku atau nggak?"
"Eh iya, ini hadiah kamu." Fatan merasa kikuk dan salah tingkah. Ia langsung memberikannya pada sang istri.
Nila tersenyum lagi lalu memeluk Fatan serta memberikan ci-uman bertubi-tubi diwajahnya.
"Terima kasih, Suamiku!" seru Nila kemudian membuka paperbag itu. Alangkah terkejut untuk kedua kalinya, kedua tangan Nila sampai bergetar sambil mengeluarkan sebuah barang dari paperbag tersebut.
"Yah, Sayang ... Kenapa sih kamu malah nangis?" Fatan yang ikut panik sampai bingung harus bagaimana. Dia memang belum jago dalam hal ini. Namun disisi lain, saat Nila menyebut nama Bayu, Fatan tidak suka. Masih saja Nila mengingat dia, pikir Fatan demikian.
"Aku cuma terharu kamu kasih hadiah ini. Huaaaaahaahuaaah." Nila menangis semakin menjadi.
Fatan langsung memeluk istrinya dengan erat. "Cup, cup, cup. Jangan nangis lagi ya ... Ada aku kok di sini. Mending sekarang kamu ganti baju. Terus ikut sama aku," bujuknya
Beberapa menit kemudian, tangisan Nila berhenti dengan posisi masih di peluk oleh Fatan.
"Udah ya jangan nangis lagi," bujuk lelaki itu sembari melepas pelukannya lalu menatap lekat sang istri.
__ADS_1
Nila mengangguk pelan, kemudian ia berdiri dan langsung pergi ke ruang ganti untuk memakai pakaian yang telah dibelikan oleh sang suami. Sungguh, kesedihan yang telah dilaluinya dengan sabar kini menghasilkan kebahagiaan yang bertubi-tubi. Kadang Nila menyesal berkata 'andai pada saat itu'. Karena sebenarnya dibalik kesedihan yang dialaminya dulu, membuatnya banyak belajar dan ia bisa menikmati hasil dimasa saat ini.
Terkadang, kita itu tidak butuh orang yang hanya sekadar bilang kata cinta setiap waktu. Tetapi ternyata yang dibutuhkan justru orang yang lebih mengenal diri kita, yang bisa jadi lebih dari diri kita sendiri. Itu sebabnya, jodoh itu misteri.
Seperti yang tengah dirasakan oleh Nila. Perempuan itu sangat senang memakai pakaian pemberian sang suami. Walaupun Nila tahu harga pakaian dan sepatunya tidaklah murah.
"Gimana, Mas ... cocok gak?" tanya Nila ketika keluar dari ruang ganti lalu menunjukkannya pada Fatan.
"Cocok banget, Sayang. Kamu cantik, jauh lebih cantik!" puji Fatan sambil mengangkat kedua ibu jari tangannya. "Dua jempol buat kamu!"
"Kok cuma dua sih, Mas? Empat dong!" protes Nila lalu mengerucutkan bibirnya.
"Tangan aku cuma dua, Sayang. Dua lagi dari mana?" tanya Fatan. Lelaki itu tampak bingung. Dia sampai berpikir keras untuk menemukan jawabannya.
"Ituloh Mas dari ibu jari kaki tambahannya. Jadi pas 'kan empat?" timpal Nila.
Sontak Fatan langsung teringat kedua kakinya. "Terus aku angkat juga gitu?"
"Ya kalau kamu bisa!" sahut Nila lalu mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"Kebanyakan main sama bunda nih kamu. Jadi ketularan virusnya. Aku mau protes ah sama bunda!" Fatan hendak berdiri dari tempat duduknya. Namun seketika Nila langsung mencegahnya.
"Eh jangan! Kalau bukan bunda temanku di rumah ini, siapa? Bibi-bibi? Kan semua pada sibuk sama tugas masing-masing," protes Nila lagi. Raut wajahnya terlihat sedih dan kedua matanya pun mulai berkaca-kaca.
Fatan terenyuh melihat tatapan Nila padanya saat ini. "Iya juga ya, maaf ya Sayang. Aku gak niat bikin kamu sedih." Lelaki itu langsung beranjak dari tempat duduk lalu menghampiri sang istri dan membawanya ke dalam pelukan.
__ADS_1
...****************...